
"Kabar Canta baik, sekarang sama mama di rumah kamu. Hari ini tidak masuk sekolah, pikirannya kalut karena kamu masuk rumah sakit," jelas Arshaka.
Badrina merasa sedih mendengar penuturan Arshaka. Perempuan itu merasa tidak berhasil menjaga kesehatannya sendiri sampai putrinya harus menanggung rasa khawatir seperti saat ini.
"Canta pasti terkejut sekali mendapati aku pingsan di rumah," timpal Badrina dengan mata berkaca-kaca.
"Ya, begitulah...," sahut Arshaka.
Pria itu berdehem. "Tadi Canta protes padaku sebab jarang pulang. Ia memintaku untuk datang setiap hari," imbuhnya sembari melirik ekspresi wajah Hafez.
Badrina tertegun mendengar penuturan Arshaka, begitu juga dengan Hafez yang menatap sirat khawatir di raut wajah mama Cantara. Hanya Arshakalah yang merasa penuturannya perlu didengar oleh Badrina.
Saat perempuan itu ingin merespon, seseorang menyela waktu mereka.
"Dengan Ibu Badrina Aini," sapa seorang perawat perempuan saat memasuki ruang rawat. Arshaka yang menyahut, "Di sini, Suster."
"Ibu Badrina, hari ini kita akan pindah ruangan. Tadi suami ibu mengurus administrasi kepindahan," terang perawat muda itu.
Belum sempat Badrina meluruskan kesalahsebutan status Arshaka sebagai suaminya, pria itu lebih dahulu memberi respon, "Ya, Suster. Pasien telah siap untuk pindah."
Perawat yang terdiri dari tiga orang itu menarik brankar pasien menuju ruangan VIP yang dimaksud. Seorang perawat lainnya membantu Arshaka mengangkut barang milik Badrina.
Saat Hafez menawarkan diri untuk membantu, papa Cantara menolak. "Saya saja, tidak perlu repot-repot," ucapnya. Alhasil, Hafez mengekor ke ruangan VIP dengan tangan kosong.
Pasien di ruangan VIP hanya Badrina seorang. Ruangan dilengkapi dengan sofa panjang dan meja, lemari pendingin mini, televisi, water dispenser, kamar mandi dengan air panas dan dingin, serta difasilitasi makanan untuk penunggu pasien. Sungguh nyaman bagi pasien dan keluarga yang menunggu.
__ADS_1
Badrina mengamati sekeliling ruangan. Pasti ruangan ini mahal, pikir Badrina sewaktu telah pindah ke ranjang pasien VIP.
"Jangan berpikir terlalu berat, tidak baik untuk kesehatan kamu," tegur Arshaka sembari menyimpan perlengkapan pribadi Badrina ke lemari. Meskipun tangannya bekerja, ternyata Arshaka memperhatikan gerak-gerik dan ekspresi mantan istrinya.
"Aku sudah bilang, tidak perlu dirawat di ruangan VIP," protes Badrina saat itu juga.
Arshaka berdecak. "Tidak perlu dibahas lagi. Kamu ibu dari anakku, kesehatanmu sangat penting karena Cantara membutuhkan kamu. Kalau dirawat di ruangan ini kamu akan lebih nyaman, jadi cepat pulang ke rumah" jelasnya.
"Kalau ada yang menaruh perhatian sama kamu, seharusnya orang itu mengerti dan menawarkan hal ini. Bukan hanya diam," ucap Arshaka melirik seseorang yang sedari tadi hanya berdiri membisu.
Mendengar ucapan Arshaka, Hafez terlihat gelisah. Tidak lama kemudian, "E... Rina, aku rasa kamu butuh istirahat. Em... aku pamit dulu ya. Besok aku akan datang lagi mengunjungi kamu," ucapnya menyela percakapan antara Badrina dan mantan suaminya.
Badrina seolah-olah tersadar, ada orang lain bersama dirinya. "Ooh... terima kasih Hafez sudah datang mengunjungi aku," ujar Badrina tulus.
Hafez mengangguk dan menanggapi dengan senyum lalu meninggalkan ruang rawat Badrina. Ia tidak mau repot-repot berpamitan dengan Arshaka, melengos begitu saja melewati Arshaka.
Badrina memutar bola matanya, ingin rasanya ia meladeni mantan suaminya yang sebenarnya juga tidak punya sopan santun. Namun, Badrina tidak cukup energi untuk memberi argumentasi.
"Seperti itu tipe manusia yang sesuai selera kamu." Sindiran Arshaka sontak membuat bola mata Badrina membelalak. "Pilihlah calon suami yang berakhlak, kalau tidak lebih baik dari aku buat apa," imbuhnya sembari mengeluarkan buah dari tas jinjing ramah lingkungan.
Badrina menyorot Arshaka tajam. "Aku mengulang-ulangi ini untuk kebaikan kamu dan Canta." Ia menyimpan tas jinjing ke laci lemari setelah melipatnya asal. Tidak mendengar respon dari Badrina, pria itu menoleh, tatapan mereka saling mengunci. Arshaka paham jenis tatapan yang dilepas oleh mantan istrinya bukan semacam keterpesonaan, melainkan sebaliknya.
"Mengapa menatap aku seperti itu? Apa ada yang salah dariku? Aku hanya... memberitahukan fakta," ujarnya mengendikkan bahu, tidak ada koreksi dari kalimat itu.
Nafas Badrina memburu. "Bisa tidak ya... sekali berjumpa kamu, hidup aku tetap damai. Tidak perlu mendengar ucapan kamu yang selalu merendahkan aku...." Arshaka menjadi gelisah dan salah tingkah di tempat. "Selalu mengomentari hidup aku seperti seorang haters," geram Badrina, terdengar sesekali gemertak giginya.
__ADS_1
"Kenapa... kamu menyesal menalak aku? Mulai mencintai aku? Sebegitu kuat pesonaku, heh?" Badrina mendongak dengan sikap menantang mengungkapkan kekesalan yang tersimpan di hatinya.
Pertanyaan Badrina sangat menganggu hati Arshaka. "Jangan sembarangan kamu. Kepedean," tegurnya.
"Lantas, buat apa ini semua? Dirawat di kelas III bahkan non kelas juga bakal sembuh," sanggah Badrina. "Tapi... fasilitas ini tidak berpengaruh apapun terhadap perasaan aku." Badrina membuang pandangannya saat Arshaka menatap maniknya.
"Tidak perlu aku ulang-ulang alasannya, 'kan. Fokus saja untuk sembuh, masalah biaya tidak perlu dipikirkan, aku melakukan ini semua untuk Cantara," ungkap Arshaka mulai tersulut emosi.
Badrina cepat mengalihkan kembali tatapannya ke arah Arshaka. Cukup kesal perempuan itu mendengar penuturan dari mantan suami, ternyata tidak lain alasannya adalah Cantara.
Ya, begitulah sewajarnya, apalagi yang diharapkan Badrina.
Saat rasa berkecamuk dalam dadanya, tiba-tiba seseorang menyelonong masuk, melontarkan suara marah dari arah pintu.
"Kamu... ngapain lagi datang mengusik hidup keponakan saya, hah!?" amuk Poppy pada Arshaka. "Badrina bukan siapa-siapa kamu lagi, tidak perlu sok perhatian dengan memberi Badrina fasilitas VIP," cercanya sambil menunjuk-nunjuk Arshaka.
Arshaka tertawa sumbang. Gemuruh emosi yang dipantik Badrina tadi malah mencuat dalam dadanya. "Rina itu masih ibu dari anak saya, kalau Tante lupa," sahutnya. "Kalau soal kamar VIP, saya mampu dan mau. Badrina punya tante yang kaya-raya, tapi tidak berbuat apa-apa soalnya," sindir Arshaka dengan tenang.
"Ooh... apa jangan-jangan kekayaan itu masih hak orang lain?" Kembali terdengar tawa sumbang Arshaka.
Poppy maju, melesakkan pukulan bertubi-tubi ke arah tubuh Arshaka. "Menyesal saya mengizinkan kamu menikah dengan Badrina," serangnya. Pria itu termundur hingga ke ranjang Badrina, ia tidak melawan mengingat Poppy bukan lawan yang seimbang.
"Tante... sudah... jangan pukuli Shaka lagi," pinta Badrina berusaha melerai dari tempat tidur. Ia sangat kepayahan melerai tantenya dan Arshaka. Hafez yang sedari tadi diam baru kemudian berusaha membantu setelah melihat kondisi tidak kondusif lagi.
"Tante... sudah... jangan bikin keributan," ujar Hafez menarik tubuh Poppy menjauh dari Arshaka. Poppy meronta tetap melayangkan pukulan bahkan tendangan ke arah Arshaka.
__ADS_1
Bila Poppy bukan perempuan dengan usia memasuki pertengahan abad, sudah dipastikan Arshaka akan memberikan perlawanan.
Tanpa sadar Badrina memeluk tubuh Arshaka dari belakang seakan-akan memberi perlindungan. Papa Cantara juga tidak sadar hingga begitu akan berdiri dari posisi terduduk, Arshaka melihat tangan Badrina yang melingkar di perutnya, mengeluarkan darah segar dari pangkal selang infus dan mengenai pakaian putihnya.