
Seorang pria paruh baya tengah duduk di sofa besar beralaskan permadani lembut. Alas kakinya terasa tidak cukup mahal saat ia menginjakkan kaki di ruangan itu. Bila saja sepatunya bisa bicara, pasti saja telah berucap rendah diri sewaktu menapak di sana.
Kacamata kecil bertengger di tulang hidungnya. Sesekali telunjuknya menaikkan bingkai kacamata yang menyusur.
Sebuah map dikepit diantara pinggang dengan lengan dalamnya. Map coklat yang isinya pernah dibacakan di hadapan orang yang sedang ia tunggu.
Si pemilik rumah masih belum menampakkan diri, ia melirik arloji semiori miliknya. "Sudah 30 menit," keluhnya bosan, padahal pekerjaannya menumpuk di kantor.
Pemilik rumahlah yang seharusnya berkunjung untuk menemui dirinya di kantor. Namun, saat dihubungi orang itu beralasan kurang enak badan sehingga meminta dirinya yang datang.
Menunggu itu membosankan, ggerutunya dalam hati.
"Maaf, Anda menunggu lama," ucap seorang perempuan yang sedang duduk di kursi roda otomatis. Di belakang tubuhnya, ada seorang asisten perempuan yang menemani kalau-kalau membutuhkan sesuatu.
Perempuan itu terbatuk-batuk tidak nyaman. Lehernya berbalut syal tebal.
Orang yang melihat akan merasa kasihan menyaksikan ketidakberdayaan perempuan yang rautnya masih begitu cantik.
"Tidak apa-apa, sudah menjadi tugas saya," sahut si pria diplomatis sembari melempar senyum palsu seperti arloji imitasi yang melingkar di tangannya.
"Silakan duduk," ujar perempuan yang sedari tadi duduk di kursi roda.
Pria bernama Akmal Eyandri yang sempat berdiri saat tuan rumah datang, kini duduk kembali di sofa besar. Akmal adalah seorang notaris yang dipilih oleh keluarga untuk mengurus perkara warisan.
"Ibu Poppy, maksud kedatangan saya ke sini ingin menanyakan bagaimana eksekusi warisan untuk keponakan Ibu? Sudah saatnya warisan peninggalan mendiang Bapak Wriatmaja diserahkan kepada Ibu Badrina Aini," ingatnya menatap perempuan itu dari seberang meja besar sembari menaikkan bingkai kacamata.
__ADS_1
Poppy terbatuk-batuk lagi, asistennya memberikan secangkir minuman hangat untuk melegakan tenggorokannya. Akmal ingin melanjutkan perkataannya, tetapi tercekat melihat fakta Poppy terlihat menderita dengan sakit yang dideritanya.
"Pendirian saya masih sama, Pak Akmal. Badrina tidak berhak untuk warisan kakak saya, Wriatmaja. Dia bukan anak kandung dari kakak saya, hanya anak angkat," protes Poppy dengan ekspresi yang sulit diterjemahkan.
Kening Akmal mengernyit.
"Maaf Bu Poppy, wasiat ini sudah sangat lama disampaikan, puluhan tahun lalu. Pak Wriatmaja membuatnya dalam kondisi masih hidup dan sehat. Kita pernah membahas ini sebelumnya. Badrina berhak atas hibah warisan Pak Wriatmaja serta istrinya," ucap Akmal mengingatkan.
Akmal menambahkan, "Bapak Wriatmaja berpesan: saat usia Badrina Aini 29 tahun dan telah menikah, maka warisan itu dapat diserahkan padanya. Pak Wriatmaja telah mengangkat Badrina semenjak usia 3 bulan. Ia menghibahkan sebagian warisannya kepada Baitul Mal dan sebagian lagi untuk Ibu Poppy, dan terakhir untuk Badrina," tambah Akmal mulai mengendus niat Poppy yang sepertinya mengulur-ulur penyerahan hak warisan Badrina.
"Saya tahu, Rina hampir 29 tahun. Selama ini kakak saya juga berpesan bagian Badrina saya yang memelihara, apalagi yang mengasuh sedari bayi adalah saya. Dan di tangan saya semua masih terjaga baik, 'kok," sanggah Poppy. Kondisi sakitnya tersamar, tersirat ketegangan dalam ucapannya.
"Tapi, satu syarat lainnya, tidak terpenuhi oleh ponakan saya. Kakak saya berpesan, dia harus dalam status pernikahan yang sah saat warisan itu diserahkan. Rina telah bercerai saat ini dengan suaminya, Arshaka. Namun, sepengetahuan saya ia sedang dekat dengan seorang pria bernama Hafez Irsyad," beber Poppy, terlihat jelas keberatan warisan mendiang kakak kandungnya diserahkan pada Badrina.
Akmal menarik nafas panjang. Setiap kali Poppy menyinggung soal warisan, tidak pernah perempuan itu deal dengan isi surat wasiat yang Wriatmaja tulis.
Poppy berdehem kencang. "Saya ada tawaran buat Pak Akmal," lontarnya.
Akmal memandang lekat perempuan yang mendadak terlihat tidak sakit sama sekali. Punggung yang sedari tadi menyender ke kursi roda, kini mampu menegak.
Akmal menunggu perkataan Poppy selanjutnya.
"Bagaimana kalau... Pak Akmal bekerja sama dengan saya untuk memusnahkan wasiat dari kakak saya?" tawarnya menyimpul senyum. "Saya akan memberi bagian terbaik untuk Pak Akmal sebagai ucapan terima kasih," tambahnya lagi tanpa merasa bersalah telah melontarkan perkataan yang bertentangan dengan ilmu yang dipelajari oleh Akmal.
Pria itu menaikkan bingkai kacamatanya, ia berusaha tampak tenang, meski nyatanya gugup melanda. Sulit menelan ludah, tercekat kata di tenggorokannya, bahkan Akmal merasa menyesal datang ke rumah Poppy saat ini.
__ADS_1
Akmal harus mengambil keputusan cepat sebelum segala sesuatu memburuk.
Ponsel di saku Akmal berbunyi, membuyarkan kondisi senyap yang muncul setelah tawaran dari Poppy.
"Maaf Bu Poppy, saya ada telepon dari kantor. Saya angkat sebentar," ucapnya mengalihkan ketegangan yang tercipta.
Dengan suara pelan Akmal menanggapi panggilan dari kantornya. "Ya, saya sedang bersama Bu Poppy. Sedikit terlambat untuk tiba di kantor. Ini tidak akan lama, sebentar lagi. Kalau kliennya bersedia menunggu, saya akan usaha ke sana secepatnya," kata Akmal bercakap di ponselnya. Kalimat demi kalimat dapat didengar dengan baik oleh Poppy.
Akmal menutup panggilan. Ia merasa terselamatkan dengan telepon yang diterimanya.
"Baiklah Ibu Poppy, bila Ibu belum siap untuk penyerahan warisan bagian Badrina, lain waktu kita bicarakan kembali. Saya dapat panggilan untuk mengurus klien saya yang lain," ucap Akmal tenang, dia tidak ingin berlama lagi dalam ruangan bersama Poppy.
Poppy telah lama menunggu momen untuk mengucapkan kalimat tawarannya tadi pada si notaris, sayangnya Akmal tidak menanggapi. Barangkali pria itu perlu diberikan waktu untuk berpikir, batin Poppy.
"Pak Akmal, tawaran saya masih berlaku. Bila Pak Akmal bersedia, saya terbuka 24 jam menerima beritanya," ujar Poppy melontarkan senyum penuh arti. "Pak Akmal bisa membuat kantor baru bila menerima tawaran saya ini," tambahnya. Poppy masih getol merayu Akmal untuk bekerja sama memusnahkan wasiat kakak kandungnya.
Akmal tidak lagi menanggapi ucapan Poppy, ia takut salah bicara. Pergi dari rumah mewah itu adalah jalan terbaik. Akmal berpamitan, ia melangkah tanpa ragu keluar dari ruangan khusus milik Poppy.
Tadinya sepatu yang minder, tampak gagah menapak di permadani lembut yang mahal. Tidak ada keraguan dengan berjalan tegap keluar dari rumah yang penghuninya ternyata gila akan harta milik orang lain. Akmal bahkan tidak sudi menoleh ke belakang.
Poppy berdiri dari kursi roda, melemparkan kain yang menutupi kakinya. Ia berpura-pura sakit untuk mendapat simpati dari Akmal. Dirinya menyampaikan tawaran berani untuk memusnahkan surat wasiat yang telah ditulis kakaknya puluhan tahun lalu.
"Sial! Si Akmal tidak menjawab," erangnya sambil berjalan bolak-balik di dalam ruangan pribadinya. Tangan kanannya mengepal kemudian dipukul-pukulkan ke telapak tangan kirinya.
Poppy sendirian di dalam ruangan, asistennya turut keluar mengantarkan Akmal sampai ke pintu utama. Ia mengambil ponsel dari atas meja untuk menghubungi seseorang.
__ADS_1