
Pagi ini, Elmira bahagia karena Arshaka menerima ajakannya untuk keluar makan malam bersama. Saat melihat nama Arshaka memanggil di ponselnya, perempuan itu girang bukan main.
Elmira bersemangat menerimanya, "Ya, halo Shaka," sapanya. Senyum mengembang di wajah Elmira yang cantik.
"E.. e... Mira," Arshaka sedikit meringis membayangkan reaksi Elmira saat mendengar pembatalan janji untuk kedua kalinya, "aku mau minta maaf...." Rasanya begitu sungkan Arshaka mengucapkannya. "Sore ini aku teringat ada janji dengan Canta untuk jalan keluar. Nanti malam sepertinya... aku tidak bisa lagi memenuhi undangan makan malam bersama kamu, Mira," jelas Arshaka pelan.
Keduanya diliputi keheningan. Tidak ada suara dari seberang, "Mira, halo!" Arshaka menebak temannya ini kecewa.
"Ah, ya! Tidak masalah Arshaka. Aku paham bahwa Canta perlu perhatian dari kamu sebagai papa, mengingat kamu dan mamanya telah berpisah." Elmira merespon setenang mungkin.
"Syukurlah Mira, aku tahu kamu orang yang penuh pengertian. Kita telah berteman lama dan saling mendukung satu dengan yang lain." Arshaka tertawa senang mendengar tanggapan Elmira.
Pria itu menutup telepon lalu turun perlahan dari ranjangnya untuk menemui Badrina.
Lain hal dengan Elmira, ia kesal sejadi-jadinya. Elmira yakin bahwa Badrinalah yang telah mempengaruhi Arshaka agar tidak pergi bersamanya.
Kejadian kegagalan makan malam pertama mereka karena pemgaruh ucapan Badrina sehingga Arshaka berubah pikiran. Elmira kesal bukan pada Arshaka, melainkan Badrina.
Berbicara tentang dukungan, tentu saja Elmira mendukung apapun yang dilakukan Arshaka, kecuali yang berhubungan dengan Badrina. Dulu saja dirinya tidak mendukung pernikahan antara Arshaka dan Badrina, Elmira pernah mengatakan bahwa kepribadian Badrina tidak cocok dengan Arshaka, meski belakangan terbukti.
Sewaktu wacana talak akan dijatuhkan pada Badrina, Arshaka pernah menceritakan rencananya pada Elmira. Terlintas secara implisit dukungan perempuan itu pada perceraian mereka.
Bagi Elmira, saat ini adalah kesempatan untuk mendekati Arshaka. Hanya saja, tampaknya perempuan itu perlu berjuang keras untuk mendapatkan hati Arshaka.
Sore hari, Cantara telah tampil bagus dengan celana jeans dan kaos serta sepatu kets, semua berwarna merah muda. Ia suka sekali warna itu, menurutnya cantik. Mereka akan pergi berjalan-jalan ke mal.
__ADS_1
Badrina dan Arshaka sempat berdebat sebelum pergi. Perempuan itu tidak mengijinkan Arshaka untuk menyetir, meski Arshaka merasa mampu.
Badrina membayangkan kalau tiba-tiba sakit Arshaka kumat saat menyetir, semua bisa menjadi korban kecelakaan. Ia meminta untuk menggunakan taksi saja. Toh, untuk antar jemput saja.
Nuraini tidak bisa ikut bersama mereka sebab ia harus menghadiri arisan mingguan yang anggotanya adalah single parents berusia lanjut. Bagi Nuraini komunitas arisannya adalah rumah kedua, di sana mereka tidak hanya mengundi arisan tetapi juga ada sesi sharing dan diskusi bersama.
Mereka tiba di mal yang dulu kerap dikunjungi pada akhir pekan. Cantara senang sekali berkunjung ke mal dengan desain natural itu. Sebelum mencapai gedung, ia bisa menikmati pemandangan kolam ikan koi di kiri dan kanan jalan, menjadi keunikan mal itu.
Tidak ada kegiatan khusus yang mereka lakukan. Hanya memutari mal, keluar masuk toko boneka dan aksesori. Itu saja sudah membuat Cantara begitu riang menikmati kebersamaan dengan papa dan mamanya.
Sesekali Arshaka terlihat memegang area pahanya, hal itu menjadi perhatian Badrina, "Kamu masih sakit? Mau istirahat? Kita bisa sekalian makan," usul Badrina, ada rasa tidak tega melihat Xabier kesakitan.
"Aku belum lapar, lagian Canta nampak sekali bahagia," timpal Arshaka, dengan dagunya ia menunjuk Cantara.
"Udah... ngga papa." Arshaka menarik pergelangan tangan Badrina. "Biarkan saja, perhatikan saja Canta, aku baik-baik saja." Cantara sempat melambatkan jalannya, tetapi sebentar ia lupa.
Tidak terasa waktu menunjukkan pukul enam sore. Mereka memasuki sebuah restoran di mal untuk makan malam, sebelum pulang mereka mengisi tenaga dulu dengan mengisi perut.
Tidak perlu menunggu lama, pramusaji menghidangkan menu pesanan mereka.
Mendadak seseorang perempuan menghampiri meja mereka. Ia menyentuh lembut bahu Arshaka," Kebetulan Shaka ketemu di sini," ujarnya sembari tersenyum.
"Eh... Elmira," Arshaka terkejut mendapati Elmira juga makan di restoran yang sama. Perempuan itu tidak menyapa Badrina maupun Cantara, ia terlihat hanya peduli pada Arshaka.
Badrina berusaha ramah, ia tersenyum, sayangnya kurang mendapat tanggapan dari Elmira. Akhirnya Badrina menyibukkan diri dengan bercakap-cakap bersama anaknya.
__ADS_1
"Aku rencana mau ajak kamu makan malam di sini, loh, ternyata malahan kita jumpa di sini. Jodoh memang," ucap Elmira sembari terkekeh malu.
Tanpa dipersilakan, Elmira mengambil posisi duduk tepat di sebelah Arshaka, sementara Badrina dan Cantara duduk di seberang meja. Mereka duduk saling hadap-hadapan.
Arshaka mengajak Elmira untuk sekalian makan bersama, di meja yang sama. Niat Arshaka tidak buruk, baginya Elmira teman lama yang tidak perlu dihindari.
Teman perempuan Arshaka itu benar-benar mengambil alih perhatian. Badrina memperhatikan putrinya melihat bergantian dua makhluk yang sibuk bercengkrama riang di hadapannya.
Meskipun Cantara tidak mengatakan apapun, dari sorot matanya terlihat ia terganggu dengan kehadiran Elmira.
Badrina mengajak Cantara makan agar perhatiannya teralihkan pada makanan yang nikmat di atas meja. "Canta mau sop ayamnya? Mama tuang, ya. Nanti dihabiskan. Mama dengar restoran ini sop ayamnya enak loh, Canta. Habis makan kita bisa buka bungkusan boneka yang kamu beli tadi." Banyak lagi kalimat yang dilontarkan Badrina. Benar saja, perhatian Cantara perlahan tidak lagi ke arah papanya.
Mereka memang berempat satu meja makan, tetapi komunikasi berdua-dua. Badrina pun mulai tidak nyaman dengan kehadiran Elmira yang menyita perhatian Arshaka secara keseluruhan.
Selesai makan dan membuka bungkusan boneka, Cantara sesekali menguap sepertinya bocah itu lelah setelah mengelilingi mal. Badrina melihat Arshaka masih menikmati percakapan dengan Elmira, hanya sesekali ia berbicara dengan Cantara.
Badrina berdehem keras. "Aku sama Canta pulang duluan, ya. Canta mulai mengantuk." Tanpa menunggu respon Arshaka, Badrina berdiri, mengambil langkah seribu meninggalkan meja makan menuju pintu lobi mal sambil menggandeng anaknya dan menenteng tas belanjaan.
Arshaka kelimpungan, ia memanggil-manggil Badrina. Namun, yang bersangkutan tidak sudi merespon.
Arshaka belum lagi membayar makanan, tetapi Badrina sudah keburu menjauh, "Aku minta maaf lagi ya Mira. Tolong kamu bayarin dulu makan kita malam ini. Nanti kirim pesan padaku biayanya akan aku transfer."
Arshaka berlalu tergopoh-gopoh ke arah bayangan Badrina dan putrinya berlalu.
"Ssssh...." Elmira mengepalkan tangannya, ia mengumpat dalam hati. Badrina selalu saja menjadi penghalang buat dirinya untuk dekat dengan Arshaka, padahal mereka tidak terikat perkawinan lagi, hanya saja gelagatnya masih seperti suami dan istri.
__ADS_1