BAYANGAN MANTAN

BAYANGAN MANTAN
58. Hati Badrina


__ADS_3

Pikiran Badrina terlalu berkecamuk, rentetan peristiwa buruk mengejutkan dirinya.


Dengan status cerai diantara Badrina dan Arshaka, tidak seharusnya Badrina merasa sesedih saat ini. Mengingat mereka tidak terikat hubungan sakral saat ini.


Tangis sesal dibarengi tawa membahana lolos dari bibir Badrina, dia menertawakan kebodohannya.


Badrina merasa lemah bila menyangkut Arshaka, pria yang sulit dibuang dari hidupnya. Pria yang belakangan mengatakan cinta padanya, membuat getar rasa di hatinya, sebentar kemudian dirinya terhempas oleh kenyataan pahit.


Begitu dahaga akan kasih sayang membuat Badrina percaya kalau Arshaka serius untuk membina hubungan pernikahan kembali.


Badrina mengurung diri di kamar sejak semalam. Sesaat dirinya keluar apartemen milik Arshaka, mantan suaminya terus-menerus mengejar dan memohon pada Badrina untuk mau mendengar penjelasan.


Kendaraan yang Badrina tumpangi bahkan dikejar oleh Arshaka agar berhenti. Namun, Badrina bersikeras meminta pada pengemudi agar laju kendaraan dipercepat.


Rebahan merupakan cara Badrina merelaksasi tubuhnya, pandangan kosong ke arah langit-langit kamar menandakan Badrina belum merasa rileks. Linangan air mata masih keluar melewati ujung pipi dekat telinga.


Badrina terisak-isak, terasa dadanya terhantam beban berat yang tidak terlihat. Apa yang harus dilakukannya kini?


Ketukan pintu mengganggu perenungan Badrina, dugaannya Muryati mengantarkan makanan padanya, padahal piring di kamarnya saat ini masih terisi penuh. Badrina sedang kurang nafsu makan.


Ketukan pintu yang terus-terusan membuat Badrina turun dari ranjang menuju pintu kamarnya, melangkah dengan tubuh gontai.


Badrina membuka kunci dan pintu kamar, kelopak matanya membengkak akibat menangis semalaman.


"Aini...."


Badrina menatap Danish, spontan memeluk sahabat yang tiba di rumahnya sore hari tepat sehari setelah kejadian di apartemen.


Kembali Badrina terisak kencang dalam pelukan Danish. Danish berusaha menenangkan Badrina dengan usapan lembut di punggungnya.


Siang pada saat jam istirahat kerja, Arshaka mencari Danish di ruangannya untuk meminta bantuan.


"Gue butuh bantuan lo lagi, Dan," ucap Arshaka begitu masuk ke ruangan Danish.


"Lo ada masalah apalagi, Shaka?" tanya Danish jenuh. Dia heran hidup Arshaka begitu penuh masalah dan drama, sampai-sampai Danish harus turun tangan.

__ADS_1


"Rina semalam bertemu Maulidya dan... pecah... terbongkar semuanya," ucap Arshaka panik, mengingat kejadian di apartemen semalam.


Danish terdiam, ia membayangkan betapa terkejutnya Badrina saat mengetahui ada perempuan yang hidupnya begitu diperhatikan oleh mantan suaminya. Tentang Maulidya, Arshaka telah menceritakan semuanya pada Danish.


Bunyi dengkusan nafas berat lolos dari hidung Danish. "Cepat atau lambat Aini pasti akan tahu."


"Gue merasa dia semakin membenci gue, Dan. Sekarang sulit gue meraihnya bahkan Canta tidak pernah dihubungi. Anak gue terus menangis menanyakan mamanya," sesal Arshaka mengusapi pelipisnya.


"Gue minta tolong, bujuk Rina untuk bertemu Canta.".


Danish menghela nafas berat, benar-benar berat kasus yang dialami Arshaka. Namun, salah sendiri bermain api, pikir Danish.


"Gue coba bujuk Aini untuk bertemu Canta, semoga dengan melihat Canta, keadaan Aini lebih baik," respon positif Danish. "Tapi, gue ngga bisa lagi dorong Aini buat terima lo, bebannya terlalu berat. Gue takut, dia berakhir seperti ibunya," sambung Danish menerawang masa depan.


Dengan berat hati, Arshaka mengangguk.


Arshaka akhirnya memilih menyerah untuk memperjuangkan diri agar diterima oleh Badrina. Bukan karena Arshaka tidak mau, melainkan mental Badrina benar-benar bisa hancur bila terus-menerus Arshaka bersikeras mengejar cinta Badrina.


Arshaka telah siap bila Badrina akhirnya akan mengubur semua kenangan diantara mereka. Kenyataannya hanya sedikit kenangan indah, selebihnya pahit dan kejam.


Danish tidak memaksa Badrina agar menyuarakan unek-unek atau beban dalam hatinya. Bila Badrina siap untuk bercerita, Danish siap mendengarkannya.


"Aku telah mengusir tanteku sendiri dari rumah peninggalan papa Wriatmaja," kata Badrina mengawali pembicaraan, setelah tidak ada air mata yang tumpah di pipinya.


"Sepupuku, Monera, bermohon agar berbelas kasih sedikit pada mamanya. Aku menulikan perasaanku. Monera dan tante Poppy telah menyakitiku sedemikian rupa sedari kecil," ungkap Badrina sembari mengingat masa lalu.


Keheningan kembali menyelimuti suasana diantara mereka.


"Tapi Dan... kamu tahu? Aku malah semakin terluka dengan memaksa diri membenci Monera dan tante Poppy." Suara Badrina bergetar hampir menangis. "Aku tidak bisa Danish, aku malah menyalahkan diriku sendiri." Air mata menetes kembali, terlalu sakit Badrina mengingat tantenya, sampai-sampai menyebut namanya membuat air mata tertumpah.


"Aku... menampar Arshaka yang telah membohongiku bertahun-tahun lamanya. Aku tidak sudi mendengarkan pembelaan dirinya, bahkan aku mengabaikan Cantara agar Arshaka sakit hati," resah Badrina mengungkap cara membalas sakit hatinya.


"Tapi, aku...." Badrina mengusap air matanya. "Aku malah makin terluka. Entah apa yang diinginkan oleh diriku, padahal sakitnya telah coba ku balas sekeji mungkin," sambung Badrina sembari menutup wajah dengan kedua tangan.


Danish menoleh ke arah Badrina. Dari samping, pria itu mampu melihat kesenduan hati Badrina.

__ADS_1


Danish menilai mental Badrina tidak berhasil dirusak, meskipun deraan derita telah dialami sedari kecil. Danish menarik kesimpulan, ketulusan hati Badrina menyelamatkannya dari rasa benci. Tanpa sadar, batin Badrina menolak kebencian menguasai jiwanya.


"Kamu orang baik, terlalu baik, Rina," ucap Danish tersimpul senyum di wajahnya.


Badrina menoleh. "Kamu meledekku?" tanya Badrina dengan kekehan sinis lalu kembali memandang ke arah kolam di taman.


Danish menarik nafas panjang, wajahnya yang tadi turut sedih menjadi ceria setelah melihat bahwa teman dihadapannya sungguh istimewa.


"Tidak. Aku tidak meledek," timpal Danish tertawa. "Kamu ingin membalas sakit hatimu, tapi kamu malah semakin terluka. Jiwamu menolaknya bukan? Sebab gaya seperti itu bukan tumbuh dari dirimu, melainkan sisi emosi yang menanjaki egomu," terang Danish memberi pandangan.


"Aku tidak akan memberimu wejangan apapun karena kamu sudah tahu apa yang membuatmu terobati untuk kembali pulih," ujar Danish masih tetap tersenyum menatap kolam.


"Arshaka beruntung pernah memperistri kamu, tanpa dia sadar sikap tulusmu membuatnya berbalik dari pria yang tersakiti karena kegagalan cinta, dingin, penuh kebohongan, tidak peduli pada orang lain menjadi pria yang mengejar cinta dan berani jujur apapun resikonya," beber Danish disertai kekehan menunjukkan keistimewaan Badrina bukanlah sesuatu yang patut ditangisi.


"Tapi ya begitulah, rasa sesal selalu datang belakangan," sambung Danish menoleh pada Badrina.


"Setelah dia berani jujur, ternyata itu sangat melukai kamu. Dia bilang padaku 'lebih memilih menyerah memperjuangkan cinta, bila itu membuat kamu kembali ceria dan hidup'," ucap Danish lalu menghela nafas panjang.


Badrina menoleh ke Danish. "Kamu tahu dari mana? Apa dia mengatakan begitu?" tanya Badrina mencari jawaban.


Danish mengangguk membenarkan Badrina. "Dia juga minta aku bujuk kamu untuk menemui Cantara, sebab anak itu membutuhkan kamu. Dia bilang 'Canta sangat merindukan kamu'," jelas Danish sesuai perkataan Arshaka. Danish tidak ingin menjadi penasihat bagi Badrina, ia hanya meneruskan pesan.


Mendengar nama putri kesayangannya, Badrina tidak mampu menahan tangisnya, isakan lolos lagi dari bibirnya.


"Canta."


"Arshaka bilang Canta aman di rumah mamanya, ia merindukanmu kerap menanyakan dan menangis."


"Arshaka juga minta maaf padamu, telah menyakiti kamu dari awal menikah hingga kini. Dia tidak akan lagi mengganggu kamu."


Perkataan Danish malah membuat dada Badrina sesak dan bergemuruh, seakan-akan relung hati menolak keras.


Benarkah pilihan Badrina untuk membenci Arshaka dan membalas rasa sakit hati adalah kesalahan?


Danish berdiri, melangkah mendekati kolam, melempar butiran makanan ikan dari sendok kemasannya. Kemudian membalikkan tubuh menghadap Badrina. "Kamu tahu apa yang mesti kamu lakukan untuk memenangkan perang batinmu," ucap Danish menepuk-nepuk bahu Badrina perlahan.

__ADS_1


"Aku pamit dulu, malam ini aku ada janji bertemu teman. Bila kamu butuh teman cerita, aku siap mendengarkan," pesannya. Danish melangkah masuk ke rumah menuju teras depan, meninggalkan Badrina dengan permenungannya seorang diri.


__ADS_2