
Arshaka berdecak kesal. "Lo duduk, dengerin gue dulu," ucap Arshaka, "nanti dulu kagetnya," tambahnya menarik tangan Danish. Dia kembali duduk setelah keterkejutannya membuatnya refleks berdiri.
"Gini, gue inget lo bilang sedang berlatih pikiran berkesadaran, gue minta bantuan agar lo bisa memperkenalkan itu pada Rina," pinta Arshaka.
"Memangnya kenapa?" tanya Danish penasaran. Danish cukup heran karena sebelumnya Arshaka meledek latihannya.
"Setidaknya itu membantu Rina buat merespon segala kejadian di masa depan," ujar Arshaka sambil membayangkan hal kurang baik yang bisa terjadi pada hidup Badrina, "Gue berharap Rina tidak gegabah dalam mengambil sikap terhadap satu peristiwa," tambahnya.
"Kenapa bukan lo aja yang melakukannya pada Aini?" tanya Danish.
"Ah... banyak tanya ini orang, masalahnya rumit buat gue jelaskan malam ini, Dan. Sembari lo bantu gue, pelan-pelan gue bakal jelasin duduk persoalannya. Tapi, gue minta jangan lo beri tahu Rina soal ini," harap Arshaka kembali.
"Setidaknya, lo jelasin dulu batas gue deketin Aini gimana? Entar dia jatuh hati sama gue, boleh?" tanya Danish dengan lagak bingung.
"Bukan mengarah ke sana, Danish. Lo itu manajer, tapi urusan begini masa masih kurang paham," gerutu Arshaka sembari menggelengkan kepalanya.
"Bukan gitu, Shaka. Lo tahu Elmira?" tanya Danish, Arshaka mengangguk. "Perempuan itu dulu, empat tahun lalu, juga diminta sama mendiang suaminya yang adalah temen gue buat jagain dia. Malahan minta gue nikahin dia. Coba lo pikir," sungut Danish menunjuk keningnya. Arshaka membelalak mengetahui satu fakta tentang temannya ini lalu tertawa.
"Seandainya lo nikah dengan Elmira, sekarang dia gak bakal deketin gue," keluh Arshaka.
Danish mendengkus. "Ya, lo kayak gak tahu gue?" tunjuk Danish pada dirinya sendiri dengan wajah memberengut.
"Iya... gue ngga minta sampai ke sana Danish, ngga rela gue," decak Arshaka, "gue 'kan tahu rahasia lo yang tidak tertarik pada lawan jenis, bukan sembarangan orang pula," ucap Arshaka membuka tabir fakta hidup Danish yang tersembunyi dari orang-orang.
"Nah, itu pinter. Oke teruskan cerita lo," sambung Danish.
"Jadi, tugas lo sebatas mengenalkan hidup berkesadaran itu. Ya, seperti jadi coach buat Rina. Gue peenah minta Rina ke psikolog atau dokter jiwa sampai sekarang belum dilakukan. Rina tidak mudah percaya orang asing. Jadi, lo akan sangat membantu," terang Arshaka bersungguh-sungguh.
"Terus, gue dapat apa?" Senyum merekah di wajah tampan Danish, alisnya bergerak naik turun.
__ADS_1
"Apa lo, liat-liat gue. Tolong Danish, hapus gue dari pikiran lo," kata Arshaka yang menebak isi pikiran Danish.
Danish tergelak, terbahak-bahak. "Wajah lo ketakutan gitu, Shaka. Gue cenderung ke sesama jenis, bukan sembarangan kali. Masa gue rebutan suami orang. Gak mutulah!" gerutu Danish.
"Syukur deh. Jadi, gue aman, ya. Lo sebut aja mau apa. Mungkin gue bisa penuhi," timpal Arshaka. Pria itu senang Danish bersedia membantunya, tidak sia-sia kedatangannya malam-malam ke rumah Danish.
"Sudahlah, tidak perlu dibalas. Lo juga pernah bantu gue waktu laporan ke direksi tahun lalu. Anggap saja kita impas," ujar Danish mengingat bantuan Arshaka saat dirinya kurang prima dalam presentasi laporan di perusahaan.
"Tapi omong-omong Dan, pikiran berkesadaran bagi seorang penyuka sesama bisa ya?" Arshaka menyelipkan pertanyaan pribadi bagi Danish.
"Bisalah, Shaka. Gue dari lahir sudah begini. Kecuali, lo penyuka sesama juga, gue sekarang ngga mau jelasin gimana-gimananya. Bukan buat itu toh lo dateng?"
Arshaka menyengir, ia tersadar sudah terlalu lancang masuk dalam ranah pribadi Danish. Apa yang menjadi orientasi Danish bukanlah urusan Arshaka, apa yang menyebabkan Danish demikian biarlah menjadi rahasia Danish sendiri.
Arshaka berpamitan pulang. Pikiran dan perasaannya jauh lebih tenang dibandingkan awal dirinya datang ke rumah Danish. Ucapan Poppy berhasil membuat dirinya dirundung rasa was-was.
Satu tugas Arshaka selesai, tinggal Danish menjalankan aksinya. Selebihnya, Arshaka akan tetap memantau mantan istrinya itu. Ada perasaan asing yang yang kini dirasakan oleh Arshaka terhadap Badrina.
Mungkin saja Arshaka akan tetap menjadi bayang-bayang mantan istrinya itu demi kebahagiaan Cantara.
Mobil melaju meninggalkan kediaman Danish menuju rumahnya.
💕💕
Di tempat lain, Poppy merasa tidak tenang paska pertemuan pertamanya dengan Arshaka setelah bertahun-tahun tidak bertemu. Poppy gelisah mengingat ancaman Arshaka yang bisa menjatuhkan citranya.
Poppy kesal sebab Arshaka semakin berani menyanggahmya. Poppy tidak akan tinggal diam, bisa-bisa kecolongan aksi Arshaka.
"Halo, Hafez," sapa Poppy dengan nada yang begitu lembut melalui telepon.
__ADS_1
"Ya, Tante," balas Hafez.
"Tante mengganggu tidak?"
"Tidak, Tante. Ada yang bisa aku bantu?" tanya Hafez sekalian menyatakan kesediaannya untuk menolong.
"Ah, kamu tahu saja Tante perlu bantuan kamu. Hafez, bagaimana langkah kamu terkait Badrina setelah pertemuan pertama."
Hafez berpikir sejenak. Ia jadi teringat peristiwa Badrina dipaksa pulang oleh Arshaka.
"Seperti yang pernah aku katakan pada Tante, aku menyukai Badrina. Ia perempuan yang menyenangkan," jawab Hafez. "Hanya saja mantan suaminya yang bernama Arshaka itu seolah-olah masih bersikap seperti dirinya masih suami Badrina, Tante," lanjutnya.
"Nah, itulah Hafez yang Tante khawatirkan dan perlu sekali bantuan kamu. Arshaka itu selama menikah bukan suami yang baik, tidak memerhatikan Badrina sebagai istri," lirih Poppy, "makanya Tante harap kamu punya gerakan lebih cepat untuk mendekati ponakan Tante sebelum Arshaka melakukan sesuatu. Tante kasihan dengan Badrina," tambahnya berusaha meyakinkan Hafez.
Hafez mengenal Poppy sebagai tante yang menyayangi Badrina. Poppy tidak mengatakan secara gamblang apa yang menjadi tujuannya. Perempuan itu belajar dari kegagalannya yang terlalu berterus terang delapan tahun lalu pada Arshaka, sehingga pria itu sulit diatur saat membangkang dari tujuan awal.
Dengan Hafez, Poppy memilih langkah yang lebih lembut terkesan baik. Bila jalan A tidak mencapai hasil maksimal, maka bagi Poppy ia harus beralih melewati jalan B.
"Ya, baik. Tante. Dalam minggu ini aku berencana mengunjungi rumah Badrina. Tapi, belum tahu hari apa sebab komunikasi kami masih sebatas hal ringan saja," ungkap Hafez.
Poppy sumringah di sana.
"Wah! Bagus sekali rencana kamu Hafez. Tante yakin Badrina akan menerima kamu di rumahnya dengan senang hati. Perasaan Tante jadi membaik. Terima kasih ya, Hafez. Tante senang dengan kamu," ucap Poppy mengangkat Hafez dengan pujian.
Hafez pun tersenyum si seberang, "Ya, Tante," pungkasnya.
Poppy tertawa sendiri di kamar pribadinya setelah menutup perbincangan dengan Hafez melalui telepon. Ia membayangkan kekecewaan Arshaka saat tahu Badrina akan memilih Hafez dan tujuannya akan tercapai.
Poppy telah menunggu lama saat di mana Badrina akan mengalami gangguan kejiwaan atau paling buruk... mengakhiri hidupnya sendiri.
__ADS_1
Bagi Poppy tidak ada kegagalan untuk kedua kalinya.