BAYANGAN MANTAN

BAYANGAN MANTAN
57. Masa Kini vs Masa Lalu


__ADS_3

Badrina memutus kebekuan diantara mereka. Kali ini ia tidak akan lari seperti tempo hari sewaktu mendengar bahwa Arshaka pernah bekerja sama dengan Poppy untuk merusak mentalnya.


Arshaka berusaha melepaskan lengan dari Maulidya yang mengencangkan belitan tangannya. Tatapannya masih tertuju pada Badrina.


Kenyataan bahwa Arshaka pernah bekerja sama dengan Poppy untuk merusak mental sudah menyakitkan bagi Badrina, ditambah lagi dengan penampakan saat ini. Tidak mengapa kesempatan ini digunakan Badrina untuk meyakinkan diri tentang siapa sebenarnya Arshaka dan perbuatannya.


Badrina berusaha mencoba tegar menyaksikan drama pelukan diantara perempuan dan laki-laki yang entah apa status mereka kini.


"Lama aku tidak datang ke apartemen ini," ucap Badrina lirih dan dingin disertai senyum terpaksa. "Ternyata ada yang sedang memadu kasih. Apa aku tidak diperkenankan masuk?" kekehnya menyindir Arshaka dan Maulidya.


Tawa kecil Badrina terasa mencemooh Arshaka. Arshaka terus berusaha untuk melepaskan cengkraman Maulidya di lengannya. Maulidya sengaja makin mempererat pelukannya pada lengan Arshaka.


Sentakan kasar terpaksa dilakukan Arshaka untuk mengurai jarak dengan Maulidya. Perempuan itu terdorong ke samping beberapa langkah.


Saat itulah Badrina melihat seorang anak perempuan seusia putrinya dengan wajah kebingungan di belakang badan Arshaka.


Tanpa dipersilakan masuk, Badrina melangkahkan kakinya menuju bocah kecil itu.


"Hai, nama kamu siapa?" Badrina berlutut menyamakan tinggi tubuh mereka, melambaikan tangan ramah.


"Aku... aku... Ameera, Tante," cicitnya. Ameera bukan anak yang penakut, berbeda dengan Cantara yang sulit akrab dengan orang baru.


Badrina menganggukkan kepalanya, ia tersenyum tulus. Aneera mengingatkannya pada Cantara yang sudah beberapa hari ini tidak ditemui dan disapa olehnya.


"Siapa pria yang dipeluk mama kamu itu?" tanya Badrina penasaran, ia ingin tahu Ameera mengenal Arshaka atau tidak. Dari sana setidaknya Badrina mengetahui kedekatan mereka bertiga.


"Itu?" tunjuk Ameera ke belakang tubuh Badrina. Perempuan itu mengangguk lagi.


"Papaku. Namanya papa Shaka," jawab Ameera riang.


Senyuman di paras Badrina memudar berubah memucat. Ameera menyebut Arshaka sebagai papanya tanpa ragu.


Hati Badrina mencelos seakan-akan ditimpuk beban besar. Banyak kebohongan yang disimpan rapi oleh Arshaka selama bertahun-tahun.


"Kamu ke dalam kamar dulu ya. Papa, mama, dan tante ingin bicara bertiga. Jangan keluar," perintah Badrina mengelus lengan Ameera, bahkan Badrina membalikkan tubuh Ameera agar bocah itu tidak bertanya-tanya.


Melihat Ameera telah masuk dan mengunci kamarnya, Badrina berdiri, menarik nafas dalam, membalik tubuh lalu memandang penuh kesakitan pada dua manusia di hadapannya.


Apa sebenarnya yang terjadi selama ini yang tidak Badrina ketahui? Bergetar tarikan nafas Badrina.

__ADS_1


"Kamu siapanya Arshaka?" tanya Badrina tenang menoleh pada Maulidya.


"Saya Lidya. Kekasih Arshaka," ucap Maulidya tegas, menaikkan dagunya sedikit sembari bersidekap.


"Lidya!" tegur Arshaka. "Jangan menebar kebohongan." Arshaka tidak terima, menoleh marah kepada Maulidya.


"Mas, sudahi dengan perempuan ini. Kamu tidak cocok dengannya. Buktinya selama lima tahun ini kamu selalu datang kemari dan menceritakan bagaimana istri kamu yang sukanya marah-marah dan membentak kasar. Aku yang selalu ada buat kamu, Mas," beber Maulidya tanpa perasaan segan.


Julukan perempuan lembut dan sopan pupus begitu saja saat Arshaka mendengar pernyataan dari Maulidya.


Benar Arshaka bercerita, hanya saja seingatnya satu kali dia menceritakan Badrina pada Maulidya. Arshaka merasa Maulidya menarik kesimpulan sendiri karena Arshaka kerap menyambangi apartemen.


Satu topik dibahas mulut perempuan bisa melebar raya, rutuk Arshaka menyesal.


Badrina semakin sedih mendengar penuturan Maulidya. Tangannya terkepal di belakang tubuhnya. Badrina mengamini apa yang dikatakan Maulidya, dia pemarah dan kasar. Namun, itu dulu sebab rupanya ada usaha untuk merusak mentalnya perlahan-lahan tanpa dukungan dari orang terdekatnya.


"Rina, kamu jangan terpancing apa yang dikatakan oleh Lidya. Sekarang, aku sungguh-sungguh ingin kembali padamu," ucap Arshaka berusaha meyakinkan Badrina.


Memandang keseriusan yang ditampakkan oleh Arshaka membuat batin Badrina dilema. Pria yang begitu dikasihinya, tetapi tidak pernah mencintainya selama pernikahan mereka.


Baru setelah bercerai, Arshaka mengungkap perasaannya. Apakah itu bisa dipercaya? tanya Badrina pada dirinya sendiri.


"Lima tahun," jawab Maulidya cepat.


"Lima tahun?" tanya Badrina pada Maulidya. "Kamu tinggal di sini selama lima tahun?" Kenyataan ini sangat menyakiti Badrina lebih dalam lagi.


"Ya, lima tahun, mas Shaka memberikannya pada kami," ucapnya. Namun, faktanya itu adalah kebohongan.


Setiap Maulidya berbicara, Arshaka selalu berusaha menyela dan meminta Badrina untuk tidak percaya. Sayangnya, Badrina tertarik dan percaya pada apa yang dikatakan oleh Maulidya.


"Mas? Mas Shaka?" Badrina terkekeh panjang. Panggilan manis yang tidak pernah diucap oleh Badrina selama menjadi istri.


Badrina sering memanggil nama saja atau sapaan biasa pada Arshaka. Namun, ternyata ada perempuan di luar rumah tangga mereka yang memperlakukan dan memanggil Arshaka dengan manis.


Tatapan Badrina beralih pada Arshaka.


"Apartemen ini hasil pencarian kita berdua. Setelah bercerai, aku pikir kamu memberi rumah padaku dan apartemen ini kamu tinggali selain rumah mama," ucap Badrina dengan sorot kecewa mendalam.


"Ternyata... kamu memberikan untuk perempuan lain." Badrina tersenyum kecut.

__ADS_1


"Rina... beri aku kesempatan menjelaskan," mohon Arshaka. "Apa yang kamu dengar semua tidak benar. Apartemen ini masih atas namaku. Bila kamu menginginkan sekarang juga, aku akan balik nama apartemen ini biar atas nama kamu," sambun Arshaka berusaha meyakinkan Badrina.


"Rina, kali ini tolong percayalah padaku." Arshaka sampai melipat tangannya di dada, ia tidak ingin kehilangan Badrina lagi.


"Arshaka masih mencintai aku," ujar Maulidya menyela pembicaraan mantan suami istri itu. "Sampai kamu hadir dan merusak semuanya!" tunjuk Maulidya pada Badrina.


Kening Arshaka mengernyit dan menggelengkan kepala, ia tidak habis pikir betapa jahatnya Maulidya bila sesuatu tidak seturut keinginannya.


Permainan apa yang dilakoni Maulidya kini? tanya Arshaka dalam hati.


Badrina kembali tertohok dengan tuduhan Maulidya. Delapan tahun lalu, bukan dirinya yang meminta untuk dinikahi, melainkan Arshaka yang datang menawarkan pernikahan.


Arshaka bergerak menuju Badrina, dilihatnya wajah sendu penuh luka dengan mata berkaca-kaca. "Jangan percaya apa yang dikatakannya. Dia sedang berusaha menyakiti kamu." Arshaka meraih jemari Badrina, menggenggamnya sambil berusaha menarik keluar dari apartemen.


Air mata jatuh tak tertahankan, Badrina mengawai jemari yang digenggam Arshaka.


Tepat saat Arshaka membalik tubuhnya untuk melihat Badrina, melayang tamparan keras di wajahnya.


"Kamu pembohong, Shaka!" jerit Badrina sembari menunjuk-nunjuk wajah Arshaka. Derai air mata membasahi pipi Badrina.


Pipi Arshaka memerah dan memanas. Ia menyentuh pipinya tanpa mengeluarkan suara. Arshaka merasa pantas mendapatkannya, bahkan lebih dari hukuman ini Arshaka siap menerima.


"Kamu pelihara perempuan lain di apartemen yang kita beli bersama."


Badrina tidak akan menahan-nahan ucapannya lagi. "Sementara aku, kamu abaikan sebagai istri di masa lalu. Jahat kamu, Shaka!" hardik Badrina menangis tersedu.


"Rina, aku memang salah. Tapi ini semua permintaan sahabatku Zafer. Aku pernah menceritakannya padamu sekilas waktu itu, Zafer sakit keras dan akhirnya meninggal. Dia tinggalkan seorang istri yang sedang mengandung, tetapi mereka tidak diterima di keluarga Zafer," ungkap Arshaka membuka tabir masa lalu.


"Aku tidak menceritakan bahwa Maulidya inilah orangnya. Namun, tanggapan kamu saat itu sebaiknya menolong ibu yang tengah hamil, karena saat itu kamu juga hamil dan mampu merasakan kepedihan bila ditinggal suami seperti mendiang ibumu," tambah Arshaka mengenang masa lalu yang malah menjadi bumerang baginya.


Badrina semakin menangis kencang, ia bahkan tidak mampu lagi berdiri hingga terduduk di lantai. Kepalanya digeleng-gelengkan dengan cepat. Ia teringat percakapan lamanya dengan Arshaka bahwa menolong orang lain terutama perempuan hamil yang tidak memiliki keluarga akan besar pahalanya.


Namun, ia tidak menyangka bahwa perempuan yang dimaksud adalah Maulidya mantan kekasih suaminya.


Arshaka turun ke lantai, ia menyentuh kedua lengan Badrina. "Maafkan aku... aku salah banyak sama kamu," ucap Arshaka dengan getar penyesalan.


Badrina menggeleng-gelengkan kepalanya. Isi kepala yang telah penuh disertai emosi memuncak, Badrina mendorong kuat Arshaka hingga pria itu terjerembab dengan kepala membentur lemari kayu.


Badrina tidak sanggup untuk berlama-lama di apartemen, ia tidak tahan lagi. Badrina memilih berdiri lalu berlari keluar dari apartemen dengan pikiran tidak karu-karuan.

__ADS_1


__ADS_2