
Tiga bulan telah berlalu semenjak Badrina keluar dari rumah sakit. Selama itu, Badrina mulai mempraktekkan cara hidup menghargai diri sendiri. Badrina tidak ingin gampang masuk rumah sakit akibat kurang memperhatikan diri sendiri.
Buku-buku yang diberikan oleh Danish membawa Badrina pada keinginan untuk mendalami nilai kebaikan dalam jiwa sendiri.
Selama ini Badrina selalu merasa rendah diri dan tidak dicintai. Hal itu membawa dirinya pada ketidakmampuan untuk mengenal cara mencintai dengan semestinya. Badrina ingin sekali hidup dengan kedamaian pikiran, tetapi tidak tahu caranya.
Perempuan itu tidak berharap berlebihan, ia perlahan berlatih mengerjakan kegiatan keseharian dengan daya yang dimiliki bukan lagi tentang mencapai target atau ekspektasi.
Apalagi praktek hidup yang dikerjakannya masih hitungan bulan, sementara ia berada dalam kungkungan perasaan rendah diri sudah berpuluh-puluh tahun.
Badrina bertekad untuk ramah dan welas asih pada dirinya sendiri.
Melakukan meditasi menjadi kegemaran Badrina yang baru. Setiap hari ia meluangkan waktu beberapa menit untuk menyelami ke dalam diri. Kadang pikirannya melantur ke mana-mana, disitulah Badrina berlatih untuk bisa fokus kembali.
Sebelum dirawat di rumah sakit, Badrina tidak begitu memperhatikan kesehatannya, apalagi bila sedang bersedih. Badrina tanpa sadar bisa menyakiti dirinya sendiri dengan mengurangi makan, minum, dan tidur yang berdampak pada menurunnya kualitas kesehatannya.
Badrina menyebut telah keliru dalam berpikir dan menyikapi masalah hidup. Seiring waktu, Badrina belajar untuk memperhatikan kesehatan agar mental dan emosionalnya tidak mudah terpantik bila fisiknya kelelahan.
Hubungan Badrina dengan Cantara bertambah hangat. Mereka kerap menghabiskan waktu bersama di banyak kesempatan.
Tidak perlu melakukan kegiatan yang menghabiskan banyak uang, melainkan mengarah pada kualitas waktu saat bersama. Badrina lebih memiliki waktu untuk mengajak Cantara bermain, berjalan-jalan, dan mengobrol.
Demikian juga relasi Badrina dengan Arshaka.
Setelah Badrina pulang dari rumah sakit kala itu, Arshaka memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaan hatinya.
"Rina, mungkin ini ucapan terlalu cepat aku sampaikan. Tapi, hatiku mendesak untuk mengatakannya pada kamu," ucap Arshaka tiga bulan lalu sewaktu mereka berbincang di rumah Badrina, "aku... aku... selama kita bercerai merasa kehilangan kamu. Dan... cemas saat kamu masuk rumah sakit, terbayang dalam pikiran bagaimana kalau benar-benar kehilangan kamu," sambung Arshaka dengan tatapan serius seolah-olah mengunci pandangan Badrina.
__ADS_1
Mama Cantara yang saat itu diliputi suasana santai mengobrol dengan Arshaka sekonyong-konyong menegang.
Badrina bergeming mendengar pernyataan Arshaka yang mendadak.
"Aku ingin memperbaiki semuanya dari awal bersama kamu," lanjut Arshaka sebab melihat Badrina yang hanya terdiam. Arshaka menelan ludahnya, "aku ingin... kamu kembali menjadi istriku dan aku menjadi suamimu," ucap Arshaka serius.
Jantung Arshaka berdegup kencang, menyebar desir darah menyebabkan jari-jemarinya basah karena keringat. Ditambah lagi tatapan tajam Badrina membuat Arshaka salah tingkah.
Arshaka mengusap tengkuknya, ia menarik lembaran tisu kesekian lembar dari kotak lalu melemparnya ke tong sampah yang rupanya telah penuh dengan sampah tisu miliknya.
Arshaka menarik nafas panjang, dilihatnya senyum Badrina memudar seiring kalimat demi kalimat yang terlontar dari mulutnya.
Delapan tahun yang lalu saat Arshaka melamar Badrina tidaklah semenegangkan ini. Mengapa kini malah canggung? Apakah jatuh cinta mampu mencipta ketegangan dalam diri seseorang? Banyak pertanyaan dalam pikiran Arshaka.
"Kamu... ingin kembali karena Cantara?" tanya Badrina menyorot bola mata Arshaka. Tertangkap di pendengaran Arshaka kalimat itu mengandung tuduhan.
"Tentu saja bukan," ucap Arshaka tersenyum sembari memperbaiki sikap tubuh. Arshaka senang Badrina menimpali perkataannya.
"Aku kembali... karena... aku... sayang kamu," ucap Arshaka gugup seperti anak remaja yang mengungkapkan cinta pada calon pacar, "ya, aku sayang kamu, Rina," ulang Arshaka.
"Aku tidak suka kamu didekati Hafez. Jadi, segala tuduhan aku yang menyakiti kamu beberapa waktu lalu... itu... karena... itu... aku...." Arshaka sulit berucap, perlu keberanian lebih.
"Aku cemburu." Akhirnya kata sayang dan posesif dibeberkan sendiri oleh Arshaka. Kalimat yang belum pernah didengar oleh Badrina selama mereka dulu menjalani pernikahan.
Pria itu mengerjap melihat bola mata Badrina membelalak.
Menjalar warna kemerahan di pipi Badrina. Ia menutup matanya seolah-olah mendeteksi apakah saat ini ia bermimpi atau kejadian nyata. Perempuan itu tanpa sadar menyentuh pipinya yang menghangat.
__ADS_1
Badrina menghela nafas panjang. Rasa gembira dan tidak percaya berkecamuk di dalam batinnya. Tentu saja ia masih tidak percaya, mengingat saat menjadi suami ucapan ini tidak pernah dilontarkan.
Mereka dulu suami istri yang hidup di satu atap, saling menghargai kegiatan masing-masing, tetapi tidak ada komunikasi yang romantis seperti saat ini.
"Apa kamu sakit?" tanya Badrina menetralisir kondisi canggung yang tercipta.
Arshaka mencelos.
Ia menoleh ke kanan dan kiri berusaha menenangkan diri. Pria itu sedang berpikir untuk menjawab Badrina.
"Ya," jawab Arshaka,"aku sakit sejak kita bercerai, sejak kamu berpisah dariku. Sakit di sini," ucap Arshaka menunjuk dadanya. Raut serius ditunjukkan oleh Arshaka.
Lagi-lagi menjalar kehangatan di wajah Badrina. Kali ini ia terkekeh mendengar jawaban Arshaka. Badrina menautkan jari-jemarinya, dirinya dilanda rasa gugup.
"Aku tidak tahu kamu punya skill menggombal," sindir Badrina untuk menormalkan suasana. Lama hidup dalam pertengkaran dengan Arshaka membuat Badrina merasa aneh dengan sikap ayah dari putrinya itu.
"Ini bukan gombalan atau kata manis yang dibuat-buat, Rina," ucapnya. Arshaka menggeser duduknya ke sofa yang bersebelahan dengan Badrina. "Aku serius," pungkasnya mengangkat tangan ingin menyentuh jemari Badrina.
"Jangan dekat-dekat," ucap Badrina menggeser duduk menjauhi Arshaka. "Aku belum jawab apa-apa. Tidak boleh ada sentuhan. Kalau tidak, aku akan marah," sembur Badrina. Perempuan itu memang sulit untuk bersikap manis pada mantan suaminya, demikian sikap aslinya.
Arshaka menahan diri. Ia tersenyum pada Badrina bukan tersinggung. Pria itu menjadi lebih memahami Badrina dengan tipe temperamen yang mudah panas.
Seiring berjalannya waktu, relasi diantara keduanya menunjukkan perkembangan ke arah yang lebih baik. Ditambah praktek hidup yang Badrina giatkan saat ini, memberi dampak positif pada caranya merespon satu kejadian.
Badrina yang sedang duduk lesehan di taman samping setelah aktivitas yoga tersenyum mengingat kejadian dimana Arshaka meminta dirinya kembali menjadi istri.
Badrina telah memberi jawaban pada Arshaka. Malam ini Badrina berencana akan ke rumah tante Poppy untuk membatalkan segala rencana pendekatan dirinya dengan Hafez.
__ADS_1
Baginya Hafez hanyalah teman. Ia tidak memiliki ketertarikan sebagai perempuan dewasa terhadap pria itu. Dalam pikiran Badrina, Arshakalah calon masa depannya.
Badrina bergegas merapikan alas duduknya, kembali ke rumah untuk bersiap-siap mengunjungi Poppy nanti malam.