Ayah Percayalah Aku Bisa Melihat Hantu

Ayah Percayalah Aku Bisa Melihat Hantu
Sebuah Rencana


__ADS_3

"Kala, are you ok?"


Philip bertanya pada Kala ketika mereka telah kembali ke mobil. Di luar sana, tepatnya di lokasi kejadian kecelakaan. Polisi masih sibuk melakukan olah TKP. Sementara mayat korban sudah dibawa ke rumah sakit oleh petugas ambulans.


"Cewek itu yang Kala liat di bioskop tadi yah."


Philip terdiam mendengar pernyataan tersebut. Tadi di mobil perempuan itu, terdapat dua buah tiket nonton yang belum terpakai. Philip sempat melihatnya sekilas, sebelum diambil oleh polisi dan dijadikan sebagai barang bukti untuk kepentingan identifikasi.


"Ayah masih nggak percaya juga sama hal gaib?" Kali ini Kala menatap sang ayah.


"Hhhhh." Philip menghela nafas.


"Kita pulang ya, kamu perlu istirahat." ujar Philip lalu menyalakan mesin mobil. Sesaat kemudian mereka meninggalkan tempat itu.


***


Esok hari.


"Lo ngapain disini sendirian?"


Tiba-tiba Ningrum muncul, ketika Kala tengah merenung sendirian di atas rooftop sekolahnya. Kala sedikit terkejut dengan kehadiran gadis cantik itu. Sebab sudah beberapa hari ini ia tidak melihat Ningrum di sekolah.


"Lo baru kelihatan." ujar Kala seraya memberi sedikit lirikan.


Ningrum tersenyum.


"Gue sakit." jawabnya kemudian.


"Oh, tapi sekarang udah sembuh?" tanya Kala lagi.


"Ya, seperti yang lo liat. Makanya gue sekolah hari ini."


Kala menghela nafas dan menatap Ningrum, lalu kembali melepaskan tatapannya jauh ke depan.


"Lo belum jawab pertanyaan gue, Kal." ujar Ningrum lagi.


Kala kembali menghela nafas, ia terus saja membuang pandangannya ke area sekolah dan sekitarnya.


"Apa lo percaya, kalau ada orang yang bisa ngeliat hantu?" tanya Kala.


"Sekarang lo lagi melihatnya." ujar Ningrum.


"Degh."


Jantung Kala berdetak lebih cepat. Ia bingung pada nada bicara Ningrum yang tak jelas.


"Maksud gue, apa lo sekarang lagi melihatnya?" tanya Ningrum lagi.


"Oh, mmm nggak." jawab Kala. Ia akhirnya mengerti jika Ningrum bertanya padanya.


"Tapi, koq lo tau gue bisa melihat?" Kala heran pada Ningrum.


Gantian Ningrum kini yang menghela nafas.

__ADS_1


"Gue menduga aja. Abisnya lo termenung disini, sambil mikirin sesuatu. Terus lo nanya percaya apa nggak, gue terhadap orang yang bisa ngeliat hantu. Siapa lagi yang lo bicarakan kecuali diri lo sendiri. Masa iya lo capek-capek mikirin soal orang lain, sampe sengaja nyari tempat menyendiri kayak gini."


Kala lagi-lagi menghela nafas.


"Ayah gue nggak percaya kalau gue bisa ngeliat semua itu."


"Ayah lo itu dokter kan?" tanya Ningrum.


Kala memperhatikan gadis itu.


"Gue denger dari anak-anak loh." ujar Ningrum lagi.


"Iya, dia dokter. Spesialis kejiwaan." jawab Kala.


"Pantes, dia nggak akan percaya sama yang begitu-begituan." jawab Ningrum.


"Ya walaupun di jaman koas atau masih jadi dokter umum, dia pasti pernah mengalami hal mistis di rumah sakit." lanjutnya kemudian.


"Emang dokter mengalami hal itu?" tanya Kala tak percaya.


"Lo tanya aja sama bapak lo atau bapaknya Egan. Pasti ada sekali, dua kali mereka mengalami hal aneh. Namanya juga rumah sakit, tempat orang sakit. Kadang ada banyak juga yang meninggal. Mustahil mereka nggak pernah mengalami hal tersebut."


"Iya juga sih." ujar Kala.


Mungkin baik Philip maupun Enrico hanya berusaha menganggap kejadian mistis yang mereka alami, sebagai sebuah bentuk atau refleksi dari kelelahan mereka selama bekerja.


Bisa jadi mereka menganggap jika diri mereka hanya sedang berhalusinasi. Padahal mungkin mereka mengalami hal yang lebih parah, ketimbang yang Kala dan Egan alami tempo hari.


"Gue balik ke kelas dulu, ntar yang lain nyariin gue." ujarnya kemudian.


"Ok." jawab Kala.


Ningrum pun menghilang di balik pintu, tak lama kemudian teman-teman Kala tiba. Tadi Andy sempat bertanya dimana Kala melalui chat di WhatsApp, dan Kala pun menjawab jika ia sedang ada di rooftop.


"Kal."


"Hei." jawab Kala.


"Ngapain lo disini?" tanya Andy seraya mendekat.


"Nggak apa-apa, ternyata enak juga disini." jawab Kala.


"Kata anak-anak disini tuh serem tau." celetuk Ben sambil melihat ke sekitar.


"Serem apaan, orang cuma ada kipas AC doang." ujar Kala.


Mereka pun lalu berdiri di pinggir rooftop tersebut sambil melihat-lihat ke sekitar.


***


"Kal."


Egan menghampiri Kala, ketika jam sekolah telah usai.

__ADS_1


"Gan, makan yuk...!" ajak Kala kemudian.


"Ya udah ayok, mau makan dimana?" tanya Egan.


"Di tikungan jalan itu aja. Gue tadi pagi ngeliat ada yang jual bakso deh disana." ujar Kala.


"Oh bakso mas Lex. Ayo...!" ujar Egan.


Mereka pun berjalan kaki keluar dari sekolah, untuk menuju ke warung bakso yang di maksud.


"Lo mau cerita apa?" tanya Egan pada Kala ketika mereka telah tiba di lokasi. Tak lama bakso yang mereka pesan pun jadi.


Kala mulai membubuhkan saos ke dalam baksonya tersebut.


"Kemaren, kan gue sama papa nonton tuh berdua di bioskop."


"Pas balik sekolah?" tanya Egan.


"Iya. Nah pas tengah-tengah nonton, gue sadar ada cewek yang lagi merhatiin gue. Dari salah satu kursi yang ada di barisan pojok kanan. Dia itu ada di bagian agak bawah, dan harusnya dia menatap layar dong. Bukan menatap ke arah gue dan bokap."


"Terus?" tanya Egan seraya mulai makan.


"Gue bilang lah ke bokap, bokap bilang di pojokan itu kosong semua kursinya. Dari atas ke bawah itu kosong. Pas film selesai, gue ketemu lagi sama cewek itu di dekat toilet. Gue ikutin dan dia ilang. Pas balik gue sama ayah ketemu mobil yang kecelakaan, dan korbannya ternyata cewek itu."


Egan menghentikan makan lalu menatap Kala.


"Anjir merinding gue." ujar Egan. Kini makannya yang semula lahap, menjadi lambat.


"Dan ayah masih nggak percaya juga kalau gue beneran ngeliat cewek itu di bioskop. Saat kita nemuin dia, di dekat cewek itu ada dua tiket bioskop. Itu artinya tuh cewek mau nonton, entah sama siapa. Terus dia kecelakaan."


Egan kini menghela nafas.


"Gue sih percaya, Kal. Lah orang tempo hari aja gue ngalamin sendiri koq. Yang kita muter-muter terus nabrak. Muter lagi, nabrak lagi tapi nggak ada korbannya. Emang bapak-bapak kita itu susah kalau dikasih pengertian, mereka nggak akan percaya."


"Padahal dokter itu dekat sama hal gaib kan?" ujar Kala lagi.


Egan nampak memikirkan ucapan Kala.


"Iya juga ya. Gue kadang suka denger atau baca cerita-cerita serem berdasarkan kisah nyata gitu di internet. Banyak koq dokter, perawat, dan orang-orang yang kerja dirumah sakit mengalami kejadian mistis. Apalagi yang dinas malam." ujar Egan.


"Iya makanya, tapi kenapa bokap gue dan bokap lo kayak nggak percaya sama semua itu." ujar Kala lagi.


Kala dan Egan diam sejenak.


"Mungkin karena bokap lo dokter jiwa kali ya. Jadi hal mistis yang dulu-dulunya mereka alami dianggap sebagai halusinasi semata oleh mereka. Kan pasti bokap gue curhat tuh ke bokap lo, kalau dia habis mengalami hal gaib. Pasti nanti bokap lo dengan ilmu psikologinya itu, akan mengatakan jika hal tersebut nggak bener." tukas Egan.


"Masuk akal sih." Kala menimpali.


"Apa kita takutin aja bokap lo sama bokap gue?" Egan mencetuskan sebuah ide.


"Gue baru mau bilang begitu." ujar Kala.


Lalu kedua remaja itu sama-sama terdiam, dan detik berikutnya mereka pun sama-sama tersenyum bahkan tertawa.

__ADS_1


__ADS_2