BAYANGAN MANTAN

BAYANGAN MANTAN
44. Akhir Pekan 2


__ADS_3

"Ambisi Tante Poppy benar-benar parah!" amuk Danish. Terlihat jelas kemarahan tergurat di wajahnya.


Danish biasanya mampu menahan diri untuk tidak mengumpat seseorang bila sosoknya tidak begitu dikenal. Namun, kali ini ia memberi penilaian kurang baik untuk tantenya Badrina.


"Dan lo menutupi rahasia ini selama delapan tahun. Lo juga parah!" sembur Danish begitu mendengar tambahan kebenaran dari Arshaka sambil menunjuk geram. Tidak habis pikir Danish dengan teganya Arshaka menyimpan rahasia penting dari Badrina.


Cantara yang telah selesai bercakap dengan Badrina mendatangi ruang tamu. Arshaka dan Danish bungkam begitu mendengar langkah kaki Cantara.


"Papa, ini...," refleksnya menyodorkan ponsel Arshaka. Kedua pria dewasa langsung tersenyum saat Cantara melihat mereka secara bergantian.


Arshaka menerima ponselnya. "Sudah selesai menelepon Mama?" tanya Arshaka tenang sembari memangku Cantara.


"Sudah, Pa. Mama bilang mungkin besok akan pulang. Canta senang," riangnya sambil mengangkat kedua tangannya.


Arshaka sendiri baru tahu dari Cantara informasi kalau Badrina akan pulang besok. "Syukurlah ya, Nak. Besok kita bisa bertemu Mama," sambut Arshaka.


"Besok Canta boleh ikut jemput mama, Pa ke rumah sakit?" tanyanya memandang lekat netra Arshaka. "Boleh ya, Pa. Canta kangen Mama," rengeknya bermohon.


Arshaka melirik Danish yang tengah mengembangkan kelopak mata padanya. Persis seperti pemeran utama film horor yang terkenal di Indonesia.


Tentu saja Arshaka mengerti arti pelototan Danish yang melambangkan jawabannya harus setuju memenuhi permintaan putri kecilnya.


"Iya, Sayang," ujarnya menjawab. Pria itu mengusap surai hitam lurus Cantara yang diturunkan darinya. "Tadi papa bilang sama bibi untuk pergi belanja ke mini market, Canta temani bibi sebentar, ya. Papa masih mau ngobrol bareng Om Danish," suruhnya menurunkan Cantara dari pangkuan.


Bersamaan dengan itu, Muryati datang bersiap untuk ke mini market. "Bibi, bawa Canta juga ya ke mini market. Biasanya Canta dibeliin apa sama mamanya, tolong dibungkus saja dari sana," perintah Arshaka yang diangguki oleh Muryati.

__ADS_1


Muryati menggandeng tangan Cantara. Bocah itu sedang dalam kondisi hati yang gembira. Jadi, begitu mudah untuk disuruh melakukan sesuatu.


Setelah memastikan Cantara dan Muryati keluar rumah, Danish melanjutkan rasa ingin tahunya tentang masa lalu Arshaka dan Badrina.


"Lo jelasin ke gue, gimana bisa kenal sama Tante Poppy." Danish kembali mendesak Arshaka. Ia memburu waktu, khawatirnya Poppy tengah menyiapkan sesuatu yang kelak bisa saja disesali oleh dirinya sebagai teman Badrina.


Arshaka menyugar rambutnya dan mengeluarkan suara mendengkus. "Panjang ceritanya. Yang pasti, gue kenal dari anaknya Tante Poppy. Dulu kami sempat satu kampus kuliah," lontar Arshaka.


Danish mulai berpikir nama anak Poppy yang seharusnya ia tahu malahan tidak tersimpan di ruang ingatannya.


"Namanya Monera. Sekarang di di Swiss. Dulu dia yang kenalin gue ke Rina. Pandangan pertama sebenarnya gue sudah suka sama Rina. Dan, kami pacaran terus gue melamar Rina," kenang Arshaka mengingat masa lalunya.


"Sewaktu gue menghadap Tante Poppy, dia benar-benar ngga setuju Rina sama gue karena belum punya apa-apa. Tapi belakangan, gue dipanggil dan ditawarkan kerja sama sebagai syarat kalau gue mau menikah dengan Rina," lanjut Arshaka, menyenderkan punggungnya ke sofa. Rasa sesal menghampiri Arshaka. Nafas keras dihembuskannya ke udara.


"Dan syaratnya, lo menikahi Badrina dengan mengambil alih alias pindah tangankan harta warisan yang dihibahkan oleh Pak Wriatmaja atas nama lo," tebak Danish selanjutnya.


Arshaka mengangguk lagi, Danish mulai memahami alur yang dimainkan oleh Poppy. Arshaka dan Badrina adalah korban dari keserakahan Poppy, termasuk Cantara.


"Pengen gue nyebut kata kotor!" caci Danish sembari berdiri lalu melempar bantal sofa tempatnya duduk ke lantai. "Bisa sesadis itu Tante Poppy, padahal dari penampilan terlihat ibu yang baik dan lembut," nilai Danish berjalan hilir-mudik di hadapan Arshaka.


"Dia akting berpuluh-puluh tahun, ya wajar banyak yang tertipu. Mungkin dulu Poppy maunya jadi artis, tidak kesampaian," timpal Arshaka asal.


"Jadi, rencana lo sekarang apa? Aini sedang dekat dengan pria kenalan Tante Poppy, kalau ngga salah namanya --"


"Hafez."

__ADS_1


"Nah iya, itu. Aini pernah cerita ke gue," lanjutnya. Danish berhenti hilir-mudik, ia kembali duduk untuk mendengarkan rencana Arshaka.


Namun, Danish melontarkan idenya sebelum Arshaka bicara. "Lo harus kasih tahu fakta ini sama Aini, Shaka."


Arshaka memandang lekat-lekat manik Danish. "Lo gimana sih, Dan. Hubungan gue sama Rina lagi buruk. Kalau gue kasih tahu kebenaran, bukannya dia percaya. Sebaliknya, bisa benci sama gue karena dianggap menjelekkan nama tante kesayangannya itu," protes Arshaka, kerutan keningnya menunjukkan ia menolak ide Danish. "Gue sedang usaha untuk baikan dan balikan sama Rina," ucap Arshaka menekankan tujuan utamanya kini.


"Lo balikan karena Canta 'kan?" tuduh Danish mengingat curahan hati Badrina saat di rumah sakit. "Gue sarankan, lo lepaskan Aini kalau memang alasannya karena Canta. Aini berhak untuk hidup bahagia dan punya pilihan bebas dengan pria sesuai hatinya, tentu saja yang baik dan menghormatinya." Danish keberatan menggunakan alasan anak menjadi jalan mantan suami istri itu rujuk.


Ia hanya berusaha agar Badrina terlepas dari ikatan toksik orang-orang terdekatnya termasuk Arshaka bila pria itu tidak memiliki motivasi yang murni untuk kembali.


"Danish, lo emosian banget. Tuduh gue punya motivasi yang dangkal untuk dekati Rina," protes Arshaka.


"Lantas?"


"Canta itu satu hal, yang lain juga ada. Coba lo pikir, gue sampai hari ini memonitor kehidupan Badrina, kenapa? Gue buka ini semua ke elo, untuk apa?" dengus Arshaka.


Ia masih merasa kalau Danish belumlah dapat poin tentang alasan pria itu melakukan tindakan yang telah jauh dari statusnya sebagai mantan suami.


"Gue masih mau berusaha untuk kembali sama Rina. Tapi, gue bakal terima keputusan Rina. Apapun," tekad Arshaka tegas dan serius. "Kalau lo bilang, biarkan Rina dengan pria pilihannya. Tidak semudah itu gue ikhlas, Dan. Ini bukan kisah novel yang pemeran prianya orang jahat, ya jahat buat selamanya. Ini real life, Danish," resah Arsahaka, berharap Danish mengerti isi hatinya.


Tenggorokan Arshaka terasa kering, ia menuang air dari ceret ke cangkir, kemudian menandaskan minuman itu sebanyak dua gelas. Capek rasanya Arshaka menjelaskan panjang lebar, ternyata Danish menganggap alasan Arshaka ingin kembali menjadi suami Badrina hanya soal anak.


Danish dapat melihat keseriusan dari teman kerjanya itu untuk menata kembali relasi yang sempat putus dan rusak dengan mantan istrinya.


Tidak lama, bergetar dan berbunyi ponsel Arshaka yang tergeletak di tengah-tengah mereka. Keduanya menatap ponsel yang sama, membaca siapa pemanggilnya.

__ADS_1


"Maulidya...," gumam mereka berbarengan saling bersitatap.


__ADS_2