
"Kamu pernah mencari ayah kamu?"
Philip mencoba mengorek keterangan dari Kala. Apakah pernah Kala mencari keberadaan ayah kandungnya selama ini. Namun remaja itu kemudian menggelengkan kepala.
"Nggak pernah." jawabnya kemudian.
"Kalau dia memang sayang dengan ibu dan saya, dia pasti cari kami." lanjutnya lagi.
"Kalau dia nggak tau kemana harus mencari?"
"Masa iya, dia nggak kenal satu pun teman ibu. Dan mustahil juga salah satu teman ibu, nggak tau dari mana ibu berasal. Dia bisa tanya ke teman ibu, di mana alamat ibu."
Philip menjatuhkan pandangan ke sudut lain, lalu menghela nafas cukup panjang.
"Kala, ini ibu kota. Nggak semua orang tertarik untuk mengetahui, darimana orang lain berasal. Siapa dia, dan ada urusan apa dia disini."
"Apa bisa seorang laki-laki menghamili perempuan, yang bahkan nggak dia kenal dengan baik?"
Philip kembali menghela nafas, ia terjebak ucapannya sendiri. Kala sama persis dengan dirinya di masa lalu, di umur segitu Philip juga tumbuh sebagai anak pintar yang kritis terhadap banyak hal. Kini, ia seolah mendapatkan karmanya sendiri.
"Ya, mungkin aja ayah kamu sudah mencari tau. Tapi nggak berhasil."
Kali ini Kala terdiam dan sedikit menundukkan kepala.
"Apa ibu pernah cerita sama om, dia dekat sama siapa aja. Kalian berteman baik kan?"
Kala menatap Philip, namun tatapan mata itu seakan menjadi racun yang melumpuhkan bagi Philip. Kala memiliki mata ibunya, dan itu cukup melemaskan seluruh persendian.
"Ya kami berteman dengan baik, tapi om nggak tau dia dekat dengan siapa aja."
Philip terus berdusta perihal hubungannya dengan Gayatri. Ia ingin tahu apakah Kala bisa menerima, andai ia mengakui jika ia adalah ayah biologis dari anak itu.
"Kalau gitu, biar Kala tetap nggak tau aja siapa ayah Kala. Kala juga nggak terlalu pengen ketemu."
Hati Philip seperti disayat sembilu. Ia ditolak anak sendiri, sebelum ia berani mengatakan hal yang sebenarnya.
"Kenapa?" tanya Philip dengan suara bergetar.
"Buat apa, om?. Udah telat, ibu udah nggak ada. Kala udah merasakan semua hal nggak enak, yang dikasih sama keluarga ibu. Dia sangat terlambat, kalau baru mau datang sekarang."
"Bagaimana, kalau dia nggak pernah tau kamu ada?"
Kala kembali menatap Philip dan lagi-lagi Philip merasa seperti ditatap oleh Gayatri. Kali ini remaja itu diam.
"Mungkin aja ayah kamu nggak pernah dikasih tau, kalau kamu itu ada. Mungkin ibu kamu merahasiakan kehamilannya, dan memilih untuk tidak berhubungan lagi via apapun."
Kala makin terdiam, perlahan ia pun kembali menunduk.
"Ok, kita ganti aja topiknya. Om Philip mau nanya, kenapa kamu disuruh keluarga ibu kamu buat cari om?" Philip mengalihkan arah pembicaraan.
__ADS_1
"Karena kata mereka, ibu punya teman seorang dokter yang bisa mengobati keanehan dalam diri Kala."
"Aneh soal apa?" Lagi-lagi Philip bertanya.
"Menurut mereka, Kala aneh. Tapi Kala ngerasa biasa aja. Kala bisa melihat hantu, om."
Kali ini Philip yang menatap puteranya itu dalam-dalam.
"Hantu?" tanya nya kemudian.
"Iya, Kala selalu ngeliat hal kayak gitu dari kecil. Kala takut, tapi setiap kali Kala ketakutan mereka selalu marah dan menganggap Kala cuma cari perhatian."
"And then?. Mereka biasanya ngapain?" tanya Philip dengan suara yang mulai dipenuhi rasa penasaran.
"Mereka akan pukul atau mengikat Kala di pohon depan rumah, kadang sampe pagi."
"Sampai pagi?"
Hancur hati Philip mendengar semua itu. Bagaimana mungkin mereka tega melakukan hal semacam itu terhadap anaknya.
"Lain hal, mereka kadang maksa Kala minum obat tidur yang banyak. Supaya Kala bisa tidur dan nggak ganggu mereka di malam hari."
"Obat tidur?"
Philip bertanya dengan hati yang seperti diaduk menggunakan pisau.
"Karena kadang sosok itu muncul pas Kala udah mau tidur. Kala akan ketakutan dan teriak, sampai seisi rumah nggak bisa tidur." lanjutnya kemudian.
***
Langit pun mendadak muram, Philip melangkah gontai dan masuk ke dalam mobil. Usai beberapa saat berbincang dengan Kala.
Dada pria itu kini terasa sesak, penuh amarah ia kemudian menghidupkan mesin kendaraannya. Philip mengemudi, dengan masih mengingat semua perkataan sang putera.
"Kala pernah di paksa tidur dekat makam ibu, waktu Kala kecil. Karena Kala selalu nangis nanyain ibu. Saat Kala udah makin besar, dan makin sering di datangi sosok-sosok itu. Kala juga sering nggak dibolehkan masuk ke rumah, disuruh tidur di luar."
"Kenapa kamu nggak mencoba lari dari rumah?. Kamu kan udah besar."
"Pernah, sampai tidur di emperan toko pun pernah. Tapi selalu aja ada satpol PP atau polisi yang nyamperin dan nganterin Kala pulang. Setiap kali diantar sama mereka, keluarga ibu selalu playing victim. Mereka nangis, dan sangat berterima kasih. Seolah mereka memang mencari Kala, selama Kala nggak pulang. Kala di buat seperti anak bandel yang ngelawan keluarga. Jadi setiap kali Kala mau pergi, polisi dan satpol PP yang bertugas di wilayah sekitar situ udah hafal sama Kala. Kala pasti diingatkan untuk pulang."
"Kenapa kamu nggak pergi ke rumah teman kamu?"
"Kala nggak punya teman. Kalau pun ada yang mau berteman, pasti orang tuanya yang nggak ngasih. Kala udah terkenal disitu sejak kecil, sebagai anak aneh. Bahkan guru-guru di sekolah pun, meyebut Kala dengan sebutan yang sama."
Philip memejamkan matanya. Kata-kata Kala terdengar seperti sesuatu yang diulang-ulang oleh benaknya.
Sementara ia menginjak pedal gas dalam-dalam. Mobilnya kini melaju kencang diantara kesedihan dan rasa hati yang seperti di cabik-cabik.
"Siapa yang paling sering memukul kamu di rumah itu?"
__ADS_1
"Om Sasono, suaminya tante Galuh. Adik ibu yang nomor dua."
"Dia itu menantu kan posisinya?" tanya Philip geram.
"Iya, tapi dia yang membiayai hampir seluruh kehidupan di rumah itu. Dan semua orang pro ke dia."
Philip makin menekan pedal gas mobilnya dalam-dalam, tak pernah ia berjalan dengan kecepatan yang demikian. Namun kali ini seperti tak ada lagi rasa takut, karena hati pria itu sudah diliputi kemarahan yang begitu besar.
***
"Ric."
Philip menemui Enrico di rumah sakit dalam keadaan yang sudah sangat kacau. Enrico bisa melihat jelas kemarahan di mata sahabatnya itu.
"Lo kenapa Phil?. Kala baik-baik aja kan dirumah?"
"Ric, gue harus ke Surabaya Ric. Gue harus bikin perhitungan dengan keluarganya Gayatri."
"Lo tenang dulu, Phil."
"Mereka menyiksa anak gue, Ric."
"I know."
Enrico berbicara dengan nada tegas, membuat Philip sedikit terdiam.
"Jangan pergi sendirian, tapi sama gue." Lanjutnya lagi.
Enrico lalu meraih handphone dan menghubungi nomor Egan.
"Egan."
"Ya, pa."
"Dimana kamu?"
"Masih di sekolah pa, kenapa?"
"Pulang sekolah, jangan kelayapan. Papa titip Kala, karena papa dan om Philip harus pergi ke luar kota, ini mendadak dan mendesak."
"Oh, ok. Tinggalin duit tapi."
"Di laci kamar samping tempat tidur papa, masih ada cash 1 juta. Lagian juga papa nggak lama, paling sehari dua."
"Ok pa, kabarin Egan kalau mau berangkat."
"Ok."
Enrico lalu menutup sambungan telpon. Untuk selanjutnya menjadi urusan antara dirinya dan Philip.
__ADS_1