
Badrina melangkah pelan menenteng keranjang berisi bunga. Ia melangkah sendirian di pemakaman menuju salah satu nisan yang letaknya agak le dalam.
Hari begitu terik, Badrina menggunakan penutup kepala dan kacamata hitam melindungi kulitnya.
Badrina menyentuh nisan keramik yang panas. Dalam diam, Badrina menaburkan kembang yang dibawanya. Tidak mampu menahan tangis, isakan lolos dari bibirnya.
"Mengapa... ini semua harus terjadi?" tanyanya terbata, terdengar pilu.
"Kita dulu sempat begitu dekat," lanjutnya.
"Tenanglah di sana. Biarkan aku hidup dalam bahagia," pintanya terisak. Kembang yang ditaburnya habis tak bersisa.
Badrina memanjatkan doa dalam hatinya. Perempuan itu tulus memaafkan perbuatan orang yang menyakiti dirinya di masa lalu. Ia berjuang untuk berdamai dengan tarikan dendam dalam hatinya.
Toh, mendendam tidak ada gunanya.
Sekali lagi, Badrina mengusap nisan dengan tekad hati yang bulat. Ia menyunggingkan senyum lalu mengucapkan selamat tinggal.
Hari ini tepat setahun semenjak kejadian berdarah penyelamatan Cantara.
Badrina melangkah menuju mobil hitam yang menunggunya di parkiran. Perempuan itu yang meminta pengemudi untuk tidak turun, dia hanya minta diantarkan ke lokasi pemakaman.
Begitulah yang dilakukan Badrina pergi ke makam sekali tiga bulan hingga rasa damai menyelimuti dirinya.
"Kamu baik-baik saja?" tanya pengemudi tampak khawatir. Ia memberi perhatian penuh pada Badrina yang telah membuka kacamata hitamnya. Jejak air mata diperhatikan oleh pemgemudi itu.
Badrina menoleh, melayangkan senyum manisnya. "Aku baik, semakin baik. Karena rutin berkunjung, entah bagaimana hatiku semakin tenang saja rasanya," ungkap Badrina mengulas senyum tulus.
"Syukurlah kalau begitu, tidak sia-sia konseling yang kamu lakukan sepuluh bulan belakangan. Kamu bisa memutuskan sesuatu yang baik untuk mental kamu," nilai si pengemudi sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Ya, berkat kamu juga 'kan... terus-menerus mendorong aku buat pulih dari rasa sakit akibat masa laluku yang pahit." Pujian itu membuat si pengemudi terkekeh. Hatinya mengembang mendapati Badrina menyadari kemajuan proses pemulihan diri sendiri.
"Terima kasih ya, Danish... kamu teman yang begitu baik." Pujian Badrina tidak berhenti, membuat Danish terbahak-bahak senang.
"Oke, sekarang kita ke rumah sakit?" tanya Danish.
Badrina mengangguk, pria itu mengetahui rencana perjalanan mereka.
Danish bisa menemani Badrina karena jadwal ke pemakaman dan kunjungan rumah sakit jatuh di penghujung pekan.
Setahun berlalu semenjak penculikan Cantara, Badrina pernah bertekad untuk belajar menyetir agar tidak merepotkan pihak lain. Sayangnya, rasa takut masih lebih kuat menggerogotinya sehingga belum mahir sampai hari ini.
Konselor Badrina bilang jangan terlalu menekan diri sendiri untuk mencapai sesuatu. Dijalani saja sesuai kemampuan agar proses pemulihan yang dijalani tidak terhambat oleh ekspektasi berlebihan akan hal lain.
Itulah sebabnya, Danish sangat membantu Badrina menjalani aktivitasnya.
Badrina turun dari mobil diikuti oleh Danish menuju kamar terapi. Di sana terlihat seorang pria sedang belajar berjalan ditemani oleh seorang petugas kesehatan.
__ADS_1
Melihat Danish dan Badrina datang, pria itu menghentikan proses latihannya, bersamaan pula jadwal terapi berakhir. Kemajuannya juga pesat berkat semangat sembuh yang kuat. Kemungkinan tidak lama lagi, dapat berjalan normal kembali.
Dia duduk kembali ke kursi rodanya dibantu petugas kesehatan. Pria itu mengusap peluh di wajahnya. Meskipun ada pendingin ruangan, tubuhnya tetap memproses ekskresi.
"Ada kemajuan ya, Shaka," puji Danish sembari menepuk-nepuk pundak Arshaka.
"Hm," jawab Arshaka singkat. Dia sibuk mengusap handuk kecil ke tangannya yang basah. Pria itu tidak menunjukkan senyum senang akan kedatangan keduanya.
Danishlah yang tersenyum melihat tingkah dingin Arshaka.
"Ke mana Cantara?" tanya Arshaka memandang Badrina.
"Masih mengikuti les piano, nanti mama yang mau jemput. Permintaan mama sendiri."
Danish melirik Badrina yang tampak canggung dengan sikap dingin Arshaka.
"Okelah kalau begitu, Rina, sepertinya ada yang panas hati," bisik Danish sambil terkekeh.
"Gue pamit Shaka. Badrina gue anterin dalam keadaan sehat tanpa kekurangan apapun," ujarnya lalu mencolek dagu Arshaka. Danish tidak merasa bersalah menggoda Arshaka, meskipun dilempar sorot tajam si empunya dagu.
"Kenapa kita tidak pulang dengan Danish saja?" tanya Badrina begitu Danish tidak terlihat lagi. Badrina membantu menyusun perlengkapan Arshaka ke dalam tas. "Kamu 'kan tahu aku tidak pandai menyetir."
Mereka dengan petugas kesehatan berpisah di depan ruang terapi. Jadwal latihan jalan untuk Arshaka dilanjutkan tiga hari lagi.
"Kalau kamu mau pulang dengan Danish silakan saja. Biar aku pulang dengan taksi," ucap Arshaka sembari Badrina mendorong kursi rodanya dari belakang.
"Kamu marah sama aku?" tanya Badrina heran. "Tadi aku mendapat izin dari kamu buat pergi ziarah ke makam Monera diantar sama Danish, sekarang malah marah." Badrina membuang nafas merasa menyesal meminta bantuan Danish.
"Bukan salah kamu, salah hati aku," ucap Arshaka sambil menunjuk dadanya. Arshaka melajukan sendiri kursi rodanya sampai ke lobi pusat terapi.
Badrina tercengang, kesadarannya kembali sewaktu Arshaka telah menjauh. Dengan tergesa-gesa ia berlari mendapati Arshaka yang tampak memanggil pengemudi taksi yang biasa mangkal di areal rumah sakit.
Badrina membantu Arshaka masuk ke dalam taksi lalu melipat kursi roda, kemudian pengemudi taksi memasukkan ke dalam bagasi.
Sepanjang perjalanan wajah Arshaka tertoleh keluar jendela, pemandangan kota menjadi pusat penglihatannya. Badrina kerap melirik ke arah Arshaka sambil tersenyum mengerti makna diamnya Arshaka.
Hati Arshaka sangat buruk hari ini, padahal dirinyalah yang meminta bantuan Danish untuk mengantar Badrina ke pemakaman, tetapi saat melihat mereka berdua pergi dan datang, Arshaka seolah-olah digampar rasa cemburu. Ditambah lagi kondisinya yang tidak prima, membuatnya rendah diri.
"Papa...." Teriakan Cantara dari dalam rumah mampu membuat senyum terulas di wajah tampan Arshaka
"Gimana latihan Papa hari ini?" tanya Cantara antusias.
"Semakin baik, Canta. Tidak lama lagi Papa bakalan bisa jalan normap seperti dulu lagi," jelasnya. Mendengar itu Cantara berlonjak gembira. Ia selalu setia menanti papanya selesai latihan.
"Bagaimana les kamu hari ini?"
"Lancar, Pa. Canta belajar mengiringi lagu baru."
__ADS_1
Percakapan keduanya mengalir. Setelah Cantara merasa puas, bocah itu menyarankan papanya untuk beristirahat.
Di kamar kecil, Arshaka membasuh dirinya sendiri. Di kamar, Arshaka disediakan tongkat yang bisa digunakan untuk membantunya berjalan.
Selesai Arshaka membereskan diri sendiri Badrina masuk ke dalam kamar. Tadi, ia mengecek makan siang yang telah disiapkan oleh asisten rumah tangga.
"Ayo, kita makan siang," ajak Badrina.
Pria itu bergeming, tidak merespon dan hanya mematung.
Sekali lagi, Badrina mengajak Arshaka. Kini dirinya duduk di pinggir ranjang. "Ayo loh, makan siang. Apa perut kamu ini tidak lapar?" tanya Badrina menyentuh lembut perut Arshaka yang dihalangi kaos.
"Jangan pegang-pegang," timpal Arshaka dengan wajah datarnya.
Mendadak tawa Badrina membahana dalam kamar, ia sampai terpingkal-pingkal dan ujung matanya mengeluarkan air bening.
Arshaka menatap Badrina yang berhasil kembali dinikahinya sebulan lalu, kening Arshaka mengerut berlapis.
"Kamu lucu kalau lagi cemburu," lontarnya, Badrina kembali terbahak sampai kepalanya tertunduk menyentuh perut Arshaka yang sedang duduk menyender di kepala ranjang.
"Rina, ini masih siang. Jangan macam-macam kamu," ujar Arshaka dengan nada dingin. Tangannya berusaha mengangkat kepala Badrina dari perut datarnya.
Badrina tidak bersedia bergerak dari sana, malahan ia melingkarkan tangannya sampai ke balik punggung Arshaka.
Lelah tertawa, Badrina berkata, "Danish itu teman aku sekarang dan nanti. Dia menghargai aku sebagai teman, sebaliknya juga aku," jelas Badrina lalu menegakkan diri menatap suaminya.
"Kamu meragukan aku?"
Arshaka menghela nafas panjang dan dalam lalu menoleh ke arah lain.
"Ngga tahu. Cuma aku minder dengan kondisiku. Mana tahu kamu malu dengan ini semua," ucapnya menatap Badrina yang dinilainya semakin cantik dan bersinar.
"Astagaaa... mengapa aku harus malu? Kalau malu, aku tidak akan terima lamaran kamu sebulan yang lalu, Shaka," protes Badrina saat mengetahui isi lain hati suaminya.
Arshaka merasa melayang diterbangkan angin asmara begitu mendengarkan penuturan sang istri. "Aku memang pantas mendapatkan ini semua, menyakiti perempuan yang penuh cinta buat aku, bahkan masih mau terima aku kembali --"
Arshaka tidak melanjutkan kata-katanya karena mendadak Badrina menyatukan wajahnya pada Arshaka.
Mereka begitu dekat dan berhasrat.
Arshaka terbawa arus kelembutan Badrina. Dia mengangkat tangannya lalu menggenggam rambut Badrina untuk mendapat kedalaman kecupan istrinya. Mereka terbuai gelora masing-masing di siang hari yang terang benderang.
"Mama... Papa... ayo makan," teriak Cantara dari luar kamar sambil mengetuk-ngetuk pintu berulang kali.
Pasangan dimabuk asmara itu cepat-cepat melepaskan diri. Mereka tersadar hampir melakukan sesuatu dengan perut yang kosong.
Keduanya menertawakan diri masing-masing, sementara Cantara menepuk keningnya mendengar respon kedua orang tuanya yang malah cekikikan tanpa menjawab ajakannya.
__ADS_1
"Orang tua zaman sekarang." Cantara menggeleng-geleng lalu meninggalkan pintu kamar orang tuanya.