
Badrina keluar dari gedungĀ tempat Akmal aktif berkantor, wajahnya terlihat lebih segar. Dalam pembicaraan mereka tadi, bila dalam seminggu ini Poppy tidak keluar dari rumah peninggalan Wriatmaja, maka Akmal akan melaporkan ke pihak berwajib untuk membantu.
Entah sudah berapa banyak pesan masuk dari Poppy. Tante Badrina masih terus bermohon padanya agar bersedia menampung atau setidaknya memberikan rumah yang kecil untuk tempat Poppy berteduh.
Hati Badrina telah tertutup rapat. Ia tidak lagi mempedulikan pesan-pesan dari Poppy.
Untuk memblokir nomor ponsel Poppy tidak dilakukan Badrina karena ia masih perlu melayangkan peringatan pada Poppy.
Badrina menunggu taksi di lobi perkantoran, ia akan berkunjung ke sebuah tempat. Tidqk lama kemudian, ponselnya berdering tanda panggilan masuk.
Tertera nama Monera sebagai pemanggil, lama sekali Badrina tidak berbincang dengan saudara sepupunya. Badrina tersenyum masam saat mengingat ia bukanlah anak kandung Wriatmaja sehingga Monera tidak tertarik untuk menjalin kontak erat semenjak mereka masih kecil.
Badrina mengetahui sedikit saja mengenai Monera yang telah menikah dengan pria asing dan tinggal di Swiss, selebihnya mereka seperti orang jauh.
Dengan wajah kurang tertarik, Badrina tetap mengangkat telepon Monera.
"Halo," sapa Badrina dingin.
"Halo, Badrina. Ini aku Monera."
"Ya, aku tahu. Ada keperluan apa menghubungiku?" tanya Badrina langsung ke pokok pembicaraan.
Monera terdiam sejenak mendengar nada ketus dan kesal Badrina. Namun, ia mengerti mengapa hal demikian terjadi.
Badrina telah mengetahui semua rahasia keluarga mereka. Tanpa banyak basa-basi lagi, Monera menjawab, "Aku harap kamu bisa pikirkan kembali tentang mama." Permohonan Monera terdengar seperti memerintah Badrina.
Badrina terkekeh seolah-olah Monera melontarkan lelucon. "Kamu 'kan anaknya, kamu pikirkan ibumu," cibir Badrina menunjukkan sikap tidak peduli.
Monera meradang mendengar ucapan bernada sombong Badrina. Terakhir kali mereka berbincang sekitar lima tahun lalu, saat Cantara lahir. Badrina ternyata berubah, tidak seperti yang dikenal oleh Monera dulu.
"Kamu juga dirawat mama dengan baik sedari kecil, tidak ada sikap balas budi," tegur Monera sewot.
Badrina menanggapi dingin. "Ya, dirawat untuk dibuat menjadi gila dan maksimalnya mati bunuh diri," ungkap Badrina menahan mulutnya tercemar oleh teriakan dan bentakan terhadap Monera.
Monera diam saja, sedikitnya ia tahu apa yang dilakukan oleh ibunya untuk mendapatkan warisan peninggalan mendiang Wriatmaja, om kandung Monera.
"Kenapa diam? Kamu juga bagian dari skenario mamamu?" tuduh Badrina tanpa merasa segan.
Saat Monera akan membantah, Badrina langsung melanjutkan perkataannya, "Aku peringatkan kamu, Monera, jangan ikut campir urusanku. Bila ingin mengurus mamamu, itu tanggung jawabmu. Jangan libatkan dan ajari aku tentang balas budi!" sembur Badrina dengan gemuruh perasaan bercampur di hatinya.
Monera tidak mampu berkata-kata, ia tidak memiliki kekuatan apa pun untuk mendesak Badrina.
Tidak lama percakapan mereka diputus secara sepihak oleh Badrina. Taksi yang dipesan Badrina telah tiba, Badrina menaikinya dan menyebut alamat tujuan pada pengemudi taksi.
__ADS_1
Perut Badrina keroncongan, tadi pagi ia hanya makan sepotong roti di rumah. Siang harinya, ia tidak nafsu makan karena masalah yang tengah dihadapi kini.
Setelah tiba di tujuan, Badrina memutuskan untuk menepi ke sebuah restoran, di sana ia menuntaskan keinginannya untuk menyantap makanan yang mengenyangkan perutnya.
Badrina harus kuat dalam menghadapi banyak persoalan dari orang-orang yang hidup bahagia di atas penderitaannya.
Saat Badrina menyantap hidangan, ia melihat seseorang yang dikenalnya melintas di jalan seberang restoran. Badrina tidak tertarik untuk menyapa orang itu saat ini, perutnya lebih membutuhkan asupan nutrisi ketimbang sapa-menyapa kenalan.
Di ruang apartemen, Maulidya dan Ameera telah menanti kedatangan Arshaka. Ameera yang tadi pagi masih demam dan lemas, sore ini terlihat lebih bugar. Perasaannya membaik setelah mendengar kabar gembira dari mamanya.
Bel apartemen berbunyi, Ameera segera ke pintu, memanjat kursi untuk membuka gagang pintu.
"Papa...," sapanya riang begitu melihat sosok Arshaka datang. "Meera kangen sama papa," ucapnya begitu dipeluk oleh Arshaka.
"Papa juga kangen Meera. Katanya kamu sakit?" tanya Arshaka sembari menggendong Ameera masuk.
"Iya, Pa. Tapi, sudah sembuh karena ketemu papa," jawabnya polos.
"Hai, Mas," sapa Maulidya dengan suasana hati yang tidak kalah senang. Lama rasanya tidak bertemu dengan Arshaka.
Arshaka tersenyum, ia menurunkan Ameera dari gendongannya.
"Mas, aku sudah masak untuk makan malam. Mas, mau makan malam bersama?" tawar Maulidya girang. Ia telah menyiapkan menu masakan terbaiknya untuk pertemuan malam ini.
Senyum di wajah Maulidya pudar. Ia merasa ada hal penting yang akan disampaikan Arshaka dengan paras seriusnya, semoga saja bukan hal buruk yang mengejutkan, batin Maulidya.
"Maaf, aku tidak bisa berlama-lama," ucap Arshaka mengambil posisi duduk di sofa. Maulidya masih berdiri di tempat, ia menjadi tidak sabar untuk mendengar Arshaka.
"Aku minta maaf," ujar Arshaka mengawali pembicaraan diantara mereka.
"Aku ingin kamu dan Ameera meninggalkan apartemen ini."
Bagaikan petir menggelegar, ucapan Arshaka sangat mengejutkan Maulidya. Maulidya membeku mendengar ucapan Arshaka yang tiba-tiba membawa kabar buruk.
"Ke... kenapa, Mas?"
"Tugasku untuk menjaga kamu dan Ameera telah selesai. Mendiang suamimu, Zafer, saat masih hidup meminta bantuanku untuk melindungi kamu dari kejaran keluarganya sampai kamu aman," ungkap Arshaka mengingat memori lama.
"Selama ini tidak ada lagi yang meneror dan mengejar-ngejar kamu dan Ameera. Kalian sudah aman," lanjutnya.
Maulidya teringat dulu saat ditemukan di bawah hujan deras oleh Arshaka. Hal itu pesan Zafer, mendiang suaminya, agar mencari Arshaka meminta perlindungan aman.
Awalnya Arshaka berat membantu, mengingat Maulidya adalah mantan kekasihnya yang dinikahi oleh Zafer. Sayangnya, hubungan cinta Zafer dan Maulidya tidak direstui oleh keluarga Zafer.
__ADS_1
Segala macam intimidasi dilakukan untuk memisahkan keduanya, selalu berujung gagal. Intimidasi tidak berhenti, akhirnya Zafer sendiri meminta Maulidya mencari Arshaka dengan pertimbangan keselamatan Maulidya dan calon bayi mereka.
Wajah Maulidya basah oleh air mata membayangkan akan berpisah dari Arshaka yang selama Ini baik.
"Tapi, Mas... aku sudah nyaman dengan kamu selama lima tahun ini," lirih Maulidya sembari menyeka air matanya.
Arshaka berdecak. "Ini sudah pernah kita bahas, Lidya. Aku tidak bisa menerima kamu kembali, memori masa lalu tinggal kenangan, kita punya jalan hidup masing-masing," jawab Arshaka tegas.
"Ditambah lagi, aku akan kembali pada Badrina. Kami akan rujuk dan menikah," ucap Arshaka penuh percaya diri.
Maulidya terkekeh kecut. "Ternyata semua karena Badrina. Perempuan itu," sungut Maulidya tampak kesal.
"Apa kurangnya aku, Mas? Aku menyesali pernah menyakiti perasaan kamu. Aku selalu berusaha untuk kembali padamu, Mas," isak Maulidya, ia mengambil posisi duduk di sebelah Arshaka.
Pria itu menggelengkan kepalanya. "Cinta yang tersakiti tidak bisa dipaksakan kembali, Lidya. Aku tidak pernah membenci kamu. Lima tahun ini aku melakukan semuanya berlandaskan persahabatanku dengan Zafer," beber Arshaka memberitahukan kebenaran.
Maulidya terisak, ia menutup mulutnya dengan sebelah tangannya agar tidak terdengar ke kamar Ameera.
"Karena keluarga Zafer tidak menerima kamu, kamu ingin berpisah darinya. Ia menyuruhmu mencariku bukan supaya kita kembali menjadi pasangan, melainkan agar kamu dan calon bayi kalian aman saat itu. Aku yakin kamu tidak melupakannya," ingat Arshaka akan kisah pertemuan mereka di masa lalu, setelah masing-masing menikah dengan orang lain.
"Semua biaya hidup kalian ditanggung oleh Zafer, sampai saat ini... kami memiliki perjanjian untuk itu. Aku hanya meminjamkan apartemen ini sebagai tempat tinggal kami dan Ameera," ungkap Arshaka membuka rahasia masa lalu.
"Kamu selalu menolak pemberian Zafer. Dia mengeluh padaku, jadi... kami membuat perjanjian untuk lima tahun mendatang, berlangsung hingga saat ini," tambah Arshaka membeberkan semua fakta yang ada.
Maulidya menggeleng-gelengkan kepalanya, seolah-olah tidak menerima perkataan Arshaka yang mengejutkan.
Arshaka berdiri, ia berniat untuk keluar dari apartemen itu. "Hanya ini yang ingin aku sampaikan. Aku harap kamu bisa segera pergi dan melanjutkan hidup bersama Ameera tanpa aku," pinta Arshaka.
Pria itu berada diantara tega dan kasihan pada Maulidya, dilihatnya Maulidya terisak-isak di tempat duduk.
"Tabungan Zafer untuk kamu dan Ameera masih ada, akan aku transfer seutuhnya pada rekening kamu, setelah kamu mengosongkan apartemen ini," tuntut Arshaka. Ia menarik nafas panjang, tidak ada sahutan dari Maulidya.
"Mas...."
Bersamaan dengan panggilan Maulidya padanya, Arshaka melangkah menuju pintu. Panggilan padanya semakin mengencang disertai tangis dan jerit perempuan yang selama lima tahun ini dijaga olehnya atas permintaan sahabat baiknya.
Maulidya mengejar Arshaka, sementara Ameera keluar dari kamar mendengar suara ibunya. Saat Arshaka meraih gagang pintu dan membukanya, bersamaan Maulidya memeluk lengan Arshaka erat. Perempuan itu seolah menyatakan keberatannya untuk berpisah dari Arshaka.
Bersamaan dengan terbukanya pintu, pandangan Arshaka beradu dengan Badrina.
Tatapan penuh luka tersirat jelas saat Badrina mengamati lengan mantan suaminya dipeluk erat menandakan kepemilikan dan keakraban.
Ketiganya dibekukan oleh keadaan.
__ADS_1