Ayah Percayalah Aku Bisa Melihat Hantu

Ayah Percayalah Aku Bisa Melihat Hantu
Percayalah Ini Nyata


__ADS_3

"Tapi yah, ayah harus percaya sama Kala."


Kala berusaha meyakinkan Philip, ketika akhirnya ia dibawa pulang oleh ayahnya itu. Tak ada luka yang serius, sehingga ia pun diperbolehkan pulang.


"Kala, kamu butuh istirahat yang banyak. Jangan mikir apa-apa lagi."


"Yah, percaya sama Kala kali ini aja. Sebab bukan Kala sendiri, Egan juga ngerasain semuanya. Kita sama-sama ngeliat saat cewek itu nyebrang jalan. Sama-sama ngerasain waktu cewek itu ditabrak, dilindas sama Egan. Terus pas kita keluar dan periksa kolong mobil, cewek itu nggak ada. Kita muter-muter balik lagi ke tempat yang sama beberapa kali."


Philip menghentikan mobilnya tepat di bahu jalan, kemudian pria itu menatap Kala sambil berkata.


"Kala, di dekat kalian itu ada CCTV jalan. Dan nggak ada kejadian orang melintas satupun. Kalian nggak nabrak manusia, kalian nabrak pohon. Dan setelah itu mobil kalian nggak bergerak lagi, sampai akhirnya petugas kepolisian datang."


"Tapi yah."


"Sssst, enough!. Ayah ngerti, banyak hal buruk yang kamu alami sejak kecil. Dan itu berdampak besar bagi kehidupan kamu sekarang. Ayah akan bantu kamu untuk sembuh."


"Tapi..."


"Please, ayah mohon tenang."


Philip terus menatap putera semata wayangnya itu. Namun Kala akhirnya membuang pandangan ke sisi jalan. Philip kembali menghidupkan mesin mobil dan menginjak pedal gas.


Sesampainya di rumah, Kala terlihat masih kesal dengan Philip. Philip mengerti jika anak itu ingin dibenarkan mengenai pendapatnya. Namun Philip hanya ingin meluruskan sesuatu yang salah menurut pemahamannya.


Sebab berdasarkan kenyataan, Kala dan Egan memang tidak mengalami hal mistis. Bisa jadi dalam keadaan pingsan, keduanya mengalami sebuah mimpi yang terasa begitu nyata.


Sebab benturan di kepala mereka cukup keras, airbag di mobil tak mengembang dengan sempurna dan sedikit terlambat. Setidaknya itulah data yang diperkirakan oleh pihak kepolisian.


"Kamu mandi gih, habis itu kita makan."


Philip menatap Kala dan Kala pun hanya bisa mengangguk. Remaja berusia 15 tahun itu kemudian masuk ke kamar dan pergi mandi.


Sementara di tempat lain, Egan tengah bertengkar hebat dengan Enrico sang ayah. Perkaranya sama, Enrico tidak percaya pada apa yang di ucapkan Egan.


"Kapan sih papa bisa percaya sama Egan?"


Suara Egan terdengar meninggi, lantaran ia sudah terlalu kesal pada Enrico. Enrico menganggap anaknya itu hanya mencari-cari alasan, agar tidak di hukum atas perbuatannya.

__ADS_1


"Gimana papa mau percaya sama kamu. Kamu aja janji nggak akan pake mobil kemana-mana sampai kamu cukup umur. Tapi apa yang kamu buat?. Kamu sendiri mengkhianati kepercayaan papa, kamu bohong Egan."


"Inti masalahnya bukan disitu, pa. Egan itu mengalami hal yang mistis. Egan ngeliat dengan jelas ada perempuan yang nyebrang jalan, Egan nabrak dia. Pas Egan sama Kala keluar dari mobil, cewek itu udah nggak ada. Egan nggak mengarang cerita."


"Cukup...!"


"Papa capek, Egan. Papa baru selesai mengoperasi orang, langsung dapat berita kalau kamu kecelakaan. Kamu bayangkan gimana paniknya papa. Sampe sekarang aja jantung papa masih nggak teratur detaknya. Terus aja kamu bikin orang tua khawatir."


"Tapi pa."


"Masuk kamar kamu...!"


Tegas suara Enrico terdengar, bahkan ia menatap Egan dengan tatapan yang begitu tajam.


"Pa."


"Masuk...!"


Egan lalu berjalan cepat menyusuri anak tangga. Remaja itu sempat berpapasan dengan bik Marni dan menabrak bahu wanita itu. Sampai kemudian, Enrico yang masih terpaku di tempatnya mendengar pintu kamar yang dibanting keras.


"Braaak."


"Jo, Egan udah besar sekarang. Dia udah bisa bentak gue dan berteriak di depan gue."


Enrico menghela nafas, ada rasa sesak yang kini memenuhi dadanya.


"Dia persis banget kayak lo kalau lagi marah. Gue kangen sama lo, Jo."


Lagi-lagi Enrico menghela nafas, kali ini dibarengi dengan merebaknya bulir bening di pelupuk mata pria itu. Enrico berusaha keras menahan tangisnya meski gagal. Ia tengah berada dalam keadaan lelah dan emosional.


Saat mengetahui anaknya kecelakaan, Enrico seperti hendak berhenti bernafas. Sebab Egan adalah satu-satunya peninggalan Joan, sahabatnya. Ia sudah berjanji bahkan sebelum Egan lahir. Saat Joan tengah berjuang melawan kanker yang ia derita.


Ia berjanji akan merawat Egan sepenuh hati, dan tak akan membiarkan hal buruk terjadi pada diri anak itu.


***


Pagi hari.

__ADS_1


Egan turun dari lantai dua dan terburu-buru hendak menuju pintu depan.


"Egan, makan dulu." Enrico memerintahkan.


Namun anak itu hanya melengos saja dan langsung berangkat ke sekolah. Enrico diam, ia teringat saat dimana Joan tengah bermasalah dengan orang tuanya. Saat itu Enrico dan Philip menunggu Joan di depan rumah, untuk sekolah.


"Jo, makan dulu sebentar. Ajak sekalian Enrico sama Philip." Ibunya mengejar Joan hingga ke teras depan.


"Nggak mood, berantem aja terus kalian di rumah."


Begitulah jawaban Joan, kemudian ia berangkat ke sekolah bersama Enrico dan juga Philip. Egan tak jauh beda dengan Joan saat marah. Hanya bedanya Egan lebih suka bungkam dan tak mau banyak bicara.


***


"Inget ya, main sama Egan boleh. Mau kemana pun boleh. Yang nggak boleh adalah, nyetir sendiri kemana-mana. Apalagi Egan itu belum punya SIM. Kalau ada apa-apa sama kalian, atau kalian menyebabkan orang lain celaka. Itu akan masuk ke dalam kategori kelalaian orang tua. Sebab kalian masih di bawah umur, masih tanggung jawab orang tua. Ngerti?"


Kala hanya diam dan mengangguk kecil, tanpa berani menatap mata Philip. Tak lama kemudian remaja itu membuka pintu mobil dan berjalan menuju pintu lobi gedung sekolahnya.


***


"Jadi lo ngeliat itu cewek nyebrang jalan?"


Chika bertanya pada Egan, ketika jam istirahat tiba. Egan tengah duduk bersama gadis itu dan juga dua lainnya yakni Dio serta Biru.


"Iya, gue sama Kala tuh sama-sama ngeliat. Gue nabrak, gue nggak sengaja melindas karena dalam keadaan panik. Gue kagok antara pedal gas sama rem. Gue muter-muter balik ke tempat yang sama. Tapi bapak gue nggak percaya. Dia lebih percaya CCTV jalan."


"Di CCTV jalan itu lo gimana?" tanya Dio.


"Ya gue ngebut, terus nabrak pohon."


"Gitu doang?" Biru menimpali pertanyaan Dio.


"Iya, cuma gitu doang. Pas ada petugas datang, katanya gue sama Kala itu sudah dalam keadaan pingsan."


Ketiga teman Egan terdiam.


"Agak sulit juga sih, Gan. Orang pasti akan lebih percaya sama CCTV itu. Karena itulah yang menurut mereka masuk akal."

__ADS_1


Dio kembali berujar, sementara Egan kini menghela nafas. Ini adalah pertama kalinya ia mengalami kejadian mistis yang cukup kompleks, dan berlangsung agak lama.


Waktu itu, dirinya hanya mendengar suara. Saat Kala pertama kali tinggal di rumahnya dan bertemu hantu bik Marni.


__ADS_2