BAYANGAN MANTAN

BAYANGAN MANTAN
25. Kegelisahan Badrina


__ADS_3

Terbangun di pagi hari, Badrina bergegas membersihkan diri dan beribadah. Kemudian ia bergabung ke dapur membantu asisten rumah tangga untuk menyediakan sarapan.


Nuraini belum terlihat di dapur, mantan mama mertuanya juga orang yang tidak risih untuk terjun ke dapur.


Rencana Badrina, pagi ini ia dan Cantara akan kembali pulang, setelah sarapan pagi.


"Pagi, Rina," sapa Nuraini. Badrina  terperanjat. "Pagi-pagi melamun. Nanti ada makhluk halus menyapa, loh," canda Nuraini tertawa.


Rina tersenyum malu saat tertangkap sedang melamun sambil mengiris bawang merah. Syukur saja, tangannya tidak terluka sewaktu ia melamun, "Pagi juga, Ma," balas Badrina.


"Semalam kalian pulang, mama sudah ngga denger lagi. Mama dan Canta sudah lelap. Siapa duluan sampai di rumah?" tanya Nuraini.


"Iya Ma, aku ngga bangunin mama. Langsung masuk kamar. Semalam kami pulang bersama, Ma. Ketepatan kami juga satu restoran yang sama," jawab Badrina.


Nuraini menganggukkan kepalanya, selanjutnya, mereka bersama-sama menyiapkan sarapan.


Cantara masuk ke ruang makan, menyapa mama dan omanya, tetapi dirinya tidak menemukan Arshaka di sana. "Papa belum bangun, Ma?"


"Belum, papa kamu kalau akhir pekan seneng memperpanjang waktu tidur, Canta. Untuk yang satu itu, Canta jangan tiru Papa ya." Nuraini yang menjawab.


Cantara mengangguk. Mereka melanjutkan sarapan tanpa kehadiran Arshaka. Bagi Badrina itu lebih baik, bila bertemu Arshaka berakhir dengan perdebatan rasanya Badrina malas sekali.


Badrina kini tengah bersiap-siap untuk kembali pulang. Di tengah sarapan tadi, dirinya telah mengatakan pada Nuraini bahwa mereka akan pulang, setelah sarapan usai.


Cantara masuk ke dalam kamar mamanya, "Mama... tadi mama bilang papa lagi tidur. Kok tidak ada di kamar?" tanyanya heran. Cantara melihat tempat tidur mamanya telah rapi.


Kemudian, Cantara membuka pintu kamar kecil mencari papanya. "Di sini juga ngga ada, Ma," ucap Cantara.


Tangan Badrina yang tengah sibuk menyusun perlengkapan Cantara terhenti mendengar pertanyaan kritis anaknya. Badrina teringat bahwa Cantara tidak tahu-menahu dengan yang namanya pisah kamar dan pisah ranjang.


Badrina kelabakan untuk menjawab, tetapi sebisanya ia menjawab dengan baik. "Papa... papa kamu... tadi mama suruh bangun. Tapi... tapi... sepertinya malah tidur di kamar sebelah," jawab Badrina terbata-bata. Ia mengamati reaksi anaknya, apakah curiga atau menerima itu sebagai sebuah kebenaran.


"Oh... papa... suka sekali tidur panjang," ujar Cantara sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Em... kita sebentar lagi akan pulang. Ee... Canta mau pamitan sama papa? Tapi mungkin papa... papa kamu... akan terganggu." Badrina meringis menawarkan, tetapi berusaha membujuk anaknya agar tidak bertemu papanya. Badrina merasa perasaan hatinya buruk sekali.


"Ya udah, Ma. Ngga papa. Nanti-nanti juga bakal ketemu Papa," ujar Cantara tetap antusias.


"Peluk mama dong, Nak," pinta Badrina. Cantara mengabulkan, ia memeluk mamanya erat-erat. Badrina mengangkat kepalanya menghalau air mata yang akan jatuh ke pipinya. Putrinya tumbuh dengan pengertian yang baik.


Ia boleh menangis, tetapi menangis di hadapan Cantara akan membuat putrinya kebingungan. Tidak mungkin ia berkata sejujur-jujurnya saat ini pada Cantara bahwa papa dan mamanya sulit untuk akur kembali.

__ADS_1


Badrina telah memesan taksi untuk mengantarkan mereka pulang. Nuraini menunggui mereka di teras hingga taksi datang dan berlalu menjauh. Cantara melambaikan tangan pada omanya dan memberi simbol kiss bye.


Nuraini kembali masuk lalu duduk di ruang keluarga. Ia menyalakan televisi untuk menonton program kesayangannya, talkshow yang dibalut Tausiyah yang membahas seputar kehidupan sehari-hari.


Beberapa waktu kemudian, terlihat Arshaka masuk ke ruang keluarga dengan segelas air mineral hangat di tangan kanan, "Pagi, Ma," sapanya. Ia duduk di sebelah Nuraini.


"Pagi, sayang. Udah bangun?" balas Nuraini menoleh sekilas lalu melanjutkan tontonannya.


"Sepi, Ma. Mana Canta dan Rina, Ma?" tanya Arshaka lalu meneguk air.


"Sudah pulang."


Arshaka menyemburkan air dari dalam mulutnya karena terkejut.


"Shaka, kamu jorok," tegur Nuraini menepuk pundak anaknya.


"Pulang? Kenapa aku ngga dibangunin, Ma?" tanya Arshaka mengabaikan teguran mamanya.


"Mana mama tahu, semalam kamu pulang bareng Rina, kamar kalian bersebelahan. Sudah sedekat itu, masa Rina tidak cerita?" tanya Nuraini menoleh ke anaknya, ia malah kesal karena Arshaka malah bertanya padanya tentang Badrina.


"Rina memang tidak ada cerita, Ma," tegas Arshaka.


"Makanya, kamu koreksi diri kamu, kenapa bisa seperti itu," timpal Nuraini. Ia mematikan televisi berlalu dari sana, memilih menonton di kamar saja.


"Anak datang berkunjung akhir pekan, malah molor. Mama bilang aja ngga usah datang lagi kalau weekend, papanya cuek bebek," kesal Nuraini tidak membenarkan sikap putranya.


Arshaka mendengkus, ia turut kesal dengan cara perempuan berpikir, apa sulitnya membangunkan dirinya ke kamar?


Astaga... perempuan...


Arshaka bangkit, berjalan menuju kamarnya. Ia mengambil ponsel dan menghubungi nomor Badrina.


Sayangnya, nomor ponsel Badrina sedang melakukan panggilan lain.


Arshaka menuliskan pesan ke ponsel Badrina.


[Mengapa tidak membangunkanku?].


Badrina menutup panggilan dari tantenya, tadi ia ditegur keras mengenai pertemuannya dengan Hafez di Sabtu malam lalu. Badrina dipersalahkan karena menerima tawaran pulang bersama Arshaka dan membiarkan Hafez pulang sendirian.


Badrina menebak Hafez menceritakan kejadian malam itu pada tantenya. Namun, menurut Poppy, dirinyalah yang menanyakan pada Hafez perihal pertemuan mereka, bukan pria itu yang bercerita.

__ADS_1


Poppy memarahi Badrina, ia mengingatkan bahwa hubungan dengan Arshaka bukan lagi relasi suami istri sehingga Badrina tidak boleh didikte apa-apa lagi oleh Arshaka.


Badrina juga disebut bodoh oleh Poppy karena masih saja di bawah bayang-bayang Arshaka. Badrina sungguh sedih mendengar kegeraman tantenya tadi. Lagi-lagi ia melakukan kesalahan dan mengecewakan tantenya.


Badrina membuka aplikasi pesan. Ada pesan dari Arshaka, dirinya tidak berniat untuk membalas. Baru sebentar membaca, panggilan Arshaka kembali masuk.


Dengan ogah-ogahan Badrina mengangkat. "Mm...," ucapnya.


Arshaka terdiam. Otaknya merespon cepat, nada suara Badrina terdengar tidak bersemangat. Tadinya ia berniat menegur Badrina karena pulang tidak memberitahu dan membangunkan dirinya.


"Rina, kalian sudah pulang. Maaf, aku tadi masih tertidur. Biasanya kamu membangunkanku," ucap Arshaka pelan.


Badrina diam saja, Arshaka bingung melanjutkan kalimat, "E... em... Nanti siang aku ke rumah, ya. Canta ada di mana?" tanya Arshaka selembut mungkin.


Badrina tetap tidak bicara. Arshaka mendengar Badrina menyerahkan telepon pada Cantara.


"Halo, Papa...," teriak Cantara senang.


"Eeh... hai, anak papa. Lagi ngapain, Nak?" balas Arshaka.


"Lagi main boneka, Pa," jawab Cantara apa adanya.


"Canta, Papa minta maaf ya, tadi Papa belum bangun sewaktu --"


"Ngga papa, Pa... Mama bilang, tadi Papa udah bangun dan pindah ke kamar sebelah, terus tidur lagi," cekikik Cantara mengingat percakapannya dengan Badrina.


Arshaka meringis dan mengusap tengkuknya. Ia merasa tidak enak hati mendengar kepolosan putri kecilnya ini.


"Canta, sekarang mama ngapain?" tanya Arshaka penasaran.


Cantara menoleh, ia tidak melihat mamanya di ruang keluarga, "Mama lagi ngga sama Canta, Pa. Mungkin di dapur," jawab Cantara.


"Oh... Sebelum papa nelepon, mama ngapain?" selidiknya lagi. Pria itu penasaran dengan perubahan mendadak respon Badrina menjadi tidak ramah pada dirinya.


Cantara berpikir sambil menaruh telunjuknya ke pipinya, "Sebelum... oh... tadi mama ditelepon nini Poppy, Pa," jawab Cantara jujur.


"Bicara apa?" selidik Arshaka lagi.


"Canta ngga tahu, Pa. Tadi mama jauh neleponnya," jawab Cantara seadanya.


"Oke. Nanti siang papa ke rumah ya, Nak. Habis Canta tidur siang," janji Arshaka.

__ADS_1


Reaksi senang Cantara menghangatkan hati Arshaka, tetapi sikap dingin Badrina menyisakan tanya bagi dirinya. Entah karena alasan apa, Arshaka masih saja ingin tahu siapa saja yang berurusan dengan Badrina.


__ADS_2