BAYANGAN MANTAN

BAYANGAN MANTAN
29. Demi Poppy


__ADS_3

"Oke... beri aku kesempatan Tante, aku... aku akan melanjutkannya," ujar Arshaka memancarkan negosiasinya. Arshaka kesulitan menelan ludahnya sendiri. Ia membayangkan bagaimana reaksi Poppy.


Poppy berdecih, menggeleng tidak percaya. "Mengharapkan kamu kembali?" tanya Poppy, "Oh, tidak Shaka. Kamu membuat semua rencana saya berantakan!" hardik Poppy menunjuk-nunjuk Arshaka dengan geram.


Arshaka berusaha bersikap tenang dan datar. "Apa kelebihan Hafez, Tante?" tanya Arshaka. Ia menduga Hafez ditugaskan mendekati mantan istrinya, pria itu tidak setulus yang Badrina bayangkan.


"Tugasmu gagal, Arshaka." Poppy tertawa meledek, "Hafez pasti mampu membenahinya dan mendapat yang saya inginkan," lanjut Poppy yakin.


Tangan Arshaka terkepal erat. Ia tidak siap bila Hafez menggantikannya untuk Badrina demi kepentingan Poppy. Dirinya juga bukan orang yang baik dan suci, tetapi semakin ke sini ia tidak ingin hal buruk terjadi pada ibu dari putrinya.


"Dengan menikahkan Badrina dengan Hafez?" Ia bertanya untuk sesuatu yang jawabannya tidak dirinya harapkan.


"Tentu saja, Sayang," ujar Poppy. Perempuan itu berjalan mendekat ke arah Arshaka.


Sambil melihat jari-jemarinya yang dihiasi nail polish yang mahal, Poppy berkata, "Tante tidak ingin tangan ini kotor untuk mendapatkan sesuatu, Tante perlu orang lain mewujudkannya."


Poppy menyorot Arshaka, "Delapan tahun Tante menunggu tugasmu selesai, apa yang Tante dapatkan? Kamu malah punya anak darinya. Ah... Arshaka kamu terlalu teledor," gerutu Poppy memutar bola matanya sembari mengendikkan bahu.


Arshaka ingin sekali menghajar perempuan paruh baya di hadapannya ini. Ia menghina buah pernikahannya dengan Badrina. Memang saat itu mereka menjalin kesepakatan agar Arshaka jangan sampai memiliki anak dari Badrina karena akan menjadi panjang urusannya.


Namun, Arshaka tidak menaatinya. Oh bukan! Arshaka tidak menahan dirinya karena Badrina, perempuan polos tiu, telah menjadi istrinya.


"Jangan bawa-bawa Canta dalam masalah ini, Tante!" sembur Arshaka berang.


Poppy mengibaskan telapak tangannya ke wajah Arshaka, "Kalau dalam tiga tahun pertama perkawinan kamu bisa membuatnya dalam kondisi gangguan jiwa, Tante tentu sekarang tidak perlu bantuan Hafez! Tante memerintahkan Hafez mencapai target agar Badrina mengambil langkah mengakhiri hidupnya sendiri," geram Poppy dengan suara berbisik rendah agar tidak seorang pun tahu, kecuali mereka berdua.

__ADS_1


Arshaka menatap terkejut pada Poppy, "Tante, itu terlalu jauh!" Arshaka tidak tenang mendengar kegilaan Poppy pada Badrina, keponakannya sendiri.


"Soal Canta, silakan kamu urus sendiri bila Badrina akhirnya meninggalkan dunia ini untuk selamanya. Itu keinginannya sendiri," tekan Poppy berbisik.


Arshaka menggeleng-gelengkan kepalanya, "Canta, masih butuh Badrina, Tante. Jangan lakukan itu," peringat Arshaka tegas dengan mata berkaca-kaca mendengar rencana jahat Poppy. Arshaka membayangkan anaknya hidup tanpa seorang ibu, itu sangat menyedihkan.


Poppy tertawa terbahak sesaat lalu berhenti. "Salah kamu sendiri, dari awal kita sepakat pernikahan kalian tanpa anak," tekan Poppy tersenyum miring sambil berjalan menjauh mendekati tangga.


"Aku tidak akan membiarkan Tante melakukan hal itu!" teriak Arshaka geram lalu berbalik dan berjalan gegas menuju pintu keluar.


Poppy membalikkan tubuhnya cepat mengarah ke Arshaka. Dengan sorot kebencian ia berteriak, "Akan Tante katakan pada Badrina, kamu memelihara seorang perempuan asing dan bocah kecil, oh... apakah itu anakmu, Arshaka?" Poppy tergelak dan bertepuk tangan, sementara itu langkah Arshaka terhenti. "Ah... seandainya Badrina tahu, mungkin akan mempercepat dia mengalami gangguan jiwa. Ya, paling fatal ...," ujar Poppy sembari mengibas tangannya ke leher. "Hafez tidak perlu bertugas dan Tante tidak habiskan banyak uang membayarnya. Ohh... Tante tidak sabar menunggu langkahmu melawan Tante, Arshaka!" seru Poppy lantang lalu membalikkan badan berjalan menaiki tangga menuju kamarnya di atas.


"Tante tidak tahu apa-apa tentang itu!" sembur Arshaka. Poppy terus berjalan sambil melambaikan tangannya tanpa menatap ke belakang.


Masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, Arshaka memukul-mukul kemudinya. Ia mengumpat habis-habisan untuk Poppy dan dirinya sendiri.


Arshaka belum memiliki kemampuan untuk mengungkap semuanya secara gamblang pada siapapun, apalagi pada mantan istrinya. Bila ia membuka rahasia Poppy, maka dirinya pun akan ikut terseret.


Badrina akan semakin membencinya.


Poppy tipe orang yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keinginannya. Semenjak kematian ayah Badrina, ibu Badrina tidak lagi diterima dalam keluarga ayahnya sampai ia berpulang saat usia Badrina dua tahun, dalam kondisi depresi.


Badrina tidak pernah mendapat kasih sayang seorang ibu, sebab usia enam bulan ia telah diasuh oleh Poppy karena kondisi ibunya tidak memungkinkan menjalani peran pengasuhan. Ibu Badrina kala itu telah berada dalam pengawasan dokter jiwa.


Arshaka yang dari awal ditawari kerjasama untuk membuat Badrina mengalami gangguan jiwa dengan rela menuruti permintaan Poppy dengan iming-iming harta kekayaan dan jabatan.

__ADS_1


Sepanjang pernikahan, dirinya diperintah untuk tidak memberi perhatian pada istrinya. Sekedar formalitas Arshaka mengarahkan Badrina ke dokter jiwa agar dirinya juga tahu apakah ada kemajuan dari rencananya untuk membuat Badrina mengalami gangguan melalui diagnosa dokter.


Seiring waktu berlalu, Arshaka tidak fokus lagi pada rencana kerjasamanya bersama Poppy, ia ingin pernikahan yang sewajarnya. Meskipun demikian, Arshaka masih tetap bersikap kurang perhatian pada Badrina. Rujuk yang ditawarkan pada Badrina pun tidak lebih dari keinginan untuk membuat Cantara bahagia.


Arshaka tiba di sebuah tempat, ia turun dari mobil dan minta izin pada penjaga untuk masuk menemui pemilik rumah.


Kegelisahan dalam diri membawanya tiba di rumah ini.


Tidak begitu sabar, ia berjalan bolak-balik menunggu si empunya rumah. Ia berniat meminta bantuan agar kepentingan Poppy mengorbankan Badrina tidak akan pernah terjadi. Ia harus bergerak lebih cepat dari Poppy.


"Shaka, ah... lo kalo ngga ganggu gue gimana, sih?" tanya pria yang telah mengenakan pakaian tidur, padahal ini masih belum terlalu malam.


"Danish, gue butuh bantuan lo," ujarnya menarik tangan Danish untuk duduk di sofa. Mereka berdua saling berhadap-hadapan.


Danish mengulas senyum, "Lo butuh apa dari gue?" ucapnya terlihat begitu manis, melirik tangannya yang masih digenggam Arshaka.


Arshaka mengikuti arah pandang Danish, segera ia menghempas tangan Danish. "Ck, hapus isi pikiran lo," sungut Arshaka menunjuk kepala Danish.


Arshaka menerjemahkan senyum berjuta makna Danish sambil meninju lengan temannya itu.


"Aw... sakit tahu. Katakan lo membutuhkan bantuan apa dari gue?" tanyanya dengan raut serius. "Lo ke sini, bukan sedang mau pinjam uang dari gue 'kan?" selidik Danish mengamati teman kerjanya.


"Gue mau lo deketin Badrina --"


"APA!"

__ADS_1


__ADS_2