Ayah Percayalah Aku Bisa Melihat Hantu

Ayah Percayalah Aku Bisa Melihat Hantu
Merasa Bersalah


__ADS_3

Kala masih tak percaya dengan apa yang barusan ia lihat. Ia ingat persis tadi tengah berbicara dengan Joan. Bahkan mereka bermain game online bersama di sebuah ruang tunggu.


"Kal?" Philip memanggil puteranya itu.


Kala meraih handphone dan membuka laman game mobile legends. Kemudian ia melihat histori permainan. Disana memang ada akun atas nama Joan Pratama. Namun status permainannya AFK atau away from keyboard. Yang artinya ia tidak ikut bermain, namun anehnya sempat masuk ke dalam game.


"Kal?"


Philip memanggil untuk yang kedua kali. Kala kemudian menunjukkan histori permainan tersebut. Philip sendiri mengerti, sebab ia juga memainkan permainan itu kadang sesekali. Ia terkejut melihat nama Joan ada di sana meski statusnya tak bermain. Sebab untuk masuk ke dalam permainan, seseorang harus menekan tombol match dan masuk ke dalam ruang.


"Kita jangan lama-lama disini, karena ada hal penting yang harus kita selesaikan." ujar Philip.


"Kita mau kemana yah, bukannya mau pulang?" tanya Kala.


"Masih ada beberapa menit lagi, ikut ke ruangan ayah."


Philip melangkah dan Kala hanya mengekor saja. Ia tak tau apa yang akan dilakukan oleh ayahnya itu.


"Kreeek."


Philip membuka pintu ruangannya ketika mereka telah sampai.


"Masuk!" ujarnya pada Kala.


Kala pun melangkahkan kaki dan Philip menutup pintu.


"Duduk!" ujar pria itu lagi.


Kala segera duduk pada sebuah kursi di depan meja praktek ayahnya.


Philip kemudian mengambil secarik kertas dan pulpen, lalu ia menatap Kala.


"Saat tadi kamu ketemu Joan, cara dia datang gimana?" tanya pria itu pada Kala.


"Tiba-tiba muncul aja yah." jawab Kala.


"Kamu dengar suara kursi rodanya atau apa?"


Kala diam.


"Nggak deh yah, soalnya Kala juga baru banget selesai main game online. Masih konsentrasi ke game itu."


"Berarti ada kemungkinan dia bersuara tapi kamu nggak dengar?" tanya Philip.


"Mungkin." jawab Kala lagi.


"Oke, kalian ada physical touch?"


"Mmm?" Kala coba mengingat-ingat.


"Ada yah." jawabnya kemudian.

__ADS_1


"Gimana itu?" tanya Philip lagi.


"Kita sempat high five waktu menang."


"Kamu merasa benar-benar bersentuhan dengan tangannya dia?"


Kala mengangguk.


"Iya yah, tapi..." Kala baru teringat akan sesuatu.


"Tapi apa?" tanya Philip menanti kelanjutan.


"Dingin." ucap Kala sambil menatap Philip.


"Dinginnya gimana?"


"Dingin." jawab Kala lagi.


Philip menghela nafas, sejak tadi ia telah mencatat apapun yang diungkapkan oleh anaknya itu.


"Sebelum ini, apa kamu pernah mengalami hal yang sama?" Philip kembali bertanya.


"Kalau yang sama persis, kayaknya nggak ada deh yah. Baru ini doang kejadian." jawab Kala.


Philip mengangguk dan menyimpan catatannya di dalam sebuah buku, yang terdapat di atas meja.


"Kita pulang, jadwal ayah udah habis." ujar Philip.


Kala mengangguk, lalu mereka kini bersiap.


"Ayo, kita pulang!" ajaknya kepada Kala.


Kala mengangguk, lalu bersama dengan Philip ia keluar dari ruangan tersebut. Mereka menyusuri koridor dari bangsal satu ke bangsal lainnya, hingga kemudian seseorang muncul di hadapan mereka.


"Dokter Philip."


Orang tersebut menatapnya dengan tajam, seperti memiliki sebuah dendam. Philip dan Kala sama-sama menghentikan langkah. Kemudian menatap orang tersebut dengan bingung, karena merasa tidak kenal.


"Maaf, anda siapa ya?" tanya Philip heran.


Tanpa bicara pria itu segera mendekat dan secara serta merta memukul wajah Philip di bagian pipi dekat hidung.


"Buuuk."


Kala dan Philip terkejut, begitupula dengan para dokter, perawat, serta pengunjung rumah sakit yang kebetulan melintas di tempat itu. Darah segar mengalir dari hidung Philip, yang kemudian ia seka dengan tangannya.


"Hei ada apa ini?"


Para dokter mulai mendekat dan langsung menarik Philip. Sementara pria penyerang tersebut kini ditahan oleh security pergerakannya. Kebetulan memang selalu ada sekuriti yang berpatroli di tiap jam.


"Saya minta anda untuk mendidik anak anda ini."

__ADS_1


Pria itu berhasil memberontak dari sekuriti dan mendorong Kala. Philip langsung pasang badan untuk anaknya. Kala yang tak tak mengerti di tarik oleh dokter lain ke arah belakang.


"Ada apa ini, jelaskan dulu."


Salah seroang dokter berbicara pada si penyerang.


"Anak dokter Philip ini, sudah memukuli anak saya Faraz dan kedua temannya."


Philip dan Kala baru mengetahui jika pria itu adalah ayahnya Faraz.


"Pak." Kali ini Philip mendekat.


Sejatinya ia bisa saja membalas, sebab ia memiliki basic beladiri yang cukup mumpuni. Namun ia sadar jika dirinya adalah seorang dokter, dan tengah berada di wilayah tempat dimana ia bekerja. Maka tak sepatutnya ia melakukan tindak kekerasan.


"Anak saya Kala, tidak ada memukul anak bapak. CCTV di sekolahnya tidak menunjukkan adanya pergerakan, dimana Kala pergi ke tempat anak bapak. Itu jelas fitnah, dan saya bisa laporkan bapak serta anak bapak."


Philip menatap ayah Faraz dengan penuh keberanian, membuat pria itu menjadi kian emosi dan kembali hendak memukul Philip.


"Anda kurang ajar ya." ujarnya kemudian.


"Eh pak, bapak jangan main kasar."


Sekuriti dan para pengunjung rumah sakit meneriaki ayah Faraz.


"Jangan bikin onar di tempat umum." celetuk salah seorang dari mereka.


"Awas ya dok. Sekali lagi anak anda mencelakakan anak saya, saya tidak segan-segan untuk mencelakai anak anda." ancamnya pada Philip.


"Sedikit saja anak saya celaka, karena perbuatan yang dituduhkan. Saya akan buat perhitungan." Philip balas mengancam.


Pria itu kemudian pergi dari hadapan Philip dan yang lainnya.


"Dokter nggak apa-apa dok?" tanya mereka yang masih tersisa di tempat itu.


"Saya nggak apa-apa." jawab Philip.


"Sebaiknya di tangani dulu." ujar salah seorang dokter padanya.


Philip hanya menuruti saja, ia kemudian di tangani dan diobati memar serta pendarahan hidung yang ia alami. Sementara Kala duduk menunggu dengan perasaan bersalah yang membuncah.


Meski dirinya tidaklah salah, menurut apa yang ia yakini. Ia merasa tidak memukul Faraz, dan mengapa harus Philip yang menanggung balasan.


"Kamu itu anak sial, selalu saja membawa masalah ke keluarga ini."


Ia teringat akan perkataan keluarga sang ibu Gayatri, mengenai dirinya. Perkataan yang sampai hari ini begitu sakit bila teringat.


Namun sepertinya mulai membuka mata Kala dan menunjukkan kebenaran. Bahwasannya ia memang merupakan seorang anak pembawa sial.


Kala kemudian menelpon Egan dan menceritakan semuanya. Hari itu Enrico jadwal malam, dan baru mengetahui kejadiannya dari Egan.


Enrico geram dan marah, ia ingin mendatangi ayah Faraz saat itu juga. Namun Kala berkata jangan, saat ini ia hanya ingin bercerita dan tak mau ada keributan lagi. Ia merasa dirinya sebagai anak yang menyebabkan ayahnya celaka.

__ADS_1


"Kal, udalah. Orang tua jadi tameng anak itu hal biasa koq. Papa juga sering hampir celaka gara-gara gue."


Egan mencoba menghibur Kala, namun tetap saja Kala merasa bersalah. Bahkan saat sampai Egan memberi pengertian lebih lanjut, ia tetap merasa demikian.


__ADS_2