
Senin pagi Badrina bersiap untuk mengurus kepindahan Cantara ke sekolah baru. Dirinya pergi seorang diri karena hanya mengurus administrasi. Cantara tinggal di rumah ditemani pengasuhnya. Bila telah memenuhi semua kelengkapan berkas pindah sekolah, barulah Cantara aktif belajar.
Badrina memasuki sekolah baru, ia disambut oleh seorang guru perempuan muda yang mengantarnya menemui kepala sekolah. Beberapa waktu menunggu di ruangan, kepala sekolah datang membawa sebuah map berlabel sekolah di tangannya.
Badrina berdiri. "Selamat datang Ibu Badrina, silakan duduk," sapa kepala sekolah terlihat seusia dengan Badrina. Badrina tersenyum kemudian duduk di hadapan kepala sekolah.
"Terima kasih Ibu telah memilih sekolah kami sebagai tempat anak Ibu untuk belajar dan bermain," ujar kepala sekolah sambil tersenyum. "Kami telah mempelajari administrasi putri Ibu. Kami senang menerima Cantara Benazir sebagai peserta didik kami. Semoga Cantara bisa menikmati kesehariannya di sini bersama guru dan teman-teman barunya," tutur kepala sekolah dengan ramah.
Badrina bersukacita dalam hati, ia merasa menemukan sekolah yang cocok untuk Cantara. Mereka sempat berbincang tentang masalah yang kerap menyerang psikis anak, kepala sekolah tampak memberi atensi untuk isu seperti yang dialami oleh Cantara. Ya, Badrina terbuka menceritakan masalah yang dialami Cantara di sekolah lamanya.
Badrina pulang dengan harapan baik untuk anaknya. Cantara telah diperbolehkan untuk masuk sekolah besok.
Bagi Cantara, sementara diberlakukan masa orientasi atau pengenalan sekolah agar bocah itu dapat merasa nyaman dalam lingkungan baru.
Siang hari saat jam istirahat kantor, Arshaka menanyakan pengurusan sekolah Cantara melalui pesan singkat pada Badrina. Badrina menceritakan apa adanya dengan info seadanya.
Ada beberapa pertanyaan Arshaka yang berkaitan dengan dirinya, Badrina tidak bersedia membalasnya. Hanya topik yang bersangkutan dengan Cantara saja yang dilayaninya.
Meskipun Badrina cukup irit membalas pesannya, Arshaka tetap merasa senang. Untuk urusan Cantara, Badrina begitu total, Arshaka tidak meragukannya.
Setelah jam kerja usai, Arshaka melajukan mobilnya ke rumah Badrina. Saat mobilnya akan memasuki pekarangan, sebuah kendaraan keluar. Ia perlu mendahulukan mobil itu keluar barulah mobilnya bisa masuk.
Arshaka melihat dari kaca mobilnya, siapa sosok di balik kemudi mobil yang ada di depannya. Terlihat seorang pria tengah melambaikan tangan pada Badrina, Arshaka tahu benar siapa pemilik mobil itu.
Saat Badrina akan menutup gerbang, mobil Arshaka maju disertai klakson panjang. Badrina terperanjat mendengar suara keras. Dia keluar melihat siapa yang melakukannya, tanpa membuka lebar pintu gerbang.
Melihat Arshaka yang datang, Badrina membuat ekspresi sedingin mungkin.
"Rina, gerbangnya bisa dibuka?" tanya Arshaka dari arah kemudi.
"Jangan membuat keributan!" tegas Badrina sambil menunduk.
__ADS_1
"Tadi senyum kamu begitu manis pada Danish, sekarang masam banget," canda Arshaka sambil tersenyum.
Badrina menegakkan tubuhnya dan berlalu masuk ke dalam pekarangan. Arshaka langsung turun dari mobil khawatir Badrina akan mengunci gerbang.
Badrina rupanya terus berjalan menuju pintu rumah, terpaksa Arshaka mendorong gerbang sendiri agar mobilnya bisa parkir di pekarangan.
Arshaka menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak habis pikir perempuan yang delapan tahun pernah hidup bersamanya itu bisa juga bertindak tanpa emosi berlebih yang sering ditunjukkan padanya. Hal itu sedikit mengganjal di hati Arshaka.
Arshaka masuk ke rumah disambut teriakan putri kesayangannya. Pria itu memeluk dan menggendong Cantara.
"Lagi apa anak papa?" tanya Arshaka sambil berjalan menuju ruang keluarga.
"Tadi lagi main lego, Papa. Lego baru dari om Danish," ujar Cantara jujur.
"Om Danish tadi lama di sini?" tanya Arshaka menurunkan putrinya untuk kembali bermain lego.
"Ngga Pa, sebentar," jawab Cantara, setelah duduk bersama papanya.
Perempuan itu tidak mengucapkan sepatah kata pun, ia kembali ke dapur untuk membantu asisten rumah tangga menyiapkan makan malam. Sebentar lagi sore, asistennya akan kembali pulang.
"Em... Nak, setiap ada tamu yang datang nanti beri tahu papa ya. Namanya siapa, orangnya seperti apa," pinta Arshaka bernegosiasi dengan putrinya.
"Memangnya kenapa, Pa?" tanya Cantara balik.
"Supaya papa tahu yang datang, papa 'kan sering sibuk bekerja. Tapi, ini rahasia kita berdua saja," kata Arshaka sambil menggaruk kepala belakangnya yang tiba-tiba gatal.
"Papa sih, jangan suka sibuk. Mama jadi ngga ada teman," nasihat Cantara.
Arshaka tersenyum sambil manggut-manggut setuju lalu mengusap kepala Cantara.
"Ya, Nak. Makasih ya sudah perhatian sama papa dan mama," ujar Arshaka sambil memberikan lego model menara pada Cantara. Putrinya itu bersorak gembira karena papanya berhasil menyusun satu buah lego.
__ADS_1
Arshaka tebal muka, demi dirinya ikut makan malam, ia memanfaatkan alasan menemani Cantara. Badrina tidak bisa menolak.
Pria itu menggunakan Cantara yang tidak tahu-menahu dengan kondisi pernikahan mereka sebagai alasan untuk berlama-lama di rumah Badrina.
Sewaktu Arshaka akan pulang ke rumah sekira pukul sembilan malam, ia melihat Badrina mendapat telepon dari Poppy.
"Halo Rina," sapa Poppy.
"Ya, Tante. Apa kabar?" tanya Badrina.
Arshaka mencuri dengar dari balik tembok, muncul rasa penasaran terhadap pembicaraan tante dan keponakan itu.
"Kabar baik, Tante. Ada apa malam-malam menelepon, Tante?" tanya Badrina heran.
"Ah... kamu ini. Tante tentu kepingin tahu kabar kamu dan Cantara. Syukurlah, kabar kalian baik," jawab Poppy dengan sopan. " Tante mau tanya, dengan Arshaka kamu sudah minta jadwal kunjungan Canta? Tidak baik bila kamu setiap hari menerima dia di rumah kamu," sambungnya berusaha mempengaruhi Badrina.
Badrina gelisah akan penilaian tantenya, "Tapi kami komunikasi biasa saja, Tante. Tidak ada yang berlebihan," bela Badrina.
"Tante tahu itu, Rina. Tapi siapa tahu tetangga kamu menilai lain sewaktu si Arshaka itu bolak-balik ke rumah kamu 'kan. Apalagi kamu mulai dekat dengan Hafez, bagaimana penilaian dia pada kamu?" lontar Poppy terang-terangan.
Badrina berubah murung, dirinya serba salah. Badrina merasa di satu sisi anaknya selalu bahagia menerima kehadiran Arshaka. Di sisi lain, tantenya benar. Ia seharusnya mempertimbangkan penilaian orang lain. Jarang sekali Badrina mendapat telepon panjang seperti ini dari tantenya, ia merasa diperhatikan.
Badrina menyentuh kening lalu mengusapnya, rasa pening mendadak menyerang, ia berada di antara dua pilihan yang sulit.
"Arshaka itu... eee... gimana ya tante mau bilang... pokoknya, kamu tidak usah dekat lagi dengan dia. Apalagi sampai bicara masalah pribadi. Masa' masih dibayang-bayangi mantan. Toh dia yang menalak kamu waktu itu." Badrina disadarkan dengan kondisi yang ada. Ia teringat kembali di mana Arsahaka dengan yakinnya melontarkan ikrar talak.
Tidak lama percakapan itu berakhir. Badrina meyakinkan dirinya untuk bersikap tak peduli pada Arshaka.
Di balik tembok Arshaka mengepalkan tangannya, garis rahangnya semakin tegas. Ia ingin sekali menghantamkan kepalan tangannya itu pada dinding di dekatnya.
Namun, ia tidak bisa melakukan itu. Bila Badrina melihat, perempuan itu akan semakin jauh darinya. Ia berusaha meredam amarah. Arshaka malahan menggigit kepalan tangannya sampai berjejak sembari menghela nafas yang berat.
__ADS_1
Dirinya telah menduga siapa orang di balik perubahan sikap Badrina yang berubah drastis pada dirinya.