
Badrina masih mendapat perawatan di rumah sakit. Ini hari ketiga ibu satu anak itu dirawat intensif. Ia tidak dapat melewati akhir pekan bersama putrinya.
"Mama... kapan pulang?" tanya Cantara melalui panggilan video. Raut merindu terlihat kentara di wajah polos Cantara. Pakaian yang dikenakan bergambar keceriaan boneka hello kitty bertolak belakang dengan kondisi hatinya saat ini.
"Dokter bilang, Mama kemungkinan besok pulang, Sayang," sahut Badrina mengulas senyum. "Hari ini masih belum bisa, kata dokter Mama masih perlu perawatan," jelasnya.
Badrina tidak menceritakan sakit-penyakit yang dialaminya, ia hanya mengatakan pada putrinya alasan dirawat di rumah sakit akibat terlalu kelelahan sehingga perlu diperiksa dokter agar lekas pulih.
"Papa tidak menemani Canta video call?" tanya Badrina, ia melihat putrinya sendirian di dalam kamar. "Papa kasih izin Canta untuk pegang ponselnya Papa?" tanyanya lagi.
"Canta mau jawab yang mana dulu, Mama?" sahut Cantara. Ia menggaruk-garuk kepalanya, pertanyaan Badrina jadi membingungkan bila ditanyakan berbarengan.
Badrina terkekeh. "Maaf ya, Nak. Papa tidak menemani Canta video call?" ulang Badrina memahami maksud Cantara.
"Ngga, Ma. Papa lagi ngobrol sama Om Danish di ruang tamu. Kalau Oma, sudah pulang kemarin. Bibi lagi di dapur," jelas Cantara mendetailkan informasi.
Badrina manggut-manggut mendengar penuturan putrinya. Tidak ada ketertarikan Badrina untuk menelusuri ada pertemuan apa antara Arshaka dan Danish.
Badrina main tebak saja kalau pertemuan mereka tidak terlepas dari urusan kantor kedua pria tersebut.
"Mama dengar dari Papa, Canta tidak masuk sekolah?" tanyanya, menggali alasan sang putri dua hari tidak bersedia masuk sekolah.
Ekspresi Cantara menegang. Dia tidak menyangka kalau Badrina mengetahuinya.
Kepala Cantara tertunduk. "Maaf Mama... jangan marahin Canta dan Papa," ucapnya ketakutan.
"Canta tidak semangat pergi sekolah karena ingat Mama sakit. Canta bilang ke Papa 'tidak mau sekolah'." Air mata membanjiri pipi bulat Cantara. Dia takut kena marah.
Bocah perempuan itu mengusap air mata dengan punggung tangannya yang menjejak di pipinya. "Papa setuju perbolehkan Canta bolos. Mama jangan marahin Papa." Canta kembali sesenggukan.
__ADS_1
Badrina terhenyak melihat sang putri dengan ekspresi takut-takut padanya.
Memang Badrina kerap mengingatkan agar Cantara rajin sekolah, terutama semenjak pindah. Alasannya, biaya untuk sekolah baru lebih mahal dari yang lama.
Maka, tidak heran bila saat ini Cantara bimbang mengatakan kebenarannya pada Badrina.
"Tidak apa-apa, Sayang. Canta tidak sekolah karena ada alasan yang jelas," ujarnya berusaha menenangkan putrinya. Andai saja mereka tidak berjauhan, Badrina ingin sekali memeluk Cantara untuk menentramkan hatinya. Jauh dalam relung hati Badrina, ia menyimpan rasa bersalah pada sang putri.
Kalimat Badrina itu berhasil membuat suasana hati Cantara berubah. Bocah itu terlihat manggut-manggut dan tersenyum lega. "Anak mama sudah makan siang, belum?" tanya Badrina mengalihkan pembicaraan.
"Sudah Mama. Tadi Om Danish sewaktu belum datang, Canta makan bareng Papa," sahutnya, tidak ada lagi isakan keluar dari bibirnya. Hanya hidung Cantara saja yang masih meler.
Badrina kembali mengulas senyum. Ia terharu dengan kepolosan putri semata wayangnya. Jiwa kecil yang jujur menceritakan isi pikirannya.
Badrina merasa bersyukur Cantara masih memiliki dirinya, tempat untuk mengungkap segala unek-unek versi anak kecil. Badrina termotivasi agar dirinya hidup dengan sehat agar bisa mengasuh putrinya hingga dewasa nanti.
Saking pertemuan dengan Danish sangat penting, Arshaka sampai rela memberikan ponselnya pada Cantara untuk menghubungi Badrina agar ibu dan anak dapat bercakap bersama.
Pria itu tidak menyempatkan diri berbicara langsung pada mantan istrinya. Saat komunikasi telah terhubung, ia pergi meninggalkan kamar Cantara. Dirinya perlu menuntaskan sesuatu dengan Danish.
"Apa!" Danish membeliak mendengar penuturan Arshaka terkait peristiwa silam, bahkan sampai berdiri dari tempatnya duduk.
Arshaka memutuskan untuk menceritakan bagaimana dirinya di masa lalu.
"Ck... nada suara lo kenceng banget. Anak gue bisa terganggu," protes Arshaka, melihat ke arah kamar Cantara yang tertutup.
Danish menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia mengusap dada setelah mendengar kebenaran yang mengejutkan dari Arshaka.
"Tidak menyangka, elo sebusuk itu Arshaka!" geram Danish sambil menunjuk-nunjuk wajah Arshaka. "Pengen gue tonjok wajah ganteng lo itu," tambah Danish dengan tangan mengepal.
__ADS_1
"Ya, itu delapan tahun lalu Danish. Sekarang gue sudah berubah," kelit Arshaka.
"Berubah? Bagian apa yang berubah? Lo simpan perempuan lain di apartemen semenjak lima atau enam tahun yang lalu, sampai - sekarang, Shaka. Lo bilang berubah?" Danish tidak terima dengan ucapan Arshaka. Nada suara Danish mulai menanjak. "Merinding gue mendengar kebusukan lo yang begitu rapi," sindir Danish. Ia menggosok telapak tangan ke kepalan tangan lalu mengunjukkan pada Arshaka.
"Ck... itu masalah lain lagi. Tapi, tentang kesepakatan gue dengan Poppy Si Lampir sudah berakhir lama. Gue juga menyadari, kami orang-orang dekat Badrina itu jahat banget. Gue ngga meneruskannya di tahun ketiga pernikahan," ungkap Arshaka panjang lebar.
"Ingin banget gue mencaci lo, Shaka. Sampai tahun ketiga baru lo sadar kalau rencana kalian untuk membuat mental Badrina rusak sangatlah jahat," sesal Danish.
Tenggorokannya tercekat, ia butuh sesuatu untuk melancarkan suaranya. Danish meneguk habis air mineral yang telah disediakan oleh Muryati.
Danish tidak peduli kalau asisten itu tahu keburukan mantan majikannya saat ini.
"Gue menyesal Danish. Gue sudah tidak peduli dengan iming-iming bayaran tinggi dari Poppy. Selanjutnya, gue menjalani kehidupan rumah tangga seperti orang lain kebanyakan," tukas Arshaka.
"Gue ngga percaya. Badrina bilang setelah Canta lahir lo tetap menjadi dingin sama dia. Tidak memberi perhatian semestinya ke seorang istri," beber Danish tidak terima dengan pengakuan Arshaka.
Arshaka mengusap tengkuknya, terasa berat perasaannya kini. Sudah terlanjur jujur, tidak mungkin mengarang cerita pada Danish.
"Itu sebagai sikap kamuflase. Biar Poppy tidak menaruh curiga sama gue, meski belakangan Si Lampir sadar juga gue berubah," jelasnya. "Tapi yang gue sesali, sikap dingin gue ke Badrina berkelanjutan sampai akhirnya kami bertengkar setiap hari dan berakhir gue menalak Badrina," kenang Arshaka dengan rasa sesal.
"Harusnya Badrina yang minta cerai dari lo, bukan sebaliknya," sembur Danish menatap tidak suka pada pria ganteng yang sedang duduk di seberang meja ruang tamu.
"Ah! Lo bukannya menilai positif perubahan diri gue," kesal Arshaka sembari meminum segelas air.
"Iya, sekarang berubah positif. Tapi gue maunya lo dicaci maki dulu karena sempat berbuat yang unfaedah di masa lalu," lontar Danish menatap geram teman bicaranya.
Arshaka meringis melihat tanggapan serius dari Danish. Syukur saja pria itu tidak menyukai Badrina sebagai pria dewasa.
Bila hal itu terjadi, sangat dimungkinkan Badrina akan memilih Danish pria peduli dan bukan Arshaka yang pernah menjahati Badrina.
__ADS_1