BAYANGAN MANTAN

BAYANGAN MANTAN
31. Badrina Menjauh - Arshaka Mendekat


__ADS_3

Ini hari kedua Cantara bersekolah. Pagi hari bocah itu sangat semangat pergi ke sekolah barunya. Suasana kemarin masih membekas baik dalam pikirannya.


Badrina terus setia menemani putrinya. Ia melihat dari posisi agak jauh bagaimana Cantara berinteraksi dengan teman-temannya, tidak mengalami kesulitan.


Mungkin saja tidak lama lagi Cantara sudah bisa merasa lebih nyaman di sekolah baru ini, pikir Badrina.


Ponselnya bergetar dalam tas, segera Badrina mengecek. Sebuah pesan singkat masuk, pesan dari Hafez.


[Assalamualaikum Badrina, apa kabar?]


[Waalaikumsalam. Baik Hafez.]


[Alhamdulillah ya. Lagi apa sekarang?]


Badrina tersenyum membaca pesan Hafez, dirinya merasa seperti seorang remaja perempuan yang didekati lawan jenis.


[Lagi nungguin anakku, Cantara, di sekolah baru.]


[Wah... wah... totalitas seorang ibu, ya. Salut pada kamu.]


Badrina tidak kuasa menahan senyum dan tawa kecilnya. Sudah lama rasanya dia tidak disanjung oleh seorang pria. Hatinya menghangat menerima pujian Hafez.


[Terima kasih, Hafez. Apa ada yang bisa dibantu?]


Di seberang sana, Hafez merasa ini kesempatan baginya untuk mengutarakan niatnya berkunjung ke rumah Badrina, sekalian mengenal putri semata wayang perempuan itu.


[Apakah aku boleh berkunjung Sabtu malam ke rumah kamu?]


Badrina tercenung dengan aksi Hafez yang ingin mengunjunginya. Badrina berpikir mempertimbangkan sesuatu, bertepatan dirinya tidak memiliki janji untuk keluar rumah. Tidak ada salahnya bila Badrina menerima tamu di Sabtu malam.


[Ya, tidak apa-apa. Apakah kamu tahu alamat rumahku?]


[Belum, Badrina. Boleh kirimkan aku alamatnya?]


Selesai percakapan mereka melalui pesan singkat, Badrina tidak sungkan segera mengirim alamat lengkapnya pada Hafez. Bersamaan pula jam sekolah Cantara berakhir, dirinya buru-buru bangkit menjemput putrinya.


Di kantor, Arshaka baru saja selesai menghadiri rapat internal. Dia harus melaporkan kegiatan operasional kepada direksi.

__ADS_1


Laporan kegiatannya diapresiasi oleh direksi. Divisi yang dibawahi oleh Arshaka menunjukkan kerja tim yang solid.


Arshaka selalu mampu menunjukkan kinerja tim yang mumpuni. Dirinya telah lima tahun bekerja di perusahaan yang bergerak dalam bidang industri makanan ini. Sebelumnya, ia hanyalah karyawan swasta biasa dengan pendapatan tidak sebesar menjadi seorang menejer.


Maka, tidak heran sewaktu dirinya ditawari kerjasama oleh Poppy delapan tahun lalu, Arshaka terbuai bujuk rayu menyetujuinya, mengingat level finansialnya belum sekuat saat ini.


Namun, dalam perjalanannya Arshaka tidak serta merta menuruti apa yang ditugaskan oleh Poppy, bukan untuk membangkang melainkan menjalani rumah tangganya seperti orang biasa kebanyakan.


Meskipun demikian, perhatian pada Badrina masih tetap irit diberikan olehnya. Ia belum yakin dengan yang namanya cinta setelah seseorang di masa lalu pergi meninggalkannya untuk memilih yang lebih baik dari dirinya.


Rasa gembira menetap lama di hati Arshaka hingga sore hari. Menutup jam kerja, Arshaka bersiul-siul sampai tiba di parkiran.


Sore ini, ia akan mengunjungi Maulidya dan Ameera. Beberapa waktu lamanya Arshaka tidak berkunjung ke apartemen untuk menemui ibu dan anak itu.


Arshaka sekalian ingin menanyakan Maulidya bagaimana Cantara di sekolah barunya. Hari ini Arshaka tidak memiliki rencana untuk kunjungan ke rumah Badrina.


Pintu apartemen terbuka. Maulidya selalu menerima Arshaka dengan senyuman manis di bibirnya.


"Masuk, Mas," ajak Maulidya.


Arshaka masuk lalu duduk di ruang tamu.


"Hm... wangi, sudah mandi Ameera, ya," ucap Arshaka sembari menghirup aroma sampo stroberi Ameera.


"Sudah, Pa. Sampo baru dibelikan mama. Wangiiii banget," timpal Ameera membenarkan perkataan Arshaka.


Maulidya datang membawa nampan berisi segelas air hangat dan cemilan untuk Arshaka. Perempuan itu tahu bila Arshaka berkunjung akan meminta segelas air hangat.


Kebiasaan itu tidak lagi diminta Arsahaka sebab Maulidya telah paham benar apa yang diinginkan Arshaka.


"Diminum dulu, Mas," sela Maulidya sembari duduk di bangku tunggal sebelah sofa Arshaka dan Ameera.


"Terima kasih, Lidya" ujar pria itu.


Arshaka kembali berbincang dengan Ameera. "Tadi di sekolah Ameera gimana? Eeem.... coba papa tebak, sekolah kamu kedatangan murid baru, ya," terka Arshaka merasa seperti paranormal yang mampu menerawang keadaan.


Ameera tampak berusaha mengingat, keningnya mengerut sambil matanya melirik ke atas.

__ADS_1


"Murid barunya perempuan dan sangat cantik," tebak Arshaka selagi Ameera berpikir.


Bibir Ameera mengerucut berusaha keras mengingat kejadian di sekolah hari ini. Namun, ia tidak merasa ada murid baru di sekolahnya.


"Tidak ada teman baru, Pa," ucap Ameera memerhatikan wajah Arshaka.


"Oh, kalau bukan di kelas Ameera, mungkin di kelas lain, ya." Arshaka bersikukuh kalau ada anak baru di sekolah Ameera.


"Iya, Mas. Tidak ada anak baru," sanggah Maulidya, "kalau ada anak baru, biasanya diumumkan di lapangan sewaktu masuk jam sekolah di hadapan siswa dan orang tua yang menunggu," jelas Maulidya membenarkan ucapan putrinya.


Senyuman yang sedari masuk apartemen mengembang di wajah Arshaka perlahan mendatar memudar.


"Kamu yakin?" Arshaka menegakkan tubuhnya, dirinya kelihatan tidak yakin dengan apa yang dikatakan oleh Maulidya dan Ameera.


"Iya, Mas. Seminggu ini tidak ada anak baru, kok. Memangnya siapa yang Mas maksud?" tanya Maulidya penasaran.


"Badrina... dia bilang punya rencana memasukkan Canta ke TK Pelita Kasih Bunda, setelah Canta keluar dari sekolah lamanya," jawab Arshaka kebingungan.


"Apa mungkin belum masuk sekolah, Mas."


"Tidak mungkin." Arshaka menduga-duga sesuatu telah terjadi. Dia menurunkan Ameera dari pangkuannya agar duduk di sebelahnya. "Badrina bilang kemarin sudah masuk dan kini orientasi sekolah. Ini hari kedua Canta bersekolah berarti." Kening Arshaka mengerut, ia mereka-reka Badrina memutuskan sesuatu tanpa berkomunikasi dengannya.


"Oh, begitu," Maulidya juga turut kebingungan dan berpikir. "Mas, mungkin bukan di sekolah Ameera, tapi sekolah lain," terka Maulidya berupaya memberi pandangan lain.


Arshaka mengerjap, dugaannya seperti yang disampaikan Maulidya. Bisa jadi tidak di sekolah TK Pelita Kasih Bunda.


Namun, yang menjadi bahan pertanyaan bagi Arshaka mengapa Badrina harus memindahkan Cantara lagi, sampai-sampai tidak memberitahu dirinya sebagai ayah Cantara.


"Aku pergi dulu ya, Lidya. Ameera, Papa pergi dulu ya, ada keperluan mendadak," tukas Arshaka segera berdiri.


Ameera hanya diam melihat Arshaka bergerak cepat ke arah pintu.


"Mas, airnya dimi --." Arshaka telah hilang dengan tertutupnya pintu apartemen.


Rasa penasaran membuat Arshaka segera mengendarai mobilnya menuju rumah Badrina. Ia perlu mendengar penjelasan dari Badrina yang secara sepihak mengambil keputusan untuk memindahkan kembali Cantara ke sekolah lain yang dirinya tidak tahu di mana.


Selain rasa bingung, Arshaka merasa kurang dihargai sebagai ayah dari Cantara. Gertakan Arshaka tempo hari sepertinya tidak membuat Badrina memahami posisinya yang lemah, pria itu bisa mengancam hak asuh anak mereka lagi karena keputusan sepihak Badrina yang tidak bijaksana.

__ADS_1


Bagi Arshaka, dirinya masih menafkahi Cantara dengan baik, maka telah seharusnya ia dilibatkan dalam keputusan pendidikan Cantara. Tangan Arshaka mencengkram kemudi dengan erat. Tidak sabar rasanya ia ingin berhadapan dengan Badrina.


__ADS_2