
Sesuai janjinya, Arshaka membawa Badrina menemui seseorang. Beberapa hari belakangan Badrina selalu mendesak Arshaka untuk mempertemukannya dengan orang yang disebut-sebut mengenal sosok Poppy dengan cukup baik.
Dilema yang dialami Arshaka semakin mengencang. Ia hanya bisa memasrahkan diri akan apa yang terjadi selanjutnya.
Waktu yang sempit dipergunakann Arshaka untuk meyakinkan Badrina akan keseriusan dirinya kembali menjadi pendamping hidup Badrina. Hanya saja, Badrina yang terfokus pada keinginan bertemu dengan sosok yang tahu-menahu tentang Poppy membuat Badrina menyetujui semua ucapan Arshaka.
Laju kendaraan melambat memasuki gedung perkantoran yang telah lengang sebab janji pertemuan dilakukan pada sore menjelang malam hari. Terlihat para karyawan gedung sudah tidak memadati areal perkantoran.
"Sudah yakin akan kuat mendengar semuanya?" tanya Arshaka sembari menggenggam jemari kanan Badrina, sewaktu mereka telah berada di lobi gedung.
Badrina mengangguk dengan senyuman samar terulas di parasnya. Mereka sama-sama mengarah ke satu ruangan tertentu setelah melaporkan kedatangan di resepsionis.
Seorang pria berkacamata telah menanti kedatangan mereka. "Selamat datang Bapak Arshaka dan Ibu Badrina," sapanya sopan. "mari, silakan duduk," tawarnya menunjuk ke arah sofa.
Badrina dan Arshaka duduk bersebelahan, saling berhadapan dengan pria yang langsung membolak-balik dokumen begitu ia duduk.
"Perkenalkan nama saya Akmal Eyandri," ungkapnya. Ia memperkenalkan diri dan menyampaikan pekerjaannya. Badrina sama sekali tidak mengenal pria berkacamata di hadapannya, meskipun dikatakannya mereka pernah berjumpa di rumah mewah Poppy saat Badrina masih anak-anak.
Tidak ada sedikit pun ingatan Badrina mengenai sosok pria yang ditemuinya kini. Pertemuan bertahun-tahun yang lalu, samar-samar berbayang dalam ingatan Badrina.
"Saya dihubungi oleh Bapak Arshaka. Jauh sebelum ini sebenarnya saya sudah ingin bertemu dengan Ibu Badrina, tetapi saya sulit untuk mengetahui keberadaan ibu dimana," beber Akmal.
__ADS_1
Arshaka berdehem bersamaan dengan pikiran Badrina yang heran akan kesulitan Akmal menjumpai dirinya, sementara Akmal mengenal mantan suaminya. Ia tentu tinggal dengan Arshaka saat menjadi suami istri. Badrina memilih diam untuk mendengarkan kelanjutan dari seseorang yang berprofesi sebagai penasihat hukum keluarganya.
"Oh... maaf," ujar Akmal, tidak dijelaskannya kata maaf untuk apa.
"Saya mengenal kedua orang tua Ibu Badrina telah lama. Sampai hari ini saya yang mengurusi perkara menyangkut hukum dalam keluarga Wriatmaja," ungkapnya. Badrina mengangguk-angguk memahami perkataan Akmal. Ia dapat melihat usia Akmal sepantaran mendiang ayahnya.
"Usia bayi, Ibu Badrina ditinggal oleh pak Wriatmaja yang berpulang lebih dulu lalu diasuh ibu. Tetapi, karena kondisi kesehatan jiwa ibu Wriatmaja terguncang paska meninggalnya bapak, maka pengasuhan dilakukan paolehda ibu Poppy Alysa," lanjutnya menjelaskan detail asal usul Badrina. Sampai di sini, Badrina bisa memahami karena sejarah keluarganya ini pernah diceritakan oleh Poppy padanya.
"Bapak Wriatmaja meninggalkan aset dan telah memisahkannya dalam wasiat. Permintaan Pak Wriatmaja wasiatnya disampaikan kepada ibu Badrina lima tahun yang lalu saat Ibu telah menikah dan melahirkan seorang anak." Akmal menjeda kalimatnya, mengintip di balik kacamata bagaimana ekspresi pasangan mantan suami istri di hadapannya ini. Tidak ada yang menyela setelah beberapa waktu.
Akmal kembali melanjutkan, "Saya mohon maaf karena setelah lima tahun berlalu baru akan menyampaikan isi wasiat mendiang pak Wriatmaja."
Saat Akmal akan membacakan, Badrina menyela," Mengapa ditunda, Pak Akmal? Mengapa menunggu lima tahun baru kini disampaikan?"
"Maaf... ini permintaan ibu Poppy Alysa," ungkap Akmal terus terang.
"Tante Poppy?" tanya Badrina heran, Akmal mengangguk. "Tapi, kenapa?" lanjut Badrina dengan kernyitan di keningnya pertanda belum mengerti alasan penundaan wasiat.
Akmal dan Arshaka kembali saling berpandangan. Akmal angkat suara, "Ibu Poppy meminta pembacaan wasiat ditangguhkan."
"Alasannya?"
__ADS_1
"Ibu Poppy masih ingin mengurus wasiat bagian ibu Badrina," ungkap Akmal.
"Katakan dengan jelas, Pak Akmal. Mengurus wasiat bagian saya, maksudnya apa?" tuntut Badrina. Arshaka menyentuh dan menepuk lembut punggung tangan Badrina, seakan meminta lebih bersabar.
"Ibu Poppy ingin wasiat bagian ibu Badrina tetap padanya, tidak pindah. Sampai lima tahun berlalu, terakhir saya menghubungi beliau meminta untuk tidak menunda lagi, tetapi saya malah diajak untuk merubah wasiat yang isinya semua bagian wasiat untuk ibu Badrina menjadi milik Ibu Poppy sepenuhnya," beber Akmal. "Dan saya menolak."
Badrina terkejut mendapati fakta yang disampaikan oleh Akmal. "Tetapi kenapa tante Poppy sampai ingin menguasai seluruh bagian saya? Dan memangnya bagian saya apa saja? Banyak?" cecarnya. "Maaf saya tidak mengenal siapa ayah dan ibu saya. Tante Poppy tidak pernah cerita begitu mendalam pada saya."
Akmal mengerti mengapa Poppy tidak menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Tidak ada alasan bagi dirinya lagi untuk menunda mengungkapkan apa yang menjadi bagian Badrina.
"Sebab ibu Badrina bukan anak kandung dari pak Wriatmaja dan ibu. Ibu Badrina anak yang diadopsi dari seorang sahabat yang kami tidak ketahui dimana keberadaannya saat ini," jawab Akmal, tidak menutupi lagi kebenarannya. "Ibu Poppy diberikan bagian oleh pak Wriatmaja sebagai adik kandung dan juga untuk mendiang ibu sebagai istri. Sayangnya, istri Pak Wriatmaja tidak lama mengalami guncangan hebat, lalu menyusul berpulang. Saat pembacaan wasiat pertama, dia telah mengatakan bahwa bagiannya akan diserahkan kepada ibu Badrina dan disaksikan oleh ibu Poppy juga," beber Akmal.
Bagai diempas benda berat, Badrina terkejut mendengar fakta bila dirinya adalah anak angkat orang tua yang dirindukannya. Manik Badrina berkaca-kaca mendengar penuturan Akmal, perlahan Badrina memahami bagaimana Poppy merawatnya dalam keterpaksaan untuk mengejar harta yang dihibahkan oleh ayah dan ibunya, meskipun bukan anak kandung.
"Lanjutkan," lirih Badrina berusaha tegar untuk mendengar fakta masa lalunya.
"Semenjak ibu berpulang, seluruh bagian ibu Badrina diurus oleh ibu Poppy. Saya tidak bisa berbuat banyak, seperti yang saya katakan tadi tidak mudah menemukan ibu Badrina."
"Apa saja bagian saya?" tanya Badrina. Akmal menyerahkan dokumen wasiat yang berisi apa saja yang menjadi bagiannya. Badrina tercengang dengan begitu banyak deretan harta berupa tanah, perusahaan, perkebunan, dan peternakan ditinggalkan untuknya termasuk rumah mewah yang Poppy tinggali saat ini.
Badrina terkekeh, menertawakan nasibnya sendiri. "Pantas saja tante Poppy baik pada saya, tapi di sisi lain jahat dan merusak mental saya. Di sini dituliskan saya wajib dehat secara mental agar mampu mengelola seluruh peninggalan ayah angkat saya dengan baik, padahal tante begitu sering berusaha agar mental saya goyah sampai saya tidak tahu apakah pernah berbuat benar di hadapannya." Badrina tertawa diiringi derai air mata.
__ADS_1
Kenangan demi kenangan silih berganti masuk dalam alam pikirann Badrina. Bagaimana perlakuan Poppy yang keras padanya secara verbal. Nasibnya begitu buruk karena orang yang dipercayanya hanya mengejar harta peninggalan.
"Lalu, mengapa Pak Akmal tidak mencari saya? Pak Akmal sudah kenal berapa lama dengan Arshaka? Saya istri Arshaka sebelum kami bercerai beberapa waktu lalu," selidik Badrina masih berusaha tegar. Ia merasa satu sama lain ada benang merah, beberapa hal dirasa masih tersembunyi atau disembunyikan darinya.