
Arshaka berlari tergesa-gesa menuju ruang instalasi gawat darurat sebuah rumah sakit, setelah memarkirkan kendaraannya. Ia bertanya kepada petugas yang duduk di meja informasi mengenai pasien bernama Badrina Aini.
Petugas mengatakan bahwa Badrina telah mendapat ruang rawat inap. Arshaka diberitahukan nomor kamar rawat, diarahkan menuju ke sana secara mandiri.
Arshaka menyusuri lorong hingga menemukan ruangan yang dimaksud. Memantapkan hati yang tiba-tiba meragu, Arshaka memberanikan diri untuk masuk.
Di dalam kamar rawat inap Badrina ada 4 ranjang, saat ini terisi 2 pasien. Badrina tidak dipilihkan ruangan kelas satu atau VIP. Arshaka melihat Badrina di ranjang paling ujung, tertidur lelap dengan infus di tangan.
Rasa kasihan muncul begitu saja dalam hati Arshaka. Ia masuk dengan perlahan menuju ranjang pasien.
Arshaka tidak melihat keberadaan Danish di ruangan itu.
Arshaka mendekat, mengambil tempat di sisi Badrina. Wajah tenang Badrina membuat detak semakin tidak karuan di dada Arshaka.
Terbit pula rasa bersalah dalam dirinya, teringat pertemuan terakhir mereka penuh dengan perdebatan yang mengandung kemarahan. Arshaka mendengkus, ternyata hampir tiap bertemu sejak bercerai dirinya dan Badrina tidak lagi pernah akur.
Ada rasa tidak rela dalam diri Arshaka, saat Badrina mulai didekati pria lain. Arshaka merasa terabaikan. Arshaka sadar dirinya keliru bersikap, tetapi tiap perkataan secara spontan saja terlontar dari bibirnya.
Setelah beberapa waktu berdiri, Arshaka mengambil posisi duduk, dirinya ingin meraih tangan Badrina yang ditempel suntik infus. Namun, terhenti di udara. Badrina bisa-bisa terganggu, akhirnya Arshaka menaruh tangan kembali ke sisi tubuh.
"Maafkan aku," bisiknya. Maniknya berkaca-kaca, Arshaka mendongakkan kepalanya menghalau bening yang ingin keluar dari matanya. "Aku... tidak bisa melepaskan kamu, meskipun kita telah bercerai. Aku --"
Perkataan Arshaka terhenti sebab Danish masuk ke ruangan.
"Udah datang lo?" tanya Danish sembari menaruh barang bawaan di nakas sebelah ranjang pasien.
"Seperti yang lo lihat," sahut Arshaka menormalkan kembali dirinya yang tadi dilanda sedih. "Lo dari mana?" tanya Arshaka mengamati barang yang dibawa Danish.
"Tadi nganterin anak lo pulang. Udah lelah banget nungguin mamanya," jawab Danish sembari mengeluarkan barang bawaan lalu memasukkan ke dalam laci nakas.
Arshaka teringat dengan Cantara. Pasti putrinya itu panik saat mengetahui mamanya masuk rumah sakit.
"Gue belum hubungi Canta, hhh...," sesah Arshaka memikirkan putrinya.
" Dan, bagaimana reaksi Canta saat tahu mamanya harus dirawat?" tanya Arshaka berharap ada jawaban.
Danish memandang Hizkia tajam. "Gue bingung, yang jadi ayahnya lo apa gue?" tanyanya dengan nada kesal, tetapi tertahan mengingat ada pasien lain di ruangan yang sama.
__ADS_1
Pria tampan yang tidak menyukai lawan jenis itu kesal karena ia tahu Badrina tidak bahagia karena perceraiannya dengan Arshaka. Temannya itu masih terus dikejar-kejar oleh mantan suaminya yang sulit untuk melepasnya.
"Ya... gue tanya lo Danish karena lo yang kabarin gue. Lo sendiri tadi cerita, pas berada di rumah Badrina sewaktu kejadian. Kalau --"
"Anak lo panik tahu mamanya pingsan di rumah, lo bayangin aja kalau sekarang mereka pisah karena Badrina dirawat... Gue pikir tanpa dijelaskan lo tahu seperti apa Canta," sahutnya ketus dibarengi rasa geram. "Oh... itu kalau... ya kalau lo memang paham Canta seperti apa," imbuh Danish lantang.
"Danish, maksud lo apa, sih? Lo berpikir gue ngga paham anak gue sendiri, gitu?" tanya Arshaka menyelidik.
Mereka berdua malah terlibat berdebatan tentang Cantara.
"Kalaulah lo paham, lo pasti tahu... mengerti... bahwa kalau Badrina sakit seperti sekarang, anak lo ikut menanggung sakit di dalam pikiran dan hatinya," tekan Danish menunjuk kening dan dadanya sendiri.
"Ah... gue bukan mau ikut campur urusan lo, Shaka... tapi penyebab Badrina pingsan dan sakit... menurut lo karena apa... karena siapa? Karena lo. Sadarkah lo, Arshaka Alfarizi?" tuduh Danish menekan dalam dada Arshaka yang terdiam mendengarnya.
"Karena kejadian ini, anak lo jadi turut menderita. Helowww, sudah menjadi bapak yang baikkah Anda...?" Gerakan kepala Danish bergoyang menandakan geram pada Arshaka.
"Jadi --"
"Canta...," lirih Badrina yang telah sadarkan diri.
Arshaka tidak jadi meneruskan ucapannya. Ia menoleh pada mantan istrinya yang telah membuka mata.
Saat kesadaran Badrina telah penuh, Badrina mengamati ruangan tempatnya berbaring bukanlah di kamar pribadinya melainkan tempat lain. Selanjutnya, tatapannya terkunci pada manik Arshaka.
Mendadak Badrina teringat perkataan mantan suaminya yang menyebut dirinya kebelet nikah. Badrina merasa dipandang rendah oleh Arshaka dan ia tidak menyukai memori itu.
Badrina memutus pandangannya dengan menoleh ke arah lain.
"Mau apa ke sini?" ucap perempuan itu dengan suara bergetar. Ia berusaha menelan ludah, tenggorokannya kering. Entah sudah berapa lama ia tidak meneguk air.
"Rina, maafkan aku," ujar Arshaka. "Kamu sakit karena aku. Sungguh aku menyesal dengan --"
"Keluar...." Ucapan Badrina itu menghentikan perkataan Arshaka. Sebening air mata membasahi pipi Badrina yang masih setia menoleh ke arah lain.
"Rina, please... aku --"
"Keluar!" jerit Badrina tertahan dibarengi tangisan dan geraman. Tidak mampu lagi Badrina menahan tetap berpura-pura kuat untuk tidak menangis.
__ADS_1
Danish gegas maju mendekati Arshaka yang tengah berusaha untuk mengatakan sesuatu pada Badrina.
"Sori Shaka, lebih baik lo kasih ruang untuk Badrina sendiri. Temui Cantara, dia lebih butuh lo sekarang," ujar Danish menyentuh pundak Arshaka.
"Biar Badrina sama gue," sambung Danish.
Arshaka menatap Danish yang mengangguk samar. Dengan berat hati Arshaka meninggalkan kamar rawat inap Badrina. Arshaka mempercayakan Badrina pada Danish.
Tidak enak dengan pasien satunya yang juga butuh istirahat, meskipun ia sedang tertidur lelap karena pengaruh obat.
"Gue bakal hubungi lo. Tolong jaga Rina, ya," pesan Arshaka pada Danish. "Rina, aku pulang."
Tidak ada sahutan dari Badrina. Arshaka melangkah keluar ruangan membawa sesal di hati.
Arshaka tanpa semangat, jalannya gontai hingga ke parkiran. Tadinya ia berharap Badrina memaafkannya, yang ada mantannya menolak Arshaka.
Kini, dia berencana mengunjungi rumah Badrina untuk menemani Cantara.
Masuk ke dalam mobil, Arshaka menghubungi mamanya.
"Mama, lagi dimana?" tanyanya langsung ke inti tanpa mengucapkan salam.
"Biasa... di rumah. Kenapa, Nak? tanya Nuraini curiga mendengar suara lesu anaknya.
"Ma, aku jemput ya. Kita ke rumah Badrina," ujarnya.
"Sekarang?"
"Iya, Ma," ujar Arshaka. "Em..., Rina masuk rumah sakit, Canta sendirian di rumah... e... bersama asisten rumah tangganya Rina," jawab Arshaka terus terang.
"Masuk rumah sakit? Sekarang keadaannya bagaimana?" tanya Nuraini panik.
"Tekanan darah turun dan dehidrasi, Ma."
"Apakah kamu sudah besuk Rina?"
"Sudah, Ma. Makanya sekarang aku ajak mama ke rumah Rina untuk lihat Canta."
__ADS_1
Tidak banyak bicara, Nuraini mengikuti permintaan anaknya untuk menengok cucu semata wayang. Nuraini bersiap-siap sembari menunggu jemputan putra kesayangannya di rumah.