
"Hahaha."
"Hahaha."
Kala dan Egan tertawa-tawa di tengah keseruan bermain game online. Pada saat yang bersamaan muncul notifikasi panggilan di handphone Egan, ternyata dari Chika.
"Hallo, Chiken." ujar Egan dengan nada renyah.
"Heh, sembarangan." Chika sewot sambil tertawa, Egan pun jadi ikut sumringah.
"Kenapa Chik?" tanya Egan kemudian.
"Lo dimana sih sekarang?" Chika balik bertanya pada Egan.
"Ya di rumah gue lah, masa di rumah bu Lidya."
"Cie, yang suka sama bu Lidya tapi nggak ditanggapi."
"Hahaha." Egan dan Chika sama-sama tertawa.
"Sibuk ya lo?" Lagi dan lagi Chika bertanya.
"Lagi nge-game gue sama Kala."
"Oh ada Kala."
"Ada nih." Egan mengaktifkan mode loud speaker di handphonenya.
"Kenapa Chik?" Kala bertanya pada Chika.
"Eh Kala, lo sekarang famous banget ya di sekolah." ujar Chika pada Kala.
"Famous gimana anjay?" Kala menjawab sambil terus mengoperasikan stik PS.
"Dia dari kota lain, tapi bahasanya kayak anak Jakarta banget ya." ujar Chika lagi.
"Kayak bukan orang daerah ya, Chik." Egan berkata pada Chika, sementara Kala hanya tertawa.
"Iya kayak udah lama tinggal di Jakarta. Eh Kal, lo tuh sekarang jadi bahan pembicaraan para cewek tau. Karena lo berhasil menumbangkan kesombongannya si Faraz."
Kala masih tertawa.
"Masa sih?" tanya nya kemudian.
"Iya, dan setelah tau gue kenal sama lo. Followers Instagram gue meningkat tau nggak. Rata-rata yang follow gue, anak sekolah kita. Mereka banyak nge-DM gue dan nanyain soal elo."
"Jadi fanbase ya lu, Chik." ujar Egan.
"Ember." jawab Chika.
Kala pun masih setia dengan tawanya.
"Eh, pada ikutan yuk..." ajak Chika.
"Kemana?" Kala dan Egan bertanya di waktu yang nyaris bersamaan.
"Anak-anak ngajak makan di soto pak Yono."
"Gimana Kal?" tanya Egan.
"Pak Yono siapa?" tanya Kala pada Egan.
__ADS_1
"Pak Yono itu astronot." ujar Egan seraya tertawa, diikuti tawa Chika.
"Astronot yang nyambi jualan soto." lanjutnya lagi. Chika makin terkekeh.
"Oh dia yang jual soto?" tanya Kala.
"Tadi kan udah dibilang soto pak Yono. Hhhh, gue unyel-unyel juga lo."
Chika merasa gemas pada Kala. Kala pun kembali tertawa, ia tak konsentrasi karena sedang memperhatikan game.
"Mau nggak, Kal?" tanya Egan lagi.
"Ayo." jawab Kala.
"Ya udah Chik, ketemuan disana aja." ujar Egan.
"Ok."
Tak lama Chika menyudahi panggilan. Egan mengajak Kala untuk bersiap, lalu mereka pergi dengan mengendarai salah satu mobil Enrico.
"Ini nggak apa-apa kita pake mobil bokap lo?" tanya Kala pada Egan.
"Nggak apa-apa, bapak gue lagi ngoperasi pasien. Pasti lama kelarnya. Ntar kita balik sebelum dia pulang."
"Ok deh." Kala menyetujui.
Mereka kemudian melaju dengan kecepatan yang cukup kencang. Setibanya di tempat, Kala bertemu dengan Chika dan juga teman-teman Egan dari komunitas. Ada anak sekolah mereka, ada juga dari sekolah lain. Bahkan dua diantaranya sudah kuliah dan bekerja.
Mereka makan sambil berbincang-bincang. Tak lama, entah mengapa Kala ingin sekali menoleh ke belakang. Ke tempat dimana sebuah tempat jualan sangat ramai di padati pengunjung.
Kala merasa ada beberapa yang aneh di antara para pengunjung tersebut. Seperti manusia, namun dengan tampilan yang cukup membuat bulu kuduk merinding. Padahal ini masih siang.
"Mereka bukan orang, Kal. Itu penglaris." Chika berkata dengan nada setengah berbisik pada Kala. Namun Egan dan teman-temannya yang lain bisa mendengar.
"Itu yang onoh." ujar Chika.
"Oh yang kata lo ada something nya gitu di jualannya."
"Iya." jawab Chika.
"Kala juga ngeliat." lanjutnya lagi.
"Bentuknya gimana Kal?" tanya teman Egan yang lain.
"Kayak orang biasa, tapi pakaiannya lusuh, terus rambutnya nutupin muka."
"Cosplay jadi gembel kali." celetuk temannya yang lain. Mereka semua pun lalu tertawa-tawa, termasuk Kala sendiri.
Usai makan, mereka pergi ke tempat-tempat hangout yang seru. Ada beberapa kali Kala tampak melihat penampakan. Namun ia berusaha bersikap biasa saja, karena saat ini dirinya hanya ingin bersenang-senang. Ia benar-benar tak menggubris apapun itu, meski rasa takut tak bisa hilang begitu saja dari dalam dirinya.
"Gimana Kal, seru kan tadi sama anak-anak itu?" tanya Egan ketika mereka telah berada di jalan pulang.
"Iya, si Darriel asik orangnya." ujar Kala.
"Ketawa mulu lo kan kalau dekat dia."
"Iya." ujar Kala.
"Waktu itu dia nggak ikut ya, yang waktu kita hunting lokasi." lanjut Kala kemudian.
"Kagak, pas acaranya juga nggak. Dia tuh jarang bisa keluar rumah, orang tuanya galak."
__ADS_1
"Oh ya?"
"Iya, di suruh belajar mulu tuh anak. Berat beban hidupnya si Darriel. Bokapnya lulusan Harvard, nyokapnya universitas Leiden. Darriel nya cita-cita cuma pengen jadi YouTuber sukses. Cetek banget kan cita-citanya dia?"
Kala dan Egan sama-sama tertawa.
"Orang tuanya nuntut dia?" tanya Kala.
"Ya pasti lah, Kal. Orang tuanya juga punya beban. Masa iya dua-duanya lulusan universitas ternama, anaknya satu nggak keurus."
"Iya juga sih."
"Gue aja nih, yang bokap lulusan dalam negri. Itu aja gue beban setengah mati. Dia mau gue ngikutin jejaknya dia."
"Terus lo mau?"
"Nggak mau gue, nggak ada niat kesana. Tapi gue juga nggak enak kalau nolak. Segala kebutuhan gue, apapun yang menyangkut tentang gue, bokap pasti bela-belain.
Kala menghela nafas.
"Sudah emang jadi anak." ujarnya kemudian.
"Tapi lebih susah lagi kalau lo nggak punya orang tua, kayak gue waktu itu." lanjut Kala.
"Sorry Kal, hidup lo pasti berat kan waktu itu?"
Lagi-lagi Kala menghela nafas.
"Gue sampe udah nggak ngerasa apa-apa lagi, datar aja udah. Tiap kali gue di bentak, di pukul dan lain-lain."
"Tapi sekarang lo udah baik-baik aja. Dan akan terus seperti itu. Lo berada dalam asuhan orang yang tepat."
Kala diam. Bahkan sampai detik ini ia belum mengenal ayahnya lebih dekat. Ia belum bisa memastikan apakah Philip akan terus menjadi ayah yang baik bagi dirinya atau tidak.
"Tiiiiin."
Egan memencet klakson dengan kencang, sesaat setelah ia dan Kala melihat seorang perempuan menyeberang mendadak.
"Buuuk."
Wanita itu tertabrak meski dirinya sudah menginjak rem dalam-dalam. Hari telah gelap, Egan dan Kala kini terpaku di dalam mobil dalam kondisi yang sama-sama syok.
Tempat yang mereka lalui adalah jalan sepi, sedang kini korban berada di bawah mobil. Egan merasa jika ia telah melindas wanita itu.
Tak lama keduanya membuka pintu mobil dan sama-sama menunduk untuk mengecek kondisi korban. Namun tak ada siapapun di bawah kolong mobil tersebut. Tak ada darah maupun bekas kecelakaan lainnya.
Keringat dingin yang semula telah mengucur kini semakin deras. Dengan jantung yang berdegup kencang, Egan menatap Kala dan begitupun sebaliknya.
"Lo liat kan tadi Kal?"
Kala mengangguk.
"Tap, tap, tap."
Terdengar sebuah langkah kaki dari arah belakang mereka.
"Gan, gue denger langkah kaki di belakang kita."
Egan berdiri, begitupun dengan Kala. Meski ia tak mendengar suara tersebut, namun hati Egan kini diliputi ketakutan.
"Dia dimana Kal?" tanya Egan pada Kala.
__ADS_1
"Gue nggak berani noleh, tapi kayaknya dia persis di belakang kita."