BAYANGAN MANTAN

BAYANGAN MANTAN
24. Kesulitan untuk Tegas


__ADS_3

Setelah mengantarkan Elmira, Arshaka mengemudi dengan kecepatan sedang, tanpa bersuara lagi. Tatapannya lurus ke arah jalan.


Sesekali Badrina melirik pada mantan suaminya. Melihat Arshaka diam, Badrina tertarik untuk berbicara, "Elmira, sepertinya tidak suka aku pulang dengan kamu. Aku bisa melihat dari raut datarnya tadi."


Badrina mengangkat topik itu sebagai bahan pembicaraan agar ketegangan hatinya mencair.


"Cuma perasaan kamu," balas Arshaka masih menatap lurus.


"Aku bisa merasakan kalau dia punya perasaan lebih sama kamu." Badrina meneruskan penilaiannya, mengabaikan ucapan Arshaka.


"Lantas?" tanya Arshaka menoleh sebentar.


"E... e... lain kali kalau sedang bersamanya lalu bertemu aku dimana pun, abaikan saja aku," ucap Badrina merasa bersalah. "Jaga perasaan perempuan yang sedang jalan bersama kamu?" saran Badrina menatap lurus jalanan, sayangnya ucapan itu malah mengganjal dalam hatinya. Badrina meremas kencang jemarinya sendiri.


Arshaka tidak mengerti arah maksud ucapan Badrina. "Masalahnya ada di mana? Saat ini arah tujuan kita sama, ke rumah mama," jelas Arshaka. "Kecuali, kita memiliki tujuan berbeda, tentu saat ini kita tidak semobil."


"Pria sulit mengerti perasaan wanita. Sudahlah, tak perlu dibahas!" pungkas Badrina menolehkan kepalanya ke arah berlawanan.


Arshaka mengernyitkan keningnya, ia merasa bingung. Perasaan wanita mana yang Arshaka tidak mengerti? Namun, Arshaka memilih tidak ambil pusing. Kadang pikiran perempuan berbelok-belok merumitkan dirinya sendiri, batin Arshaka.


"Hari Senin aku akan ke sekolah baru Canta. Sekolah yang aku bilang tempo hari." Badrina memilih topik berbeda. Suasana hening tidak disukai Badrina, dirinya malah canggung bila mereka saling diam.


"Tidak bisa cari sekolah yang lain?" tanya Arshaka tertarik dengan topik baru yang dibahas Badrina.


"Hh... akan butuh waktu lebih panjang lagi. Makin lama libur, anak kita itu bisa-bisa minta tidak usah sekolah," ujar Badrina keberatan dengan ide mencari sekolah lain.


Arshaka menoleh memandang Badrina yang khawatir dengan masa depan anaknya, padahal ini masih tahap taman kanak-kanak. Arshaka tahu kalau mantan istrinya itu akan memilih yang terbaik untuk putri semata wayangnya.


"Memangnya ada masalah dengan sekolah yang aku rekomendasikan itu?" selidik Badrina. Dia bingung mengapa Arshaka kurang setuju dengan sekolah yang diceritakannya itu.

__ADS_1


"Ee... tidak ada masalah. Hanya saja, biaya di sekolah itu cukup mahal, ya," jelas Arshaka mencari alasan. Ia teringat dengan biaya sekolah Ameera yang juga besar.


"Kamu keberatan karena masalah biaya sekolah? Aku yang akan biayai," lontar Badrina menoleh pada Arshaka. Badrina sewot melihat Arshaka keberatan hanya gara-gara masalah biaya sekolah.


"Punya uang?" cibir Arshaka sembari terkekeh geli.


"Punyalah... rejeki janda selalu ada. Para artis banyak begitu, setelah bercerai bergelimang rejeki," cetus Badrina menyebut sejumlah nama artis perempuan.


Arshaka terkekeh, "Menjual kisah pribadi dikatakan rejeki, ck," sindir Arshaka lagi. Beberapa nama yang disebut mantan istrinya, Arshaka tahu sedikit kisahnya.


"Daripada para janda menggantungkan hidup pada pria beristri, atau jadi pelakor, atau menjual diri, cara itu jauh lebih terhormat aku rasa," bela Badrina.


Kalimat yang dilontarkan Badrina sedikit menohok Arshaka. Duduknya menandakan rasa gelisah, ia mengusap kening dan lehernya yang sedikit lembab.


"AC-nya kurang dingin? Kamu tampak berkeringat," tanya Badrina sambil mengotak-atik tombol AC mobil.


"Tidak apa-apa," ucap Arshaka, tangan mereka saling bersentuhan di tombol AC, segera Badrina menarik tangannya.


Kalimat sederhana itu mengembalikan kesadaran Badrina bahwa ia hanyalah sekedar mantan istri kini. Ia harus mencari nafkah untuk dirinya sendiri, berbanding terbalik dengan kehidupannya beberapa bulan lalu.


Dulu Arshaka memenuhi kewajibannya sebagai suami yang baik.


Badrina membuang pandangannya jauh keluar, hatinya sedih dengan mata berkaca-kaca. Tidak ada lagi pihak yang sibuk untuk memikirkan apakah Badrina akan makan esok hari, punya pakaian layak atau tidak, sedang sakit atau tidak, sebab satu-satunya orang yang kini berjuang untuknya telah berstatus mantan.


Badrina menaruh sikunya di sisi kaca mobil dan mengusap air mata yang jatuh perlahan. Ia tidak mau Arshaka tahu bahwa dirinya menangis. Badrina sulit membendung air mata, buru-buru ia menyibukkan diri dengan clutch bag-nya untuk mengambil ponsel miliknya.


Tidak terasa, mereka telah sampai di rumah Nuraini. Badrina segera keluar dan masuk ke rumah tanpa bersuara. Suasana hatinya berubah drastis.


Arshaka keheranan dengan sikap tiba-tiba Badrina yang langsung berubah. Ia hanya menggeleng melihat polah Badrina yang berlari menuju pintu masuk, padahal ia memakai sepatu hak tinggi.

__ADS_1


Badrina meyakini kalau anaknya telah tidur bersama mantan mama mertuanya. Ia masuk ke dalam kamar yang beberapa waktu ini diperuntukkan baginya bila berkunjung ke rumah Nuraini.


Ia segera membasuh badannya untuk meraup kesegaran. Beberapa waktu ia memutuskan berendam di bath up, merenungkan nasib masa depannya.


Arshaka benar, dana sekolah di lokasi baru bukanlah sedikit. Cantara tidak hanya akan sekolah TK, akan ada masa ia menjadi anak SD, SMP, SMA dan berkuliah.


Dirinya hanyalah pengusaha online yang tidak menentu pendapatan bulanannya. Belum lagi ia harus bekerja untuk memenuhi kebutuhannya sendiri.


Bila suatu saat Arshaka menikah dengan orang lain, tentu bukan hanya Cantara anak yang harus dihidupinya, tetapi juga keluarga barunya.


Sampai terbersit di benak Badrina untuk menemukan suami kaya tempatnya bergantung sampai akhir hayatnya. Akan tetapi, apa bedanya ia dengan tipe janda yang disebutkannya tadi bila relasi suami istri dibangun berdasarkan azaz manfaat.


Badrina menjadi sadar diri dengan teringat pesan Poppy agar menjaga jarak dengan Arshaka, kecuali menyoal Cantara.


Badrina merasa harus memiliki sikap tegas agar Arshaka juga tidak turut campur dengan masalah pribadinya seperti di restoran tadi.


Arshaka sendiri juga masuk ke dalam kamarnya yang bersebelahan dengan Badrina. Setelah membasuh diri, Arshaka memeriksa ponselnya. Ada panggilan dan pesan dari Maulidya. Ia segera menelepon balik.


"Lidya, ada apa?" tanya Arshaka cemas.


"Tadi suhu badannya Meera naik. Tapi, sudah aku beri parasetamol dan sekarang sudah tidur nyenyak, Mas," cerita Lidya.


"Oh syukurlah, membaca pesan kamu aku mengira sakit seperti apa. Apakah aku perlu ke sana?" tanya Arsahaka sambil mengelap kepalanya dengan handuk.


"Tidak perlu, Mas, kalau bertambah suhunya nanti, aku akan bawa ke rumah sakit saja," ucap Lidya.


"Baiklah, beri tahu aku tiap ada perkembangan. Oh ya, aku akan transfer kebutuhan kalian bulan ini. Silakan dipakai dengan baik ya," pesan Arsahaka.


"Mas Shaka, terima kasih banyak. Mas selalu baik pada kami. Memberi kami tempat tinggal bahkan memenuhi kebutuhan kami. Aku doakan Mas selalu bahagia," harap Lidya panjang lebar.

__ADS_1


Arshaka terkekeh, "Seperti orang lain saja." Setelahnya, Arshaka memutus panggilan, segera ia membuka mobile banking pada ponselnya lalu mengirim sejumlah uang ke nomor rekening Maulidya.


__ADS_2