
Kala menggigil malam itu, suhu tubuhnya sangat tinggi. Enrico telah memberikan obat beberapa saat yang lalu, namun panasnya belum juga reda.
"Egan, tadi kamu ajak Kala kemana?"
Enrico bertanya pada Egan.
"Nggak kemana-mana pa, cuma..."
Egan menghentikan ucapannya, ia kini di dera rasa ragu yang begitu besar.
"Kemana Egan?. Jawab papa dengan jujur."
"Tadi Egan ajak Kala pergi bareng anak komunitas ghost fotografi, pa. Terus kita hunting foto di sebuah lokasi."
Enrico menghela nafas, sejatinya ia kesal namun berusaha keras menahan diri.
"Terus?"
"Kala bilang dia ngeliat sosok tinggi besar di dalam rumah itu. Nggak lama Kala histeris kayak orang kesurupan. Terus pas Kala reda, dua diantara anak lainnya juga kesurupan."
"Hhhh." Lagi-lagi Enrico menghela nafas.
"Egan, papa nggak pernah melarang kamu untuk menjalani apa yang menjadi hobi kamu. Meskipun papa nggak suka itu. Tapi tolong kalau ngajak siapapun itu, ya kamu hati-hati. Kala itu kondisi mentalnya nggak terlalu baik, dia nggak sama dengan kamu."
"Tapi pa, menurut Egan dia bukan gangguan mental. Kala emang bisa ngeliat hal begituan, sama kayak salah satu teman Egan.
"Egan, papa lebih percaya kalau dia mengalami kondisi medis tertentu. Terserah kalau anggapan kamu berseberangan dengan papa. Yang jelas, hati-hati kalau ngajak dia kemana pun. Nggak enak sama om Philip. Dia masih syok dan masih belum bisa menerima kalau ibunya Kala udah nggak ada. Kita jangan ngasih kabar yang nggak-nggak soal anaknya."
"Iya pa, Egan minta maaf. Egan janji lain kali lebih hati-hati lagi."
Enrico mengangguk, kemudian ia meninggalkan kamar Egan.
***
Pagi hari, suhu tubuh Kala sudah menurun drastis. Namun ia seperti kehabisan energi. Wajahnya pucat, serta terasa begitu lemas di persendian.
Sementara di luar, Egan yang baru selesai mandi dan berpakaian kini turun lalu menghampiri meja makan.
"Bik, ini bubur buat Kala?" Egan bertanya pada bik Marni yang tengah sibuk di meja makan.
"Iya, kalau mas Egan mau sarapan bubur juga. Masih ada tuh di belakang."
"Nggak ah, Egan mau nasi goreng aja." ujarnya lalu mengambil piring dan mewadahi nasi goreng yang juga dibuat oleh bik Marni.
"Pagi pa." Egan menyapa ayahnya yang tampak baru keluar dari kamar.
"Hai." jawab Enrico lalu memegang kepala Egan, meski Egan sedikit menghindar.
Enrico kadang lupa jika Egan sudah remaja. Ia masih sering memperlakukan anak itu seperti anak kecil.
"Kala udah bangun?" tanya Enrico kemudian.
"Kayaknya udah deh, pa." jawab Egan.
"Ini sarapan buat dia?" tanya Enrico lagi.
__ADS_1
"Iya, kata bik Marni." Lagi-lagi Egan menjawab.
Enrico lalu mengangkat nampan berisi bubur dan susu tersebut, lalu membawanya ke kamar Kala. Sesampainya di sana, ternyata Kala baru selesai mandi dan berganti pakaian. Ia kini kembali ke tempat tidur dengan posisi setengah berbaring.
"Pagi Kala."
"Pagi om."
"Ini sarapan kamu."
Enrico meletakkan sarapan pagi Kala di atas meja samping tempat tidur.
"Aturan tadi biarin aja Kala yang ke bawah om. Kala nggak enak ngerepotin om kayak gini. Kala cuma lagi mau rebahan bentar, sambil ngumpulin tenaga biar bisa ke bawah.
Enrico tersenyum.
"Om tau kamu belum kuat, makanya om bawain sarapan kamu kesini. Lagian juga nggak apa-apa koq, orang dirumah sakit om juga melayani pasien."
Kali ini Kala yang tersenyum, namun tipis.
"Makan dulu, biar bisa minum obat."
Enrico mengambil bubur yang ia bawa dan mulai menyuapkannya padan Kala.
"Nih." ujar Enrico seraya mengarahkan sendok kepada remaja itu.
Kala terdiam, seumur hidup bahkan belum pernah ada seorang pun yang menyuapinya. Kecuali mungkin saat ia bayi. Sejak usia dua tahun ia ingat, bahwa nenek, om dan tante-tante nya menyuruh ia makan sendiri.
Ghandi, adik mendiang ibunya yang laki-laki pun tidak diperkenankan untuk menyuapi Kala. Padahal ada saatnya Ghandi merasa kasihan pada keponakannya tersebut. Namun sang nenek dan tante serta suami tantenya melarang. Dengan alasan nanti Kala menjadi semakin manja.
Dengan mengambil nafas dan mencoba menguatkan hatinya sendiri, Kala pun menerima suapan itu.
Terasa begitu hangat sampai ke hati, bahkan ia nyaris menangis. Namun berusaha keras ia tahan. Enrico sendiri melihat bagaimana reaksi Kala, ia adalah seorang ayah yang sangat dekat dengan puteranya.
Ia tau apa yang saat ini Kala rasakan. Mengingat Kala pernah bercerita jika di keluarga ibunya, ia tidak terlalu diperlakukan dengan baik.
"Pa."
Egan membuka pintu kamar Kala. Kala agak sedikit tidak enak, pasalnya Enrico kini menyuapinya. Namun Egan bersikap biasa saja, ia tau ayahnya baik dan perhatian kepada banyak orang. Hal itu dikarenakan ayahnya adalah seorang pelayan masyarakat.
"Egan udah mau pergi?" tanya Enrico.
"Iya pa, cuan dulu dong." ujar Egan seraya nyengir bajing.
Enrico lalu meletakkan mangkuk bubur yang ia pegang, kemudian mengeluarkan dompet dan memberi Egan uang selembar seratus ribu.
"Papa tuh gini Kal, jaman udah modern, kaya raya, tapi ngasih anak duit masih primitif." Egan berseloroh.
Enrico tertawa.
"Kamu di kasih cash segini aja dikit-dikit beli skin freefire, skin mobile Legends dan lain-lain. Apa kabar papa bikinin rekening, kasih langsung banyak, yang ada baru dua hari udah ludes."
"Hehehe."
Egan nyengir venom. Sementara Kala hanya tersenyum, jujur kedekatan dengan orang tua seperti inilah yang selalu ia impikan sejak dulu.
__ADS_1
"Ya udah, Egan berangkat ya pa. Bye Kal."
"Bye." jawab Kala.
"Hati-hati di jalan." Teriak Enrico.
"Iya paaa."
Egan berlalu, kini Enrico kembali menyuapi Kala.
Selang beberapa saat berlalu, Kala diberi obat dan ia pun tertidur lelap. Enrico bersiap untuk berangkat ke rumah sakit, ketika seseorang masuk ke dalam rumahnya.
"Phil?"
Philip tak menjawab, namun tatapan matanya sudah cukup menjelaskan mengapa ia datang.
"Braaak."
Enrico membuka pintu kamar Kala, pada beberapa saat kemudian. Remaja itu masih tertidur dengan lelapnya.
Philip terpaku di muka pintu sambil menatap ke dalam. Perlahan namun pasti ia pun melangkah, lalu duduk disisi Kala.
"Gue berangkat, gue jadwal pagi." ujar Enrico.
Pria itupun segera beranjak, sementara kini Philip membisu disisi darah dagingnya sendiri.
Hampir setengah jam ia terpaku, hingga akhirnya Kala mendadak terbangun. Remaja itu terkejut mendapati Philip berada di sisinya.
"Dokter Philip?"
Philip terhenyak.
"Are you ok?" tanya nya kemudian.
Kala mengangguk, lalu berusaha untuk duduk. Philip membantu anak itu untuk bersandar pada bantal, dan memberinya segelas air putih. Kebetulan tadi Enrico memang menyiapkan di sisi tempat tidur Kala.
"Om Rico mana?" tanya Kala.
"Dia sudah berangkat, ada jadwal praktek pagi ini."
Kala mereguk air putih di tangannya, lalu meletakkan gelas di sisi tempat tidur.
"Kenapa kamu bisa sakit?" tanya Philip.
Kala menggeleng.
"Nggak tau." jawabnya kemudian.
"Kecapean mungkin." lanjutnya lagi.
"Keluargamu nggak ada yang mencari?"
Lagi-lagi Kala menggeleng.
"Sepertinya mereka senang kalau aku pergi."
__ADS_1
Philip menghela nafas dan terus menatap anak itu. Dari nadanya berbicara, terlihat jelas jika ia memiliki hubungan yang buruk dengan keluarganya.