BAYANGAN MANTAN

BAYANGAN MANTAN
28. Langkah Berani Arshaka


__ADS_3

Pagi ini Cantara diantar oleh Badrina ke sekolah barunya. Kecanggungan meliputi perasaan bocah perempuan itu. Badrina hanya diizinkan untuk menunggui anaknya dari luar kelas dekat pintu masuk agar tidak mengganggu kegiatan belajar-mengajar.


Sekolah memberlakukan orientasi pada tiap anak baru yang masuk di pertengahan ajaran, dimaksudkan agar kegiatan bersekolah bukan karena paksaan atau kewajiban, melainkan kerelaan diri anak sendiri.


Sesekali Cantara melirik ke luar ruang kelas, memastikan Badrina masih berada di sana. Badrina selalu mengembangkan senyum pada anaknya sebagai tanda dukungan.


Kini di kelas, anak-anak sedang mendengarkan sebuah cerita fabel dari guru. Cantara suka sekali dengan aktivitas ini, sebab di rumah ia telah memiliki kebiasaan dibacakan buku baik oleh Arshaka maupun Badrina.


Cantara memiliki fokus yang baik, sewaktu tanya jawab tentang kisah 'Si Monyet dan Ayam', ia turut menjawab pertanyaan dari guru tanpa ragu.


Seorang anak perempuan dalam grup duduknya berbisik pada Cantara, "Kamu pintar sekali," sambil tersenyum.


Cantara membalas senyum temannya yang bernama Nada Syiar. "Terima kasih," sahutnya membalas dengan senyuman pula.


"Boleh aku berteman dengan kamu," bisik Nada.


"Tentu saja, aku senang berteman," sambut Cantara mengulurkan tangannya.


Mereka bersalaman. Hari pertama sekolah bagi Cantara menjadi hari yang indah. Teman-teman dan guru ramah padanya.


Sewaktu pulang sekolah, Badrina menggandeng tangan anaknya menuju taksi yang telah dipesannya. "Gimana sekolah di hari pertama, Canta suka tidak?" tanya Badrina setelah mereka duduk di dalam taksi.


"Canta suka dan senang, Mama," katanya menekankan perasaannya sambil memeluk Badrina "Terima kasih Mama pilih sekolah yang Canta suka," tambahnya lagi mendongak melihat Badrina.


Badrina mengusap kepala putrinya. Sekarang mereka dalam perjalanan pulang ke rumah.


Di kantor, saat jam makan siang Arshaka duduk bersama Danish di ruangan khusus manajemen untuk beristirahat. "Lo ngapain ke rumah Rina?" tanya Arshaka pada Danish, duduk mereka saling hadap-hadapan.


Danish yang tengah menikmati makan siangnya mengangkat kepala, menatap Arshaka lalu tersenyum. "Tercium aroma kecemburuan seorang mantan," ucap Danish setelahnya tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


"Ck... suara lo! Bukan cemburu, gue pas lihat lo keluar dari pekarangan rumah Rina. Tinggal jawab aja," sahut Arshaka melirik sekeliling di sekitar meja mereka.


"Berkata tidak cemburu di mulut, dalam hati siapa tahu?" Danish kembali tergelak. Sejak bercerai, Arshaka kerap menjadi bulan-bulanan Danish. Temannya itu menilai tindakannya menalak Badrina terlalu prematur, belum cukup matang untuk dilontarkan.


"Lo tinggal jawab aja." Arshaka tersinggung dengan jawaban Danish. Ia merapikan kembali perlengkapan makannya berniat meninggalkan Danish.


"Ah, lo jangan ngambek gitu dong." Telunjuk Danish mencolek dagu Arshaka.


"Apa-apaan lo, lama-lama takut gue sama lo! Jangan sampai ada berita skandal di kantor," seru Arshaka sembari menggosok-gosok bekas colekan Danish di dagunya.


Danish masih tergelak, beberapa orang memperhatikan mereka, meskipun hanya melirik karena tidak berniat ikut campur masalah kedua manajer itu.


"Gue ke rumah Aini buat anterin buku baru. Gue lagi mempraktekkan hidup berkesadaran, Aini tertarik agar mulai bisa mendalami dirinya sendiri," jelas Danish. Arshaka tertarik mendengarnya topik 'hidup berkesadaran'.


"Hah? Hidup berkesadaran? Lo sadar tidak, sudah menyolek pria lain? Gaya-gayaan mau praktek hidup berkesadaran," sindir Arshaka. Ia tidak jadi beranjak dari bangkunya.


"Oh, Shaka... hidup jangan terlalu keras dan serius, bro, sesekali butuh canda tawa," ujar Danish meledek Arshaka. "Gimana perkembangan rujuk, lo? Gue ngga tanya ke Aini," tanya Danish. Sedikit banyak Danish mengetahui isu mengenai hubungan Arshaka dan Badrina paska perceraian.


"Ck... turut prihatin gue. Lo itu sadar belakangan," ejek Danish, "beranilah menanggung akibatnya," sambung Danish lagi.


"Tapi, ini masalahnya bakal lebih rumit lagi. Gue kasihan sama Badrina, dia dimanfaatkan," sesal Arshaka.


"Termasuk lo juga 'kan, turut memanfaatkan Badrina." Kali ini Danish menunjuk Arshaka dengan wajah serius.


Arshaka diam saja, tuduhan itu ada benarnya. Itulah yang menyebabkan rasa bersalah di dalam dirinya. Bagaimana cara agar ia dapat memperbaiki semuanya tanpa Badrina mengetahui kejadian di masa lalu? Arshaka dilema dibuatnya.


Sore hari sehabis pulang kerja, Arshaka melajukan mobilnya menuju kediaman Poppy. Ia berniat untuk meminta penjelasan. Kecepatan sedang mobilnya membawa Arshaka tiba di depan pintu gerbang tinggi kediaman Poppy.


Pintu gerbang tertutup rapat, seorang sekuriti mendatangi Arshaka menanyakan keperluannya. Arshaka menyampaikan keinginan untuk menemui Poppy.

__ADS_1


Sekuriti menghubungi ke dalam rumah melalui telepon, apakah tuan rumah bersedia menemui Arshaka.


Arshaka diperkenankan masuk. Untuk sampai ke rumah Poppy perlu melewati pekarangan yang luas. Arshaka memarkirkan mobilnya bersebelahan dengan beberapa kendaraan mewah lainnya.


Poppy seorang pengusaha besar, ia dikenal sebagai anggota ibu-ibu sosialita. Sebaliknya, tidak demikian dengan gaya hidup Badrina yang sederhana.


Arshaka dipersilakan masuk oleh seorang pelayan yang tampaknya baru melayani keluarga Poppy. Sudah beberapa tahun Arshaka tidak pernah lagi datang berkunjung ke rumah mewah ini.


Ia tidak mengenal pelayan yang menyambutnya tadi. Kalaupun Badrina datang, tanpa dirinya ikut, yang dibawa serta adalah Cantara. Namun, itupun sesekali saja.


Masa kecil Badrina dihabiskan di rumah ini bersama dengan Poppy dan anak perempuannya bernama Monera Latifah, lebih tua beberapa tahun dari Badrina, seusia Arshaka.


Arshaka mengamati sekeliling ruang tamu. Banyak berjejer foto Poppy dan putrinya, tidak satupun ada gambar Badrina terpajang.


"Selamat datang, Arshaka," sambut Poppy dari tangga rumah sambil berjalan, "lama sekali tidak mengunjungi tante. Apa yang membuat seorang Arshaka datang kemari?" tanya Poppy, sebenarnya ia telah tahu maksud kedatangan Arshaka ke rumahnya.


Poppy berdiri mendekat, posisinya hanya beberapa langkah di hadapan Arshaka, "Bukan ingin menjumpai Monera Latifah, bukan? Monera masih di Swiss." Poppy tergelak mendengar suaranya sendiri.


"Hh... lama sekali ya kalian tidak berkumpul bersama... Monera, Arshaka, Elmira, dan... Maulidya, juga Zafer, tapi sayang Zafer telah berpulang," kenang Poppy.


Arshaka membiarkan Poppy melanjutkan monolognya walaupun terdengar tidak berguna bagi pria itu. Bukan untuk mengenang masa lalu ia datang ke rumah ini.


"Oh... tante terlalu banyak bicara. Katakan, apa yang membawa mantan menantu tampan tante datang kemari?" tanya Poppy mendudukkan diri di sofa sambil bersidekap tanpa menyilakan Arshaka bergabung dengannya.


"Aku datang ke sini bukan untuk mengenang masa lalu, Tante," jelas Arshaka datar.


"Lantas?" tanya Poppy tersenyum miring.


Arshaka memberanikan diri bertanya, "Apa maksud Tante mengenalkan Rina dengan Hafez Irsyad, aku yakin tante tahu siapa pria itu, liar dan tidak beradab?" sembur Arshaka dengan tuduhan keji.

__ADS_1


Poppy tertawa keras membahana di seisi rumah. Perempuan itu berdiri, mengarahkan sorot mata tajam pada Arshaka, "Setelah bertahun-tahun lamanya, tugasmu tidak beres, Shaka. Hafezlah yang melanjutkan!" geram Poppy dengan kilat amarah sambil menunjuk-nunjuk Arshaka.


__ADS_2