
Arshaka turun tergesa setelah memarkir kendaraannya di halaman rumah Badrina dan menutup kembali pagar. Tanpa mengucap salam, ia segera masuk sebab pintu tidak dalam keadaan terkunci.
Tidak terdengar suara putrinya dari dalam rumah. Arshaka akan mencuci tangan terlebih dulu di dapur lalu menuju kamar Cantara melihat keadaan putrinya.
Dapur menyatu dengan ruang makan, Arshaka mendapati Badrina rupanya bersama Cantara tengah menikmati makan malam.
"Papa...," Cantara menyadari kehadiran papanya, lantas turun berjalan menuju Arshaka.
"Sebentar ya, Sayang, papa cuci tangan dulu," ujarnya bergegas ke wastafel, setelahnya Arshaka memeluk putrinya.
"Ayo Pa, makan malam," ajak Cantara menarik tangannya ke bangku yang biasa diduduki Arshaka.
"Papa duduk dekat Canta saja, ya," ucapnya. Arshaka melihat Badrina fokus pada makanan di piringnya. Ia pun melangkah duduk di samping Cantara, berhadapan dengan Badrina. Dulu biasanya ia akan duduk di samping Badrina.
Badrina tidak banyak bicara, bahkan kepalanya tidak berpaling pada Arshaka, sekedar untuk menyapa juga tidak dilakukannya.
Badrina benar-benar menuruti apa yang dikatakan oleh tantenya, Poppy, untuk membatasi dan menahan diri terhadap Arshaka. Itu pun ia lakukan dengan usaha yang keras karena terlihat cuek bukanlah tipe Badrina yang sebenarnya.
Mau tidak mau Arshaka melayani dirinya sendiri. Tadinya ia sempat menunggu Badrina mengisi piring dengan makanan untuk dirinya.
"Mama, piring Papa masih kosong." Cantara saja peka, menunjuk piring di hadapan Arshaka.
"Papa bisa ambil sendiri, Nak," sahut Badrina dengan senyum yang terlihat dipaksakan, "ini tambah lauknya, Canta." Badrina malah mengisi ke piring Cantara.
Berdesir rasa kecil hati dalam diri Arshaka. Ia menatap Badrina yang tak peduli akan kehadirannya. Badrina kembali fokus dengan makan malamnya. Kedatangannya seperti benar-benar tidak diharapkan oleh Badrina. Sikap Badrina itu menyisakan kekecewaan dalam diri Arshaka.
Selepas makan malam, Badrina membenahi meja makan dan dapur, sementara itu Arshaka dan Cantara pergi ke ruang keluarga untuk menghabiskan waktu bersama.
"Canta gimana sekolahnya, Nak? Kemarin sudah masuk sekolah, ya," tanya Arshaka, perlahan ingin menggali keadaan yang sebenarnya.
__ADS_1
"Baik, Pa. Canta punya guru yang baik dan juga teman-teman. Teman duduk dekat Canta namanya Nada Syiar orangnya baik, Pa," kisah Cantara dengan riang gembira penuh antusiasme.
"Em... Nama sekolahan Canta apa ya, Nak? Papa... papa lupa," tanya Arshaka pura-pura bercanda.
"Ah... Papa gimana sih... masa lupa. Nama sekolah Canta, TK Tunas Bangsa," terang Cantara dengan yakin.
Arshaka terkesiap mendengar nama sekolah yang berbeda dengan tujuan awal yang diceritakan oleh Badrina. Rahangnya mengatup dengan ketat, mantan istrinya benar-benar memutuskan hal ini secara sepihak.
Arshaka tahu sekolah yang disebut oleh putrinya itu tidak setara dengan TK Pelita Kasih Bunda dalam berbagai hal. Ia sempat mendengar cerita deretan TK terbaik di kota mereka dari Maulidya, sewaktu memutuskan menyekolahkan Ameera beberapa waktu lalu.
Sekolah Cantara saat ini tidak termasuk di dalamnya. Selain karena baru beberapa tahun berdiri, juga bukan sekolah besar dengan murid yang banyak.
Pikiran Arshaka menyuruhnya untuk menanyakan hal itu pada Badrina segera setelah Cantara tidur nanti malam agar dirinya mengetahui alasan mantan istrinya memilih sekolah yang biasa untuk putri kesayangan Arshaka.
Arshaka menemani Cantara bermain hingga pukul delapan malam, setelah itu, mereka masuk ke kamar Cantara. Sebelum tidur, Arshaka mengambil sebuah buku kemudian membacakannya, mereka juga bertanya-jawab hingga Cantara mengantuk.
Menjelang Cantara lelap, bocah perempuan itu bertanya, "Papa, mengapa tidak berganti pakaian setiap kali ke sini? Selalu menggunakan pakaian kerja."
Cantara yang telah terlelap, diselimuti oleh Arshaka, ia mengganti penerangan dengan lampu lebih remang agar putrinya bisa tidur nyenyak hingga esok hari.
Setelah Arshaka meyakinkan kalau semua aman, barulah ia keluar kamar langsung mencari Badrina.
Arshaka mencari Badrina sampai ke sudut rumah, sayangnya tidak menemukan Badrina di mana-mana; di dapur, ruang makan, ruang tamu, ruang keluarga, teras dan garasi.
Saru-satunya tempat yang berpeluang didatangi Badrina adalah kamar pribadinya. Namun, Arshaka merasa tidak patut ke sana. Arshaka memutuskan memanggil Badrina melalui panggilan ponsel. Sayangnya, telepon seluler Badrina sedang tidak aktif.
Mau tidak mau Arshaka melangkah menuju kamar. Jam dinding hampir menunjuk pukul sembilan malam, sehingga ia tidak mungkin berlama-lama menunggu Badrina keluar kamar. Bisa jadi perempuan itu bahkan tidak akan keluar dari kamarnya lagi hingga besok hari.
Arshaka mengetuk pintu kamar Badrina beberapa kali, ia memanggil dengan suara pelan, sayangnya tidak ada sahutan. Arshaka memberanikan diri masuk ke dalam. Gagang pintu dibukanya, aroma khas Badrina menguar hingga ke penciuman Arshaka
__ADS_1
Maksud awal Arshaka berdiri di depan pintu untuk memanggil-manggil Badrina. Perempuan itu ternyata sedang berada di kamar kecil, terdengar suara air gemericik.
Arshaka masuk dengan tidak menutup pintu kamar, ia memilih duduk di sofa saja sembari menunggu Badrina keluar dari kamar kecil.
Beberapa saat ia duduk dan mengamati sekeliling kamar, pikiran nakalnya mengarungi masa lalu. Di sofa yang diduduki dan di ranjang yang rapi, di tempat itu mereka pernah saling bertukar rasa satu sama lain dengan penuh kasih eros.
Tarikan nafas Arshaka terasa berat, ia sedikit gelisah. Arshaka merasa telah lancang masuk ke kamar pribadi Badrina, sebelum Badrina mendapatinya di kamar, muncul niat Arshaka segera keluar kamar.
Saat dirinya telah berdiri, bertepatan ponsel Badrina bergetar tanpa nada suara di atas meja dekat sofa yang didudukinya tadi. Arsahaka menoleh ke arah ponsel lalu membaca ada panggilan masuk dengan nama Hafez Irsyad.
Kegelisahan Arshaka malah menjadi-jadi, bahkan memuat emosi negatif lainnya. Kenangan rumah tangganya di masa lalu bertubrukan dengan prediksi masa depan, di mana Badrina bersanding dengan pria bernama Hafez itu.
Secara spontan Arshaka mengumpat, ia meraih ponsel Badrina lalu menolak panggilan Hafez, sampai-sampai Arshaka menekan airplane mode pada ponsel Badrina yang tidak memiliki pin, sehingga pria itu bebas melakukan apa saja terhadap ponsel itu.
Sebelum ponsel itu ditaruh, bergejolak jiwa penasaran Arshaka. Otaknya memberi komando pada jarinya untuk menekan aplikasi pesan pada ponsel Badrina.
Sangat mencengangkan bagi Arshaka sebab pesan Hafez menempati urutan pertama, Badrina mem-pin pesan dari Hafez di ponselnya. Sementara itu, pesan dari Arshaka sendiri menempati urutan ke sekian, padahal mereka tadi saling berkomunikasi.
Arshaka semakin sulit berpikir jernih terhadap pesan dari Hafez yang dibacanya. Ia menduga Hafez besar-benar serius mendekati mantan istrinya. Bercampur segala rasa asing dalam diri Arshaka.
Pria itu meraup wajahnya, terduduk kembali lalu menyender ke sofa sembari menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia perlu menetralkan segala rasa asing yang kini menggerogoti dirinya.
"Kamu ngapain di sini! Sangat tidak sopan!" hardik Badrina setelah keluar dari kamar kecil.
Arshaka segera membuka tautan tangan di wajahnya, ia melihat Badrina berdiri dengan raut marah, terdengar kurang ramah di pendengarannya.
Pria itu sadar, ia tidak berhak masuk ke dalam kamar ini lagi semenjak ia mengikrarkan talak pada Badrina.
"Aku mau bicara, begitu lama menunggu kamu. Aku tunggu di ruang kerja lamaku," pungkas Arshaka tidak mau dibantah. Ia berlalu dari hadapan Badrina, keluar kamar kemudian melangkah menuju ruang kerjanya dulu.
__ADS_1
Gemuruh di dada Arshaka meronta perlu dituntaskan, penyebabnya adalah Badrina.