
Badrina tersentak mendengar nada dering nyaring ponselnya. Saat ini, dia masih tinggal di rumah Nuraini atas permintaan Arshaka.
Badrina menghentikan langkah mondar-mandir, gegas mengambil ponsel dan menjawab panggilan dari nomor tanpa nama.
"Selamat sore, ini dengan Badrina, ibu dari Cantara?" tanya seorang pria. Seketika tubuh Badrina menegang saat nama anaknya disebut.
"Ya, benar," ucapnya. "Ini dengan siapa?" tanyanya terburu-buru.
"Anak Anda saat ini bersama kami."
"Mana? Mana anak saya?" teriak Badrina tidak tenang, air matanya tertumpah di pipi.
"Jangan berteriak!"
Badrina terdiam usai dibentak. Tubuh Badrina gemetar hebat, dia ketakutan.
"Mama...,"
Mendengar suara lirih Cantara, Badrina memanggil-manggil nama Cantara. Sayangnya, hanya terlontar kata 'mama'.
"Siapkan dana sebesar 4 milyar rupiah sebagai tebusan. Saya minta dibayar sebagian tunai dan transfer bank. Pihak berwajib tidak boleh tahu. Kami tidak segan menghilangkannya dari muka bumi ini, bila Anda membelot," ancam penculik dengan nada rendah agar Badrina terintimidasi.
Badrina tercengang dengan nominal uang tebusan yang diminta. "Saya tidak ada uang sebesar itu!" teriak Badrina marah.
"Itu bukan urusan saya! Info yang saya tahu, Anda dan suami orang berada, jadi jangan macam-macam!" peringatnya keras.
"Mana anak saya? Saya ingin berbicara padanya," pohon Badrina.
"Penuhi saja permintaan kami, anak Anda akan selamat."
Telepon dimatikan secara sepihak oleh penculik.
"Halo, halo... Canta... halooo. Aaaa....," raung Badrina kembali menangis, sampai terduduk di lantai kamar.
Teriakan Badrina mengundang Arshaka masuk ke dalam kamar. "Ada apa?" tanya Arshaka panik melihat Badrina seperti orang kesurupan mengacak-acak dan menarik rambutnya.
__ADS_1
Arshaka menghampirinya, ia berjongkok berusaha melepas tangan Badrina dari rambutnya. "Cerita, ada apa berteriak Rina?" tanya Arshaka dengan raut khawatir.
Badrina menggelengkan kepala terdengar tangisan pilu keluar dari bibirnya. Selepas dari rambut, tangan Badrina memukuli dadanya yang sesak berkali-kali. Badrina merasa marah pada diri sendiri dan sedih di saat bersamaan.
Melihat hal itu, Arshaka menahan tangan mantan istri tidak terkontrol yang bisa saja melukai diri sendiri. Arshaka menarik Badrina cepat ke dalam pelukannya.
Air mata pun berlinang membasahi pipi Arshaka, tidak bisa mengelak, dia merasakan kepedihan hati Badrina.
"Kalau ada apa-apa dengan Canta, aku mau mati saja, Shaka," bisik Badrina lemah. "Aku tidak becus menjaga Canta," sambung Badrina berbisik terus menyalahkan diri sendiri.
"Sst... kamu ini bicara apa. Canta pasti akan ditemukan," ucap Arshaka sembari mengusap punggung Badrina, berusaha menghibur dan menguatkan.
Badrina menggeleng-geleng dalam pelukan Arshaka.
"Tadi penculik Canta menghubungi aku, dia minta uang tebusan... sebanyak 4 Milyar." Kemudian Badrina terisak-isak, pelukannya mengerat pada tubuh Arshaka.
"Dari mana aku punya uang sebanyak itu?" Badrina sesenggukan menyampaikan informasi buruk yang baru saja diterimanya.
Usapan Arshaka terhenti, ia membeku di tempat. "4 milyar?" tanyanya memastikan kembali.
Seketika Badrina teringat dengan warisan yang telah ia dapatkan.
Segera Badrina membebaskan diri dari pelukan Arshaka. Badrina menyentuh kedua lengan Arshaka sembari menatap mantan suami dengan penuh arti.
"Rumah yang pernah tante Poppy tempati sudah menjadi milikku, aku ingin menjualnya untuk menebus Cantara. Apa kamu bersedia membelinya?" Terasa pegangan Badrina menguat di lengan Arshaka. Dalam pikiran Badrina, penculikan Cantara murni kesalahannya pribadi sehingga harus dialah yang bertanggung jawab menebus Cantara.
"Aku mohon," ucap Badrina sambil mengatupkan kedua telapak tangannya di depan Arshaka.
Arshaka mengamati detail wajah Badrina yang menyiratkan derita mendalam. Baru saja perempuan itu berniat mati, sekejap kemudian ingin menjual hartanya demi menyelamatkan putri mereka.
"Shaka...," panggil Badrina berurai air mata, ia mengguncang-guncang lengan Arshaka yang sedari tadi hanya diam mengamatinya.
"Hei... tenanglah Rina," balasnya menyentuh lengan Badrina. "Aku yang akan pikirkan jalan keluarnya. Aku papanya, hidup Canta tanggung jawab aku."
Badrina menggeleng, hatinya menolak. "Tidak, Shaka. Aku tidak ingin memberatkan. Kamu perlu memikirkan masa depan kamu. Empat milyar bukan angka yang sedikit. Kamu bisa bangkrut. Aku hanya ingin menjual rumah itu padamu, kamu tidak akan mengalami kerugian. Penculikan ini murni kesalahan aku."
__ADS_1
Kening Arshaka mengerut tidak suka dengan kalimat yang baru saja didengarnya. Ia melepaskan diri dari genggaman Badrina di lengannya. Pria itu yang semula berlutut turut duduk di lantai beralas permadani.
"Bisa kamu buang pikiran egois dari dalam otakmu?" tegur Arshaka serius menatap manik Badrina tajam.
"Kalau kamu memandang aku buruk karena sikapku pernah menyakiti kamu, itu sah saja, Rina. Tapi, bila kamu pikir aku bisa mengutamakan masa depanku dengan mengabaikan putriku, kamu salah besar," resah Arshaka menampilkan wajah kecewa, dia berdiri ingin berjalan keluar dari kamar Badrina.
Saat Arshaka melangkah menuju pintu, Badrina bersuara. "Aku hanya tidak ingin mengganggu kamu... dengan perempuan itu," cetus Badrina, tidak tahu mengapa hatinya malah tercubit mendengar ucapan sendiri.
Langkah Arshaka terhenti, dia tahu siapa yang dimaksud oleh Badrina.
Nafas Arshaka memburu, rahang mengetat, dan tangannya terkepal, ingin rasanya Arshaka memberi pelajaran pada Badrina yang masih memandangnya buruk, padahal Arshaka tidak memiliki hubungan khusus dengan Maulidya.
Namun, Arshaka memahami kalau tindakannya selama inilah yang membuatnya kehilangan kepercayaan dari Badrina. Arshaka menahan diri untuk tidak membalik tubuhnya.
"Apartemen itu sudah aku jual. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan," pungkasnya kemudian berlalu begitu saja dari hadapan Badrina.
Mendadak Badrina merasa bersalah. Ia tidak pernah tahu perkembangan apa yang terjadi antara Arshaka dan perempuan yang ditemuinya di apartemen. Badrina mengira keduanya akan kembali bersama mengingat ada benang merah masa lalu di antara mereka.
Bersamaan pula terbit rasa lega dan hangat di sudut hatinya sewaktu Arshaka mengatakan bertanggungjawab terhadap putri mereka. Ditambah lagi, perempuan yang disimpan Arshaka di apartemen sudah tidak tinggal di sana.
Terdengar bunyi klakson mobil Arshaka. Badrina berlari ke jendela membuka tirai, ia melihat kendaraan roda empat Arshaka keluar meninggalkan rumah tanpa tahu Arshaka pergi ke mana.
Di tempat Cantara disekap, dua orang penculik terlibat percakapan cukup alot.
"Bagaimana bisa uang tebusan dikirimkan melalui transfer bank?" tanya penculik tanpa tato. "Resikonya besar, bisa dilacak oleh pihak berwajib." Dia sudah punya pengalaman menculik orang lain sebelumnya.
"Sudahlah, jangan ikut campur masalah itu. Yang penting kita dibayar ibu Monera sesuai perjanjian," timpal seorang lagu tidak peduli dengan pertimbangan temannya.
"Bukan begitu, kita mudah ketahuan bila seperti itu. Sama saja melemparkan diri ke mulut buaya," ucap penculik tanpa tato protes. "Kamu harus beritahu ibu Monera, lebih baik dana tunai dibandingkan transfer bank," peringatnya.
Penculik bertato bernama Juki berpikir ulang, dirinya juga tidak ingin kembali menghabiskan usia untuk berada di balik jeruji besi hanya karena masalah uang tebusan yang terlacak pihak berwajib.
"Ya, nanti malam ibu Monera akan datang lagi. Saya akan menyampaikannya. Dana tunai itu sebaiknya dalam bentuk dolar agar tidak terlalu banyak," sambutnya menyetujui gagasan temannya.
"Ya, itu saya setuju. Kita harus hati-hati dengan cara mendapatkan uang itu sebab nominalnya besar," pungkas pria tidak bertato.
__ADS_1