BAYANGAN MANTAN

BAYANGAN MANTAN
23. Meminta Penjelasan


__ADS_3

Rontaan tangan Badrina terhenti, ia menyorot manik mata Arshaka yang berkilat amarah.


"Kamu mengancamku?" tantang Badrina menaikkan dagunya.


"Terserah menyebutnya apa." Arshaka tidak peduli pada penilaian Badrina. Pria itu masih menggenggam pergelangan tangan Badrina.


Melihat usahanya sia-sia, Badrina tidak ingin terjadi keributan, akhirnya ia menyetujui permintaan Arshaka.


Barulah Arshaka bersedia melepaskan genggaman pada Badrina. Perempuan itu berjalan lebih dulu ke arah Hafez.


"Hafez, terima kasih makan malam hari ini. Maaf, aku belum bisa pulang bareng kamu. Aku... aku... pulang bersama Shaka," ucap Badrina tidak enak, ia melirik Arshaka yang menatapnya tajam.


"Shaka, terus aku bagaimana? Pulang sendiri?" tanya Elmira menimpali, ia gelisah setelah mendengar ucapan Badrina.


"Aku akan antar kamu lebih dulu. Mari," ujar Arshaka menyilakan Elmira untuk jalan lebih dulu menuju pintu keluar.


Hafez merasa tidak dianggap kehadirannya oleh Arshaka, tetapi ia bisa menahan diri karena punya tujuan tertentu pada Badrina. Ia hanya tersenyum tipis memandang wajah Badrina yang tidak enak dengan situasi yang terjadi.


Sesampainya di lokasi parkir, Arshaka langsung mengambil posisi di bangku pengemudi. Tidak ada perlakuan khusus pada dua perempuan yang akan memasuki mobil miliknya.


Sewaktu Badrina akan menuju pintu penumpang bagian depan, secara tiba-tiba Elmira menyalip untuk duduk di bangku depan sebelum tangan Badrina menyentuh gagang pintu mobil.


Tangan Badrina mengepal, ia menghela nafas panjang. Ini hanya masalah tempat duduk, tidak ada masalah di sini, batin Badrina.


Ia bergeser ke pintu penumpang bagian belakang, masuk dan berdiam hingga mobil meninggalkan lokasi restoran.


Tujuan pertama mereka adalah kediaman Elmira. Mereka bertiga tidak bicara sama sekali sepanjang perjalanan. Masing-masing sibuk dengan pikiran sendiri hingga tiba saatnya Elmira turun.


"Makasih ya, Shaka, untuk makan malam ini. Aku sangat senang." Elmira menyentuh lengan Arshaka yang menggenggam setir. Elmira bahkan mengecup pipi Arshaka sebagai ucapan terima kasih.


Bagi mereka itu hal yang biasa sebagai tanda pertemanan. Namun, mata melotot berkedip-kedip dan mulut terbuka milik Badrina menunjukkan keterkejutan akan persahabatan mantan suaminya.


Elmira sudah tidak terlihat, ia telah memasuki tempat tinggalnya.


"Pindah ke depan!" perintah Arshaka pada Badrina. Pria itu melihat Badrina dari spion dalam.

__ADS_1


Badrina diam hanya melirik saja sambil memandang keluar mobil. Arshaka menoleh ke belakang. "Rina, pindah ke depan," perintah kali kedua Arshaka.


Badrina masih bergeming dengan gaya yang sama, seolah-olah ucapan Arshaka tidak berarti sama sekali.


Arshaka tidak sabar akan pengabaian Badrina, ia menggepit betis Badrina yang terjulur. "Pin--dah!" tukasnya sesaat setelah Badrina menoleh menatapnya.


"Aku ngga mau, di sini aja. Duduk di bangku bekas kekasih baru kamu, aku ngga sudi!" balas Badrina ketus menepis gepitan Arshaka. Ia menjauhkan kakinya ke arah pintu.


Arshaka berdecak lalu meluruskan tubuhnya dan memeriksa laci dashboard untuk mengambil sanitizer. Ia membuka seluruh kaca kemudian menyemprotkan sanitizer ke bangku penumpang bagian depan lalu mengelap dengan tisu kering. Setelahnya ia menutup kembali kaca mobil.


"Sudah, sekarang pindah!" Arshaka tidak suka dibantah.


Meskipun Badrina memiliki emosi yang tinggi, sebenernya ia cukup menurut pada suaminya, terbukti dengan delapan tahun usia pernikahan mereka.


Badrina mengalah, ia keluar, membuka pintu penumpang bagian depan dan duduk dengan langsung membuang pandangan melalui jendela di sebelahnya.


Mobil segera melaju perlahan. Sesekali Arshaka melirik Badrina yang tetap diam di tempat.


"Kenal di mana dengan Hafez?" Kesunyian dalam mobil buyar dengan pertanyaan Arshaka.


"Mengapa Cantara tidak dibawa?" tanya Arshaka. Ia tidak marah dengan cara Badrina menjawab.


"Bukan urusan kamu," ucapnya lagi setelah menoleh pada Arshaka.


Arshaka masih sabar dengan jawaban Badrina yang bernada ketus.


"Kenal Hafez sudah berapa lama?" tanya Arshaka. Pria itu ingin menggali kedekatan mantan istrinya dengan pria bernama Hafez itu.


"Buat apa sih kamu tanya-tanya. Apa aku ada penasaran dengan urusan kamu. Aku bahkan tidak peduli kamu mau melakukan apapun!" semprot Badrina, tubuhnya mengarah pada Arshaka, bahkan jemarinya menunjuk-nunjuk pria itu.


Arshaka tidak dapat melanjutkan perjalanan, hatinya bergemuruh. Nada suara dan pilihan kata Badrina membuat Arshaka tersulut emosi.


Ia menepikan kendaraannya, membuka seatbelt dan mengarahkan tubuhnya menghadap Badrina yang telah kembali menatap keluar mobil.


"Biasakan tidak berteriak, Rina. Aku ulangi, kenal di mana dengan Hafez?" ulangnya dengan rasa sabar yang hampir pupus.

__ADS_1


"Aku - ngga - mau - jawab." Tatapan menantang Badrina dan alis mata yang menaik, membuat kesabaran Arshaka benar-benar di ujung tanduk.


Arshaka mengeklik seatbelt Badrina, meraih tengkuk perempuan itu dengan paksa sampai mendekati wajahnya, "Kalau kamu masih tidak menurut, aku pastikan hari Senin akan mengurus hak asuh Cantara atas namaku," geram Arshaka dengan nada berbisik.


Badrina mendorong tubuh Arshaka, "Kamu senang sekali mengancamku!" teriak Badrina saat terlepas dari Arshaka.


"Turuti perkataanku. Selesai." timpal Arshaka.


"Sebelum aku jawab, apa masalah kamu dengan aku dan Hafez. Mengapa ingin tahu banget tentang kami?" tanya Badrina, mereka masih dalam kondisi saling berhadapan.


Arshaka memperbaiki duduknya. "Dia bukan pria baik, circle kamu bukan dia. Jadi, aku mau tahu, kenal dari mana," jawab Arshaka sambil menyenderkan punggung ke kursi kemudi.


"Bukan pria baik bagaimana? Hafez sopan, tampan, dan senyumnya --,"


"Anaknya banyak di mana-mana, Rina. Dia mendekati perempuan untuk mengambil benefit dari targetnya," potong Arsahaka.


Badrina termangu tidak percaya sebab benefit apa darinya yang akan diperoleh Hafez bila mendekatinya. Apalagi yang mengenalkannya adalah tante Poppy, mustahil rasanya bila  diperkenalkan dengan pria yang tidak baik.


"Aku tahu kalau dia banyak teman perempuan, tapi itu 'kan biasa pada seorang pria. Memangnya kamu tidak punya teman dekat perempuan. Punya 'kan? Elmira salah satunya." tuduh Badrina sengit.


"Aku tidak ingin berdebat sama kamu, tinggal jawab pertanyaanku," Arshaka kembali mengajukan pertanyaan yang sama.


"Dari tante," jawab Badrina.


Arshaka menoleh cepat, "Tante Poppy?" Badrina mengangguk. "Buat apa?" tanya Arshaka kembali.


"Ck... sok polos kamu. Masakan tidak paham, pria dan wanita dewasa tidak dalam ikatan perkawinan saling diperkenalkan. Buat apa lagi kalau tidak untuk kedekatan personal," ujar Badrina dengan sikap biasa.


"Dan kamu mau?" tanya Arshaka resah.


"Kenapa tidak? Aku pernah salah memilih pasangan dan bersikeras menolak gagasan tante. Aku 'kan gagal, sekarang menerima ganjarannya," nada pilu terdengar dari suara Badrina.


Arshaka bergerak tidak tenang. Ia bisa mewajari pilihan Badrina yang menurut pada tantenya untuk diperkenalkan dengan pria lain. Namun bukan pria seperti Hafez juga. Sosok yang ia kenal sebagai pemain perempuan.


Badrina akan menderita bila bersama Hafez kelak. Ia juga tidak sudi anaknya memiliki ayah sambung dengan anak di mana-mana. Arshaka berpikir perlu mendatangi tante Poppy untuk mendapat penjelasan lebih lanjut.

__ADS_1


__ADS_2