BAYANGAN MANTAN

BAYANGAN MANTAN
16. Diskusi Berakhir Cekcok


__ADS_3

Badrina menggandeng Cantara menuju parkiran kendaraan bermotor, sementara Arshaka terlihat berjalan seperti pengawal di belakang Badrina. Ia harus memastikan Badrina tidak akan lari menggunakan kendaraan lain.


Arshaka mengendarai mobil dengan kecepatan sedang menuju rumah Badrina. Tercipta suasana hening, Badrina tengah memeluk Cantara, mereka berdua duduk di bangku belakang. Sesekali Arshaka melirik kaca spion dalam bukan saja untuk memastikan kendaraan dari belakang, tetapi juga mengintip ekspresi Badrina.


Sesampai di rumah, Badrina mengajak Cantara masuk. Di ruang tamu Nuraini telah menanti kedatangan mereka. Badrina menyapa dan memberi salam pada mantan mertuanya. Ia berpamitan untuk masuk ke dalam, sementara Cantara tinggal di ruang tamu.


Cantara memeluk oma kesayangannya. Tidak ada lagi wajah sedih seperti di sekolah tadi, Nuraini begitu mahir untuk membuat hati Cantara gembira.


Di sekolah tadi, sewaktu Badrina menjemput Cantara ke ruang guru, Arshaka menelepon mamanya menceritakan sesingkat mungkin kejadian yang menimpa Cantara. Arshaka meminta kedatangan Nuraini untuk membantu Cantara menyalurkan rasa sedihnya.


Cantara diajak pengasuh untuk mengganti pakaian di kamarnya. Pada kesempatan itu, Arshaka menceritakan kejadian di sekolah termasuk insiden Badrina dengan mama Parama.


"Mama bisa mewajari Badrina yang tidak terima Cantara dibuat menangis oleh orang lain. Namun, Parama juga seorang anak kecil yang tidak mengetahui bahwa perkataannya itu menyakiti Cantara," ujar Nuraini.


"Iya Ma, sudah kejadian juga. Aku mau temui Badrina dulu ya, Ma. Aku minta tolong Mama untuk mengajak Canta bermain biar sedihnya tersalurkan," pinta Arshaka.


Nuraini mengelus bahu putranya memberi kekuatan, tidak lupa ia meminta agar Badrina tidak dikasari sebab perempuan itu pasti akan memberikan perlawanan.


Arshaka masuk ke dalam kamar. Ini kamar mereka dulu, tidak banyak yang berubah. Hanya cat kamarnya saja yang diubah. Badrina tidak mengunci pintu, Arshaka bisa leluasa masuk.


Badrina keluar dari kamar kecil. Ia telah membersihkan tubuhnya dari jejak pertengkaran tadi di sekolah Cantara. Badrina ingin berganti pakaian, ia melihat Arshaka duduk di kursi riasnya membelakangi meja, menyilangkan kaki.


"Keluar! Aku mau berganti pakaian," usir Badrina. Arshaka bergeming menatap Badrina, "kamu ngga dengar?" tanya Badrina melotot.


"Aku ingin bahas persoalan tadi. Apa yang ada di dalam pikiran kamu, sampai-sampai kamu adu fisik dengan perempuan tadi?" tanya Arshaka sembari berdiri menghampiri Badrina.


"Aku tidak mau Canta direndahkan dan dibuat nangis oleh orang lain," ujar Badrina mengalihkan pandangan ke tempat lain, "hatiku sakit," tambahnya.

__ADS_1


"Berarti ini semua persoalan kamu. Bukan murni Cantara?" tanya Arshaka.


"Maksud kamu?" Badrina menatap mantan suaminya meminta penjelasan.


"Iya, ini tentang hati kamu yang sakit, pengalaman kamu disakiti. Lalu terlampiaskan pada kejadian Cantara ini," terang Arshaka mengambil posisi duduk di tepi ranjang.


"Sok tahu!" Badrina ketus menjawab. Perempuan itu berjalan menuju meja riasnya, membuka handuk yang melilit rambutnya, menaruh di kursi sebelah.


"Aku pernah baca sebuah buku, pengalaman buruk di masa lalu bisa terbawa dan berefek hingga dewasa. Ya, seperti emosi yang tidak stabil, terlalu kompetitif, terus--"


"Stop! Kamu mau ikut menyudutkanku," Badrina tidak terima penilaian Arshaka.


"Ck, cobalah membahas sesuatu dengan hati yang tenang. Apa harus selalu marah-marah, bila pendapat orang lain bertentangan dengan pikiran kamu?" Arshaka yang masih duduk menegur Badrina dengan tenang.


Badrina kembali menatap cermin di depannya. Ia perlu menjaga kesabaran bila berhadapan dengan Arshaka. Pria itu pandai bicara dan memiliki sudut pandang yang luas. Badrina mengambil botol body lotion, mengoleskan ke tangannya perlahan. Kegiatannya tidak luput dari pengamatan Arshaka.


"Aku mengalami fobia ke psikiater, emosi ke psikiater, kamu pikir aku tidak waras? Kamu saja yang ke sana," ketus Badrina sembari mengoleskan body lotion itu ke arah kakinya. Badrina mengangkat sedikit jubah mandinya agar merata.


"Bisa jadi," igau Arshaka yang langsung saat itu juga diralatnya. Arshaka mulai tidak fokus dengan topik pembicaraan mereka melihat aktivitas Badrina.


Seketika Badrina menghampiri Arshaka seraya berkacak pinggang, "Mengapa suka sekali menyakiti perasaanku? Aku mulai paham mengapa seringkali kamu mengusulkan aku bertemu psikiater, supaya tegak diagnosa bahwa aku mengalami gangguan jiwa. Begitu 'kan?" Perasaan Badrina begitu sensitif hari ini. Kesalahan kata Arshaka seolah tidak termaafkan.


"Rina, tadi aku telah meralatnya. Aku tidak sadar menyebutnya," Arshaka berdiri mencoba meraih kedua lengan Badrina.


"Keluar!" Badrina berteriak.


Arshaka terkesiap, mengusap wajahnya. Kesalahpahaman ini bisa berlangsung lama bila tidak segera dituntaskan.

__ADS_1


"Rina...." Arshaka berhasil meraih kedua lengan Badrina. Perempuan itu berusaha melepaskan diri dengan mendorong Arshaka kuat-kuatĀ  sehingga terjadi tarik-menarik.


Arshaka yang terapit antara ranjang dan Badrina tidak memiliki keseimbangan tubuh yang baik, ditambah Badrina mendorongnya agar perempuan itu bisa lepas.


Arshaka dan Badrina berakhir mendarat di ranjang. Badrina masih saja sibuk untuk melepaskan diri, ia bahkan memukuli Arshaka melampiaskan rasa kesalnya. Arshaka berusaha mengelak, ia menghentikan kebringasan Badrina dengan menangkap tangannya.


Badrina tidak tinggal diam, ia menduduki tubuh tengah Arshaka dan terus berusaha melepaskan sebelah tangannya dan memukuli Arshaka dengan tangan yang lain.


Perempuan itu berusaha menggigit tangan Arshaka yang mencengkeram pergelangan tangannya. Gerakan Badrina benar-benar acak dalam melampiaskan rasa marah yang tadi gagal.


"Rina...," erang Arshaka. Pria itu tidak bisa hanya terus mengelak, ia harus bertindak tegas menghentikan gerakan membabi buta mantan istrinya itu.


Arshaka menangkis dan menangkap kedua tangan Badrina, lalu membalik posisi mereka. Arshaka menekan tangan Badrina ke ranjang meskipun perempuan itu masih saja terus mengamuk, "Rina!" Teriakan itu tidak berarti apa-apa, Badrina menggerakkan dan mengangkat kepala dan kakinya agar bisa terlepas.


"Rina! Sadar!" Arshaka berteriak kembali di depan wajah Badrina.


Gerakan Badrina terhenti, nafas mereka bersahut-sahutan. Keduanya saling menatap tajam dengan tubuh kelelahan. Arshaka masih dalam posisinya. Ia tidak mau saja Badrina mengamuk kembali bila dilepaskan.


Pintu kamar terbuka lebar, Nuraini masuk dengan mata membelalak, setelah mendengar teriakan Arshaka yang nyaring. Tidak ada ketukan di pintu. Nuraini sempat mengira Badrina melakukan hal-hal yang membahayakan dirinya sendiri.


Pengasuh diminta untuk mengevakuasi Cantara ke taman agar anak itu tidak melihat mamanya yang mungkin saja terkulai entah itu kehabisan nafas atau darah.


Ternyata, ia melihat Badrina terkulai dalam posisi bertaut dengan Arshaka, "Apa yang kalian lakukan!" Kini Nuraini yang menjerit, ia menyentuh kedua sisi pipinya. Nuraini melihat bagaimana jubah mandi Badrina telah tersingkap dan awut-awutan.


Keduanya memandang bersamaan ke arah Nuraini yang berteriak kencang. Kemudian beralih saling menatap. Badrina berteriak melihat kondisi dan posisinya, dapat dikatakan tidak layak sebab mereka bukan lagi suami istri.


"Mama tunggu kalian berdua di bawah! Sekarang!" Suara Nuraini menggelegar.

__ADS_1


__ADS_2