Ayah Percayalah Aku Bisa Melihat Hantu

Ayah Percayalah Aku Bisa Melihat Hantu
Mencekam


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 01:00 dini hari. Enrico mulai mengantuk di ruangannya. Namun ia adalah salah satu dokter yang bertugas untuk jaga malam ini.


Apalagi di operating theater sebentar lagi akan dilangsungkan sebuah operasi bedah. Ia menyiapkan diri kalau-kalau team yang telah ditunjuk membutuhkan bantuan darinya.


Enrico duduk di kursi sambil membaca sebuah surat kabar online terbitan hari ini, yang belum sempat ia baca sejak pagi.


"Tub, tap, tub, tap."


Lampu di ruangannya mati dan hidup, seperti ada yang memainkan stop kontak. Enrico mulai memperhatikan sekitar, dan melihat stop kontak yang tidak bergerak sama sekali.


"Tub, tap, tub, tap."


Kejadian itu berulang, Enrico kini berdiri dari duduknya. Tiba-tiba terdengar suara berisik, seperti suara orang yang tengah mencari gelombang radio.


"Siapa itu?"


Enrico berkata dengan nada setengah berteriak, agar suaranya tersebut di dengar. Karena ia takut itu adalah perbuatan orang iseng.


"Namun siapa yang iseng di jam segini?" pikir Enrico lagi. Rekan kerjanya sesama dokter tak pernah saling menjahili saat jaga malam seperti ini.


"Tub, tap."


Lampu itu kembali hidup mati, dan berbarengan dengan suara orang seperti berlari serta mengoceh sesuatu yang tidak jelas. Enrico mulai merasa cemas, sementara di kejauhan Kala dan Egan tampak cekikikan.


"Apa om Rico dijamin bakal ketakutan?" tanya Kala pada Egan.


"Lo tenang aja, bentar lagi juga dia bakalan keluar." ujar Egan penuh percaya diri. Kala pun tertawa kecil.


"Kita ganti ke ruangan bokap lo dulu, ntar kita balik lagi kesini." Egan kembali berujar.


"Ok." jawab Kala.


Kedua remaja nakal itu kemudian beralih untuk mengerjai ruangan Phillip. Kala masih setia dengan laptopnya dan siap menghack listrik yang ada di ruangan ayahnya tersebut.


Sama seperti Enrico, Philip juga tengah membaca surat kabar hari ini yang terlewatkan olehnya. Ia membaca dengan tenang dan fokus sampai kemudian,


"Kresek, kreeek. Zrzrzrssshhkk."


Terdengar suara seperti gelombang radio, atau seperti orang yang menelpon namun gangguan sinyal.


"Kresek."


"Srrrr,ini,rrrrr, saya, kresek."


Terdengar lagi suara berisik yang sama, namu seperti ada sebuah dialog yang hendak disampaikan.


Philip yang tadinya mengira jika itu efek mengantuk tersebut, kini menarik nafas panjang dan membuka matanya lebar-lebar. Suara itu benar-benar nyata di telinganya, lantaran berasal dari speaker patch yang di tempel oleh Egan.


"Tub, tap, tub, tap."

__ADS_1


Lampu di ruangan Philip mulai hidup dan mati secara intens. Philip mengecek stop kontak, namun tak bergerak sama sekali.


Suara-suara aneh mulai kembali di perdengarkan oleh Egan maupun Kala. Hingga Philip merasa ada sesuatu yang tidak beres. Dokter itu bergegas keluar dari ruangannya, dan hal tersebut di lihat oleh Kala maupun Egan. Kedua remaja itu menahan tawa.


Sementara di tempat lain, Enrico juga akhirnya keluar dan berjalan ke arah bangsal tempat dimana Philip berada.


Kala dan Egan terus mengerjai ayah mereka tersebut. Keduanya masih setia memati-hidupkan lampu, bahkan di jalan yang di lalui oleh Philip maupun Enrico.


Mereka mendorong kursi roda dari suatu arah, hingga terlihat seperti di dorong makhluk halus. Kadang juga mereka seliweran di belakang Philip maupun Enrico yang akhirnya bertemu di sebuah koridor.


Keduanya terus menikmati permainan tersebut sampai kemudian, muncul notifikasi pesan singkat di handphone masing-masing.


"Kala nggak pulang?. Nginep dimana?. Udah malem loh ini?. Ayah dari tadi nungguin kamu di rumah.


"Egan dimana kamu, kenapa nggak pulang?. Papa nungguin kamu di rumah dari tadi."


Kala dan Egan mendadak syok dan kini keduanya saling menatap satu sama lain. Mendadak angin pun bertiup, membuat sekujur tubuh kedua remaja itu merinding.


Pasalnya kini rumah sakit tempat dimana mereka berada, mendadak menjadi hening dan sepi. Kala dan Egan makin terjebak dalam kengerian.


"Gan, apa yang gue liat sama kan dengan apa yang lo liat?" tanya Kala dengan suara gemetaran. Egan mengangguk, nafas pemuda itu kini memburu.


Lalu....


"Gubrak."


"Gubrak."


"Gubrak."


"Kal, ini koridor panjang banget. Kenapa kita bisa sampe dalam begini?" tanya Egan pada Kala sambil terus berlarian.


"Gue juga nggak tau, Gan. Perasan tadi kita agak di depan deh." jawab Kala.


Keduanya sama-sama mencari arah pintu gerbang. Mereka terjebak di bagian terdalam rumah sakit.


"Gan itu tadi apa yang lewat."


Sesosok makhluk tertangkap pandangan mata Kala, namun Egan tak melihatnya. Mereka kini menghentikan sejenak langkah mereka, karena harus mengambil nafas panjang.


"Lo tenang dulu, pokoknya sebisa mungkin, kita mesti keluar dari tempat ini." ujar Egan.


"Blaash."


Sesosok makhluk seperti melintas di belakang mereka, Kala dan Egan sama-sama menoleh dengan jantung yang berdegup kencang. Tapi tak ada satu orang pun yang mereka lihat.


"Hhhhh."


"Hhhhh."

__ADS_1


Nafas Kala dan Egan kini tersengal.


"Tap, tap, tap."


Tiba-tiba terdengar suara melangkah, dari ujung koridor yang sangat sepi dan gelap. Kala dan Egan sama-sama melihat ke arah sana, namun mereka tak menemukan apa-apa kecuali hanya suara yang makin lama makin mendekat.


"Tap, tap, tap."


"Tap, tap, tap, tap, tap, tap."


Langkah yang tadinya terdengar pelan itu mendadak menjadi berlari. Kala dan Egan segera mengambil langkah seribu dan berlari membabi buta. Namun kemudian mereka kehilangan satu sama lain.


Ya, Kala sendiri dan tak menemukan Egan dalam jangkauan pandangannya. Begitupula dengan Egan, ia sendirian dan tak menemukan jejak Kala.


"Kal."


"Egan."


Keduanya saling mencari dan memanggil, namun mereka terpisah di dua arah yang berbeda.


"Blaash."


Seseorang berlarian di belakangan Kala. Remaja itu menoleh namun tak ada siapa-siapa.


Sementara sebuah bola menggelinding dadi koridor yang gelap, lalu berhenti tepat di kaki Egan.


"Kak, main yuk."


Terdengar sebuah suara tanpa rupa, Egan kembali berlari pontang-panting. Sementara Kala kini mendengar seperti seseorang yang mengesot di belakang tubuhnya.


"Tolong."


Terdengar sebuah suara. Perlahan Kala menoleh dan benar apa yang ia duga.


"Tolong."


"Aaaaa."


Kala berteriak lalu berlari meninggalkan tempat itu. Ia berlari tak tentu arah sampai kemudian, ia berhenti mendadak lantaran melihat sesosok dokter yang mirip dengan Philip tampak membelakanginya. Pada saat yang bersamaan ia menerima pesan dari Philip yang berada di rumah.


"Kala jawab papa, kamu dimana?"


Kala buru-buru mematikan handphone tersebut. Karena suara notifikasinya kini seakan mengganggu sosok yang mirip dengan Philip tersebut.


Sosok itu hendak menoleh, namun kemudian sebuah tangan menutup hidung dan mulut Kala serta memaksanya untuk bersembunyi di suatu tempat.


"Egan?"


"Sssst."

__ADS_1


Egan menyuruh Kala untuk diam, sesaat kemudian sosok yang seperti Philip itu menoleh dan melangkah ke arah persembunyian mereka.


__ADS_2