BAYANGAN MANTAN

BAYANGAN MANTAN
37. Dibesuk Dua Pria


__ADS_3

Arshaka dan Nuraini tiba di rumah Badrina. Kedatangan mereka disambut oleh asisten rumah tangga Badrina, Muryati.


"Dimana Canta, Bibi?" tanya Arshaka setelah masuk.


"Ada di kamar, Pak," jawab Muryati.


Arshaka melangkah lebar menuju kamar putrinya bersama mamanya. Muryati mengikuti dari belakang.


Di dalam kamar itu, Cantara tengah meringkuk di balik selimut tebalnya.


"Canta... ini Papa, Sayang," panggil Arshaka lirih menyentuh selimut.


Cantara segera menyingkap selimutnya dan memeluk papanya sembari terisak-isak memanggil mamanya. Bicaranya tidak jelas karena sambil menangis.


"Papa di sini ya, Sayang," ucap Arshaka menguatkan putrinya yang sedang sedih. Pria itu mengusap kepala dan punggung putrinya, menunggu isakannya mereda.


Arshaka melerai pelukan mereka. Setelahnya, giliran Nuraini memeluk cucunya.


"Sayangnya Oma...," sapa Nuraini. Ia melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan Arshaka.


Arshaka sedikit menjauh, ia pergi ke tempat Muryati berdiri. "Bibi, bisa ceritakan pada saya kronologisnya, mengapa ibu Rina sampai masuk rumah sakit?"


Muryati pun menceritakan apa yang ia tahu. Arshaka menerka memang benar dirinyalah penyebab Badrina masuk rumah sakit. Sikapnya terlalu keras terhadap mantan istrinya itu.


Arshaka kembali pada Cantara yang merebahkan tubuh pada Nuraini. "Canta sayang, tidak perlu khawatir pada mama, ya. Beberapa hari ini mama akan kembali pulang. Canta doa yang kuat, ya," ujar Arshaka menyemangati putrinya.


"Semenjak Papa jarang pulang ke rumah, Mama suka sedih Canta lihat, Pa. Mama juga lebih sibuk bekerja," beber Cantara memandang manik papanya. "Papa kenapa sih tidak setiap hari lagi pulang ke rumah, seperti dulu. Mama jadi sakit, untung ada Om Danish. Kalau hanya Canta sama Bibi...."


Cantara tidak dapat melanjutkan kalimatnya lagi. Ia menangis kembali mengingat kejadian saat menemukan mamanya tergeletak di lantai kamar kecil.


Bocah kecil yang belum memahami perceraian kedua orang tuanya itu mulai merasa ada hal yang aneh dalam keluarga mereka. "Papa tidak sayang lagi sama Mama dan Canta, selalu sibuk diluar," ujarnya sambil terisak.


Arshaka hanya bisa terdiam di posisinya. Nuraini menatap putranya yang kehilangan kata-kata. "Canta sayang, Papa kamu selalu sayang sama Canta. Kita doakan mama ya, biar cepat pulang," hibur Nuraini. "Apa Canta sudah makan?" tanyanya.

__ADS_1


"Sudah, Oma. Tadi Bibi yang suapin Canta. Canta tidak semangat makan kalau ingat mama. Kasihan mama di rumah sakit sendirian," sahut Cantara dalam dekapan Nuraini.


Benar kata Cantara, Arshaka perlu melakukan sesuatu.


Esok pagi di rumah sakit, Badrina kedatangan dua orang tamu yang membesuknya. Danish sedang tidak di tempat, ia harus masuk kerja. Sepanjang malam Danishlah yang menemani Badrina.


Subuh tadi pria itu mengutarakan bahwa ia tidak bisa menemani sepanjang hari, malam hari barulah bisa berkunjung lagi. Badrina mengerti dengan kondisi itu, ia tidak menuntut siapapun  untuk menjaganya di rumah sakit. Baginya, dari dulu ia adalah manusia yang sendiri. Kedua orang tuanya tidak ada lagi di dunia sejak masih bayi.


"Kenapa kamu bisa sakit?" tanya Poppy yang baru saja datang bersama Hafez. "Kalau kita sudah menjanda tidak boleh lemah, Rina. Kalau kamu begini sakit-sakit yang ada anak kamu tidak terurus," imbuhnya terlihat kesal dengan kening berkerut.


Badrina hanya diam mendengar perkataan tantenya. "Apakah kondisi kamu semakin membaik?" tanya Hafez lembut beberapa waktu kemudian.


"Sudah," jawab Badrina pendek mengulas senyum.


"Sekarang Canta dimana, dengan siapa kamu titip?" Poppy kembali bersuara.


"Ada asisten di rumah, Tante. Arshaka juga ke rumah menemani Cantara," ungkap Badrina.


Poppy mendengkus mendengar kalimat Badrina. "Hh... pria itu lagi. Seharusnya kamu titip ke rumah tante, daripada dengannya," ketus Poppy.


"Iya, Tante juga tahu. Tapi dia 'kan tidak sepeduli itu pada anaknya, Tante tahulah...," ujar Poppy membela diri. "Ya sudahlah... yang penting, kalau kamu ditawari kebaikan oleh Arshaka, sebaiknya kamu tolak ya," perintah tantenya.


"Iya, Tante," ujar Badrina sembari mengangguk.


"Tante keluar dulu ya, Rina. Hafez ingin bicarakan sesuatu sama kamu," kata Poppy dengan gerak tubuh gemulai yang khas bagi sosialita paruh baya. "Hafez, Tante tunggu di kantin ya. Jangan lama-lama," bisiknya pada Hafez.


Pria itu mengangguk mengiyakan perkataan Poppy. "Maaf, aku baru datang begitu dapat kabar dari Tante Poppy," kata Hafez sembari duduk di samping ranjang pasien.


Badrina tersenyum. "Tidak apa-apa Hafez. Aku juga tidak mengabari kamu kondisiku, masih pusing kalau terlalu lama melihat ponsel," ungkap Badrina.


"Sewaktu mendengar kabar kamu sakit, aku khawatir sekali. Langsung aku mengajak Tante Poppy untuk mengunjungi kamu." Kalimat itu berhasil membuat wajah Badrina tersipu malu dan menghangat.


Pria inilah yang dipermasalahkan oleh Arshaka, tetapi selama ini Hafez sangat santun perkataan dan tindakannya. Tidak seperti Arshaka yang kerap ketus dan cenderung kasar berbicara pada Badrina.

__ADS_1


Tiba-tiba saja Badrina kesal mengingat wajah mantan suaminya itu.


"Kamu kenapa, wajahmu berubah seperti orang marah," lontar Hafez melihat senyum Badrina memudar dengan cepat.


Kembali Badrina tersipu saat Hafez kedapatan memperhatikan ekspresi wajahnya.


"Tidak kenapa-napa, tadi hanya teringat sesuatu," sahut Badrina tersenyum.


"Sesuatu? Apakah aku boleh tahu?" desak Hafez dengan nada lembut.


"Em... kasih tahu ngga ya?" canda Badrina melirik Hafez. "Ada deh, rahasia," imbuh Badrina dengan senyum yang lebar. Keduanya tertawa renyah.


"Ehem!"


Dehaman itu menyela tawa Badrina dan Hafez. Arshaka datang lagi berkunjung, padahal baru beberapa waktu lalu Badrina memintanya untuk menjauh.


Badrina tidak mungkin menampakkan sikap bermusuhan dengan mantan suaminya di hadapan Hafez. Namun, ia diam saja, tidak ada memberi sambutan apapun.


"Dateng lo, Bro," sapa Arshaka dingin.


"Ya. Sama seperti lo," balas Hafez.


Keduanya saling bersitatap tajam. Badrina menyela diamnya mereka. "Ada apa, Shaka?" tanya Badrina.


Tatapan Arshaka beralih pada mantan istrinya. "Aku tadi mengurus administrasi kamu untuk pindah kelas rawat. VIP," ejanya dengan pelan sambil melirik Hafez. Arshaka ingin menunjukkan perhatian dan kemampuannya pada Badrina.


"Hah? Kenapa? VIP itu mahal, aku tidak sanggup membayarnya. Kelas ini saja sudah cukup untuk aku," ujar Badrina gelisah. Ia tahu VIP itu semalamnya mencapai jutaan rupiah dan rasanya sayang bila ia pindah ke kelas rawat eksklusif.


Tatapan Arshaka beralih ke Badrina. "Aku sudah mengurusnya, kamu tidak perlu khawatir. Yang penting kamu lekas pulih. Anak kita sudah merindukan kamu," ucap Arshaka dengan tenang, tetapi hati bergemuruh. Sebenarnya, tadi ia berharap hanya ada dirinya dan Badrina saja untuk saat ini.


Sewaktu ia menghubungi Danish dan memintanya mengurus kepindahan ruang rawat Badrina, pria itu mengatakan tidak sedang berada di rumah sakit ada keperluan lain. Mendengar penuturan Danish, Arshaka bersemangat untuk mengurus sendiri ke rumah sakit.


Badrina menghela nafas panjang, ia tidak ingin meributkan hal itu di hadapan Hafez dan pasien lain. Setelah dirinya pindah, ia akan menegur kembali mantan suaminya yang suka bertindak sesuka hati terhadap dirinya.

__ADS_1


Teringat dengan anak mereka, Badrina berkaca-kaca, "Bagaimana kabar Cantara, Shaka?" tanyanya dengan penuh kerinduan.


__ADS_2