BAYANGAN MANTAN

BAYANGAN MANTAN
39. Meledek


__ADS_3

"Tangan kamu berdarah," ucap Arshaka panik, setelah mengurai rengkuhan Badrina. Segera Arshaka menekan tombol nurse call.


Gejolak khawatir dan amarah menyatu dalam diri Arshaka. Pria itu membalik tubuhnya. "Hafez, gua minta lo bawa nenek lampir ini keluar, sebelum gua yang seret!" geram Arshaka berjalan ke arah pintu sambil menunjuk-nunjuk Poppy.


"Apa kamu bilang! Kamu tidak sadar, kamu itu bukan pria yang baik untuk keponakan saya!" sembur Poppy sambil tubuhnya ditarik Hafez menuju pintu.


Arshaka bersidekap lalu membuang pandangannya ke arah lain, tidak sudi untuk bersitatap dengan Poppy.


"Setelah Badrina tahu bagaimana kamu sebenarnya, ia pasti sangat membenci kamu!" cemooh Poppy dengan tekanan di setiap kata yang terlontar. "Bahkan jijik sama kamu. Camkan itu!" Poppy benar-benar muak dengan Arshaka yang seolah-olah bertopeng di balik memperjuangkan Badrina.


Pria itu bergeming, tubuhnya kaku sesaat. Beberapa waktu kemudian, tangannya mengepal sambil sebelah lagi membuka pintu agar kedua tamu tak diundang itu sesegera mungkin keluar.


Tidak lama suster tiba untuk memeriksa keadaan Badrina, setelah Hafez dan Poppy benar-benar keluar dari ruang rawat inap.


"Bagaimana bisa infus Ibu terlepas? Dan baju Bapak terkena darah?" tanya suster yang bernama Hayati menaruh rasa heran penuh kecurigaan.


"E... em...."


Badrina bingung untuk menjelaskan, tidak mungkin ia mengatakan ada pertengkaran tadi. "Tadi Ibu Badrina terlalu bersemangat memeluk saya, Suster," jawab Arshaka enteng. "Tidak tahunya jadi seperti ini " lanjutnya, kekehannya terdengar dibuat-buat.


Mata Badrina membelalak mendengar penuturan mantan suaminya yang sembarang menyatakan alasan pada suster rawat. Suster Hayati senyum-senyum mendengar ucapan Arshaka.


Setelah infus dipasang kembali, Hayati mengingatkan Badrina untuk lebih berhati-hati dalam melakukan pergerakan agar hal serupa tidak terulang.


Setelah Hayati keluar diantar oleh Arshaka ke pintu, sisa emosi dalam benak Badrina kembali bangkit.


"Kamu tidak sopan pada tanteku," lontar Badrina melempar tuduhan saat Arshaka kembali ke ranjang pasien.


Badrina menatap nyalang Arshaka. "Menyebut tante dengan nenek lampir dan meneriakinya. Sangat tidak berkelas!" umpatnya. Suasana hatinya secepat kilat berubah.


Arshaka yang berencana mengupas buah apel, kembali meletakkannta di nakas. "Kamu mengajak berantem, hm?" tanya Arshaka dengan menaruh tangannya di kedua saku celana, alisnya sampai menukik sebelah.


"Sudah berapa lama kamu jadi keponakannya, tidak merasa sikapnya lebih pantas disebut musuh dalam selimut?" ejek Arshaka. "Kamu korban gaslighting yang selalu memandang tantemu benar dan kamulah yang selalu harus menyesuaikan diri dengannya. Kalau ada ketidakcocokan, kamu menyalahkan dirimu sendiri. Dan... aku harus bertindak seperti yang kamu lakukan, tidak - akan," gerutu Arshaka menunjuk-nunjuk dirinya dan Badrina dengan penjelasan yang detail.

__ADS_1


"Aku sedang membahas tentang sikap kamu, Shaka. Lalu, cara kamu tadi sudah benar?" cibir Badrina.


"Itu namanya membela diri, Rina. Dia yang datang ke sini marah-marah tidak jelas, main pukul dan tendang, bahkan sampai membuat infus kamu lepas," sosor Arshaka dengan nada yang meninggi. "Aku diam dan tidak membalas, tapi dia teruskan. Kamu tidak bisa ya melihat sifat asli tantemu itu?" sindir Arshaka, Badrina masih bersikukuh kalau pria itulah yang salah.


"Bagaimanapun, dia adalah tanteku. Yang mengasuh aku sedari bayi," timpal Badrina tidak menerima alasan Arshaka.


Pria itu berdecak keras. "Di mata kamu dia selalu benar. Mahabenar. Buka mata --"


Belum lagi Arshaka menyelesaikan perkataannya, bunyi ponselnya menyela percakapan mereka, lantas ia mendekat ke arah nakas.


Saat bunyi ponsel itu berdering, Badrina langsung menoleh ke sebelah ranjangnya. Ia bisa membaca siapa nama pemanggil yang tertera di layar. Nama seorang perempuan.


"Sebentar ya, aku keluar angkat panggilan dulu," pamit Arshaka, suaranya merendah.


Badrina berusaha bersikap biasa. Namun, nama itu agak menggelitik pikirannya sebab beberapa kali nama yang sama pernah menghubungi Arshaka, saat ia masih berstatus seorang istri.


Badrina menggeleng berusaha mengenyahkan pikirannya yang penasaran tentang siapa Maulidya, nama yang tertera di ponsel Arshaka.


"Halo," sapa Arshaka saat ia telah keluar dari ruang inap Badrina.


"Baik Lidya. Ada apa menelepon?" tanya Arshaka lugas.


"Lama Mas tidak berkunjung ke apartemen, juga tidak memberi kabar," jawab Maulidya dengan nada gusar yang kentara.


Arshaka terkekeh membenarkan perkataan Maulidya. "Iya, aku sibuk kerja dan mengurus Badrina juga," ungkap pria itu jujur tanpa menutupi fakta.


Mendengar nama Badrina, ada rasa mencelos yang tidak nyaman dalam diri Maulidya.


"Mengurus Badrina. Ada apa dengan Badrina, Mas?"


"Badrina dirawat di rumah sakit akibat kelelahan. Dehidrasi juga. Sekarang aku di rumah sakit," bebernya.


Maulidya terdiam mendengar penuturan Arshaka. Ada perasaan kecil hati di dalam diri Maulidya.

__ADS_1


"Ya sudah, Mas. Jangan lupa jaga kesehatan kamu. Makan tepat waktu," pesan Maulidya tanpa mau repot menanyakan kondisi Badrina lebih lanjut.


"Terima kasih Lidya, kamu selalu memperhatikanku," puji Arshaka.


Menjalar kehangatan di paras ayu Maulidya. Syukur saja tidak terlihat oleh Mas Shaka, batinnya. Percakapan mereka selesai, Arshaka kembali ke dalam kamar inap Badrina.


"Mau aku kupasin apel? Sudah sarapan tadi 'kan?" tanya Arshaka sambil berjalan menuju nakas di sebelah ranjang. Ia ambil sebuah apel dan pisau lalu duduk di sebelah ranjang pasien untuk mengupas buah.


Arshaka tahu kebiasaan Badrina bila memakan apel, kulitnya harus dibuang sebab ia kurang menyukainya.


Badrina hanya memberi anggukan sebagai jawaban atas pertanyaan Arshaka.


"Siapa Maulidya?" tanya Badrina menoleh pada Arshaka.


Gerakan tangan Arshaka terhenti. Pupilnya bergerak-gerak berpikir mencari jawaban.


"Bukan siapa-siapa. Tidak perlu dibahas," sahut Arshaka tenang. Ia kembali mengupas apel dan menyerahkan potongannya pada Badrina.


"Sudah hampir tengah hari, kamu tidak ke kantor?" tanya Badrina sambil mengunyah buah apel, ia mengangkat topik pembicaraan lain.


"Izin," jawab Arshaka pendek dengan nada datar.


Beberapa detik mereka berdua dalam keheningan hingga terdengar suara tawa Badrina membahana. "Izin? Demi apa? Merawat aku?" Air mata Badrina sampai menitik, ia masih terbahak mengucapkannya.


"Dulu saja, waktu masih jadi istri kalau aku sakit... kamu bilang apa 'makanya kesehatan dijaga, kalau sakit bisa merepotkan' gitu, 'kan," ejek Badrina dengan suara dibuat-buat bermaksud meledek Arshaka.


"Nanti keselek buah apel baru tahu rasa. Sudah aku bilang ini semua untuk --"


"Cantara," lanjut Badrina masih mengakak geli dan melirik mantan suaminya yang malah memakan apel yang seharusnya untuk Badrina. Arshaka berkelit, ia tidak nyaman perubahan dirinya dibahas oleh Badrina.


"Aku mau ke ruang administrasi dulu dan berganti pakaian. Ini kamu lanjutkan sendiri," ucapnya menyerahkan piring berisikan pisau dan potongan apel yang masih berkulit.


"Loh, merawat orang sakit dibutuhkan totalitas, loh. Masa jadi aku yang kupas?" ledek Badrina. Bersamaan dengan perkataan itu, Arshaka keluar dari ruangan dengan diikuti gema tawa sindiran Badrina bagi dirinya.

__ADS_1


"Dasar perempuan," decak Arshaka sembari menyentuh dadanya yang berdetak tidak biasa.


__ADS_2