
Saat ini, Poppy duduk berhadapan dengan Badrina. Poppy datang pada Badrina untuk memohon agar mengasihinya dan memberi tempat untuk tinggal.
"Tante tahu 'kan, rumah itu Papa serahkan untuk mama, lalu diberikan kepadaku?" ucap Badrina tajam. Badrina duduk dengan menegakkan tubuh dan dagunya.
Poppy rela mendatangi rumah tinggal Badrina. Dia jarang sekali berkunjung ke rumah ini, bila ada kepentingan saja seperti saat ini.
"Tante tahu, Rina. Apa kamu tidak kasihan dengan Tante?" bujuk Poppy merendahkan diri, tidak punya cara lain.
Dua hari yang lalu, ia mendapat telepon dari Akmal untuk minta rumahnya dikosongkan dalam seminggu ini. Surat pertama yang berisi pemindahtanganan akan dilakukan kurang dari sebulan sudah cukup mengejutkan bagi Poppy. Berita melalui telepon yang memintanya mengosongkan rumah kurang dari satu minggu, lebih membuatnya panik setengah mati.
"Kasihan?" sinis Badrina memandang remeh tantenya, duduk sambil bersidekap.
"Tante pernah kasihan sama aku selama 29 tahun ini? Perlu aku ingatkan, Tante - merusak - mentalku." ucapnya perlahan seperti mengeja. Badrina sangat marah dengan tantenya, tetapi akalnya masih sehat. Ia tidak akan merugikan dirinya sendiri dengan marah-marah.
"Aku tahu kebusukan Tante, mengajak Arshaka untuk merusak mentalku, menargetkan agar aku gila... demi warisan papa tetap diurus sama tante. Benar 'kan, Tante?" sembur Badrina. Ia menuntut Poppy untuk mengungkapkan hal sebenarnya.
Poppy terkejut mendengar Badrina mengetahui rahasia busuknya. "Itu bohong!" elaknya berusaha lari dari kenyataan, "tidak mungkin tante sejahat itu," lanjut Poppy lagi dengan raut serius memelas.
"Kalau tante saja bisa mendiamkan wasiat papa bertahun-tahun, tentu saja tante bisa melakukan hal jahat lainnya," tuding Badrina. Poppy semakin terpojok, ia tidak menyangka bahwa Badrina mampu melontarkan kalimat demi kalimat tajam padanya.
"Aku berikan waktu seminggu untuk angkat kaki dari rumahku. Juga peternakan dan perkebunan yang diserahkan papa mama akan aku ambil," ucapnya menoleh ke arah lain. Inilah cara Badrina untuk memberi pelajaran pada tante yang memiliki niat tidak baik padanya selama bertahun-tahun lamanya.
"Kamu sungguh tega pada orang yang telah membesarkan kamu!" hardik Poppy begitu mendengar semua harta benda yang dikelolanya akan diambil oleh Badrina. "Menyesal saya telah membesarkan anak ular seperti kamu," lontar Poppy marah sembari menunjuk-nunjuk Badrina.
Sebenarnya Badrina tidak tega mengatakan itu semua, tetapi Poppy sudah tidak bisa diberi belas kasih. Hati perempuan paruh baya itu sungguh telah membusuk oleh harta duniawi. Badrina akhirnya memilih menutup hati yang penuh belas kasih dengan sikap tidak peduli akan kelanjutan hidup Poppy.
Sudah saatnya tante Poppy kembali pada keadaannya semula, pikir Badrina.
__ADS_1
"Tante... aku tahu papa meninggalkan wasiat harta untuk tante juga. Jangan berpikir aku jahat pada tante." Badrina menoleh lagi ke arah tantenya. "Kemana semua harta, Tante? Habis? Untuk bersenang-senang dan berfoya-foya? Bahkan Monera, anak tante, pergi meninggalkan tante ke Swiss. Apakah dia tidak betah hidup bersama tante? Dan, hanya aku yang masih menganggap tante keluarga. Tanpa mengharap harta yang tante kuasai selama ini, bukan?" ucap Badrina pedas.
Perkataan itu seperti menampar keras wajah Poppy. Ia tersentak dengan fakta bahwa hanya Badrina yang selama ini peduli padanya. Anak kandungnya pergi jauh ke Swiss untuk hidup mandiri. Namun, ia tidak pernah menganggap Badrina sebagai keluarga.
"Tidak ada guna tante menangis sekarang," sindir Badrina menatap wajah tangis Poppy. Badrina menoleh ke jam dinding. "Aku ada janji dengan Pak Akmal sebentar lagi, kalau tidak ada urusan lagi... tante boleh kelaur dari rumah ini," suruh Badrina tanpa harus memikirkan sopan santun lagi.
"Jangan biarkan tante menjadi gembel di jalanan, Rina. Kasihan sama tante," isak Poppy memohon melipat tangan pada Badrina.
Badrina tidak hanya menulikan telinga, melainkan hatinya juga. Melihat Poppy tidak beranjak dari tempat duduknya, Badrina melangkah membuka pintu. "Silakan keluar, Tante," tegasnya.
Poppy masih menangis di tempat duduknya. Badrina tidak sabar melihat drama yang tengah dimainkan tantenya, ia tidak akan tertipu lagi. Cara-cara manipulatif telah sering dipertontonkan oleh tantenya, Badrina kokoh dengan pendiriannya.
"Silakan keluar, Tante," sergah Badrina lagi. "Atau tante mau pihak berwajib yang akan menyeret tante? Sudah syukur aku tidak melaporkan tante, jadi jangan bikin aku marah pada tante," geram Badrina, tangannya terkepal hampir hilang kesabaran.
Dengan langkah gontai, Poppy melewati Badrina. Sempat ia menoleh pada Badrina dengan urai air mata, berusaha meyakinkan Badrina kalau memang telah berubah.
Tubuh Badrina menyender ke pintu, luruh hingga ke lantai. Badrina menangis, menjadi jahat bukanlah gaya hidupnya. Ternyata relung hati menolak bertindak kasar sebab Badrina masih punya belas kasih. Badrina menepuk-nepuk pelan dadanya yang malah bersedih.
Badrina menarik nafas panjang, mencoba menenangkan gemuruh sedih hatinya. Ia berusaha tetap tidak goyah pada keputusannya terhadap tante Poppy. Akan tinggal dimana, itu bukan jadi urusan Badrina.
Dua hari ini, Cantara tinggal di rumah Nuraini. Selama dua hari Cantara tidak berjumpa dengan Badrina. Cantara mengira ibunya pergi jauh luar kota, tetapi tidak mengajak bahkan tanpa pamitan.
Cantara tetap bersekolah, sayangnya semangatnya berkurang akibat rasa rindu pada Badrina. Cantara membutuhkan Badrina di sisinya, mama sekaligus teman baiknya.
Di hari kedua, Cantara meminta papanya untuk menghubungi Badrina, sayangnya Badrina menolak untuk terhubung dengan Arshaka melalui ponsel. Arshaka memahami kalau Badrina masih menyimpan kemarahan terhadapnya.
Di kantor, Arshaka tidak fokus untuk membaca dokumen kerja sebagai manajer korporasi. Masalahnya dengan Badrina malah menjadi rumit, setelah pengakuannya malam itu.
__ADS_1
Ponsel Arshaka berdering, masuk sebuah pesan dari Maulidya.
[Halo Mas Shaka, apa kabar?]
[Kabar baik].
Pria itu membalas pendek dan tidak mengajukan pertanyaan lain.
Maulidya mengirim pesan lain.
[Mas, Ameera sakit, tidak sekolah... dia tanyain mas terus. Sudah lama tidak ke apartemen].
Arshaka tersentak membaca pesan Maulidya sebab ia tiba-tiba menghilang dan tidak pernah lagi menyapa Ameera ke apartemen.
[Nanti sore aku mampir ke apartemen, ada yang ingin aku sampaikan juga pada kamu.]
[Sudah dulu ya, harus kerja].
Arshaka menutup pembicaraan tanpa menunggu jawaban Maulidya.
Maulidya senang membaca rencana kedatangan Arshaka ke apartemennya. Maulidya melangkah ke kamar anaknya yang sedang terbaring istirahat, mengabarkan berita baik.
"Nanti papa Shaka datang ya, Nak. Kamu tidak perlu khawatir lagi," ucapnya sembari mengusap kening dan rambut Ameera penuh kasih sayang.
"Meera senang mendengarnya, Ma."
"Mama siapkan sesuatu untuk papa dulu, ya. Kamu istirahat supaya tambah sehat."
__ADS_1
Maulidya yakin Arshaka akan datang membawa kesenangan bagi putrinya. Gegas Maulidya keluar kamar Ameera menuju dapur sambil bersenandung menyiapkan panganan untuk menyambut Arshaka yang lama tidak berkunjung.