Ayah Percayalah Aku Bisa Melihat Hantu

Ayah Percayalah Aku Bisa Melihat Hantu
Debat


__ADS_3

"Ayah."


Kala berujar membangunkan Philip yang tertidur di kursi samping tempat tidur.


"Kala."


Philip terjaga dan langsung memeriksa kondisi anaknya itu.


"Kamu nggak apa-apa?" tanya Philip kemudian.


"Kala di rumah sakit, yah?" Remaja itu memperhatikan sekitar.


Philip mengangguk.


"Teman-teman kamu yang bawa kamu kesini." jawab Philip.


"Terus teman-teman Kala dimana?"


"Sudah ayah suruh pulang, mereka diantar supir."


"Egan?" tanya Kala lagi.


Philip menghela nafas.


"Dia dimarahin sama om Rico. Dan kali ini sepertinya om Rico bakalan sangat keras ke Egan. Ayah nggak tau apa yang akan terjadi nanti."


Kala diam, ia benar-benar tak tahu jika kejadiannya akan seperti ini.


"Mereka nggak salah, yah. Harusnya jangan marahi mereka. Mereka cuma mau nolong Kala."


"Ayah tau, tapi harusnya kamu juga ngerti kondisi kamu. Jangan iya-iya aja kalau teman kamu menyarankan ini dan itu. Bukan apa-apa, nak. Kamu itu berbeda dari mereka. Dari kecil kamu banyak mengalami hal yang buruk. Harusnya kamu cuma nurutin ayah, istirahat dan minum obat. Teman-teman kamu mungkin bisa menerima kondisi kamu. Om Rico nggak bakal melarang anaknya untuk main sama kamu, karena dia bukan orang awam. Tapi pernah nggak kamu mikir, gimana orang tua temen kamu yang lain?"


Kala diam, kini ia mulai berpikir ke arah sana.


"Heru, dia ada di ruangan samping."


"Heru?" Kala benar-benar terkejut.


"Ya, dia mengalami possession trance disorder." ujar Philip.


"Apa itu yah?" tanya Kala bingung.


"Kesurupan." jawab Philip.


"Kesurupan?"


"Ya, dia dibawa ke sini dalam keadaan histeris, teriak-teriak, mengamuk dan mengumpat semua orang. Dia juga berontak-berontak sampai harus dikasih obat penenang."


Kala kini benar-benar dilanda rasa bersalah. Saat pingsan tadi, ia tak tau ada kejadian apa setelahnya.

__ADS_1


"Itulah makanya ayah bilang, hati-hati dalam melibatkan teman kamu. Om Rico sekarang sedang menjemput orang tua Heru. Kita nggak tau nih apa tanggapan orang tuanya nanti, dan bagaimana mereka memandang kamu sebagai teman anak mereka. Hal yang ayah takutkan itu, kalau ada orang yang marah dan menyakiti kamu. Ayah nggak mau sampai kamu mendapatkan kekerasan dan penolakan lagi disini. Tolong ngerti perasaan ayah, ayah nggak mau liat kamu tersisih dan sedih."


Kala makin diam, mulut remaja itu kini benar-benar seperti terkunci.


***


"Selamat malam, cari siapa pak?"


Seorang sekuriti di kediaman Heru bertanya pada Enrico.


"Saya dokter Enrico, dari AF medical centre. Saya kesini mau ketemu sama orang tuanya Heru Aditya Gunawan."


"Oh mas Heru, kenapa memangnya dok?" tanya security itu lagi.


"Dia ada di rumah sakit." jawab Enrico.


"Hah?"


Security itu terkejut, kemudian salah satu dari mereka mengontak orang tua Heru yang ada di dalam. Tak lama berselang kedua orang tua Heru pun keluar dari rumah dan langsung menemui Enrico. Mereka benar-benar terkejut dengan penjelasan dari ayah Egan tersebut.


"Tadi tuh mereka pamit, katanya mau ke ulang tahun Chika dok. Kami nggak tau kalau ada ritual-ritual semacam itu."


"Ya sudah, sekarang lebih baik ibu dan bapak lihat dulu kondisi Heru. Terakhir tadi dia histeris dan sudah diberikan obat penenang." ujar Enrico.


"Oke."


Ayah Heru mulai bergerak.


"Papa aja ya yang ngeliat Heru. Mama tuh besok ada meeting penting loh."


Enrico melihat polah tingkah ibu Heru yang sepertinya tak begitu khawatir pada keadaan sang putra. Namun ia kemudian juga bergerak ke arah mobilnya dan masuk ke dalam. Setelah itu mobilnya dan mobil ayah Heru tampak beriringan menuju ke rumah sakit.


***


Di rumah sakit sendiri, Kala di temani Philip menjenguk Heru. Saat itu Heru sudah sadarkan diri dan tak lagi berada dalam kondisi histeris.


"Sorry, Her. Ini semua gara-gara gue." ujar Kala pada Heru.


"Jujur sih Kal, gue itu nggak inget apa-apa. Perasaan gue ya, gue tidur." Heru menjelaskan.


Sementara Philip yang ada disitu hanya diam dan memperhatikan. Ia ingin mendengar isi percakapan dari kedua anak remaja tersebut. Untuk kemudian ia cari tau akar masalahnya ada dimana.


"Lo beneran nggak inget apa yang terjadi?"


Kala masih penasaran, sementara Heru kini masih berusaha mengingat-ingat kejadian tersebut.


"Yang gue inget, lo itu kayak muntah terus teriak. Gue takut lo kenapa-kenapa, terus gue ngeliat ke elo. Pas banget mata gue ngeliat ke arah kaca."


Heru kini mengingat semuanya.

__ADS_1


"Di dalam kaca itu..."


Ia agak ragu untuk melanjutkan kata-kata.


"Kamu ngeliat apa?"


Kali ini Philip yang bertanya. Ia ingin turut mengetahui kondisi anak itu berdasarkan kacamata penglihatannya.


"Heru ngeliat sosok item dan matanya merah om. Pokoknya serem banget, dia ngeliat ke arah Heru. Abis itu Heru nggak inget apa-apa lagi." ucapnya.


Tak lama Enrico tiba bersama ayah Heru. Seketika wajah Heru langsung berubah.


"Kamu nggak apa-apa?" tanya ayahnya seperti khawatir.


"Emang penting buat papa?"


Nada suara Heru terdengar tak begitu mengenakkan di telinga. Philip dan Enrico bisa menangkap jika hubungan ayah dan anak itu tidak sedang baik-baik saja.


"Pak, saya dokter Philip ayahnya Kala."


Philip mengulurkan tangan dan di sambut baik oleh ayah Heru.


"Ini anak saya, Kala. Heru bisa seperti ini, karena ada kaitannya dengan anak saya."


"Itu tidak masalah dok, saya tidak menyalahkan anak dokter. Tadi di depan dokter Rico juga sudah cerita sama saya. Sekarang yang terpenting anak saya baik-baik aja." ujar ayah Heru kemudian.


Sementara Heru membuang pandangannya ke arah lain, seakan tak menyukai kehadiran ayahnya itu.


"Mama titip pesan sama kamu, supaya kamu minum obat."


Ayah Heru berujar pada sang anak, namun Heru hanya menarik salah satu sudut bibirnya.


"Heru mau ngapain juga kalian nggak peduli kan."


"Kamu tuh kenapa sih kalau sama papa atau mama, ngomongnya nggak pernah halus?"


"Pa, apa harus Heru kayak gini terus. Baru papa atau mama bisa khawatir sama Heru?"


"Kamu ini ngomong apa sih?"


Philip, Enrico, dan Kala mulai tak nyaman berada berada dalam situasi tersebut.


"Papa sama mama kerja aja terus, nggak usah pulang lagi ke rumah."


"Koq jadi malah nyasar ke situ. Ini malam kamu yang bohong ke orang rumah. Bilangnya kemana, tau-tau kemana. Sekarang setelah papa datang dan nggak mempermasalahkan hal tersebut, kamu yang cari masalah ngomongin kesalahan orang tua."


"Emang kenyataan koq, papa sama mama lebih memiliki perkejaan ketimbang Heru."


"Emang kamu pikir hidup nggak butuh banyak uang. Kamu sekolah, makan, jajan, itu dari mana kalau orang tua nggak kerja keras?"

__ADS_1


Philip menarik Kala untuk keluar, begitupula dengan Enrico. Sementara Heru terus berdebat dengan ayahnya tersebut.


__ADS_2