BAYANGAN MANTAN

BAYANGAN MANTAN
45. Kepiting Rebus


__ADS_3

Hari ini Badrina akan pulang ke rumah, ia telah mengatongi izin dari dokter. Setelah melalui beberapa tes mengetahui kelayakannya untuk dilepas pihak rumah sakit, siangnya Badrina didatangi dokter yang bertanggungjawab, memberitahukan bahwa kondisinya layak pulang.


Semalam Arshaka menghubungi Badrina menyampaikan bahwa ia bersama Cantara akan menjemput ke rumah sakit.


Sempat ada penolakan dari Badrina, sebab Arshaka dan Cantara akan bolos dari tugas harian mereka, yakni bekerja dan bersekolah, bila menjemput dirinya.


"Tidak masalah, Rina. Aku masih punya waktu cuti. Kalau Canta, setelah peristiwa ini, dia bisa diarahkan untuk semakin semangat bersekolah. Daripada kita mematahkan rasa bahagianya demi satu hari sekolahnya, lebih baik menerima keinginannya yang momen seperti ini juga bukannya sering, 'kan," jelas Arshaka saat itu bersikukuh untuk menjemput mantan istrinya.


Arshaka juga menghindari ada pihak lain yang menawarkan diri untuk menjemput mantan istri dari rumah sakit. Syukur saja Cantara ada di pihaknya, Arsahaka punya kesempatan lebih untuk direspon positif oleh Badrina.


Badrina mengangguki dan menerima penjelasan Arshaka. Biasanya Badrina akan mendebat begitu pendapatnya berbeda dari mantan suaminya itu. Pembicaraan mereka akan berakhir dengan amukan atau kemarahan Badrina. Hanya saja, kali ini tidaklah demikian.


Badrina telah selesai berkemas-kemas, tidak banyak barang bawaannya. Tas dan map berisi hasil perawatan kesehatannya telah tersusun rapi. Kini ia menunggu jemputan Arshaka dan putri kecilnya.


Sendirian di rumah sakit bukanlah pengalaman menyenangkan. Tidak memiliki keluarga lain dari pihak ibu, tidak diperhatikan oleh keluarga ayah, anak kandungnya masih balita, dan saat ini status perkawinannya telah bercerai menjadikan Badrina tidak ingin menuntut siapa-siapa untuk menemani kesendiriannya. Selama di rumah sakit, Badrina pun tidak memberitahu karyawannya tentang keadaan sakitnya. Ibu satu anak itu berjuang sembuh sendiri, ia pun semakin sadar kalau kesehatan itu mahal harganya.


Ponsel Badrina berdering, panggilan dari Arshaka membuyarkan lamunan singkatnya.


"Halo," sapanya.


"Rina, apa sudah bersiap? Aku dan Canta ada di lobi rumah sakit. Hanya saja, Canta tidak diperbolehkan masuk ke area rawat inap," ungkap Arshaka, "kamu mau aku jemput atau ke sini sendiri?" tanyanya. Terdengar suara ceria dari seberang, Cantara menyebut-nyebut mama.


Badrina lama tidak mereguk rasa gembira seperti saat ini di dalam hatinya. Begitu mekar dan berbunga, entah itu karena perhatian Arshaka atau akan bertemu anaknya, entahlah.


"Halo, Rina." Arshaka memanggil-manggil Badrina yang kembali terperangkap dalam lamunan pribadinya.


"Ah... iya, aku jalan saja ke sana," sahutnya begitu Badrina kembali pada kesadarannya.

__ADS_1


Saat di rawat, Arshaka menyediakan dan mengantarkan koper berisi pakaian, jadi tidak berat Badrina untuk menggeret koper itu.


Badrina berjalan melewati lorong rumah sakit, pakaian yang dikenakannya tidak menunjukkan Badrina seperti pasien yang pernah dirawat.


Badrina malah terlihat seperti turis lokal yang baru pulang dari perjalanan wisata. Pakaian yang dikenakan dan selebihnya merupakan pilihan Arshaka. Arshaka sendiri yang menentukan saat mengetahui Badrina harus dirawat beberapa hari.


Badrina menoleh ke kiri dan kanan saat telah tiba di lobi rumah sakit, ia tidak melihat Arshaka dan Cantara. Badrina kembali merogoh tas kecil untuk mengambil ponsel, memanggil Arshaka.


Mendadak tasnya seperti ada yang menarik ke bawah. Badrina melirik cepat, takut ada orang iseng.


"Mama...," ucap Cantara mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Badrina menyamakan tingginya dengan Cantara, pelukan keduanya menyatu erat.


Tidak terasa air mata Badrina meluruh, ia menutup matanya merasakan kehangatan pelukan sang putri yang begitu merindukannya. "Mama sudah sehat?" tanya Cantara dalam pelukannya.


Badrina mengurai pelukan mereka, mengangguk antusias. "Sudah, Sayang. Sangat sehat," jawabnya sembari mengulas senyum dengan tangan kanan mengepal.


Badrina menghapus segera air matanya. "Tidak. Ini air mata haru namanya, Nak. Mama sangat senaaang bertemu Canta," ujar Badrina dengan nada yang dibuat sedemikian berapi-api.


Tidak jauh dari mereka, berdiri Arshaka yang melihat kedekatan keduanya. Mencuat rasa iri, tetapi bukan benci, dalam diri pria satu anak itu.


Sepanjang pernikahan komunikasi yang baik tidak begitu terjalin di antara Arshaka dan Badrina.


Arshaka tidak melakukan pergerakan dan atau percakapan apapun, dirinya diam memantau dengan wajah yang datar.


"Papa... sini... 'kok diam saja?" tanya Cantara menoleh ke belakang. Suasana rumah sakit lengang, sesekali satu atau dua orang yang lewat melirik mereka sambil tersenyum penuh makna.


Arshaka bergeming, dirinya seperti anak remaja yang baru pertama kali dikenalkan dengan seorang anak gadis incarannya. Arshaka bingung harus bersikap, sungguh!

__ADS_1


Lantas, Cantara melangkah ke arah Arshaka. Bocah kecil itu menarik jemari ayahnya, menggiring Arshaka mendekati Badrina. Pria itu seperti seekor kucing yang menurut begitu melihat ikan.


"Papa...," panggil Cantara mendongak melihat Arshaka. Bocah itu menarik-narik ke bawah jari telunjuk papanya yang hanya bengong dengan kondisi aneh yang muncul dalam hatinya.


Begitu mereka telah berhadapan dengan Badrina. "Papa, kasih bunganya ke mama."


Cantara menarik keras telunjuk papanya yang sedari tadi diam saja.


"Eh... ah... e... ini bunga untuk kamu dari Cantara," ujar Arshaka tersenyum, menyodorkan buket bunga jenis kesukaan Badrina. Delapan tahun pernikahan, Arshaka tidak pernah melakukan hal konyol seperti saat ini, meskipun ia tahu Badrina menyukai bunga.


"Terima kasih," sahut Badrina menerima bunga dari tangan Arshaka.


"Mama..., jangan percaya. Bunga itu Papa yang beli dari toko. Canta mana ada uang," timpal Cantara dengan begitu polos tanpa tedeng aling-aling.


Keduanya langsung menoleh ke bawah mendengar penuturan jujur Cantara. Tersisa rasa canggung antara kedua mantan suami istri itu. Mereka berusaha melempar senyum satu dengan lainnya.


"Em... iya... tadi kami sekalian lewati toko bunga," kilah Arshaka.


"Tadi tidak seperti itu, Pa. Papa bilang 'pagi kita ke toko bunga, kembali ke rumah lalu bersiap jemput mama'. Gitu tadi kata papa. Canta masih ingat," sanggah Cantara dengan kejujuran lainnya sembari menunjuk pelipisnya.


Rasa canggung Arshaka bertambah, ia menggaruk-garuk kepalanya, mengusap tengkuknya, dan melempar senyum rikuh pada Badrina. Cantara dengan polosnya membongkar skenario yang telah disusun dengan rapi.


Arshaka lupa kalau putrinya bukan lagi balita awal, melainkan balita akhir. Daya ingatnya perlahan mulai menguat, apalagi bila peristiwa itu menyangkut hal yang disenangi oleh Cantara.


Badrina tersenyum berusaha menghapus rasa malu Arshaka yang tersirat di raut tampannya.


"Papanya Canta baik, ya," puji Badrina, tetapi menunduk melihat Cantara bukan Arshaka.

__ADS_1


Cantara mengangguk-angguk setuju sambil mereka berjalan keluar lobi rumah sakit. "Juga ganteng, Mama. Jangan lupa," ucap Cantara membuat Arshaka kali ini memerah seperti kepiting rebus di belakang ibu dan anak sembari menggeret koper Badrina menuju lokasi parkir kendaraan.


__ADS_2