Ayah Percayalah Aku Bisa Melihat Hantu

Ayah Percayalah Aku Bisa Melihat Hantu
Perasaan Yang Bercampur Aduk


__ADS_3

"Ada apa ini?"


Suami Galuh keluar dari kamar dan langsung menghampiri Galuh yang tengah histeris. Begitupula dengan adik-adik Galuh.


Seketika waktu pun terhenti. Manakala mereka menyaksikan sang ibu pingsan di lantai dan didekatnya ada di bayi yang punggungnya tertancap pisau.


Galuh sendiri sudah tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia hanya bengong dengan air mata yang mengalir deras. Seisi rumah pun bergegas meminta tolong pada tetangga, dan tetangga akhirnya menelpon ambulans. Dengan segera kedua orang itu pun di larikan ke rumah sakit.


***


Di apartemen.


Philip tertegun menatap foto Gayatri yang ada di dinding salah satu ruangan. Ia begitu merindukan perempuan itu.


"Kala sekarang aman, aku akan jaga dia dengan baik. Kamu yang tenang disana, dia pasti sembuh dan bisa hidup normal seperti anak lain."


Mata Philip berkaca-kaca menahan tangis. Ia meraih foto tersebut lalu menciumnya dengan penuh emosional.


"Aku cinta kamu." ujarnya kemudian.


"Dan itu belum berubah sampai hari ini."


***


Nun jauh disana Galuh dan suaminya begitu panik, mereka khawatir pada kondisi anak mereka. Sedang adik Gayatri yang lain mengkhawatirkan kondisi sang ibu. Sebab saat ini ibu mereka tersebut belum juga sadar dan masih dalam keadaan pingsan.


"Kamu gimana sih, anak bisa nggak di awasi gitu."


Seumur-umur melihat sang suami memarahi Kala. Kini untuk pertama kalinya Galuh menerima hal yang sama dari pasangannya tersebut.


"Koq kamu malah nyalahin aku doang sih?. Kamu kan bapaknya, dan posisi kita tadi sama-sama tidur mas. Nggak usah mencari kambing hitam kamu."


"Ya aku tidur karena capek cari uang untuk keluarga ini. Masa kamu yang dirumah, anak bisa nggak keurus. Ngapain aja kamu di rumah seharian, masak nggak, apa nggak. Paling tidur dan main handphone kan?. Harusnya kamu bisa menjaga anak malam-malam begini."


"Jadi kamu pikir, aku ini cuma tukang jaga anak aja gitu?"


"Ya abis apa lagi, kamu nyari duit nggak. Capek beresin rumah juga nggak. Cuma jaga anak aja nggak mau."


"Pak bu, tolong tenang ya. Ini rumah sakit."

__ADS_1


Seorang perawat menegur mereka berdua. Sebab mereka bertengkar di ruang tunggu instalasi gawat darurat. Tempat dimana banyak juga keluarga pasien lain yang menunggu.


Akhirnya pasangan itu sepakat untuk diam, meski lidah mereka masih sangat ingin berdebat dan berteriak. Guna saling melampiaskan kekesalan masing-masing.


***


"Phil, aku percaya kamu akan jaga Kala dengan baik."


Philip terbangun ketika mendengar suara tersebut, dan ternyata hari telah pagi. Philip terdiam sejenak dengan jantung yang berdegup kencang. Ia barusan seperti mendengar suara Gayatri. Entah itu sungguhan atau hanya sekedar mimpi belaka.


Philip kemudian beranjak dan pergi mandi. Usai berpakaian, pria itu masuk ke dalam mobil lalu berkendara menuju rumah sakit.


Ketika melintasi suatu jalan, tepatnya di depan sebuah outlet yang menjual roti serta minuman serba susu. Philip teringat jika ia belum sarapan. Maka ia mampir sekalian membelikan Kala, Egan, dan juga Heru.


Ia memesan empat cup susu hangat, lengkap dengan beberapa potong roti. Ia memberikan masing-masing satu cup medium susu hangat dan dua potong roti kepada Egan dan Heru, ketika ia telah sampai. Kemudian barulah ia pergi menuju ke kamar Kala.


"Pagi, Kal." sapanya kemudian.


"Pagi yah."


Kala yang tengah membaca buku tersebut balas menyapa sang ayah. Philip mendekat dan mencium kening anaknya.


"Udah mandi kamu?" tanya nya kemudian.


Philip melihat ada satu piring sarapan yang belum di makan. Ia tau pastilah anak itu merasa bosan. Philip lalu mengeluarkan dua cup susu hangat yang ia bawa dan memberikan salah satunya pada Kala. Ia juga memberikan empat potong roti pada anak itu.


"Ini apa yah?" Kala mempertanyakan isi dari cup minuman yang diberikan sang ayah.


"Susu." jawab Philip.


Maka kala membuka penutup cup tersebut lalu mengambil sepotong roti. Hal tersebut juga sama dilakukan oleh Philip.


Kala mencelupkan roti ke dalam susu, begitupula dengan Philip. Sesaat kemudian mereka saling menyadari dan terdiam. Lalu mereka sama-sama tertawa, karena ternyata kebiasaan mereka sama.


Mereka lalu memakan dan menghabiskan sarapan mereka tersebut. Usai mengobrol sejenak, Philip pamit untuk menuju ke ruangannya.


***


Esok harinya ketika di sekolah, Chika bertemu dengan Cindy. Namun cindy bersikap biasa saja, bahkan terkesan seperti tak mengenali Chika sama sekali.

__ADS_1


Padahal kemarin mereka sempat bertemu di rumah sakit, bahkan Cindy memberikan tatapan yang aneh baginya.


Chika berpikir sejenak, apakah kemarin itu Cindy kerasukan. Tapi jika iya, biasanya Chika bisa mencium aroma makhluk gaib yang merasuki seseorang.


Namun kemarin ia tak bisa mencium bau itu sama sekali. Cindy kemudian berlalu dari hadapan Chika. Sementara Chika terus memperhatikan gadis itu sampai jauh.


***


Siang hari Andi, Ben, dan juga Niko kembali mendatangi rumah sakit. Namun Niko tanpa sengaja melihat dua teman Faraz yang sedang berjalan menuju lobi rumah sakit.


"Eh, itu kan temennya si curut Faraz. Ngapain mereka disini?" tanya nya kemudian.


Andi dan Ben yang terkejut, kini memperhatikan keduanya.


"Di suruh si Faraz mencelakai Kala mungkin." Ben berspekulasi.


"Udah buruan, kita samperin Kala sekarang." ujar Andi.


Maka tiga orang tersebut bergerak menuju ke lobi. Mereka hendak langsung menuju ke kamar Kala. Kebetulan kedua teman Faraz saat ini juga terlihat menuju ke sana.


"Gue bejek juga tuh anak, liat aja." ucap Niko dengan nada yang begitu kesal.


"Berani-beraninya mereka." lanjutnya lagi.


Mereka terus mengikuti kedua teman Faraz tersebut. Namun kedua orang itu berhenti pada sebuah kamar dan masuk ke sana.


Andi, Ben, dan Niko saling menatap satu sama lain. Sebab itu bukanlah kamar Kala. Seketika mereka sama-sama mengingat, jika sudah beberapa hari ini mereka tidak melihat Faraz sama sekali.


Mereka lalu mendekat secara diam-diam. Dengan penuh keberanian Andi membuka pintu ruangan tempat dimana tadi kedua teman Faraz masuk. Ben dan Niko menjadi pengawas sekitar, tentunya.


"Kreeek."


Andi membuka pintu itu secara perlahan, lalu ia beserta kedua temannya kaget. Sebab mereka melihat Faraz yang terbaring dengan alat bantu pernapasan.


"Pantes gue nggak ngeliat dia selama beberapa hari belakangan ini."


Andi berujar pada kedua temannya, ketika mereka memutuskan untuk sedikit menjauh. Sebab takut dikira macam-macam.


"Kebanyakan drama sih, akhirnya karma." seloroh Niko sambil tertawa. Ia sama sekali tak kasihan melihat kondisi Faraz.

__ADS_1


"Udah, mending sekarang kita ke Kala aja." ucap Andi lagi.


Maka ketiganya pun sepakat untuk kembali ke tujuan awal mereka. Yakni menyambangi kamar Kala, sekalian nanti mengawasi Heru dan juga Egan.


__ADS_2