BAYANGAN MANTAN

BAYANGAN MANTAN
22. Kencan


__ADS_3

Dering telepon genggam mengagetkan Arshaka yang tengah lelap di ranjang, padahal sudah pukul delapan pagi. Arshaka ogah-ogahan mengecek siapa yang telah mengganggu ketenangan di akhir pekannya.


Sambil berbaring, ia menjawab panggilan. "Halo, Mira."


"Hai, Shaka. Suara kamu kayak baru bangun, ya," kekeh Elmira.


"Emm... Ada apa?" Arshaka membenarkan perkataan Elmira.


"Nanti malam keluar yuk, menebus makan malam yang tertunda. Ada yang ingin aku sampaikan juga sama kamu," harap Elmira menekankan pesan penting dalam kalimatnya.


"Ya boleh, mau di mana?" tanya Arshaka tanpa ragu.


"Nanti aku share location atau kamu mau jemput aku?" jawab Elmira dengan hati yang senang, menyelipkan permintaan.


"Oh, ya boleh... aku jemput kamu." Arshaka menguap lebar-lebar, pikirannya belum benar-benar sadar. Ia hanya menjawab seadanya.


Setelah panggilan selesai, Arshaka kembali melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu.


Di rumahnya, Badrina bersama Cantara menghabiskan akhir pekan. Nanti malam Badrina akan keluar untuk memenuhi undangan dari Hafez.


Kegiatan Badrina dan Cantara mulai dari sarapan, berkebun di halaman rumah, berjalan-jalan ke taman, makan siang, dan beberapa hal lain dilakukan bersama-sama.


Cantara terlihat bahagia melakukan aktivitas bersama ibunya. "Seandainya papa juga ikut ya, Ma. Tapi, papa selalu sibuk dengan pekerjaan," cetus Cantara teringat ayahnya, ia memajukan garis bibirnya.


Ekspresi Cantara menggemaskan bagi Badrina, "Nanti malam, mama mau ajak Canta ke rumah Oma. Mungkin papa juga ada di sana," timpal Badrina mengusap kepala Cantara.


"Ke rumah oma lagi, Ma. Canta mau... mau... mau..," responnya antusias sembari mengangguk-angguk.


"Nanti malam Canta di rumah oma, mama tinggal sebentar, ya. Ada temen mama pingin bertemu, katanya penting." Badrina mengambil kesempatan untuk mendapat izin dari Cantara.


"Kenapa Canta tidak diajak, Ma?" tanya Cantara mengernyitkan dahinya. Cantara tahu kemana-mana sang mama pasti mengajaknya.


"Karena ketemuannya malam. Takut Canta masuk angin," ringis Badrina sebab dirinya berbohong.

__ADS_1


Cantara menerima alasan Badrina, mengingat nanti malam bertemu omanya ia tidak khawatir apapun juga.


Tadi pagi Badrina sendiri telah mengubungi mantan mertuanya untuk memberi tahu bahwa Cantara nanti malam akan ke rumah berkunjung. Nuraini begitu senang mendengar rencana itu.


Menjelang sore Badrina telah bersiap untuk mengantarkan Cantara, hari ini Arshaka tidak menghubungi sama sekali bahkan berkunjung juga tidak. Badrina tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Kapanpun Arshaka datang, ia harus terima. Bila tidak datang, Badrina tidak merasa harus menuntut Arshaka, tergantung kerelaan hati Arshaka saja.


Badrina telah mengemas beberapa pakaian untuk Cantara dan juga dirinya. Rencananya mereka akan sampai hari Minggu berada di kediaman Nuraini.


Hari Senin, Badrina harus ke sekolah baru Cantara untuk mengurus berkas kepindahan, jadi kemungkinan hari selanjutnya adalah hari penuh kesibukan.


Setibanya di rumah Nuraini, Cantara disambut dengan meriah oleh oma kesayangannya. "Cucu cantik oma sudah datang." Nuraini mencium bolak balik wajah Cantara sampai bocah itu kegelian.


"Kalian sudah makan? Mama sudah siapkan makan malam yang sedap bin nikmat," kata Nuraini sembari menggandeng tangan cucunya menuju meja makan.


"Em... mama, aku mau menitip Cantara sebentar, ya. Ada temen mau ajak ketemuan dekat sini di restoran Nuansa Biru tidak lama kok, Ma," terang Badrina sembari mengambil tempat duduk di meja makan.


"Oh gitu, ya udah ga apa-apa. Shaka juga lagi tidak di rumah. Tapi, tadi Mama bilang Canta mau datang, sempat mau batalin pertemuan dengan rekan kerjanya. Mama bilang, jangan," terang Nuraini teringat percakapannya bersama Arshaka.


Badrina bertanya dalam hati rekan kerja siapa yang dimaksud mantan mama mertuanya. Namun, karena bukan urusannya lagi, Badrina membuang langsung pertanyaan itu dari otaknya.


Badrina menuju arah meja sesuai pesan pada ponselnya.


"Permisi, maaf... meja 102 apakah Anda, Hafez?" tanya Badrina sopan, menyunggingkan senyum tulus.


Pria di hadapan Badrina berdiri dan mengulurkan tangannya, "Ya, saya Hafez Irsyad." Mereka berjabat tangan. Hafez menyilakan Badrina untuk duduk.


Kesan pertama Badrina pada Hafez cukup baik. Pria itu tampan dan sopan serta memiliki senyum yang menawan. Sesekali dalam kalimat pria itu tersirat godaan. Namun, Badrina tidak begitu memusingkannya sebab selain malam ini adalah pertemuan pertama mereka, juga pria biasanya akan berlaku demikian pada perempuan yang tengah didekati.


"Kamu kenal tante saya dari mana?" tanya Badrina sembari mereka menikmati makan malam yang telah dihidang.


"Dari mama saya. Tante kamu orang yang baik, dengan mama saya sudah berteman lama," jawab Hafez.


Pembicaraan mereka mengalir lancar hingga makan malam berakhir. Badrina melirik jam tangannya yang telah menunjuk pukul setengah sembilan malam, ia memberanikan diri untuk menutup pertemuan pertama mereka malam ini.

__ADS_1


Sementara di waktu yang bersamaan, Arshaka tengah menikmati makan malam bersama Elmira. Waktu yang ditunggu-tunggu Elmira semenjak lama. Di meja sekitar mereka tidak banyak orang, sebab restoran ini tergolong mewah dan jarang dikunjungi oleh orang biasa.


Arshaka sebenarnya tidak begitu konsentrasi sejak mamanya mengatakan Cantara akan datang ke rumah malam ini. Ia teringat bagaimana sedih wajah putrinya kala ia akan pergi bersama orang lain. Apakah ada perasaan itu kali ini sewaktu ia tidak bertemu papanya di rumah Nuraini?


Pikiran Arshaka begitu ribut.


"Shaka, aku ingin menyampaikan perasaan hatiku yang lama aku pendam. Aku menaruh perasaan pada kamu. Bila ada kesempatan, aku ingin mencoba menjalin tali kasih bersama kamu," ungkap Elmira setelah mereka selesai makan malam. Alunan musik klasik yang memenuhi ruangan mendukung usaha Elmira untuk mengungkapkan perasaan hatinya.


Wajah Arshaka mengernyit, Elmira terkekeh memandangnya. "Maafkan aku terlalu berani. Namun, aku pikir ini waktunya aku menyampaikan perasaan aku sama kamu," tutur Elmira sembari memainkan anak rambutnya ke belakang telinga sambil tersipu malu.


Tiba-tiba Arshaka berdiri. Elmira terkejut mendapati tatapan tajam Arsahaka, tetapi tidak ditujukan untuknya melainkan ke arah belakang tubuhnya.


Elmira turut menoleh mengikuti arah pandang Arshaka, terlihat sepasang manusia tengah berjalan menuju pintu keluar, tetapi cukup jauh dari meja mereka.


"Shaka!" Elmira mengguncang bahu dan melambaikan tangannya di depan wajah Arshaka.


"Eh, Mira... Maaf aku kurang konsentrasi. Makan malam kita akhiri dulu, ya. Aku harus menemui Badrina," ujar Arshaka cepat lalu meninggalkan Elmira yang tercenung sendiri.


Sewaktu Arshaka melangkah, Elmira begitu kesal sejadi-jadinya. Badrina lagi-lagi merusak rencananya. Ia tidak menyukai perempuan itu.


Arshaka menjadi tidak mendengar sama sekali apa yang tadi diucapkan olehnya. Elmira meninggalkan sejumlah uang membayar makan malam dan bergegas menyusul Arshaka.


"Sorry!" Arshaka mencekal tangan Badrina tiba-tiba, Badrina terperanjat begitu melihat sosok yang menarik tangannya.


"Oh... ada Arshaka di sini dan... kekasih baru." Elmira tiba di samping Arshaka dengan senyum yang dipaksakan.


"Kita harus bicara sebentar," paksa Arshaka mengeratkan cekalan dan rahangnya. Ia mengabaikan perkataan Hafez.


Hafez langsung pasang badan saat Arshaka memaksa Badrina. Badrina tersenyum pada Hafez seolah-olah mengatakan 'tidak apa-apa'.


Arshaka menarik Badrina cukup jauh dari mereka, ia berbisik tegas, "pulang bersamaku!" perintahnya.


"Aku pergi dan pulang bersama Hafez, lepasin tanganku," lawan Badrina sembari menggerak-gerakkan tangannya.

__ADS_1


Arshaka semakin mempererat genggamannya, "Pulang bersamaku atau... Canta tidak akan pernah pulang bersama kamu," ancam Arshaka dengan kilat kemarahan yang menajam ke arah manik Badrina.


__ADS_2