
"Rina? Kamu ada keperluan apa di sini?" tanya Poppy salah tingkah setelah melepaskan rangkulan pria di sampingnya.
"Seharusnya itu pertanyaan aku ke tante, ada keperluan apa ke sini? Berduaan ke hotel?" Badrina bertanya balik sambil melirik pria di sebelah tantenya. Paras Badrina menyiratkan rasa tidak suka pada tindakan Poppy saat ini.
"Berangkulan," lanjut Badrina menyorot tajam.
Poppy menampakkan tingkah gelisah. Baru kali ini keanggunan Poppy pupus, setelah dipergoki oleh Badrina bersama pria lain bermesraan. Badrina tahu persis tantenya belum memiliki pasangan sah semenjak mendiang om-nya berpulang.
Perempuan paruh baya itu mencoba menegakkan rasa berani. "Bukan urusan kamu," ucapnya sembari menarik pria tadi menuju pintu keluar. Mereka tidak jadi melangkah ke arah lift yang akan mengantarkan ke kamar pesanan Poppy.
Badrina mendidih mendengar perkataan tantenya. Ia ingat bagaimana Poppy mengajarkan etika dengan keras terhadapnya. Bagaimana seorang perempuan harus menjaga nama baik.
Namun, saat ini tindakan yang bisa disebut amoral tengah dipertontonkan oleh Poppy. Badrina perlu memastikan apakah ini untuk yang pertama kali atau kesekian kali.
"Tante mau tidur bersama pria ini ke hotel? Untuk kali ke berapa ini tante!?" labrak Badrina saat Poppy dan pasangannya melangkah. "Tante bersikap murahan," sengit Badrina berani sambil mengikuti arah langkah Poppy dan pasangannya.
Entah keberanian dari mana Badrina dapatkan untuk melakukan hal itu. Emosi negatif rasanya memuncak di ubun-ubun Badrina. Batinnya mengatakan harus menyelesaikan masalah ini sekarang juga.
Badrina seolah-olah berubah menjadi sosok monster yang menyukai pertikaian.
"Lancang kamu!" Poppy membalik tubuhnya, dalam sekejap ingin melayangkan tangannya ke wajah Badrina, sebelum hal itu ierjadi Badrina menangkah pergelangan tangan Poppy.
Badrina mendorong mundur tubuh tantenya hingga membentur pria pasangan Poppy. Sepatu hak tinggi milik Poppy menyulitkan tubuhnya menjaga keseimbangan .
Pertengkaran antara Poppy dan Badrina menjadi perhatian orang-orang di lobi hotel. Bisik-bisik terdengar berisik di antara mereka karyawan dan pengunjung hotel.
"Aku mengikuti tante sedari tadi di supermarket dan kemarin aku juga melihat pria ini ada di kamar tidur tante. Bener 'kan," sergah Badrina dengan rasa marah. "Tante yang memuja moralitas dan tata krama, begini kelakuan tante ternyata. Menjijikkan!" Emosi Badrina menanjak tinggi.
Sebagian orang mengambil ponsel dan mengabadikan kejadian itu. Ada yang diam-diam mengambil, tetapi ada juga yang terang-terangan.
Poppy berlari menghindari kamera perekam. Ia malu bila sampai lebih banyak orang tahu mengetahui dirinya. Sampai-sampai Poppy melepaskan sepatu hak tingginya agar dapat berlari cepat sembari menutup parasnya dengan tas mewahnya.
__ADS_1
Pria pasangan Poppy kaku membeku di tempat, ia menjadi heran dengan sikap Poppy yang tadi mesra bersamanya, kini melarikan diri begitu saja meninggalkannya di hotel.
"Heh, kamu! Siapanya tante Poppy!" hardik Badrina menatap ke pria yang ditinggal Poppy.
Pandangan pria yang tadinya tertuju ke arah Poppy pergi, beralih ke Badrina.
"Saya pacarnya. Nama saya Ahmed Sabri," jawab pria itu tenang dan biasa, malah mengulurkan tangannya pada Badrina.
Badrina mengangkat bola matanya dan menatap tangan yang terulur dengan maksud tidak bersedia. "Kamu pacar atau simpanan!?" ketus Badrina memojokkan pria itu sambil berkacak pinggang.
"Kamu memangnya siapa? Tidak ada urusan dengan kami." Pria itu merasa niat baiknya diabaikan, ia melawan suara menantang Badrina.
"Ahmed Sabri, dengar... buka kuping kamu lebar-lebar," ucap Badrina menunjuk-nunjuk pria di hadapannya.
Badrina akan melontarkan amunisi untuk ditembakkan pada pasangan tantenya. "Dia tante saya. Tindakan kamu dan dia sangatlah... menjijikkan. Ingin ke hotel di waktu jam kerja. Kamu tidak bekerja? Atau tidak punya pekerjaan hingga harus menemani tante-tante ke hotel!" amuk Badrina dengan suara keras dan ketus, kilat emosi menyambar Badrina.
Ahmed melihat ke sekeliling, ada orang yang merekam perdebatan mereka dengan seorang perempuan yang mendadak mengamuk padanya.
Ia tidak peduli rekaman yang diambil di hotel akan tersebar dan mempermalukan tantenya.
Badrina merasa mungkin Arshaka benar bahwa tante Poppy memang bukan pribadi yang sebenarnya baik selama ini.
Badrina menaiki taksi. Saat ditanya oleh sopir tujuan perjalanan, mendadak Badrina teringat pada putrinya.
Badrina melihat arloji yang menunjukkan telah lewat tiga jam dari waktu pulang, segera Badrina menelepon ke sekolah.
"Cantara tadi telah dijemput oleh omanya, Bu Badrina. Tadi ibu dan papa Cantara telah kami hubungi, tetapi tidak tersambung," jelas guru Cantara. Badrina bernafas lega, syukur saja ada mantan mama mertuanya yang bersedia menjemput ke sekolah.
Badrina meminta sopir taksi untuk beralih arah menuju rumah Nuraini. Ia perlu ke sana untuk menjemput putrinya.
Sepanjang perjalanan, perasaan Badrina berkecamuk. Emosi Badrina sudah luar kontrol, padahal tiga bulan ini ia banyak belajar untuk mengendalikan emosi, ternyata tidak semudah itu.
__ADS_1
Bisa jadi kali ini akan fatal akibatnya karena kejadiannya di depan publik.
Badrina menghela nafas dalam sampai terdengar getaran dihembusannya. Usahanya untuk menjadi pribadi yang terkontrol gagal hari ini.
Berada diantara menyesal dan tidak, itulah Badrina kini. Rasa marah mencuat begitu mengingat masa lalunya yang dididik keras oleh Poppy. Bagaimana ia harus menjadi pribadi yang kuat dengan segala pengabaian sang tante. Meskipun Badrina berada di rumah mewah milik tantenya, memang yang mengasuhnya adalah suster anak yang datang silih berganti.
Ajaran-ajaran tantenya tentang moralitas begitu disenangi oleh Badrina. Ia menilai meskipun Poppy keras, itu bertujuan untuk kebaikan Badrina di masa depan. Namun, ternyata tantenya menutupi sifat asli dengan kedok.
Mungkin terdengar tidak adil penilaian Badrina terhadap tantenya. Perempuan itu berpikir untuk mencari tahu lagi hal-hal menyimpang yang diperbuat tantenya.
Badrina perlu bukti yang kuat untuk menarik kesimpulan tentang Poppy agar tidak keliru menilai tantenya.
Tidak terasa Badrina sampai di rumah Nuraini. Begitu membayar ongkos, Badrina berlari masuk ke dalam rumah.
Di ruang tamu sudah ada Arshaka yang terlihat memeluk Cantara.
"Kamu dari mana?" tanya Arshaka begitu melihat Badrina. "Mengapa tidak menghubungi mama atau aku untuk menjemput Canta?" lanjut Arshaka dengan nada tegas.
"Aku...."
"Canta menunggu hampir dua jam, Rina," beber Arshaka memandang mantan istrinya yang menunduk.
"Maaf," ucapnya lirih.
Arshaka berdecak mengalihkan pandangannya. Hampir saja ia tersulut rasa marah begitu mendapat telepon dari Nuraini yang mengatakan bahwa Badrina pergi saat jam sekolah, tetapi belum kunjung kembali sehingga Nurainilah yang menjemput Cantara.
"Papa, jangan marahin, mama," cicit Cantara dalam dekapan Arshaka.
Arshaka mengusap-usap kepala putrinya. "Tidak. Papa tidak marah."
"Ma, tolong bawa Cantara ke kamar. Aku mau bicara dengan Rina," pinta Arshaka pada Nuraini yang juga masih menyimpan tanya di hati.
__ADS_1