
Arshaka kembali pulang ke rumah mamanya tanpa berpamitan dengan mantan istri. Bagaimana cara berpamitan, setelah Badrina masuk Arshaka mendengar bunyian kunci dari dalam kamar.
Setiba di rumah, mama Arshaka, Nuraini, menanyakan kabar terbaru tentang cucunya. Ia belum sempat mengunjungi sang cucu paska keluar dari rumah sakit. Saat ini, mereka tengah duduk di ruang keluarga.
"Sudah sehat, Ma. Tapi Canta mulai suka mengamuk kalau aku pulang ke rumah Mama, jadinya menunggu Canta tidur baru balik ke sini," jelas Arshaka, ia teringat bagaimana sikap putrinya.
"Kasihan sekali cucu Mama karena ego orang tua, ia menjadi kebingungan seperti ini. Kalian menoreh luka di hati." Nuraini menyuarakan pendapatnya. Wajahnya terlihat sedih bila mengingat kondisi cucunya.
"Ma...." Arshaka sedang tidak ingin berdebat. Tidak Badrina, tidak mamanya, senang sekali menyudutkannya.
"Mama tidak pernah angkat suara tentang apa yang menimpa rumah tangga kamu. Kamu dan mama Canta juga tidak pernah meminta pandangan atau petunjuk tentang rumah tangga ke Mama. Mama hargai, tidak ikut campur. Tapi sekarang, mendengar cucu Mama tersakiti, rasanya Mama kepingin marah pada kalian berdua," gerutu Nuraini jujur kepada anak tunggalnya itu.
"Maafkan aku, Ma. Aku tidak menyangka Canta akan sesulit ini melihat kami tidak bersama," sesal Arshaka sembari mengusap wajahnya.
"Kamu berharap apa dari cucu Mama? Ingin dia bertepuk tangan atas perceraian kalian? Atau membuat pesta semeriah pesta ulang tahunnya? Ckk ...." Amukan Nuraini tidak berhenti meski anaknya telah meminta maaf.
"Pernikahan yang berlangsung bertahun-tahun wajar menemukan masalah, baik sumber masalahnya dari dalam dan luar. Namun sebelum mengangkat talak, kamu perlu belajar matang. Bertafakur akan nikmat dari Allah. Saat kamu sering melatihnya ada pengaruh psikologis yang positif, emosimu lebih stabil. Sebagai suami itu sangat dibutuhkan," jelas mama Arshaka pada anaknya.
"Ma... aku mengajak Badrina untuk rujuk kembali," ungkap Arshaka jujur pada mamanya. Sebelumnya, Arshaka merasa keliru tanpa mendengar pertimbangan mamanya ia menalak istri, kini dirinya bersedia mendengar pandangan Nuraini.
"Lantas, Badrina menjawab apa?" selidik Nuraini.
"Menolak, Ma," lirih Arshaka. Pria itu menundukkan pandangannya.
Mereka berdua diselimuti keheningan beberapa saat. "Alasan kamu rujuk buat Canta, bukan?" tebak Nuraini.
"Hah! Bagaimana Mama bisa tahu?" Tebakan Nuraini itu benar.
"Ya! Karena Badrina menolak. Shaka, kamu menggunakan Canta sebagai alasan rujuk. Apakah tidak ada hal berharga dalam diri Badrina sebagai alasan kamu meminta rujuk?" selidik mamanya.
__ADS_1
Arshaka bingung menjawab, Badrina selama menjadi istri menjalankan kewajibannya dengan baik. Hanya emosinya saja yang mengganggu Arshaka.
Ia hanya ingin hidup tenang tanpa harus banyak cekcok dengan istrinya. Namun beberapa tahun belakangan ini jarang ditemui. Hal itu membuat batinnya lelah.
"Aku tidak tahan Ma dengan emosi Badrina yang tidak stabil. Hampir setiap hari seperti itu, terutama sejak Canta lahir." Arshaka malah membicarakan kekurangan Badrina, tidak menjawab hal-hal berharga apa yang ia temui dari istrinya.
Nuraini rasanya ingin menggetok kepala anaknya agar ia sadar dari kesalahannya meminta rujuk pada mantan istrinya, "Nah! Lalu mengapa meminta rujuk dengan alasan Canta? Sementara kamu melihat mantan istri kamu banyak kekurangan. Tidak masuk di logika Mama."
"Aku..." Arshaka menjeda kalimatnya, terbersit segala pengorbanan Badrina untuk langgengnya pernikahan mereka.
"Kalau kamu belum bisa menemukan alasan rujuk dari dalam diri kamu dan Badrina, sebaiknya hindari menawarkan rujuk. Mama kuatir malahan akan ada perceraian kedua kali dengan alasan emosi Badrina lagi." Nuraini terdengar membela mantan menantunya. Ia tidak hanya ingin anak-anak bolak-balik ribut dengan alasan yang sama.
"Untuk emosi perempuan, Mama kasih rahasia penting buat kamu sebagai laki-laki. Kamu perlu menggali akar penyebab emosi negatifnya," tambahnya mengingatkan Arshaka.
"Akar penyebab, maksud mama gimana?" Arshaka belum memahami maksud Nuraini.
"Emosi Badrina paling dominan yang kamu kurang senang apa?" selidik Nuraini.
"Kamu sudah pernah mencari tahu akar masalahnya, kenapa Badrina sering ngomel dan marah?" Nuraini menanyakan balik ke anaknya.
Saat Arshaka akan menjawab, mamanya menghentikan.
"Jawabannya kamu simpan dalam hati. Kamu perlu berpikir jernih. Kalau sudah dapat dijawab, kamu gali lagi, gali lagi sampai ketemu akarnya apa. Mama mau istirahat duluan. Selamat berlatih Shaka. Jangan mengulangi kesalahan lagi dengan meminta rujuk tanpa kamu evaluasi penyebab perceraian kamu," papar Nuraini panjang lebar pada anaknya. Ia menepuk bahu Arshaka pelan sebagai tanda penyemangat.
Arshaka yang ditinggal merenung dalam hati seraya heran pada dirinya sendiri ternyata ia tidak mengetahui banyak hal tentang emosi dan perasaan istrinya. Jadi, relasi macam apa yang sedang ia jalani bersama mantan istri selama ini? Apakah Badrina bahagia menjadi istrinya, pernahkah ia sakit hati, atau merasa kecewa dan perasaan lain yang mampir ke hati mantan istri.
Mendapati kenyataan itu, Arshaka ingin sekali punya waktu berbicara bersama Badrina. Namun, mengingat sikap mantan istri yang menghindarinya Arshaka perlu perlahan mendekatinya kembali.
Tentang cinta, apakah Arshaka masih memilikinya? Arshaka pun meragu, perlu waktu untuk meyakinkan diri sendiri.
__ADS_1
Istirahat Arshaka malam ini nampak lebih tenang ketimbang hari-hari lalu. Setidaknya ia mulai bisa mengurai sedikit bahwa dirinya memiliki andil dalam perceraian ini, bukan semata kesalahan Badrina.
Arshaka dibesarkan oleh seorang single parent. Mama dan papanya telah berpisah bukan karena perceraian melainkan sebab takdir papanya yang berpulang lebih dulu pada Sang Khalik. Sebagai anak satu-satunya, Arshaka dididik dengan kedisiplinan yang baik oleh mamanya.
Arshaka tipikal orang yang jarang menunjukkan emosi negatif, biasanya ia memendam sehingga saai ini mengalami kesulitan untuk menerima orang dengan emosi yang negatif.
Hal itu terbawa sampai ia memilih seorang istri. Badrina yang perfeksionis dianggap pilihan paling cocok, diduga mampu mengimbangi sisi emosi Arshaka.
Awalnya rumah tangga mereka memang adem, sayangnya di perjalanan Badrina tersetir oleh perasaan sendiri yang muncul saat mengalami tekanan.
Tanpa sadar, netranya menutup perlahan. Masih ada harapan esok untuk melangkah lebih mengenali istrinya lagi, meskipun perceraian Arshaka dan Badrina telah disiarkan.
Pagi hari di kediaman Badrina, Cantara telah bangun pergi menuju kamar mamanya dengan memeluk boneka kecil kesayangannya pemberian papanya setahun lalu. Ia menanyakan keberadaan Arshaka.
Badrina mengatakan telah pergi kerja, anak itu terlihat sedih. Tidak biasa papanya pergi begitu saja tanpa menyapa dan mencium dirinya.
Badrina menghela nafas berat, "Canta, kamu harus mulai terbiasa kalau papa pagi hari tidak ada di rumah." Badrina mulai mencoba menegaskan sikap.
"Kenapa Ma? Apa Canta nakal sampai pagi hari Papa tidak mau ketemu?" Pertanyaan getir itu sampai di telinga Badrina, Cantara menyalahkan dirinya sendiri.
"Bukan, Nak. Papa semakin sibuk bekerja. Jadi, harus segera ke kantor." Entah akan sampai kapan Badrina berbohong pada anaknya tentang perpisahan dirinya dan Arshaka.
"Apa pekerjaan Papa sangat penting, Ma? Mencium Canta tidak sempat?" Canta masih mencecar mamanya dengan pertanyaan. Anak itu benar-benar bingung dengan kondisi sebulan ini.
Melihat Badrina hanya diam saja. Mata Cantara berkaca, ia langsung keluar dari kamar mamanya dengan menenteng bonekanya di tangan kiri.
Bocah kecil itu kembali masuk ke dalam kamar, naik ke ranjang dan berbicara dengan bonekanya, "Hero, aku lagi sedih. Kamu terus bersamaku ya, jangan tinggalkan aku." Cantara memeluk bonekanya.
Di luar kamar Badrina yang menyusul melihat kepiluan anaknya, ia merasa begitu hancur dan bersalah. Badrina menjadi takut bila Cantara akan mengalami luka seperti yang ia alami di masa kecil.
__ADS_1
Meskipun Cantara memiliki kedua orang tua, tidak ada lagi kebersamaan. Badrina menutup kedua matanya, linangan air mata membasahi pipinya.