
Di tempat lain, sosok perempuan duduk termenung sambil menunggui putri cantiknya keluar dari kelas. Pikirannya melayang tertuju pada seorang pria yang selama lima tahun belakangan telah memperhatikan kebutuhannya dan sang buah hati.
Siang lalu ia menelepon untuk menanyakan keberadaan si pria yang sudah beberapa minggu tidak pernah datang lagi berkunjung ke apartemen yang ditempatinya.
Tentu saja ia gelisah, mana tahu ada apa-apa dengan pria baik itu, maka ia mencoba menghubunginya. Namun, yang menjawab panggilannya suara orang lain.
Ada kecurigaan yang buruk tertinggal di dalam benaknya. Apakah ini waktunya bagi dirinya dan sang putri untuk menjauh?
"Maulidya, Arshaka sedang mendetoks diri. Saat ini tidak dapat diganggu," ujar pria yang mengangkat telepon Arshaka dengan frontal.
Apa maksud pria itu dengan detoks diri? Siapa dia? Mengapa ia yang mengangkat panggilan dan untuk kepentingan apa?
Maulidya kebingungan menemukan jawaban, hingga ponsel yang terhubung mati dengan sendirinya. Begitulah yang dirasakan Maulidya sampai saat ini. Dirinya sulit tidur sebab Arshaka tidak menghubungi untuk memberi penjelasan.
"Mama...," panggil putrinya, Ameera Narasya menyentuh pundaknya. "kenapa bengong? Meera panggil dari tadi, mama tidak menyahut," protesnya bingung.
Jam sekolah Ameera telah berakhir, bocah itu selalu ditunggui oleh Maulidya di bawah pohon rindang area sebelah kiri sekolah.
Maulidya menyentuh lengan anaknya, "Maaf ya Nak, mama tidak mendengar kalau Ameera panggil. Sudah selesai jam sekolah, ya. Yuk, kita pulang," ajaknya gegas berdiri.
Maulidya segera memesan taksi online. Mereka berjalan keluar sekolah berbarengan dengan anak sekolah lainnya.
"Ma..., Papa Shaka kenapa tidak pernah datang lagi?" tanya Ameera sembari mereka berjalan. Ameera melihat dari kejauhan sebagian teman-temannya digandeng oleh papa mereka. "Meera kangen papa, Ma," ucapnya sambil bibirnya mencebik pertanda sedih.
Maulidya gelagapan merespon pertanyaan putrinya. Mengapa harus dalam kondisi seperti ini Ameera bertanya padanya? Bukan waktunya untuk menjelaskan kenapa Arshaka tidak mengunjungi mereka, sebab ia pun tidak tahu apa alasannya.
"Sayang," ucapnya sambil mengelus kepala putrinya. Maulidya mengambil posisi berlutut untuk mensejajarkan tinggi badannya dengan Ameera, "papa sedang ada tugas keluar kota. Jadi, kita belum biaa bertemu papa," lanjut Maulidya berharap kondisi putrinya kembali ceria.
Ameera menggeleng-geleng. "Masa Meera tidak dihubungi oleh papa. Mama juga tidak izinkan Meera untuk menelepon papa," isaknya sambil tertunduk sedih.
Maulidya turut iba melihat air mata yang jatuh di pipi chubby putrinya, diusapnya dengan penuh kasih.
__ADS_1
"Kita pulang dulu ya, Meera. Nanti di rumah kita bicarakan. Kita coba telepon papa nanti," janjinya menyakinkan Ameera.
Ameera melempar senyuman gembira, ia percaya mamanya akan menghubungi Arshaka setelah sampai di rumah. Bocah itu menghapus sisa air mata lalu mengikuti Maulidya yang menggandengnya menuju taksi.
Asisten rumah tangga Badrina, Muryati, telah menyiapkan makan siang untuk tiga porsi. Sebelum pergi tadi, Arshaka sempat menitip pesan agar memasak dari bahan yang segar dan sehat untuk menyambut kepulangan Badrina.
Di meja makan ada tiga orang, mereka tampak seperti keluarga normal lain yang bahagia dan akur. Bunga dari Arshaka telah ditaruh Badrina di vas tempat biasa ia menaruh bunga untuk menghiasi rumahnya.
Bertepatan sekali Arshaka menghadiahinya bunga, sehingga ia tidak perlu keluar biaya lagi untuk membeli. Badrina tersenyum dengan pikiran hemat yang tersimpan di otaknya.
"Rina, kita makan di rumah, tidak masalah ya. Lain kali, aku ajak kalian untuk makan di luar," ujar Arshaka setelah mengunyah dan menelan sesendok nasi beserta lauk.
Sendok Badrina yang hampir saja menyentuh mulutnya, turun kembali ke piringnya.
"Tiap hari aku memang makan di rumah, makan di luar bareng kamu bisa dihitung jari," timpal Badrina. Arshaka menoleh padanya. "Kalau-kalau kamu lupa," ucap perempuan itu tanpa merasa bersalah.
Arshaka diskak mat karena kalimat basa-basi yang dilontarkannya. Selama menikah mereka memang sangat jarang makan bersama keluar, kecuali kepentingan kantor dan relasi keluarga.
Badrina jadi tidak enak sendiri dengan ucapannya terhadap Arshaka. Meskipun dirinya tidak mengetahui apa motif dari perubahan sikap Arshaka, seharusnya cukup menghargai saja.
Ditambah lagi sindiran dikemukakan di hadapan Cantara, rasanya kurang elok. Hanya saja, Badrina gengsi untuk minta maaf pada Arshaka.
Mereka bertiga kembali menyuap makanan dalam suasana hening, lebih baik diam daripada salah melontarkan ucapan. Biasanya salah ucap dapat menyebabkan perut kenyang dengan kilat, nafsu makan menjadi hilang, hal demikian tidak baik bagi mereka.
Arshaka telah menyusun suatu rencana dengan cukup matang, dirinya didukung oleh Danish. Bukan hanya itu, Arshaka juga siap untuk segala kemungkinan jawaban dari Badrina.
Hari ini merupakan waktu yang dirasa tepat oleh Arshaka untuk menyampaikan kembali isi pikirannya.
Mengingat hal demikian, mengencang degupan jantung Arshaka.
Usai makan bersama, Arshaka melihat Badrina yang tengah sibuk membenahi meja makan, bersamaan kelebat rasa penyesalan menghimpit dadanya.
__ADS_1
Bagaimana Arshaka di masa lalu menyakiti Badrina, tanpa diketahui perempuan itu, dalam waktu yang cukup panjang dan sering mengabaikannya. Arshaka malah merasa turut andil dalam memperburuk emosi mantan istrinya.
Begitu mengingat kejadian demi kejadian, Arshaka langsung mengusap kasar wajah lalu tanpa sadar membunyikan hembusan nafasnya.
"Papa, kenapa?" tanya Cantara dari seberang meja berhadapan dengan Arshaka. Anak itu tengah menikmati potongan buah apel kesukaannya.
Arshaka salah tingkah. "Tidak. Papa tidak kenapa-napa, Nak," ujarnya tertangkap basah.
Mendadak Arshaka punya ide agar rencananya berjalan lancar.
"Canta," ujarnya, Arshaka mendekatkan tubuhnya ke tengah meja, "habis ini kamu tidur siang, ya. Agak lama'an...," kata Arshaka dengan nada berbisik.
"Memangnya kenapa, Pa?" tanya Cantara.
"Papa sama mama mau ngobrol sebentar," respon Arshaka sambil menyengir.
"Ooh... oke, Papa," ujar Cantara memberi ibu jari. Setelah menyantap potongan buah, Cantara turun dari bangku makannya. Anak itu menuruti perkataan papanya.
Cantara membawa piring kosong tempat potongan buah ke arah wastafel tempat Badrina berdiri. Cantara menyerahkan piring itu ke Badrina, lalu berbalik dan melangkah keluar ruang makan.
"Oh iya!" sentak Cantara pada dirinya sendiri sambil menepuk keningnya. Ia membalik tubuhnya lalu bersuara dengan nada keras.
"Mama, tadi Papa bilang 'mau ajak Mama ngobrol'. Canta mau ke kamar dulu ya sama bibi," ucap Cantara kemudian keluar mencari keberadaan Muryati di kamar belakang.
Seketika Arshaka terbatuk-batuk, efek baru saja mencicipi buah jeruk masam bersamaan dengan ucapan Cantara yang menambah rasa kecut.
Mendengar suara batuk tidak berhenti, Badrina membalik tubuhnya gegas berjalan ke arah meja makan, menuang air ke cangkir lalu menyerahkannya pada Arshaka.
"Minum," ucapnya dengan raut meringis khawatir.
Apakah Badrina mendengar penuturan Cantara atau malah terpaku dengan batuknya, Arshaka tidak tahu. Ia meminum air tuangan Badrina dari cangkir dengan gelegak rasa asing di dadanya. Badrina yang berdiri di sampingnya terasa begitu dekat seperti hampir menghimpit.
__ADS_1
Minuman itu seakan-akan hadir menjadi sumber kesegaran, melintasi tenggorokan yang sudah seperti jalanan berdebu. Lama Arshaka tidak mengalami sensasi rasanya diperhatikan seperti saat ini.