BAYANGAN MANTAN

BAYANGAN MANTAN
26. Keresahan Arshaka


__ADS_3

Minggu siang, Arshaka mengunjungi kediaman Badrina. Ia memarkirkan kendaraan di depan pintu gerbang.


Sewaktu Arshaka membuka pintu depan, rumah didapatinya tidak terkunci, hanya tertutup. Arshaka berdecak melihat keteledoran Badrina, bagaimana bila ada niat jahat dari orang yang melintas saat mengetahui pintu tidak dikunci.


Arshaka masuk, rumah Badrina dalam keadaan sepi. Sepertinya pengasuh dan asisten rumah tangga tidak masuk hari ini.


Pria itu mendapati Badrina tengah duduk di ruang tengah dengan senyuman simpul dan tawa bahagia sambil bertelepon dengan seseorang.


Dirinya menunggu sampai komunikasi mereka selesai. Menatap Badrina bahagia, menyentil perasaan Arshaka. Kapan terakhir kali mantan istrinya sebahagia itu?


Arshaka penasaran dengan teman bicara Badrina. Sayangnya, tidak terdengar jelas pembicaraan sebab Badrina berbicara begitu pelan. Arshaka tidak melihat Cantara di dekat Badrina, mungkin saja putrinya masih tidur siang.


Seusai Badrina bertelepon, Arshaka gegas mendekat. "Rina," sapanya.


Senyum Badrina tadi yang terbit begitu manis, kini pudar sesaat setelah melihat Arshaka. Parasnya berubah biasa dengan aura dingin.


"Kamu datang," ujar Badrina datar.


"Ya," jawab Arshaka singkat.


"Cantara masih tidur siang, tunggu saja, ya. Aku mau ke kamar dulu, ada yang mau dikerjakan," ucap Badrina sopan, tetapi tanpa memandang rekan bicaranya. Ia segera berlalu dari hadapan Arshaka.


Segera Arshaka maju ke depan menghalangi jalan Badrina dengan merentangkan tangan kanannya. Badrina yang tidak siap, menabrak tangan Arshaka, mengenai dada mendekati lehernya.


Badrina mundur selangkah, melotot pada Arshaka. "Tidak sopan!" tegur Badrina kesal lalu melengos pandangan ke arah lain. Tangannya terlipat di depan dadanya, takut-takut kalau Arshaka bersikap tidak sopan.


"Ada apa dengan kamu? Sikap kamu tiba-tiba berubah. Semalam kita masih bicara baik-baik. Tadi pagi pulang tidak pamit dan sekarang seperti menghindar," selidik Arshaka menatap Badrina, meskipun ia memiliki dugaan sendiri akan perubahan sikap mantan istrinya.


"Shaka, aku minta pembicaraan kita hanya sebatas Cantara saja," pinta Badrina, "tidak untuk hal lain, apalagi tentang hal pribadi," sambung Badrina dengan sikap dibuat sedikit angkuh.


"Kenapa?" tanya Arshaka menuntut.

__ADS_1


"Aku terganggu," cetus Badrina sekenanya.


"Bukan karena permintaan Poppy?" tanya Arshaka yang dihadiahi pelototan tajam dari Badrina. Tangannya pindah berkacak pinggang.


"Itu tanteku, sopan sedikit," ketus Badrina tidak terima sembari jari telunjuk kanannya menunjuk-nunjuk Arshaka.


"Tante? Yakin dia tante kamu?" Tatapan Arshaka tidak kalah menyorot. "Aku hanya mengingatkan, hati-hati dengannya," tambah Arshaka berlalu dari hadapan Badrina.


Badrina tidak menyukai cara Arshaka menilai tantenya. Pria itu dulu yang berusaha mendapat restu pernikahan dari tantenya, sampai-sampai pernah mengatakan bahwa Poppy sosok yang baik. Namun, kini ucapannya berkebalikan.


Badrina tidak berniat minta penjelasan maksud dari Arshaka. Ia memilih menuju dapur, sementara itu Arshaka beralih duduk ke ruang tamu.


Pria itu kesal begitu Badrina memarahinya dan menyebut dirinya tidak sopan. Badrina tidak bisa menilai Poppy seperti apa sebab ia terbiasa dengan sikap tantenya itu.


Badrina tetap baik memperlakukan Arshaka. Ia menganggap mantan suaminya itu sebagai tamu, menyediakan makanan dan minuman lalu pergi meninggalkan ruang tamu.


Tidak ada pembicaraan yang berlangsung di antara mereka. Keduanya memilih saling mendiamkan, mereka dililit ego masing-masing.


Arshaka memperhatikan sikap tidak ramah Badrina. Biasanya Badrina melawan terus dengan ucapan-ucapan ketus bila tidak sesuai dengan keinginannya, tetapi kini terlihat Badrina lebih pasrah dengan keadaan.


Arshaka masih betah berlama-lama di rumah Badrina, meskipun dirinya tidak sekalipun diajak bicara oleh tuan rumah.


Tiba waktu makan malam, dengan percaya dirinya Arshaka menawarkan diri untuk makan di rumah Badrina, "Aku makan malam di sini, ya," ujarnya pelan saat Cantara pergi mencuci tangannya ke wastafel.


"Terserah," lontar Badrina singkat sembari menyiapkan makan malam di meja.


Perlakuan Badrina itu tidak membuat Arshaka mengamuk. Ia mengerti kalau sikap itu dibuat-buat entah untuk motivasi apa.


Mereka makan bertiga seperti beberapa waktu lalu, pemandangan yang bakal jarang ditemukan dalam waktu mendatang.


"Papa, kenapa papa ngga pernah nginep di rumah lagi?" tanya Cantara sambil fokus menikmati hidangan yang disajikan mamanya.

__ADS_1


Arshaka melihat anaknya dan melirik pada Badrina. Perempuan itu seperti tidak terganggu dengan pertanyaan Cantara, ia meneruskan makannya. Badrina seperti tidak peduli akan alur pembicaraan antara dirinya dan Cantara.


Sebenarnya, Arshaka ingin minta bantuann Badrina untuk menjawab pertanyaan Cantara. Tampaknya, ia perlu menjawab sendiri.


"Papa... em... itu, Nak. Papa --"


"Canta, masih mau nambah lauknya, Nak? Ini enak sekali, mama suka. Canta suka tidak?" tanya Badrina menawarkan lauk di tangannya, ia mengalihkan fokus Cantara.


"Suka, Ma. Masakan mama memang selalu enak," jawab Cantara.


"Makasih anak mama. Ini ya dimakan biar sehat dan tumbuh besar," ucap Badrina seraya menambahkan lauk di piring Cantara.


Arshaka cukup lega dengan bantuan yang dilakukan Badrina. Meskipun bukan sebuah jawaban, Cantara tidak lagi menanyakan hal itu.


Selesai makan malam, Arshaka masih bermain bersama Cantara. Kegiatan menjelang Cantara tidur dipilih yang ringan saja. Arshaka banyak andil untuk malam ini membantu menidurkan Cantara.


Sewaktu Arshaka akan kembali ke rumah mamanya, Badrina telah menunggu di ruang tamu. Badrina mengajukan permintaan pada Arshaka. "Sebaiknya kamu kirimkan jadwal kunjungan Cantara, termasuk pukul berapa akan datang kemari. Pelan-pelan aku akan menjelaskan padanya tentang perceraian kita," ucap Badrina yang berdiri membelakangi tubuh Arshaka.


Kening Arshaka mengernyit, dia tidak paham arah pembicaraan Badrina. "Biar apa?" tanya Arshaka bingung.


"Supaya kunjungan kamu tertib. Dan, tidak mungkin menyembunyikan perceraian ini terus-menerus dari Cantara," jawab Badrina, ia menoleh ke arah lain.


"Sudah pikir matang-matang bagaimana harus bersikap bila ada reaksi tak terduga dari Cantara?" tanya Arshaka, ia berdiri tegap sembari melipat kedua tangannya di depan dada.


Badrina tidak bisa menjawab pertanyaan Arshaka. Sebenarnya, ia hanya tidak ingin bertemu mantan suaminya, sehingga saat jadwal Arshaka berkunjung, dirinya bisa menghilang entah ke mana agar tidak lagi bertemu pria ini.


Arshaka mencoba mengartikan mimik wajah Badrina yang sayu. Ia masih ingin memberondong Badrina dengan banyak pertanyaan, tetapi tidak jadi dilakukan.


Pria itu pamit pulang, Badrina mengantarkan sampai di pintu gerbang. Arshaka menurunkan kaca mobil bermaksud untuk mengucapkan selamat malam, Badrina sepertinya tidak bersedia menoleh padanya, bahkan segera menutup pintu gerbang dengan cepat.


Arshaka terdiam di dalam mobil. Ia memukuli stir akibat pengabaian Badrina terhadap dirinya. Arshaka bisa menilai Badrina begitu memaksakan diri untuk bersikap demikian, bukan Badrina yang dikenalnya.

__ADS_1


Arshaka melajukan kendaraannya dengan rasa kecewa. Besok ia akan berencana mencari seseorang untuk dimintai pertanggungjawaban.


__ADS_2