BAYANGAN MANTAN

BAYANGAN MANTAN
13. Rencana Tante Poppy


__ADS_3

Hari Senin tiba, waktunya kembali menjalani rutinitas di luar rumah. Pagi hari, Badrina dan Cantara pulang ke rumah mereka setelah sarapan bersama di kediaman Nuraini. Keadaan Arshaka sudah semakin membaik.


Sewaktu Badrina akan memesan taksi, Arshaka menawarkan diri untuk mengantar mereka pulang. Badrina menolaknya. Arshaka terus-menerus meminta agar dia yang mengantar dengan alasan arah menuju kantor sejalan dengan rumah Badrina. Akhirnya, tidak ada alasan Badrina mengelak tawaran itu lagi.


Arshaka sendiri merasa siap dan sehat untuk mengendarai mobil, tidak tampak kesulitan untuk itu.


Cantara duduk berdampingan dengan papanya di dalam mobil, sementara Badrina duduk di bangku belakang agak ke tengah.


"Rina," Arshaka melirik kaca spion dalam, "jadwalkanlah terapi intervensi untuk mengatasi fobia kamu. Aku akan menemani bila diperlukan." tawar Arshaka saat kendaraan telah melaju di jalanan.


Badrina tercenung mendengar tawaran Arshaka. Setelah sekian tahun menikah, Arshaka tidak pernah begitu serius memberi perhatian untuk kesembuhan fobia Badrina. Saat itu hanya kunjungan ke psikiater, tetapi tidak mereka tindaklanjuti.


Semalam, Badrina takut saat tahu ada kumbang di bahunya, Arshaka hari ini menyarankan terapi, bahkan siap menemani. Badrina menilai dulunya Arshaka cuek dengan fobianya, mengapa sekarang seakan-akan memperhatikan dirinya?


"Mama," panggil Cantara menoleh ke belakang, "papa ajak ngomong Mama." Dengan susah payah Cantara yang dibelit sabuk pengaman menggeser tubuhnya.


"Mama." Lamunan Badrina buyar seketika.


"Ah iya, Mama dengar, Nak," sahutnya tersenyum memandang putrinya.


"Ya, nanti akan aku jadwalkan," respon Badrina pendek pada Arshaka.


Setelah itu, dia menarik nafas panjang, terasa desiran di hatinya. Badrina mencoba rileks, berusaha tidak mengartikan perkataan Arshaka sebagai perhatian yang spesial.


Arshaka menatap wajah Badrina yang terpaku memandang jalanan, ia menerjemahkan ekspresi mantan istrinya saat ini. Sejak perceraian, Arshaka mengakui Badrina perlahan berubah tidak seperti dulu yang selalu sigap merespon dengan perkataan panjang yang membuat Arshaka kerap jenuh dibuatnya.


Mantan istrinya memang bukan istrinya lagi, terkadang Arshaka merasa rindu dengan Badrina yang dulu. Sekarang mereka begitu berjarak, bahkan terasa jauh seperti orang asing.

__ADS_1


Hanya saja, apa yang diharapkan Arshaka dari hubungannya dengan Badrina lantaran mereka telah bercerai?


Tiba-tiba Arshaka mengerem kendaraan setelah pembelokan di pertigaan menuju arah rumah. Cantara yang menggunakan sabuk pengaman hanya terkejut, tubuhnya terlindungi. Sementara itu, Badrina yang tidak siap jadi terpental ke depan dan kepalanya sampai menubruk dashboard mobil Arshaka.


"Aduh!" Badrina berusaha duduk, menepuk bahu Arshaka," Kamu berkendara sambil melamun? Aku jadi korban. Sakit ini tahu!" amuk Badrina saat itu juga, "Kita semua bisa celaka tadi," tambahnya lagi.


Senyum Arshaka mengembang menerima gerutuan Badrina. Kalau kejadian seperti ini dulu terjadi, Arshakalah yang akan menegur Badrina semestinya siap dengan segala kemungkinan seperti rem mendadak. Namun, kini, "Iya, ada kucing melintas tiba-tiba, jadi kaget. Aku minta maaf ya," ucap Arshaka memutar tubuhnya ke arah Badrina. "Kamu memukul jangan di depan anak," bisik Arshaka seraya tangannya menggapai pelipis Badrina yang memerah.


Badrina mencubit pelan tangan yang telah mengusap pelipisnya tanpa sempat menghindar, "Iya, lain kali hati-hati," ujar Badrina kembali duduk dengan baik.


Satu pelajaran pagi ini diperoleh Arshaka, ternyata bila ia menjawab baik gerutuan istrinya, perempuan itu malah sangat lembut menanggapinya.


Setibanya di kantor setelah mengantarkan Badrina dan Cantara, Arshaka begitu sumringah. Tiap bertemu orang ia tersenyum, tidak peduli staf yang kedudukannya lebih rendah maupun atasannya. Orang-orang sedivisinya keheranan atas perubahan sikap Arshaka hari ini.


Dia bekerja dengan semangat yang baik. Insiden hari Sabtu membawa hikmah bagi Arshaka.


"Rina, Tante dengar kamu menginap di rumah Arshaka. Tidak punya malu kamu ya, sudah bercerai, tapi masih seperti suami istri," cecar tantenya dengan nada membentak.


Sekejap Badrina merasa tidak bersalah," Tante, di sana ada mama Nuraini bukan hanya Shaka," jelas Badrina.


"Tetap saja itu memalukan, kamu bertindak di balik alasan Canta. Arshaka itu pria dewasa yang normal, bisa jadi masih ada dorongan sama kamu. Masih waras kamu? Harusnya cukup hanya Canta ke sana!"


Badrina memijat keningnya, tantenya seringkali membuat Badrina merasa bersalah dan mempertanyakan kewarasannya.


"Ya Tante, lain kali tidak lagi." Bila berkomunikasi dengan Poppy, Badrina tidak pernah marah. Kata hatinya selalu mengatakan bahwa tidak layak marah pada Poppy, sebab ia telah diasuh sedari kecil. Bila saja tantenya tidak ada, maka Badrina akan hidup menggelandang.


Pernyataan seperti itu pulalah yang sering diulang-ulang Poppy pada Badrina semenjak kecil sampai ia lepas menikah.

__ADS_1


"Rina, kamu ingat anak teman tante namanya Hafez Irsyad? Sekarang dia sudah duda tanpa anak, istrinya meninggal tiga bulan yang lalu. Tante mau kenalin ke kamu." Kening Badrina mengernyit sembari mengingat sosok pria yang disebutkan tantenya tadi.


"Iya, Tante, aku tahu. Untuk apa dikenalkan padaku, Tante?"


"Ya, untuk jadi teman kamu. Mana tahu kalian cocok," Poppy enteng menjawab.


Badrina paham ke arah mana maksud kata 'teman kamu'. "Tante aku masih masa iddah," Badrina mengingatkan tantenya.


"Dari talak agama, kamu kan tidak masa iddah lagi. Lagian tidak buru-buru juga untuk menikah, maksud Tante baik bila kamu punya teman."


Badrina diserang rasa pening mendengarkan alasan tantenya. Di satu sisi Poppy tidak terima bila Badrina punya relasi dekat dengan Arshaka, di sisi lain dirinya akan dikenalkan dengan seorang pria.


Namun, Badrina tidak berani membantah tantenya. Dulu saja, ia bisa menikah dengan Arshaka dengan upaya besar agar pria itu dapat diterima oleh tantenya. Hal utama bagi Poppy, Arshaka mampu menghidupi Badrina secara finansial.


"Baik, Tante atur saja," Badrina memasrahkan dirinya dalam rencana tante Poppy.


"Bagus! Memang sudah seharusnya kamu nurut sama Tante. Sudah dulu ya, Tante mau shopping bersama teman. Nanti Tante akan kabarin kamu kapan Hafez ingin berjumpa." Belum Badrina menjawab, sambungan telepon telah terputus. Badrina menarik nafas panjang dan dalam.


Cantara masuk sewaktu Badrina akan keluar kamar, "Mama, Canta cariin," ujar anaknya.


"Ya sayang Mama, ada apa?" tanya Badrina diiringi senyum manis.


"Canta kapan masuk sekolah lagi, Ma? Kan sudah sembuh." pinta Canta, ia merasa bosan bermain di rumah saja. Lebih mengasyikkan baginya bila bermain bersama teman-teman di sekolah.


"Wah! Anak Mama semangat sekolahnya tinggi. Iya, Canta sekolah hari Rabu ya, Nak. Dua hari lagi," terang Badrina.


"Oh Rabu ya, Ma. Besok itu hari Selasa, berarti setelahnya Rabu. Canta sekolah. Bener, Ma?" Binar bahagia keluar dari diri Canta.

__ADS_1


"Iya, bener sekali. Canta sudah ingat nama-nama hari ya. Ada kemajuan anak Mama." Cantara tersenyum senang mendapat pujian dari mamanya. Bocah itu tidak sabar menunggu hari Rabu agar bisa berjumpa dengan guru dan temannya.


__ADS_2