
Arshaka telah mendapatkan mobil boks untuk mengangkut uang tebusan. Ia minta izin dari kantornya untuk menyelesaikan urusan keluarga. Arshaka terbuka mengenai permasalahannya pada seorang direktur sebagai atasannya.
Saat jam istirahat siang, ia pergi mengambil mobil boks dari bank yang telah diparkir sebelumnya. Tidak mudah untuk kendaraannya keluar sebab nominalnya sangat besar. Arshaka harus melibatkan pihak berwajib yang bertanggungjawab dalam pencarian Cantara.
Arshaka berkendara sendiri ke lokasi di perbatasan kota dekat dengan areal perkebunan. Tarikan nafas semakin berat saat mendekati lokasi. Kerap ia melirik ke kiri dan ke kanan, memantau situasi yang sepi.
Setibanya di sana, Arshaka menghentikan kendaraannya. Belum turun dari mobil, keringat telah membasahi tubuhnya. Ini tentu saja tidak mudah, dirinya akan berhadapan langsung dengan penculik anaknya.
Entah jumlah mereka berapa banyak, apakah membawa senjata tajam, terlebih apakah putrinya masih baik-baik saja? Pertanyaan-pertanyaan yang berkelebat itu menambah rasa takutnya.
Namun, mau bagaimana? Menyelamatkan Cantara adalah prioritas Arshaka kini.
Sebelumnya, Badrina telah dihubungi untuk mengantarkan uang tebusan, Arshaka menolak bila Badrina yang melakukan.
Arshaka meminta agar nomor ponselnya yang diberi pada penculik agar mereka menghubungi Arshaka perihal penyerahan uang tebusan.
Arshaka menghentikan kendaraan, tidak terlihat siapa-siapa di sekeliling perkebunan. Dering ponsel mengagetkan Arshaka, padahal miliknya sendiri. Arshaka dihubungi oleh seorang penculik memintanya untuk parkir ke dalam hutan.
[Di sini juga sepi. Saya akan tinggalkan kendaraan.] tawar Arshaka.
Ia menolak kendaraan boksnya parkir ke dalam, sama saja bunuh diri, pikir Arshaka.
Setelah tarik-menarik pendapat, penculik menyetujuinya. Mereka memang telah bekerja sama dengan penjaga perkebunan untuk mengamankan lokasi.
Diimingi uang pengganti lelah, tentu saja para penjaga perkebunan tertarik melakukannya.
Arshaka turun dari mobil boks. Saat ia menjejakkan kakinya, sebuah kendaraan berwarna hitam melaju perlahan dari arah depan. Beberapa meter berjarak, mobil itu berhenti.
Tidak ada pergerakan sama sekali. Arshaka takut-takut, apakah harus diam di tempat atau berjalan menuju kendaraan itu.
Notifikasi pesan berbunyi.
[Mundur!] pesan dari nomor tidak dikenal masuk ke ponsel Arshaka.
Arshaka berjalan mundur beberapa meter, jaraknya semakin jauh. Terlihat pula mobil boks lain menyusul dari belakang mendekati kendaraan berisi uang tebusan yang telah ditinggalkan Arshaka.
[Mana anakku!?] tanya Arshaka berang, ia mengetik dengan cepat.
Tampaknya, penculik ingin bermain licik, Arshaka tidak terima.
[Santailah. Anakmu di mobil ini.] jawab penculik.
__ADS_1
Nomor ponsel penculik kini ada dua pada Arshaka. Dia menduga nomor ponsel yang terakhir menghubunginya adalah dalang dari penculikan anaknya.
[Serahkan anakku lalu ambil uangnya.]
Arshaka kembali menatap lurus ke depan. Terlihat pintu mobil sedan penumpang bagian belakang terbuka. Ia mengira Cantara yang akan keluar.
Namun, sepatu yang menjejak bukanlah milik anaknya, melainkan perempuan dewasa.
Arshaka terkejut mendapati sosok yang lama tidak jumpa dengannya.
Monera!
Arshaka mengepalkan tangannya. Tidak pernah menyangka bahwa dibalik penculikan itu ada Monera. Ia sempat menduga bahwa Poppy Alysa yang melakukan kejahatan atau Hafez Irsyad pria bayaran itu.
Ingin rasanya Arshaka mengejar dan memberi sedikit pelajaran buat teman masa mudanya itu. Dia ingat di masa lalu mereka berteman begitu harmonis.
Dari pintu sebelah lagi yang terbuka juga terlihat menapak sepatu milik perempuan dewasa. Ia agak lama keluar, seperti mengurus sesuatu terlebih dulu.
Siapa lagi ini? Apakah Poppy? tebaknya.
Saat perempuan itu keluar, ia menutup pintu, membuka penutup kepala dan kacamata hitamnya lalu melempar senyum pada Arshaka, sedetik kemudian pria itu mengumpat dengan geram.
"Lidya." Arshaka tercengang. "Brengsek!" Umpat Arshaka, suaranya hanya dapat didengar oleh Arshaka sendiri. Tangan Arshaka mengepal kuat merasa ditipu oleh Maulidya.
Arshaka menekan emosinya dengan geraman rendah. Dia berusaha menenangkan diri agar tidak terpantik emosi.
"Mana anakku, Canta!?" teriak Arshaka dari tempatnya berdiri.
Kedua perempuan itu menutup pintu, berjalan ke arah depan mobil, sedikit mereka menempuh ke arah Arshaka. Keduanya mengulas senyum licik dan remeh.
"Uangnya beres?" tanya Monera berteriak, dia abaikan pertanyaan Arshaka.
"Di dalam mobil itu, 4 milyar rupiah," sahut Arshaka, menunjuk dengan arah pandangnya.
Maulidya dan Monera maju lagi beberapa langkah hingga mereka berada dalam jarak kurang lebih tiga meter.
"Mengapa kalian tega melakukan ini?" tanya Arshaka. Dia berusaha tenang, kepalan tangannya telah terbuka.
Monera mengulas senyum miring di bibirnya.
"Masih bertanya? Kamu dan istrimu menyakiti ibuku. Kalian manusia yang tidak tahu berterima kasih."
__ADS_1
Pandangan Arshaka beralih pada Maulidya.
Maulidya membalas tatapan Arshaka, ia mengangkat dagunya lalu berkata, "Kamu menyakitiku dan mempermainkan aku dan Ameera." Tatapan Maulidya menyiratkan luka.
Arshaka menggeleng-gelengkan kepalanya, dia menganggap keduanya melakukan playing victim, merasa menjadi korban, padahal kenyataannya tidaklah demikian.
"Kami hanya ingin ganti rugi dari rasa sakit yang kami alami," jelas Monera lagi. "4 Milyar. Kamu bisa penuhi. Kamu dan Badrina bukan orang susah 'kan," lanjutnya tertawa mencemooh.
Tawa itu terdengar menjijikkan di pendengaran Arshaka. Detik itu juga Arshaka memutuskan tidak lagi memiliki teman bernama Maulidya dan Monera, dua perempuan yang berhati busuk.
"Kamu tidak kasihan pada Ameera?" tanya Arshaka berusaha menggoyahkan hati Maulidya. Perbuatan Maulidya akan menyulitkan Ameera sebab apa yang dilakukan Maulidya adalah tindakan melanggar hukum.
Mendengar nama anaknya dipanggil, Maulidya menjadi emosi. "Jangan sebut nama anakku! Dia menganggapmu ayah, tapi kamu membuangnya!" ucap Maulidya berang.
"Aku tidak membuangnya. Kamu berlebihan," sanggah Arshaka membuang pandangannya ke arah lain.
Melihat jejak kemarahan dari sorot mata Maulidya, Arshaka menahan diri untuk tidak melontarkan balik rasa marahnya.
"Serahkan anakku," pinta Arshaka selanjutnya dengan tenang.
"Pindahkan uangnya!" teriak Monera pada dua orang pria yang telah berdiri di belakang mobil boks.
"Serahkan Cantara!" teriak Arshaka tidak sabaran begitu melihat uangnya dipindahkan ke mobil kosong lainnya.
Tepukan tangan dari Maulidya menjadi pertanda bagi seseorang dari mobil yang dikendarainya untuk turun. Dari sana ia melihat Cantara dengan mulut dan tangan terikat.
Maulidya dan Monera mundur ke arah mobil, sementara Cantara yang telah dilepas ikatannya berlari menuju ayahnya dengan lari terseok-seok.
Arshaka melihat bahwa anaknya tidak begitu baik diperlakukan. Pakaiannya tetap pakaian sekolah tempo hari, rambutnya acak-acakan, larinya tidak lurus, dan mungkin saja ada perlakuan buruk pada putrinya.
Penculik memindahkan uang tebusan secepat mungkin. Mereka tergesa-gesa menyelesaikannya sebab bukan uang yang sedikit.
Arshaka memeluk putrinya erat. Cantara menangis dalam dekapan ayahnya.
"Papa... Canta takut," lirih bocah kecil itu terisak.
"Papa ada di sini untuk Canta," sahut Arshaka, memeluk dan mengusap punggung demi menguatkan putri kesayangannya itu.
Dari jauh, seseorang bersiap mengokang hammer ke belakang dan menarik pelatuk untuk menjalankan senjata.
Ia mengacungkan dan membidik tepat ke arah sasaran.
__ADS_1
Doorrr!!