
"Kala tunggu."
Egan menyusul Kala yang berjalan cepat dan telah meniggalkan kawasan apartemen. Tadi setelah mengetahui siapa Philip sebenarnya, remaja itu bergegas keluar dan masuk ke dalam lift. Ia berhasil pergi dari jangkauan Egan, hingga Egan harus menunggu lift berikutnya.
Begitu sampai di bawah, Egan sudah tak melihat Kala lagi. Maka dari itu ia bergegas menaiki mobil dan berharap menemukan Kala. Beruntung di sebuah jalan, masih dekat dengan apartemen. Ia berhasil menemukan anak itu.
"Kala, please."
Egan yang barusan memarkir mobil di bahu jalan tersebut, kini sudah ada di dekat Kala.
"Kal, gue bakal dimarahin papa habis-habisan kalau lo pergi."
Kala lalu menghentikan langkah dan menatap dalam ke mata Egan.
"Ok, gue udah tau kalau lo adalah anaknya om Philip dari awal."
Egan kembali berujar, karena sepertinya itulah yang ingin Kala ketahui. Meski ia tak berkata sepatah pun.
"Gue dikasih tau sama papa, saat pertama kali kita ketemu di rumah. Tapi gue bener-bener nggak tau kalau di apartemen om Philip, ada foto itu tadi. Gue baru pertama kali itu ngeliat foto masa remajanya dia. Dan gue nggak expect kalau dia bakal semirip itu sama lo, di usia segitu. Gue udah nggak bisa mengelak lagi, karena lo pun pasti tau jawabannya. Kenapa muka kalian sama."
Kala masih saja diam, namun sesaat kemudian mereka sudah terlihat masuk ke dalam mobil. Di sepanjang perjalanan, keduanya sama-sama membisu.
Kala menatap ke sisi jalan, sementara Egan fokus menyetir. Ia sempat mampir dulu ke rumah sakit untuk mengantarkan berkas, yang diperintahkan oleh Philip. Tak lama mereka pun kembali berjalan menuju rumah.
***
Kala keluar dari dalam mobil dan agak membanting pintunya.
"Braaak."
Remaja itu lalu masuk ke dalam rumah. Kebetulan pintu depan memang sering tak dikunci oleh bik Marni.
Egan menyusul, namun ia dikagetkan dengan suara pintu yang kembali di banting. Kali ini pintu kamar.
"Braaak."
Egan terdiam, mungkin kala memang benar-benar belum bisa menerima semua ini.
Selang beberapa saat berlalu, Kala keluar dari kamar dengan membawa tas. Kebetulan Egan tengah hendak menuju ke kamarnya di lantai dua.
"Lo mau kemana, Kal?" tanya Egan.
__ADS_1
Kala tak menjawab dan hanya diam.
"Kal, please. Gue nggak main-main soal papa yang bakal murka ke gue, kalau sampe lo pergi dari sini."
"Gue nggak mau ketemu dia. Gue ditelantarkan selama bertahun-tahun, Gan. Lo kalau ada di posisi gue gimana?"
"Tapi kan lo belum denger cerita dari om Philip langsung, kenapa selama ini dia nggak ada datang buat ngurusin lo."
"Gue nggak perlu denger cerita dia, karena sudah pasti dia akan membela diri. Sedangkan gue nggak bisa lagi nanya ke nyokap gue, soal apa yang sebenarnya terjadi."
"Tapi Kal."
"Gan, gue mau pulang."
Egan diam, sepertinya Kala memang sudah tidak ingin lagi berada disini.
"Ok." jawabnya kemudian.
"Tunggu di sini bentar." ujar Egan.
Remaja itu lalu masuk ke dalam sebuah ruangan, tak lama ia kembali dengan terburu-buru. Lalu secara mengejutkan, ia menempelkan sebuah saputangan ke hidung Kala. Kala pun kaget dan refleks mengisap hidungnya.
"Itu tadi apaan?" tanya nya kemudian.
"Seberapa pun lo berusaha menghalangi gue, gue tetap akan pergi."
"Nggak bisa?"
"Kenapa?"
"Itu tadi klorofom, lima menit lagi lo bakal pingsan."
"Maksud lo kayak bius gitu?"
"Iya, hehe."
"Koq gue nggak langsung pingsan kayak di film-film?"
"Film mah bokis anjay, efeknya nggak se-instan itu."
"Alah, palingan juga lo bohong. Pokoknya gue harus pulang."
__ADS_1
"Ngapain sih, kata lo keluarga lo pada jahat. Mending lo tinggal sama bapak lo, anjir. Hidup lo bakalan terjamin, Kal. Bapak lo kaya-raya, kakek lo punya 10 toko di ITC. Kalau ke Bank nih, bapak sama kakek lo nasabah prioritas tau nggak."
"Bodo amat."
Kala melangkah, namun baru sampai ke bibir tangga tiba-tiba.
"Buuuk."
Remaja itu jatuh pingsan.
"Apa gue bilang, Kala. Ngeyel sih lo."
Egan lalu menyeret tubuh Kala ke kamar yang semula ia tempati. Ia pun berusaha menaikkan remaja itu ke atas tempat tidur.
"Sorry Kal, terpaksa ngelakuin ini. Kalau nggak, bapak gue bisa mencak-mencak. Lagian ngapain sih lo pake acara mau balik segala ke rumah keluarga lo itu. Apa yang lo harap dari mereka?"
Egan kemudian keluar dan mengunci pintu kamar. Tak lama ia kembali dengan sebuah galon, berikut dispenser. Tak lama ia kembali lagi dengan setumpuk biskuit, wafer dan makanan ringan lainnya. Ia meletakkan semua itu di dalam kamar Kala.
"Untuk sementara lo makan ini semua dulu. Karena sebelum papa pulang, gue nggak akan buka pintu kamar ini. Yang ada lo kabur nanti."
Egan menutup kembali pintu kamar Kala dan menguncinya dari luar. Kebetulan setiap kamar di rumah itu, memiliki kamar mandinya sendiri di dalam. Jadi Egan tak begitu khawatir dalam mengurung Kala.
***
Sementara itu di tempat lain, Enrico tengah menemani Philip menemui pihak sekolah Egan. Seisi sekolah tersebut heboh dengan kedatangan ayah dari Kala.
Siswa yang mereka anggap aneh selama ini. Ada siswa yang menguping pembicaraan di ruang kepala sekolah. Dan didapatkan lah kenyataan mengejutkan, jika pria tampan dan gagah itu adalah ayah dari Kala.
Kala sejatinya adalah remaja yang sangat tampan. Karena berwajah 11, 12 dengan ayahnya. Lantaran tak memiliki teman, ia pun lebih rajin menghabiskan waktu dengan belajar dan berolahraga. Hingga ia memiliki tubuh yang lumayan atletis, untuk anak seumur dirinya.
Sejatinya banyak siswi yang menyukai Kala. Namun karena image dia adalah anak aneh, menjadikan semua orang menjadi ngeri berdekatan dengan Kala. Rata-rata dari mereka masih percaya makhluk gaib. Jadi jika berdekatan dengan Kala, mereka takut diganggu makhluk halus.
Karena pernah ada kejadian sewaktu dia SD. Ada seorang anak yang mengganggunya. Kemudian ia melihat Kala mengamuk, Kala membanting anak itu ke dinding. Kekuatannya seperti orang dewasa, padahal ia masih kecil.
Malam harinya yang mengganggu Kala tersebut bermimpi di datangi makhluk besar bermata merah. Ia lah yang membawa cerita itu menyebar hingga saat Kala menginjak bangku SMP dan SMA. Karena kebetulan mereka selalu masuk di sekolah yang sama.
"Itu beneran bapaknya Kala?"
Para siswa dan siswa menggosip di dekat ruang kepala sekolah sambil mengintip.
"Iya, dia mau mindahin Kala ke Jakarta."
__ADS_1
"Owalah, bapaknya tau nggak sih kalau anaknya aneh?" tanya salah seorang dari mereka.
Tak lama Philip pun keluar dari ruang kepala sekolah, dan siswa-siswi yang tengah menggosip tersebut mendadak bungkam.