
Pagi ini, Badrina bersiap-siap mengantarkan putri kesayangannya ke sekolah. Arshaka berhalangan menjalankan tugas itu sebab pagi hari harus menghadiri rapat internal perusahaan, sehingga Arshaka perlu menyiapkan bahan pertemuan.
Semakin hari Cantara semakin senang bersekolah. Cantara menyukai teman sepermainan dan guru di sekolahnya. Kalau pun ada murid yang iseng, tidak lagi seperti Parama, teman yang kerap menyakiti hatinya.
Biasanya Badrina menunggui Cantara sampai sekolah usai. Teringat dengan stok bahan makanan yang menipis ia pergi ke supermarket dekat sekolah Cantara.
Muryati telah izin pulang kampung, ia disibukkan dengan rencana pernikahan putranya sehingga mengambil cuti selama seminggu.
Badrina memberi izin, selama ini Muryati telah memberi waktu dan pelayanan terbaiknya sebagai seorang asisten rumah tangga untuk Badrina dan Cantara. Tidak lupa Muryati mengundang Badrina dan Arshaka untuk menghadiri pernikahan putranya di akhir pekan.
Namun, keduanya berhalangan hadir sebab memiliki rencana keluarga. Sebagai ganti kehadiran, Arshaka menghadiahi Muryati satu bulan gaji. Senangnya Muryati bukan kepalang saat menerima amplop tebal dari Arshaka.
Memilih bahan makanan dan kebutuhan pokok lainnya dilakukan Badrina dengan ligat. Dia biasa kerja cepat dengan membuat daftar belanjaan, sehingga tidak buang-buang waktu berada di supermarket.
Saat sedang fokus pada produk yang dipilihnya, ia mendengar dari rak sebelah tawa canda seorang pria dan wanita yang terasa familiar di pendengaran Badrina.
Badrina berjalan menuju ke rak samping, sayangnya pasangan itu telah jalan menuju pintu keluar meninggalkan supermarket.
Rasa penasaran Badrina begitu tinggi, ia mengeluarkan kembali satu demi satu bahan makanan yang telah dimasukkan ke dalam keranjang. Syukur saja, keranjang belum penuh sehingga Badrina bisa menaruh dengan cepat.
Sorotan matanya masih mengikuti pasangan itu, bahkan sampai ke pintu keluar. Pintu kaca memungkinkan Badrina untuk memonitor pergerakan keduanya sekalipun tangannya sibuk mengembalikan produk ke rak.
Setelah semuanya ditaruh di tempatnya, bahkan ada yang sembarang, Badrina meninggalkan troli keranjang belanjaannya, gegas ia mengintai ke arah mana pasangan itu berjalan.
Badrina berlaku bak detektif swasta. Ia menjaga jarak aman agar keduanya tidak terganggu dan sadar akan kehadirannya.
Mereka berdua masuk ke sebuah restoran klasik bernuansa Korea, tidak jauh dari supermarket. Pintu yang bening memudahkan Badrina untuk menunggui dimana mereka akan duduk.
Setelah keduanya mendapat tempat, Badrina masuk ke dalam restoran, ia memilih bangku yang agak berjauhan dari mereka, posisinya memungunggi pasangan itu.
Seorang pelayan mendatangi Badrina, terpaksa ia memesan minuman sebab tidak mungkin hanya menumpang duduk di sana. Kehadiran Badrina yang tertutup oleh tubuh pengunjung lain menjadi posisi menguntungkan Badrina saat ini.
__ADS_1
Sayangnya, Badrina tidak bisa mengetahui pembicaraan dan gerak-gerik keduanya. Lalu, untuk apa berada di restoran ini? pikir Badrina.
Tidak kehilangan akal, Badrina mengambil ponselnya dari dalam tas. Ia seolah-olah swafoto seorang diri. Meskipun beberapa pengunjung memandang aneh dirinya, Badrina mengabaikan.
Badrina memotret dirinya sendiri, bahkan memvideo sambil senyam-senyum. Tentu saja dalam tangkapan foto dan video, masuk rekaman tanpa suara pasangan yang sedang diintai oleh Badrina.
Bola mata Badrina membelalak saat melihat tangan sang pria mengusap rambut perempuan yang tersenyum malu-malu. Tidak hanya itu, pria itu mencolek dagu si perempuan. Perbuatan yang kurang layak dan pantas dipertontonkan di publik, apalagi bagi yang mengetahui status keduanya.
Tangan Badrina sampai lemas menyentuh meja. Rasa terkejut disertai jijik keluar dari ekspresi Badrina yang semula tampak senang dibuat-buat.
Badrina menyentuh dadanya. Ia mencubit lengannya, sakit. Badrina merasa bermimpi, tetapi yang terjadi merupakan kenyataan.
Kejadian yang mengejutkan itu mendorong Badrina untuk mengikuti terus keduanya, Badrina sampai lupa dengan putri semata wayangnya.
Di sekolah, Cantara sedang mencari keberadaan mamanya sebab jam sekolah telah usai. Namun, Cantara tidak berhasil menemukan Badrina di sekolah.
Dengan rasa yakin, Cantara akhirnya duduk di tempat orang tua biasa menunggu anak. Tidak ada lagi temannya di sana, Cantara seorang diri.
"Belum, Bu."
Kasyanata mengajak Cantara masuk ke ruang guru. Di sana Kasyanata mencoba menghubungi Badrina dan Arshaka, sayangnya ponsel keduanya tidak aktif. Beberapa kali dicoba, hasilnya tetap tidak terhubung.
"Canta, masih ada nomor lainnya?" tanya Kasyanata. Nomor ponsel orang tua Cantara memang tersimpan di sistem data sekolah sebagai kontak darurat, sementara nomor lain tidak ada didaftarkan.
"Ada, Bu Guru. Nomor Oma Nuraini," ungkap Cantara. Bocah itu mengeluarkan sebuah buku tulis yang berisi nomor ponsel keluarganya.
Siswa memang tidak dibenarkan membawa ponsel ke sekolah, menghindari gangguan proses belajar-mengajar. Oleh karena itu, orang tua harus tepat waktu untuk mengantar dan menjemput anaknya.
"Halo, benarkah ini dengan Oma Cantara, Ibu Nuraini?" tanya Kasyanata, sesaat setelah telepon tersambung.
"Benar. Ini siapa?" tanya Nuraini heran.
__ADS_1
"Saya guru Cantara, Kasyanata. Saat ini Canta masih berada di sekolah, Bu. Saya telah beberapa kali menghubungi Pak Arshaka dan Bu Badrina, tetapi tidak terhubung," ungkap sang guru.
Setelah guru menjelaskan lebih detail, barulah Nuraini paham bahwa dirinyalah yang harus menjemput Cantara.
Beragam pertanyaan muncul di dalam benak Nuraini, mungkin nanti akan ditanyakan langsung pada Badrina.
Nuraini gegas ke sekolah untuk menjemput cucunya. Pasti saja cucunya itu khawatir sebab telah lewat hampir satu jam dari waktu keluar sekolah.
Sementara itu, Badrina terlalu fokus dengan pasangan yang ditengoknya bermesraan di restoran tadi.
Ponselnya kehabisan baterai setelah merekam aksi dua sejoli lebih dari setengah jam. Syukur saja ponselnya mampu menyimpan data rekaman dalam ukuran besar.
Saat ini Badrina berada di lobi sebuah hotel, masih membuntuti targetnya. Ia menaiki sebuah taksi dan meminta untuk mengikuti kendaraan yang diketahui Badrina merupakan milik si perempuan.
Melihat keadaan penginapan yang tergolong biasa, cukup mengherankan bagi Badrina.
Pasangan yang tengah di mabuk asmara itu sampai tidak menyadari ada Badrina yang sedang membuntuti. Mereka seperti memakai kacamata kuda, tidak melihat dan menyadari lingkungan sekeliling.
Sang pria sedang merangkul mesra bahu, sebaliknya perempuan menggamit pinggang. Senyum bahagia merekah di paras keduanya.
"Tante Poppy," sapa Badrina dari belakang. Jalan keduanya terhenti berbarengan, mereka saling berpandangan sebelum membalikkan tubuh.
Nuraini telah berjumpa dengan cucunya di sekolah.
"Tadi pagi Canta diantar siapa?" tanya Nuraini di dalam taksi.
"Sama Mama, Oma. Pesan mama, mama menunggu Cantara sampai selesai sekolah," ujar Cantara yang bingung sebab Badrina menghilang begitu saja.
"Mama ke mana ya, Oma? Canta khawatir."
Nuraini mengusap kepala Cantara dan merangkul mendekat ke tubuhnya. "Mungkin mama ada keperluan mendadak, Oma akan temani Canta sampai mama datang, ya."
__ADS_1
Cantara menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan Nuraini.