
Badrina menceritakan kronologis yang menimpa Cantara sambil sesenggukan. Arshaka hanya diam menyimak dengan baik penuturan Badrina.
Sambil menunggu hasil dari pihak berwajib, Arshaka mulai memikirkan siapa orang di balik penculikan putrinya. Ada beberapa nama yang muncul di kepalanya sebagai pihak yang diduga dalang penculikan.
"Menurut kamu, siapa yang melakukan ini? Apa ada yang kamu curigai?" tanya Arshaka melontarkan isi pikirannya.
Badrina menggeleng lemah. Ia terlalu berat memikirkan masalah yang terjadi belakangan, ditambah lagi masalah penculikan Cantara, otaknya seperti mau pecah saja.
"Kamu harus kuat, aku tahu beban pikiran kamu banyak." Arshaka berusaha berempati pada Badrina yang menatapnya sendu.
"Terlalu banyak orang jahat di sekitarku," lirih Badrina menundukkan kepalanya. Badrina mengusap pipi, air matanya tak kunjung berhenti. "Mereka semua mungkin ingin hal buruk terjadi padaku dan Canta. Aku lengah," jawab Badrina terus-menerus menyalahkan diri sendiri.
Perkataan Badrina menohok hati Arshaka, nafasnya terasa berat untuk ditarik. Arshaka memandang lekat rupa Badrina yang penuh rasa sesal dan sedih mendalam.
"Kalau terjadi apa-apa pada Canta, aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri. Semua akibat keteledoran aku. Maafkan aku...." Badrina menangis lagi sambil menggeleng-geleng kepala dan menepuk-nepuk dadanya yang teramat sakit.
Kehilangan Cantara merupakan keperihan yang paling sulit diterima Badrina. Apa memang Badrina harus kehilangan harta paling berharganya, setelah semua yang disebut keluarga malah punya kepentingan pribadi terhadapnya?
Badrina merasa ini benar-benar kemalangan yang membuatnya bisa gila benaran.
Niat Badrina untuk menjemput Cantara pulang dari sekolah terhalangi oleh niat jahat orang lain. Badrina merasa tidak berguna sebagai seorang ibu, padahal peristiwa pahit itu di luar kendali Badrina.
Nuraini segera mendekat lalu memeluk Badrina yang mulai memukuli dirinya sendiri. Nuraini turut menangis bersama Badrina.
"Berusahalah untuk tenang, Rina. Jangan berpikiran yang tidak-tidak. Pihak berwajib sedang berusaha menemukan Canta," ucap Nuraini sambil mengusap lengan Badrina.
Isak tangis Badrina kembali mereda, Nuraini masih terus mendekap dan mengelus bahunya. Perlahan, Badrina menjadi lebih tenang. "Terima kasih, mama," bisiknya tulus sembari menutup matanya dalam dekapan seorang ibu.
__ADS_1
Bagi Badrina, Nuraini merupakan sosok keibuan baik selama menjadi mertua maupun mantan. Sayangnya, perceraian memutus hubungan mertua -menantu. Kebesaran hati Nuraini saat ini menjadi oase di tengah gurun pasir bagi Badrina.
Keesokan hari di sebuah ruangan, Cantara menangis ketakutan atas kejadian tiba-tiba yang menimpanya. Tepat di gerbang sekolah kemarin, Cantara digendong dan dibekap dari belakang, sempat digigitnya tangan orang yang menggendongnya sampai bisa ia berteriak memanggil Badrina tadi.
Cantara pernah mendengar cerita tentang orang yang dibawa kabur disebut sebagai penculikan. Cantara melihatnya di televisi, tetapi ia tidak mengerti kenapa bisa terjadi pada dirinya. Cantara duduk menyudut sendirian di kamar yang ukurannya sebesar 3 x 3 meter.
Pakaian sekolah dan ikatan rambutnya telah berantakan, tidak serapi waktu di sekolah. Sepanjang perjalanan Cantara meronta-ronta dan menjerit minta dilepaskan hingga ia kecapaian.
Gadis kecil itu masih sesenggukan dengan tangis kecil memanggil mama dan papanya di dalam kamar putih tanpa perabotan, hanya ada karpet usang tempatnya kini duduk meringkuk.
Di dalam kendaraan dalam perjalanan ke lokasi penyekapan, orang yang menculik Cantara sampai merasa terenyuh dengan paras sedih dan takut Cantara.
"Apa sebenarnya salah bocah ini?" tanya seorang pria pada temannya yang lain, menatap Cantara yang telah ditutup mulutnya menggunakan sehelai kain putih.
Pria berjaket hitam penuh tato di lengan menimpali. "Bukan urusan kita. Yang penting dibayar dan kerjakan tugas."
"Kami sudah melakukan seperti yang Ibu kehendaki," lapor seorang pria yang tanpa tato bernama Juki. "Bocah itu di dalam kamar, masih menangis, sedikit lebih tenang dibandingkan tadi," lanjutnya.
Perempuan muda itu mengangguk, dia rela pulang dari Swiss karena mendapatkan kabar bahwa ibunya, Poppy Alysa, begitu terguncang dengan kondisi yang terbalik dengan kebiasaan bertahun-tahun dalam kemewahan.
Putri mana yang tega melihat sang ibu marah-marah, sebentar kemudian berteriak dan menjerit, bahkan membanting benda di dekatnya. Sekalipun hubungan mereka bukanlah jalinan ideal antara ibu dan anak perempuan, tetap saja dia tidak tega menyaksikan gangguan emosi ibu kandung yang telah melahirkannya.
"Apa dia sudah makan?" tanya Monera.
"Sudah, Bu," jawab pria penuh tato sambil membungkukkan tubuhnya.
Monera menganggukkan kepalanya, dia terpaksa melakukan hal keji untuk memperingatkan Badrina akan tindakannya menyakiti sang ibu akan mendapat balasan mahal, yakni putri semata wayangnya.
__ADS_1
Monera rela meninggalkan Swiss untuk memonitor penculikan ini.
"Seperti rencana, kalian hubungi Badrina untuk minta uang penebusan putrinya. Perempuan itu sudah punya segalanya, berapapun yang diminta ia pasti akan penuhi," ujar Monera menegaskan, dia tidak ingin namanya disebut-sebut dalam negosiasi uang tebusan.
Perkataan itu diangguki oleh kedua pria penculik. Monera keluar, menaiki sebuah mobil menuju tempat tertentu.
Perempuan itu berhenti di sebuah rumah sakit jiwa tempat Poppy dirawat. Beberapa waktu belakangan sejak mendapat surat pengosongan rumah, artinya Poppy tidak memiliki harta benda lagi, pikiran Poppy mulai diserang kecemasan, secara mendadak kerap ia membanting apa saja yang ada di dekatnya.
Poppy merasa marah dengan kondisi yang dialami sehingga gagal untuk mengontrol dirinya. Dia perlu ditenangkan dengan bantuan obat depresan dari psikiatri.
Poppy harus ditempatkan sendiri di sebuah ruangan isolasi debab episode agresif dan impulsifnya dapat melukai orang lain.
Monera datang, melihat dari luar ruangan Poppy sedang ditenangkan oleh beberapa perawat. Ibunya tengah mengalami ledakan kemarahan, bukan hanya secara non verbal melainkan juga verbal.
Monera diminta menyaksikan dari jauh, dirinya pun tidak memiliki hubungan yang begitu harmonis dengan ibu kandungnya. Monera tidak pernah menampakkan diri secara langsung, khawatir dorongan kemarahan Poppy akan semakin memuncak dengan melihatnya.
Monera mengepalkan tangannya, ia benci dengan keadaan seperti saat ini. Dirinya tahu bahwa sang ibu sangat mencintai harta kekayaan yang kini hilang dalam sekejap. Monera juga tidak menampik bahwa demi mendapatkan warisan bagian Badrina, ibunya rela bertindak manipulatif terhadap sepupu angkatnya itu.
Selama ini Monera tidak peduli dengan pilihan-pilihan ibunya. Ia lebih lama menghabiskan waktu bersama keluarga barunya di Swiss dibandingkan mengunjungi ibunya.
Terbersit sedikit penyesalan dalam dirinya sebab tidak menyangka kalau Badrina setega itu pada Poppy. Memberi pelajaran Badrina, itulah yang kini sedang Monera lakoni. Setelah semuanya beres, ia akan menyerahkan uang penebusan Cantara pada ibunya lalu membawanya menjauh ke Swiss.
Monera membalikkan tubuhnya lalu mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.
"Minta sebanyak 4 milyar pada Badrina. Katakan transaksi melalui dua cara, bank dan tunai dolar," perintahnya, membalik tubuh kembali sembari menatap ke arah ruangan yang berisi ibunya dan para perawat.
Terlihat Poppy berhasil ditenangkan, dibawa menuju ranjang untuk direbahkan, tubuh Poppy kelelahan karena periode impulsifnya yang meledak-ledak.
__ADS_1