
Arsahaka masuk ke dalam ruangan kerjanya yang dulu ia pakai untuk menyelesaikan tugas kantor yang menumpuk. Ruangan itu masih tampak terawat baik. Tidak banyak buku dan dokumen di dalamnya sebab semua telah dibawa Arsahaka ke rumah mamanya, Nuraini.
Barang yang tinggal hanyalah properti kayu jati, seperti bangku dan meja kerja, serta satu sofa panjang dan beberapa tanaman artifisial.
Arshaka berdiri tegap menghadap ke jendela dengan kedua tangan di dalam kantong celananya. Ia belum sempat bertukar pakaian kerja, sebenarnya ia sudah gerah memakai pakaian itu seharian. Namun, di rumah ini tidak lagi tersimpan pakaiannya.
Ditambah lagi dengan kondisi hatinya yang agak kacau, kegerahannya semakin bertambah. Apresiasi direksi siang tadi seolah-olah tidak berarti sama sekali terhadap penguat suasana positif hatinya.
"Kamu mau bicara apa?" Suara Badrina beberapa langkah di belakang tubuhnya membuat Arshaka ingin melontarkan banyak kalimat.
Namun, Arshaka perlu menenangkan diri sendiri terlebih dahulu sebelum menyampaikan isi hati dan pikirannya. Arshaka menghela nafas beberapa kali sembari menutup mata.
Badrina menunggu Arshaka mengucapkan sesuatu, yang ada Arshaka hanya diam saja, Badrina berkata, "Besok aku harus mengantarkan Canta sekolah. Kalau tidak ada yang di--"
"Di mana Canta sekolah?" potong Arshaka langsung, setelah membalik badan berhadapan dengan Badrina.
Badrina menatap manik Arshaka yang menyorot tajam padanya. Tatapan itu membuat Badrina canggung, tetapi ia berusaha bersikap sebiasa mungkin.
"Di TK Tunas Bangsa."
Arshaka menoleh ke arah lain, dugaan kalau Badrina memindahkan putrinya lagi terbukti. Sebentar kemudian Arshaka berkata, "Mengapa tidak di TK Pelita Kasih Bunda, bukannya sekolah itu yang kamu rekomendasikan padaku?" tanya Arshaka. Badrina membaca kalau Arshaka dalam suasana kesal saat bertanya.
Kening Badrina mengernyit. "Bukannya kamu yang meminta aku cari sekolah lain karena biaya akan besar di TK Pelita Kasih Bunda. Gimana sih?" Badrina bertanya balik dengan nada keberatan.
__ADS_1
"Sekolah yang kamu pilih bukan deretan TK yang terbaik di kota ini, bahkan sekolah itu baru berdiri. Kamu percaya guru-gurunya mampu memberi yang terbaik bagi Canta? Yang sebelumnya saja, kurang baik padahal termasuk TK yang cukup dikenal banyak orang," ketus Arshaka menerangkan keberatannya.
"Tidak dikenal bukan berarti sekolah itu buruk. Canta senang di sekolah barunya. Kamu sudah bertanya pada putrimu?" tanya Badrina. Dirinya tidak terima menjadi tempat salah olrh Arshaka. "Oh, belum ya, terlalu sibuk dengan urusan sendiri," sindir Badrina sambil bersidekap dan kepala mendongak.
"Jangan memancing pertengkaran, Rina," tegur Arshaka sembari berkacak pinggang. Arshaka merasa kesabarannya diuji Badrina.
"Siapa yang memancing pertengkaran? Kamu bukannya turut mencarikan sekolah untuk Canta. Tiba-tiba datang mengomentari sekolah barunya Canta tanpa tahu apa-apa. Kamu yang memancing pertengkaran denganku!" sembur Badrina, ia tidak menyukai cara mantan suaminya mengkomunikasikan perihal sekolah Cantara.
"Apa salah aku menginginkan sekolah yang bagus untuk Canta?" tanya Arshaka menunjuk dirinya sendiri. Keduanya mulai terbawa emosi negatif, merasa sama-sama benar dari sudut pandang masing-masing.
"Tidak. Tidak salah. Kalimat komunikasi kamu menyudutkan aku. Seolah-olah aku tidak becus mencari sekolah untuk Canta," keluh Badrina terus menimpali ucapan Arshaka.
"Lantas, komunikasi kamu padaku sudah baik? Memutuskan sendiri tujuan sekolah Canta. Aku tahu TK yang bagus di kota ini, Rina, bahkan aku turut andil mencarikan TK untuk anak temanku." Arshaka bersikeras bahwa Badrinalah yang memiliki komunikasi buruk dengan dirinya. Menurut Arshaka sebagai orang yang mengasuh Cantara, Badrina pro aktif memberi tahu dirinya mengenai segala perubahan keputusan yang menyangkut Cantara.
Badrina tidak tahan lagi dengan perbincangan tegang urat yang berujung pertengkaran.
Badrina tidak tahan berlama-lama berkomunikasi dengan Arshaka. Ia membalik badannya dan melangkah menuju pintu tanpa pamit.
Sewaktu Badrina telah setengah membuka pintu, dari belakang Arshaka tiba-tiba menutup daun pintu dengan bunyi debum yang keras, sontak Badrina terperanjat di tempat.
"Aku belum selesai berbicara." Tubuh Badrina dibalik oleh Arshaka dengan sentakan keras. "Kamu menuduhku menelantarkan Canta?" tanya Arshaka berang sembari menunjuk-nunjuk Badrina.
Badrina mencoba menjawab tenang seadanya. Ia bisa melihat sinyal amarah dari bola mata Arshaka. "Kamu salah paham. Aku telah merenungkan perkataan kamu mengenai biaya sekolah Canta akan besar bila bersekolah di TK Pelita Kasih Bunda. Kalau di sekolah yang sekarang, uang yang kamu transfer, sisanya bisa ditabung untuk masa depan Canta."
__ADS_1
"Setiap bulan aku selalu mentransfer uang untuk Canta, tidak pernah terlambat dari tanggal 10. Apa yang kamu takutkan?" tuntut Arshaka, ia ingin Badrina jujur padanya.
"Ee... ya... memang benar. Tapi... tapi... bila nanti kamu menemukan pasangan hidup dan memiliki anak lagi, belum tentu mereka akan menerima jumlah besar yang kamu transfer untuk kehidupan Cantara," jelas Badrina, "aku harap kita saling pengertian saja," tambahnya, suara Badrina melemah.
Arshaka terdiam. Ia tidak menyangka pikiran Badrina sejauh itu, dirinya saja tidak terpikir untuk menjalin relasi dengan perempuan lain, sebab ia masih memiliki masalah komunikasi dengan Badrina.
Malahan yang ada, Badrinalah yang saat inibmemiliki relasi dengan pria lain.
"Jangan mengalihkan topik pembicaraan. Kalau bicara soal pasangan hidup, di antara kita siapa yang sekarang kebelet nikah?" sindir Arshaka yang dihadiahi pelototan tajam dari Badrina. "Memberi alamat rumah dan mengundang laki-laki lain di akhir pekan, tidak lain menandakan kebelet nikah." Kalimat dengan dengkusan berat dilontarkan Arshaka.
"Kamu membaca pesan ponselku?!" tuduh Badrina dengan raut tegang. Apa yang diucapkan oleh Arshaka seingat Badrina adalah isi percakapannya dengan Hafez.
"Kalau sudah kebelet nikah, ya, tidak apa-apa. Tapi pilih ayah sambung yang bagus untuk Canta," ledek Arshaka, "bukan pria dengan anak di mana-mana. Kamu dengar baik-baik, Rina, bila kamu salah memilih pasangan hidup dan merugikan Canta, aku pastikan akan mengurus hak asuh untuk anakku," ancam Arshaka karena kesal dengan fakta Badrina didekati oleh Hafez.
Rahang Arshaka mengetat. Ia merasa cukup untuk memberitahu tentang rencana masa depan bila Badrina salah memilih pasangan hidup.
"Kamu selalu mengancamku!" teriak tertahan Badrina. "Kamu selalu menjadi bayang-bayangku, apa kamu tidak bahagia dengan perceraian ini sampai hati masih mencampuri urusanku!" tambahnya dengan deru nafas yang membuat pundaknya naik turun.
"Cerdasi sendiri!" perintah Arshaka.
Pria itu mendorong tubuh Badrina ke samping. Ia membuka pintu ruang kerja lalu melangkah keluar. Arshaka menuju mobilnya kembali pulang ke rumah dengan menyisakan geram kesedihan pada Badrina.
Sementara Badrina, terduduk menyender di dinding dekat pintu. Air matanya keluar deras. Ia kesal pada dirinya sendiri, juga Arshaka, dan kondisi konflik yang masih membelit mereka.
__ADS_1
Badrina sedih, selalu saja komunikasi dengan Arshaka berakhir buruk. Ia sedih, Arshaka tidak mengapresiasi usahanya menjadi ibu yang memperhatikan masa depan anaknya, malahan merendahkan dirinya dengan menuduh kebelet menikah, padahal bukan itu tujuan Badrina.