
Hari ini Badrina berencana pindah ke rumah peninggalan orang tuanya. Poppy telah berhasil diminta mencari hunian lain, sebelum itu Poppy menunjukkan drama penolakan.
Badrina menyaksikan sendiri bagaimana Poppy terlihat tidak terkendali sewaktu harus keluar dari rumah mewah yang ia tempati berpuluh tahun ini. Beberapa orang petugas harus turun tangan meminta Poppy meninggalkan lokasi.
Poppy pun sampai mengeluarkan ancaman serta ujaran kebencian pada Badrina yang berdiri melihat kekalahan Poppy.
Tatapan dingin Badrina menandakan bagaimana ia tidak mempedulikan kelanjutan hidup Poppy. Katakanlah dirinya jahat, tetapi bukankah Poppy telaj lebih dulu untuk bersikap abai.
Badrina berusaha keras melawan rasa bersalah yang menggeliat dalam pikirannya. Poppy hanya dikembalikan pada kondisi dimana seharusnya ia berada, bukan di rumah mewah itu. Wriatmaja telah memberi wasiat bahwa rumah, perkebunan, dan peternakan dihibahkan untuk Badrina.
Apa yang menjadi warisan bagian Poppy, Badrina sendiri tidak tahu. Akmal pernah menyinggung, bukan nilai yang kecil diserahkan untuk tantenya itu, entah kemana semua hartanya itu.
Badrina tinggal sendirian di rumahnya yang baru. Muryati belum diajak tinggal di sana. Cantara? Badrina juga tidak berani untuk bertemu putrinya. Ia khawatir pada dirinya sendiri, bila nanti kurang terkontrol di hadapan Cantara, relasi merekalah yang akan dirugikan.
Melalui Akmal, Badrina memutuskan untuk mengembalikan rumah yang ditempatinya bersama sang putri kepada Arshaka. Dalam putusan perceraian mereka, rumah itu seyogyanya menjadi milik Badrina. Namun, tinggal di sana selalu mengingatkannya pada Arshaka.
Setelah berpakaian rapi, hari ini Badrina berencana untuk menjemput Cantara di sekolah. Tadi pagi setelah pergulatan batin yang hebat, Badrina memberanikan diri untuk mendatangi rumah Nuraini, setelah memastikan Arshaka tidak berada di rumah.
"Mama mencoba memahami kondisi yang tengah kamu alami, Arshaka telah menceritakannya," ucap Nuraini tanpa ada kata penghakiman pada Badrina. "Semoga kamu bahagia dengan pilihanmu. Kamu juga bisa membahagiakan Canta," lanjut Nuraini.
"Maafkan aku, Ma. Bukan pribadi yang baik selama mama kenal," ungkap Badrina dengan nada penuh sesal.
Nuraini terkekeh mendengarnya. "Tidak. Jangan katakan seperti itu," timpal Nuraini. Ia memeluk mantan menantunya. "Rumah mama selalu terbuka untuk kamu dan Canta, meskipun kamu bukan lagi menantu mama, tetapi Canta tetap cucu Mama."
"Mama minta maaf karena Arshaka begitu menyakiti kamu selama menjadi istrinya, mama turut menyesali perbuatannya," ujar Nuraini dengan nada sedih.
__ADS_1
Pertemuan dengan mantan ibu mertua sungguh melegakan Badrina, Nuraini sempat menyebut bahwa Arshaka mendapat penugasan di luar kota selama beberapa minggu.
Pantas saja, hidup Badrina tidak lagi direcoki oleh pria itu. Ada sedikit rasa kehilangan, tetapi Badrina memang harus mulai terbiasa hidup tanpa Arshaka.
Badrina masih menggunakan taksi kalau keluar rumah. Kini, ia duduk menunggu jam sekolah usai, menduga-duga Cantara akan senang bertemu dengannya.
Waktu yang dinanti tiba, Badrina berdiri tersenyum melihat Cantara keluar dari kelasnya. Bocah kecil itu sempat terhenti, terpana melihat mama yang begitu dirindukannya beberapa minggu belakangan yang tidak menghubunginya sama sekali, kini hadir di sekolah.
"Mama...." teriaknya sambil berlari kencang ke arah Badrina.
Badrina tersenyum membuka tangan selebar-lebarnya untuk menyambut sang putri ke dalam pelukannya.
"Mama... Canta kangen banget sama mama," ucapnya memeluk erat Badrina yang tengah berlutut.
"Mama juga, Nak," bisiknya dengan manik berkaca-kaca.
Saat mereka menanti kedatangan taksi di depan sekolah, ada orang yang menghampiri Badrina menanyakan alamat sebuah gedung. Tangan Cantara dilepas oleh Badrina untuk menunjuk arah yang dimaksud.
Sesaat setelah penanya alamat masuk ke dalam mobilnya, Badrina mendengar teriakan. Saat ia menoleh ke kiri dan kanan, Badrina melihat Cantara digendong oleh orang berpakaian serba hitam yang tidak dikenalnya. Cantara dibawa kabur menggunakan kendaraan jenis sedan.
Badrina berteriak-teriak panik, minta tolong, dan menangis-nangis sejadi-jadinya. Pihak sekuriti sekolah yang menyadari ada kejadian penculikan segera berlari mendapati Badrina, sementara satu lagi berlari ke arah ruang guru memberitahu upaya penculikan di lingkungan sekolah.
Seorang guru menghubungi pihak berwajib setempat dan melaporkan kejadian penculikan itu. Badrina menangis sesenggukan di tempat duduk. Ia menyesali diri, merasa bersalah mengapa terlalu lengah menjaga Cantara.
Sambil menunggu kedatangan pihak berwajib, Badrina dengan perasaan takut-takut menghubungi Arshaka. Di tengah kegalauannya, ia siap hati bila Arshaka mencaci maki dirinya sebab keteledoran menjaga Cantara.
__ADS_1
"Halo, Rina...," sapa Arshaka dari seberang.
Badrina menangis memohon maaf. Ia menceritakan kronologis kejadian yang menimpa putri mereka.
Arshaka terhenyak membeku mendengar penuturan Badrina dalam tangisnya. Masalahnya lagi, Arshaka masih di luar kota dan membutuhkan waktu sekian jam untuk kembali.
"Maafkan aku...," sesal Badrina lagi.
"Aku akan kembali secepatnya." Begitulah pesan terakhir Arshaka sebelum panggilan diakhiri.
Badrina merasa sangat bersalah setelahnya, tidak ada makian dari mantan suaminya. Kemudian, Badrina menghubungi Nuraini yang tidak kalah terkejut mendapat kabar buruk mengenai Cantara.
Selang beberapa waktu, pihak berwajib telah sampai di lingkungan sekolah. Mereka menanyakan kronologis dan meminta CCTV sekolah yang menyorot ke arah jalan raya.
Badrina diarahkan untuk membuat laporan penculikan anak ke kantor terdekat. Di sana Badrina dilayani di sentra pelayanan terpadu.
Pihak sekolah dan sekuriti turut mendampingi Badrina membuat laporan. Mereka juga menjadi saksi dugaan penculikan itu. Selanjutnya, kepada Badrina diserahkan surat bukti laporan dan kasus itu segera diproses oleh pihak berwajib.
Badrina menangis di pelukan Nuraini. Tadi perempuan paruh baya itu mendatangi sekolah. Nuraini mengajak ke rumah untuk menenangkan Badrina. Dia tahu Badrina tidak lagi memiliki keluarga sehingga dirinya merasa simpati akan kasus yang menimpa mantan menantunya.
Malam harinya di kediaman Nuraini, Arshaka tiba dengan perasaan tidak karuan. Melihat kedatangannya, Badrina berlari memeluk dan memohon maaf pada Arshaka.
Tetesan air mata membasahi pipi Arshaka. Ia menutup matanya dan merasakan sesak kesakitan di relung hatinya. Berjumpa dengan Badrina dalam situasi buruk, setelah selama ini ia belajar menerima fakta Badrina tidak mau lagi menerimanya. Arshaka memilih dinas keluar kota, berusaha menghindari pertemuan dengan mantan istrinya.
Namun, entah mengapa selalu saja ada peristiwa yang mengharuskan mereka untuk bertatapan muka. Arshaka benci akan keadaan sulit yang menimpa mereka. Lebih sulit lagi pertemuan mereka beralasan buruk seperti saat ini.
__ADS_1
Arshaka membuka mata, mengusap kelopak matanya dan menghela nafas panjang, kesadarannya kembali.
Ia memilih tidak membalas pelukan Badrina, akan terasa berat bila ia melakukannya. Arshaka menyentuh lengan Badrina, mengurai pelukan mereka. Ia berlalu mengambil posisi duduk di bangku ruang tamu untuk menenangkan gemuruh hatinya sendiri.