Ayah Percayalah Aku Bisa Melihat Hantu

Ayah Percayalah Aku Bisa Melihat Hantu
Bioskop


__ADS_3

Usai berbelanja, Philip mengajak anaknya untuk makan di sebuah restoran dengan menu ala-ala Korea.


Disana ada pemanggang atau grill pan yang menyatu dengan sebuah panci hotpot. Saat memasukkan dumpling, daging, dan berbagai isi sup lainnya. Philip melihat Kala tak menyenggol sayuran sama sekali.


Philip lalu memasukkan sayuran tersebut ke dalam hotpot. Dan ketika mereka makan, Philip tak melihat Kala memakan sayuran itu.


"Kenapa sayurannya nggak dimakan?"


Philip bertanya pada Kala.


"Nggak suka yah." jawab Kala singkat.


"Sayuran itu enak loh." ujar Philip.


"Nggak enak, rasanya kayak rumput."


Philip tersedak karena tertawa.


"Emang kamu pernah makan rumput?" tanya nya Kemudian.


"Pernah, waktu kecil." jawab Kala.


"Kenapa kamu makan rumput?"


"Abisnya Kala penasaran liat sapi sama kuda makan rumput di TV. Emang rasanya kayak apaan. Terus Kala coba deh, ternyata nggak enak."


Lagi-lagi Phillip tertawa, sementara Kala lanjut makan.


"Sayuran itu baik loh buat kesehatan."


Philip kembali berujar dan bermaksud menanamkan pengaruhnya soal sayuran di benak Kala.


"Tetap aja nggak enak, Kala udah mencoba untuk berdamai sama daun-daun itu yah. Kala udah coba untuk makan, tetap aja Kala nggak suka."


"Kalau buah-buahan kamu suka?"


"Suka koq, kecuali pepaya."


"Sama, ayah juga nggak suka pepaya." ujar Philip.


"Aneh."


Mereka berdua berujar diwaktu yang bersamaan. Lalu hening, namun detik berikutnya mereka sama-sama tersenyum tipis dan kembali melanjutkan makan.


"Eh, nonton yuk abis ini."


Philip berujar lagi ketika makanan yang mereka makan sudah hampir habis.


"Mau nonton apa yah?" tanya Kala.

__ADS_1


Remaja itu lalu meminum air mineral yang ada dihadapannya, hingga hanya tersisa setengah lagi.


"Apa aja kek, ntar kita liat dulu film nya. Ayah tuh suntuk belakangan ini, energi kayak habis terus."


"Ayah psikiater koq bisa suntuk kayak gitu."


Philip kali ini tertawa.


"Ya sama aja, psikiater juga kan manusia."


"Tapi kan lebih bisa menghandle emosi dan kondisi sendiri ketimbang orang lain."


"Iya sih, tapi bukan berarti ayah nggak boleh merasa suntuk dong. Suntuk itu normal koq, cuma butuh hiburan aja sedikit."


"Ya udah deh, terserah ayah."


"Tapi kamu mau nggak?" tanya Philip memastikan.


"Ya, ayo."


"Ok, abisin dulu makannya."


Kala mengangguk lalu menghabiskan makanannya. Tak lama setelah itu, mereka memasukkan barang belanjaan ke mobil. Lalu kembali ke dalam dan menuju ke bioskop yang berada di lantai paling atas.


Banyak film bagus yang sedang tayang hari itu. Namun pilihan mereka jatuh pada sebuah film action Hollywood. Usai membeli tiket serta minuman, mereka menunggu sejenak. Tak lama pintu theater pun akhirnya dibuka.


Kala dan ayahnya masuk, mereka duduk di bangku tengah. Tak terlalu ke bawah namun juga tak terlalu di atas. Posisi tersebut cukup nyaman untuk menonton.


Philip bertanya ketika tanpa sengaja tangannya menyenggol tangan Kala.


"Nggak apa-apa koq, yah." ujar Kala lalu duduk di sisi kanan Philip. Philip kemudian meraba kening anaknya itu.


"Panas loh badan kamu, kenapa nggak bilang kalau sakit."


"Kala baik-baik aja yah, tanda Kala sakit itu bukan panas. Tapi kalau Kala udah nggak bangun, terus tiduran dan nggak mau makan. Itu baru Kala sakit."


Kala menatap ke layar besar yang ada di hadapannya. Ia terlihat biasa saja, meski Philip sangat khawatir.


"Kamu minum dingin lagi ini."


Philip menunjuk pada minuman dingin yang ada di dekat mereka. Diingatkan seperti itu justru membuat Kala malah mengambil minuman tersebut dan cuek saja meminumnya di hadapan Philip.


Philip melirik ke arah Kala, lalu kemudian pria itu tersenyum. Kala sama persis dengan dirinya. Meski sakit kadang masih suka memakan atau meminum sesuatu yang membahayakan.


Tak lama film pun di mulai, mereka lalu fokus menonton. Setelah satu jam berlalu, Kala tanpa sengaja menoleh ke sisi kanan. Tepatnya pada barisan kursi pojok bioskop, urutan ketiga dari bawah. Di sana Kala mendapati seorang perempuan yang menatap kearahnya dan juga Philip.


Awalnya Kala mengabaikan saja perempuan itu, dan kembali fokus pada film. Namun tanpa sengaja ia kembali menoleh pada beberapa menit selanjutnya, dan posisi wanita itu masih sama seperti tadi. Hal tersebut membuat Kala menjadi risih.


"Yah, cewek itu ngeliatin ke arah kita terus." bisiknya pada Philip.

__ADS_1


"Siapa?" tanya Philip dengan nada pelan.


"Itu yang di bagian pojok kanan kita." ujar Kala.


Philip mencoba mencari pada arah yang di katakan oleh anaknya tersebut. Namun deretan kursi di pojok kanan itu kosong, bahkan dari bawah sampai ke atas tak ada yang duduk disana. Philip mengerti pastilah terjadi sesuatu yang tak beres pada Kala.


"Disana nggak ada apa-apa, Kala. Nggak ada yang duduk sama sekali." ujar Philip.


"Nggak ada gimana yah?. Jelas-jelas itu ada orang." Kala bersikukuh.


"Ok, kamu tenang. Jangan diliatin, fokus aja nonton." ujar Philip.


"Kala risih, yah."


"Ya udah pindah sini, ke tempat ayah." ujar Philip.


Tak lama mereka terlihat bertukar tempat, Kala kini lebih tenang karena dirinya agak terhalang oleh tubuh sang ayah. Mereka lalu lanjut menonton hingga habis.


Dan ketika film tersebut usai keduanya segera keluar dan menuju toilet. Sebab keduanya sudah menahan buang air kecil sejak tadi. Kala kemudian selesai duluan dan menunggu ayahnya di lorong depan toilet.


Namun tiba-tiba dari kejauhan ia melihat seseorang memperhatikan dirinya. Orang tersebut seperti yang tadi memperhatikannya ketika di dalam bioskop. Kala bisa melihat sedikit kesamaan ciri, terutama dari pakaian yang ia kenakan. Meski di dalam tadi agak remang. Kala segera menyusul orang itu, namun kehilangan jejaknya.


"Kala."


Tak lama Philip muncul.


"Dari mana kamu?" tanya nya kemudian.


"Mmm, nggak yah. Emang pengen nunggu ayah disini aja." ujar Kala berdusta.


"Ya udah, kita pulang yuk...!" ajak Philip.


Kala mengangguk. Mereka lalu keluar dan menuju ke halaman parkir. Disepanjang perjalanan pulang, mereka tampak berbincang hal-hal yang menyenangkan. Kala kini lebih banyak tertawa bersama ayahnya itu.


Perlahan hubungan kaku diantara keduanya mencair. Semakin hari, mereka terlihat semakin akrab satu sama lain.


"Wah macet lagi."


Philip memperhatikan jalan di depan yang tampaknya tengah stuck. Namun kemudian ia melihat sebuah jalur alternatif yang sangat jarang dilalui orang. Sebab jalur itu masih baru, dan cukup sepi.


Philip membelokkan mobilnya ke arah sana. Ia menekan pedal gas lebih dalam agar segera bisa melewati. Namun tiba-tiba ia dan Kala melihat sebuah mobil yang tampaknya mengalami kecelakaan berat.


"Yah, yah kecelakaan itu yah." ujar Kala.


Philip memperlambat bahkan menghentikan mobilnya tepat di dekat mobil tersebut. Tak ada garis polisi disana, itu artinya kecelakaan tersebut belum tersentuh.


Kala dan Philip mendekat, ternyata masih ada korban di dalam. Dengan posisi kepala terbenam di setir kemudi dan sepertinya terjepit.


Philip segera menelpon polisi. Kebetulan ada dua mobil dan tiga pemotor yang melintas di jalur yang sama. Merka pun kini turut berhenti dan memeriksa kejadian.

__ADS_1


Tak lama pihak kepolisian berikut ambulans tiba. Korban tersebut dinyatakan meninggal dan berusaha untuk di keluarkan. Ketika bagian wajahnya terlihat, Kala sangat terkejut. Wanita itu ternyata adalah wanita yang ia lihat di bioskop tadi.


Kala mundur beberapa langkah dengan wajah yang begitu syok. Hingga Philip harus mengamankan anaknya itu dan coba menenangkannya.


__ADS_2