
"Cek CCTV aja, udah."
Salah seorang guru pendukung Faraz berujar.
"Silahkan!" ujar Kala dengan tanpa rasa takut sedikitpun.
Guru BP kemudian memanggil security yang memonitor CCTV dan meminta rekamannya untuk di bawa.
"Kal, tapi lo nggak salah kan?" tanya Andi pada Kala.
"Lo liat tampilan gue, Ndi. Ada nggak baju gue kotor, tangan gue lecet atau luka?. Bandingkan sama kondisi mereka. Masa iya gue berantem serapi ini." ujar Kala.
"Iya juga sih."
Teman-teman Kala berujar meski dengan suara sangat pelan. Alasan Kala memang sangatlah masuk akal. Mustahil berkelahi tanpa meninggalkan bekas sedikitpun.
Tak lama rekaman CCTV itu dibawa ke hadapan mereka semua. Rekaman awal yang memperlihatkan Kala menjauhi teman-temannya di kantin. Sesaat setelah Faraz menjauh.
"Nah ini lo ngikutin gue." ujar Faraz pada Kala.
"Gue ke toilet." ujar Kala.
"Lo liat aja terus gue kemana. Gue udah bilang ke temen-temen gue kalau dari toilet nanti, gue akan langsung ke kelas. Sebab gue belum ngerjain tugas sejarah dan saat itu gue udah selesai makan di kantin." Lanjutnya kemudian.
"Lagian rajin amat gue ngikutin lo, emang lo pikir lo siapa." Ia kembali berujar.
Dalam rekaman tersebut tampak Kala memang menuju ke toilet. Beberapa saat kemudian ia keluar.
"Nah ini lo kemana?" tanya Faraz curiga.
"Ya ke kelas dong. Liat tuh pergerakan gue."
Benar adanya, Kala menuju ke kelas setelah dari toilet. Berdasarkan hasil tangkapan kamera CCTV di beberapa titik.
"Terbukti ya, kalau Kala tidak salah."
Wali kelas Kala berujar. Ia sejak tadi memang diam menunggu bukti. Ia tak ingin membela siswanya mati-matian tanpa melihat dulu fakta yang ada.
"Nggak bisa, ini pasti sudah di cut atau apa videonya." Wali kelas Faraz tak terima.
"Ini rekaman asli bu, bisa di lihat dari jam nya." ujar sang security yang bertugas di bagian monitoring.
"Ibu denger sendiri kan, jadi jangan menuduh siswa saya sembarangan." Wali kelas Kala masih membela siswanya tersebut.
Sang guru BP akhirnya memutuskan, jika Kala tidak bersalah. Hal ini tentu membuat pihak Faraz merasa di sudutkan dan juga dirugikan.
"Terus nasib kami bertiga gimana dong pak. Kalian pikir aja, kami ini luka karena perbuatan siapa. Masa perbuatan setan."
__ADS_1
"Praaang."
Kaca kecil di ruangan guru BP tiba-tiba jatuh ke bawah dan pecah. Semua terkejut dan menatap ke arah sana. Seketika suasana pun mendadak dingin serta bulu kuduk semuanya tiba-tiba merinding.
"Sudah-sudah, nanti kasus ini akan diselidiki lagi. Sekarang semuanya kembali ke kelas masing-masing. Guru-guru silahkan kembali ke ruang guru dan menjalankan tugas. Ingat, di luar sana tidak ada perkelahian tambahan atau susulan. Kalau itu terjadi, dua-duanya akan saya hukum."
"Terus kamu gimana pak, udah luka semua begini?" tanya Faraz lagi.
"Kalian akan dibawa petugas UKS ke klinik seberang. Biaya akan ditanggung sekolah, sementara pelakunya belum berhasil di temukan."
"Orang pelakunya dia." Faraz menunjuk Kala.
"Eh nggak usah nyolot lo ya." Kala menantang.
Egan menarik Kala.
"Sudah, sudah. Cukup!"
Guru BP membentak kedua belah pihak. Mereka pun akhirnya berpisah di tempat itu. Kala dan teman-temannya kembali ke kelas, sementara Faraz, Lucky dan Reza menunggu petugas UKS datang.
***
Kala menuju ke kelas dengan perasaan kesal, sebab ia merasa tak melakukan apa-apa.
"Udalah Kal, mungkin emang si Faraz aja yang mau memfitnah elo." ujar Niko.
"Gimana Ben?" tanya salah seorang dari Ben.
"Kala tuh nggak salah." jawab Ben.
"Dari CCTV aja terbukti kalau tadi Kala pergi ke toilet, terus balik ke kelas ini. Sebab saat dia mau ke toilet itu, dia udah kelar makan. Udah pamit juga sama kita semua, bahwa dia akan duluan ke kelas. Karena mau ngerjain tugas mata pelajaran sejarah yang di lupa kerjain. Dia nggak ada ngikutin Faraz atau mukul tuh anak." lanjutnya kemudian.
"Yah, padahal kita semua udah berharap kalau kejadian itu beneran. Kita semua seneng koq Kal, kalau Faraz lo gebukin."
Para penghuni kelas Kala memang akhlakless. Namun itu semua mereka lakukan lantaran selama ini mereka kesal dengan Faraz.
Bukan itu saja, mereka yang sekolah disini umumnya adalah alumni SMP dari yayasan ini juga, yang mana mereka telah bertemu Faraz selama bertahun-tahun. Bahkan ada yang satu sekolah dengannya dari SD.
Banyak ya g sudah muak dengan sikap remaja itu selama ini. Maka ketika mendengar Kaka mau melawan Faraz, mereka semua ikut gembira.
"Gue tipikal orang yang nggak suka cari masalah, kalau nggak orang nyolot duluan." ujar Kala.
"Udah, yang terpenting lo nggak salah ini." tukas Heru.
"Bener, Kal. Mau bagaimanapun elo difitnah, kalau nggak ada bukti ya nggak bisa." ujar Andi.
Tak lama seorang guru masuk ke kelas tersebut. Mereka pun kembali tempat duduk masing-masing dan memulai pelajaran.
__ADS_1
***
"Lo semua yakin bukan Kala pelakunya?"
Egan mengadakan rapat dadakan bersama Andi, Ben, Niko dan Heru sesaat setelah pulang dari sekolah.
Kala sendiri sudah dijemput oleh supir dan bodyguard. Kini Egan membahas soal Kala, sebab ini penting bagi remaja itu sendiri.
"Gue sih curiga dia kesurupan dan nggak sadar melakukan itu." ujar Andi.
"Koq sama kayak gue ya." timpal Niko.
"Gue juga." ujar Heru.
"Sama." tukas Ben.
"Lo sendiri gimana?" Heru bertanya pada Egan.
"Gue juga curiganya gitu. Sebab ada titik buta, antara CCTV depan perpustakaan yang di lewati Kala.
"Tapi kan Kala ke kelas, kalau diliat dari CCTV depan kelas." ujar Heru.
"Ada jeda beberapa menit, kalau lo memperhatikan waktunya." ujar Andi.
"Bener." Egan membenarkan.
"Tapi Kala nggak lecet sama sekali loh anehnya. Meskipun gue curiga." ujar Ben.
"Nah itu dia." ujar Egan lagi.
Kalau emang Kala melakukan semu itu, udah pasti akan ada bekas. Minimal baju kotor dan lecet." lanjut remaja itu.
"Tapi ini Kala bersih mulus." tukasnya lagi.
"Apa jangan-jangan selama beberapa menit itu Kala ditutup jalannya sama si setan, terus setan itu nyamar jadi Kala." Niko berspekulasi.
Mereka semua terdiam.
"Bisa juga kayak gitu sih." ujar mereka sepakat.
"Kalau beneran kayak gitu, parah juga. Satu sisi gue setuju. Lantaran Kala kayak dilindungi dari si Faraz. Tapi disisi lain dia juga bisa kena fitnah terus." ujar Andi.
Tak lama Chika datang dan menghampiri mereka.
"Sorry gaes, gue telat." ujar Chika.
"Masalahnya gimana?" tanya nya kemudian.
__ADS_1
Maka Egan pun menjelaskan secara rinci, apa yang saat ini tengah mereka curigai dari Kala.